Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Aku Pasti Bahagia


__ADS_3

Semangkuk bubur ayam dan jus alpokat Nara siapkan untuk Elang pagi ini. Sejak terbaring di rumah sakit karena penyakit maghnya kambuh, kini Nara lebih rajin menjaga pola makan. Sarapan pagi tak pernah ia lupakan meskipun hanya nasi putih dan telur dadar. Bahkan jika ia memiliki waktu lebih, ia pun akan membuat sarapan yang juga ia siapkan untuk Elang, seperti pagi ini. Dengan senyum gembira Nara memasukkan bubur ayam yang sudah ditempatkan dalam wadah tertutup untuk dibawa ke rumah Elang. Jam masih menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit, masih ada waktu satu setengah jam untuk Nara bisa menjumpai Elang, kekasihnya.


Tiba di rumah Elang, seperti biasa pria yang selalu rajin bangun pagi itu, sudah duduk di teras belakang rumah sedang membaca koran. Dengan berjinjit pelan Nara mendekati Elang dan kemudian menutup mata pria itu dari belakang.


"Hmmm... siapa ini ya?" Elang tersenyum dan menarik kedua telapak tangan dari wajahnya dan menariknya perlahan hingga menyentuh bibirnya.


"Aroma tubuhmu tak bisa membohongiku" Ucap Elang sembari menarik lengan itu agar lebih mendekat.


"Ini aku bawakan bubur ayam dan jus alpokat kesukaan kamu"


"Wah sarapan enak pagi ini, kamu sudah makan?"


"Sudah tadi di rumah"


"Temenin aku makan ya"


Nara melirik jam di pergelangan tangannya.


"Hmm... sepertinya tidak bisa, ini sudah jam tujuh lewat 15 menit, aku harus ke kantor. Kamu makan sendiri dulu ya, nanti sore aku janji bakal temenin lagi" Ucap Nara lirih, sebenarnya Nara ingin menemani, tapi mengingat perjalanan ke kantor di jam-jam rawan macet bisa membuat waktu perjalanan lebih lama untuk sampai di kantor.


"Ya sdah tidak apa, sdah dibuatin sarapan gini aja seneng banget, ini pasti enak karena dibuat dengan cinta"


Nara terkekeh " Dibuat pake beras dan ayam, kalau cinta gak usah ditanya semua tentangmu pasti dengan cinta" Ucap Nara


"Jadi terharu" Ledek Elang.


Nara pun mendaratkan cubitan kecil di lengan pria itu.


"Sudah sana, nanti telat kamu lagi.. terus aku disalahin"


"Aku pergi ya" Ucap Nara sembari memberi kecupan di kedua pipi Elang, dan Elang membalasnya dengan kecupan lembut di kening.


"Hati-hati sayang"

__ADS_1


Nara mengangguk kemudian mulai melangkah. "Jangan lupa habisin sarapannya biar cepat sehat" Nara mengedipkan sebelah matanya.


Elang terkekeh dan melambaikan tangannya pada Nara. Setelah Nara pergi, Elang segera membuka sarapan yang disiapkan Nara dan melahapnya.


***


Tiba di kantor tepat pukul tujuh lewat lima puluh lima menit. Nara bernafas lega karena belum terlambat, mengingat macetnya perjalanan. Dalam dua hari ini Nara berupaya fokus menyelesaikan pekerjaannya, kemudian akan mengambil cuti untuk menemani Elang. Belakangan ini kesehatan Elang semakin membaik, Nara ingin Elang benar-benar sehat sehingga dapat beraktifitas seperti sedia kala.


Nara fokus menatap layar monitornya dan tidak menyadari kedatangan teman satu ruangannya.


"Dddduuaarrr!!" Nara terlonjak kaget dari duduknya, sementara Amel terkikik melihat keterkejutan Nara.


"Sialan! Kutukupret!" Nara memegang dadanya yang nyaris meledak karena kagetnya. "Bisa jantungan tau!" Ucap Nara sembari nemukul Amel.


"Serius amat sih, sampe-sampe gajah lewat gak tau"


"Emang ada gitu gajah masuk ruangan, gak muat kali!"


"Ya Kali aja ada gajah jadi-jadian"


"Gimana kerjaanmu? dah kelar? jangan begadang lagi ntar sakit lagi lho"


"Sedikit lagi selesai, abis itu aku mau cuti'


"Cuti???" Amel bertanya antusias. "Cuti panjang" Nara mengangguk.


"Kamu nggak cuti buat Nikah kan?"


"Kalau iya, memang kenapa?"


"Gak apa sih, cuma kamu harus ngasih sarat karena berani-beraninya ngelangkahin aku" Amel melirik sinis "Aku minta syarat pelangkahnya Mobil baru ya" Ucap Amel sembari tertawa.


"Ya.. Tenang aja, aku beliin mobil baru yang paling canggih, Pake remot control lagi"

__ADS_1


"Mobil-mobilan dong!" Keduanya pun tertawa lepas. "Sudah sana ganggu konsentrasi aja" Usir Nara. Amel pun berbalik menuju meja kerjanya.


***


Tepat pukul empat sore, Nara menyelesaikan pekerjaanya, hanya tinggal 2 bab terakhir yang akan Nara selesaikan besok. Usai Salat Asar Nara segera pulang dan tujuannya adalah rumah Elang, karena ia sudah berjanji pagi tadi.


Elang sedang tertidur, sebelah tanganya memegang satu sisi kepalanya, sepertinya ia sedang menahan rasa sakit. Nara memperhatikan garis wajah laki-laki itu, tampah lebih tua dari beberapa bulan lalu sebelum mereka sempat putus, mungkin karena terlalu sering menahan rasa sakit sehingga banyak kerutan di wajahnya, atau bahkan dia juga sudah tidak lagi memikirkan perawatan sehingga wajahnya terlihat kusam, pun dengan bentuk tubuhnya yang terlihat jauh lebih kurus.


Nara menitikkan air mata, entah sejak kapan penyakit itu bercokol di tubuhnya, sehingga dengan cepat menggerogoti tubuh kekar laki-laki yang selalu melindunginya itu. Jika mengingat kenangaannya mereka, Nara seperti ingin kembali ke masa-masa itu. Menghabiskan waktu bersama, penuh canda tawa dan cinta yang selalu melingkupi mereka.


"Sayang" Suara Elang mengejutkan Nara yang sedari tadi masih melamunkan kenangan mereka.


"Sudah bangun" Nara menghapus sisa air mata yang masih menggenang di tepian pelupuk matanya.


"Kamu nangis"


Nara menggeleng " Nangis bahagia karena bisa bersamamu lagi" Sebelah tangan Nara membelai lembut pipi Elang.


Elang pun mencoba bangkit dari tidurnya dan duduk sembari menyandarkan kepalanya menggunakan tumpukan bantal di tepian ranjang. Sebelah tangan Elang menarin kepala Nara dan membawanya ke pelukannya. "Maafin aku yang sudah buat kamu kecewa dan juga sedih" Elang mengusap lembut kepala Nara. Sementara Nara hanya menggeleng sebagai respon pernyataan Elang.


"Jika waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu bersamamu, jika aku tau waktu sesingkat ini" Pandangan Elang menatap lurus ke depan.


Nara menegakkan kepalanya dan menatap Elang. Jari telunjuknya menempel tepat di bibir Elang, sebagai Isyarat Elang untuk diam.


"Waktu kita masih banyak, yakinlah.. jangan pernah mendahului takdir Tuhan. Kamu akan sehat, kita akan tetap selalu bersama. Aku minta kamu jangan berkata- kata seperti itu lagi. Kamu pasti sehat" Nara meyakinkan Elang.


Kedua mata Elang menatap Nara lekat, sembari mengangguk. Kemudian keduanya mengeratkan pelukan. Berharap sesaat waktu berhenti hingga mereka akan selalu seperti ini.


"Jika suatu saat nanti aku tiada, berjanjilah kamu akan selalu bahagia"


Tangis Nara pun pecah demi mendengar ucapan Elang. "Aku pasti bahagia tapi jika bersamamu" Lirih Nara di sela isak tangisnya.


Elang membelai lembut rambut Nara dan mengecup puncak kepalanya.

__ADS_1


"Andai masih banyak waktuku, pasti akan aku bahagiakan dirimu. Tapi jika Tuhan memanggilku lebih dulu, aku harap Tuhan memberikan kebahagiaan untukmu" Elang menatap Nara sendu. Ada ribuan kata yang ingin diucapkan Namun lidah mereka berasa kelu, hanya pelukan yang mampu menenangkan hati masing-masing yang dilingkupi kesedihan akan terjadinya perpisahan.


__ADS_2