Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Ular


__ADS_3

Kicau burung serta raungan berbagai satwa menyambut kehadiran Nara, Bram, Dodi dan juga Lisa yang hari ini lebih pagi menuju hutan. Sesekali Nara dan Lisa tampak berbicara dengan warga desa yang melintas. Sementara Bram tengah fokus mengamati objek fotonya, namun sesekali ia membidikkan kameranya ke arah Nara, sembari mencuri-curi pandang pada gadis itu. Sebenarnya sejak lama bahkan sejak di SMA ada ketertarikan Bram pada Nara adik kelasnya itu, tapi pada saat itu, Bram sudah memiliki kekasih, jadi dia merasa hanya sebatas mengagumi tak lebih.


Sejuknya udara dan aroma dedaunan basah begitu memanjakan tubuh Nara, beberapa hari disini membuatnya betah bahkan jauh dari  hiruk pikuk ibukota membuatnya lupa akan segala kegundahan hatinya. Kemudian dia teringat sejak tiba disini belum sama sekali menghubungi bibi dan sahabatnya. Tapi memang sulit untuk menghubungi mereka, mengingat jaringan selular di desa ini cukup sulit bahkan bisa dibilang jauh dari jangkauan.


Terlihat Lisa dan Dodi di ujung sana sedang bercanda bersama, tampak mereka berdua sangat akrab tanpa rasa canggung, kemudian mata Nara beralih ke arah Bram yang sedari tadi sibuk dengan kameranya. Nara mulai berjalan mendakati Bram, namun matanya tak sengajaa melihat ke arah sebuah batang pohon, ada yang aneh disana, ia terus mengamati, kemudian dia menjerit keras dan berlari ke arah Bram.


“Ulaaaarrr!!!!”teriak Nara. Ia terus berlari  mendekati Bram kemudian memeluknya, Bram yang  tidak siap menangkap tubuh Nara pun tak mampu menyesuaikan tubuhnya dan akhirnya mereka berdua terjatuh dengan Posisi Nara menimpa tubuh Bram yang ada dibawahnya. Masih belum tersadar dengan posisi tersebut,  Nara masih memajamkan matanya, Bram merasakan detak jantung Nara semakin cepat dan nafas tak beraturan karena ketakutan, sementara bram merasakan hal yang sama, namun bukan karena ketakutan seperti Nara, tapi karena kesenangan seperti mendapat durian runtuh, bisa dalam posisi seperti ini bersama Nara, tidak ada jarak diantara mereka.


Dodi dan Lisa yang mendengar teriakan Nara langsung berlari mendekati keduanya, mereka tertawa melihat posisi Nara dan Bram.  Mendengar suara tawa Dodi dan Lisa, Nara kemudian membuka matanya, dan terkejut melihat ia menindih Bram dan langsung menarik diri untuk berdiri.


“Maaf kak” Ucap Nara sembari membantu Bram berdiri.


Bram pun berdiri sembari mengusap bahunya yang sedikti sakit karena hempasan tubuhnya di tanah apalagi sambil menopang Nara.


  “kakak gak kenapa-kenapa” Tanya Nara.


“Sakit” Lirih Bram


“Disini” menunjuk dadanya sembari tertawa


Nara tersenyum kecut.


“Ada apa Mbak?” Tanya Lisa


Nara pun menunjukkan sesuatu yang melingkar di sebuah pohon besar


“Ular” jawab Lisa. Nara mengangguk.


Itu udah biasa mbak, namanya juga di hutan, dia gak bakal ganggu kalau kita gak gangguin. Selain ular, disini juga masih banyak satwa lainnya, tapi selama manusia gak ganggu dia juga gak bakalan ganggu kok mbak” ucap Lisa. Meski begitu Nara tetap bergidik ngeri.


“Pulang yuk” ajak Nara.

__ADS_1


Mereka pun setuju dan kemudian beranjak pulang.


Ditengah perjalanan Nara bertanya bagaimana caranya berkomunikasi dengan orang luar, karena sulit sekali mendapat jaringan disini.


“Kalau mbak mau nelpon, nanti kita ke atas bukit aja, disana kita bisa mendapat signal yang cukup bagus” ucap Dodi.


“Bisa kita kesana dulu, sejak tiba disini aku belum menghubungi keluargaku” pinta Nara.


Dodi pun mengiyakan dan mereka menuju kesana. Setelah sampai di bukit tujuan mereka, benar saja telepon selular  Nara menunjukkan tangkapan signal, secara bergantian nara menghubungi bibinya dan juga Licia sahabatnya. Tak ketinggalan Bram pun menghubungi keluarganya.


***


Tak terasa seminggu sudah Nara di desa ini, sepertinya dia memang betah disini, suasana yang sunyi membuatnya merasakan kesejukan di hatinya meskipun masih terasa sakit ketika sesekali bayangan wajah seseorang melintas di benaknya.


Nara duduk diteras depan, menatap malam gelap yang hanya ada beberapa titik bintang disana. Semilir angin memainkan rambutnya yang sesekali menutupi wajahnya. Tak lama Bram datang duduk disampingnya.


“Malam-malam duduk sendirian, ntar kesambet loh” ucap Bram mengejutkan Nara.


“Boleh duduk disini” Tanya Bram sembari menunjukkan bangku kosong disamping Nara.


“Boleh, mumpung belum kena pajak” ucap Nara.


Bram tertawa, mereka duduk berdampingan sembari menatap langit dalam diam, beberapa saat kemudian Bram beralih menatap Nara.


“Seberuntung ini, bisa bersama kamu disini” ucap Bram pelan


Nara menoleh, meski pelan namun ia sempat mendengar ucapan Bram


“Maksud kakak” Tanya Nara


Bram pun gugup “Maksudnya beruntung banget aku bisa penelitian disini ditemani gadis cantik, aku pikir tadinya bakalan hanya ditemani Dodi dan juga satwa-satwa liar, eh ternyata ada bidadari juga” jawab Bram sembari menoel ujung hidung Nara.

__ADS_1


Nara tersipu malu. Tidak ia pungkiri, selama disini Bram memberinya perhatian dan juga perlindungan. Mungkin jika hatinya masih labil seperti dulu, bisa saja dia akan baper dan langsung menyatakan perasaan suka pada pria itu. Tapi ketika dia sudah mengenal cinta sebenarnya, hatinya tak bisa begitu mudah jatuh pada siapapun.  


Entah setan apa yang membuat mereka berdua akhirnya saling menggenggam tangan, Bram menyingkap anak rambut Nara yang tersibak oleh angin, menyelipkan di telinga gadis itu, menelusuri wajah Nara dan kemudian mereka beradu pandang, tak lama bibir mereka beradu, ketika bibir itu saling berpagut, Nara yang tersadar segera menarik diri dan kemudian ada perasaan canggung diantara mereka.


“Maaf, kakak tidak bermaksud”


“Gak apa kak, mungkin kita kebawa suasana” potong Nara.                 


“kamu jangan salah paham”lirih Bram


Nara hanya tersenyum, dia tidak menyalahkan Bram justru dialah yang malu pada Bram dan juga dirinya sendiri,  karena pada saat itu Nara sedang memikirkan Elang, bahkan saat Bram menggenggam tangannya ia membayangkan itu adalah Elang, saat Bram mendekatkan bibirnya, ia juga masih membayangkan wajah Elang, namun ketika bibir mereka beradu, Nara tersadar bahwa pria dihadapannya bukanlah orang yang dia cintai dan harapkan.


Sementara Bram gelisah, ia merasa Nara marah akan sikapnya, tapi dia juga tidak tahu dorongan darimana hingga dia bisa melakukan itu, jujur dia menyukai Nara, tapi setidaknya dia bisa menahan diri.


Tak lama Nara pun pamit untuk masuk ke dalam kamarnya. Sepeninggalan Nara,  Bram mengusap wajahnya kasar dan frustasi


“Bego!!!” ucapnya pada diri sendiri.


Bram sadar, perasaan kagumnya pada gadis itu, kini telah berubah jadi suka, meskipun ada yang berbeda pada diri Nara, jika dahulu dia adalah gadis periang yang supel, kini dia menjadi wanita dewasa yang lebih pendiam.


Bram tidak ingin gadis yang ia sukai itu berpikir macam-macam terhadapnya, karena sungguh tidak ada niatan pada diri Bram untuk berbuat di luar batas kewajaran seperti tadi..


Malam terlalu kelam untuk aku menghapus jejak pilu


Semu merah wajahmu terus menggelayuti pikiranku


Akankah aku mampu memilikimu....


Seandainya kamu mampu membaca isyaratku


Aku telah jatuh hati padamu...

__ADS_1


 


__ADS_2