Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Gelisah


__ADS_3

Sudah tiga minggu Nara berada di desa ini, tugasnya pun hampir selesai, ia berencana pulang minggu depan, jika ia pulang minggu depan, maka tepat satu bulan dia berada di desa ini. Banyak pengalaman yang Nara peroleh, suasana desa dan masyarakatnya yang ramah membuat Nara betah bahkan hingga tiga minggu ini dia benar-benar menikmatinya.


Selama berada disini, Nara pun senang dengan hadirnya Dodi, Lisa dan Bram yang membantu semua pekerjaannya. Terlebih perhatian dari Bram, membuat Nara sedikit melupakan luka hatinya, ya hanya sedikit, karena dia belum berniat membuka hatinya untuk siapapun, meski ia tahu perhatian yang diberikan Bram bukan sekedar karena Nara pernah menjadi adik kelasnya. Sebagai seorang perempuan, Nara mengerti jika Bram menaruh hati padanya. Namun Nara berpura-pura tak peka dan tidak membuka peluang ataupun memberikan harapan padanya.


***


Beberapa malam ini Nara terlihat gelisah, ia selalu bermimpi aneh. Dalam mimpinya, Nara melihat Elang menggunakan pakaian serba putih dan melambaikan tangan padanya. Sorot mata Elang sendu tapi penuh dengan kerinduan. bahkan mimpi itu beberapa kali menghampirinya.


Nara mencoba menepis semua bayangan buruk, dia berfikir mungkin karena ia masih memikirkan Elang, belum bisa membuang semua kenangan tentangnya. Satu bulan pun terlalu singkat untuk melupakan begitu banyak kenangan indah. Terlalu sulit karena bersama Elang Nara dapat menjadi dirinya sendiri, sosok pria yang tidak pernah menunutut, mau menerimanya apa adanya. selama ini Elang selalu menghujaninya dengan kebahagiaan, tapi kini.. semua sudah berlalu. Meski sakit, tapi Nara terus mencoba mengikhlaskan semua ini. Bahkan dalam setiap sujudnya Nara selalu menyelipkan doa untuk kebahagiaan Elang, meskipun hatinya sakit. Tapi bukankah cinta tak harus memiliki, jika memang Elang bukan untuknya cukuplah ia pernah merasakan cinta yang begitu besar darinya dan ini akan menjadi bagian dari masa lalunya nanti. Tapi jika memang Elang jodohnya, dia berharap Tuhan mempersatukan kembali cinta mereka.


Nara meminta Dodi mengantarkan ke bukit, dia ingin menghubungi Licia dan juga bibinya.


setelah menghubungi bibinya dan Licia, Nara sedikit lega karena tidak ada kabar aneh yang ia terima. Bahkan Nara sempat mencari info tentang Elang, tapi Licia tidak pernah bertemu sosok itu. Nara juga belum menceritakan kegelisahan mimpinya pada Licia, ia ingin bercerita ketika mereka bertemu nanti.


Tak sabar rasanya, Nara ingin segera kembali ke kota, ia sangat rindu rumahnya dan juga bercerita bersama sahabatnya. Meski tak dipungkiri disini ia merasa nyaman tapi rumah dan keluarga sendiri adalah tempat ternyaman untuk kita pulang.


***

__ADS_1


Usai salat Asar, Nara duduk di teras sambil memangku laptopnya dan mengerjakan pekerjaanya. Tak lama Bram pun datang menghampiri sembari membawa dua cangkir teh hangat.


"Ini aku buatkan teh" ucap Bram sembari meletakkan dua cangkir teh di meja.


"Makasih ya kak" ucap Nara sembari mengambil cangkir teh dan menyeruputnya.


"Jadi minggu depan pulang" tanya Bram


"Sepertinya iya kak, kerjaanku sudah hampir selesai. Kakak sendiri?"


"Sebenarnya tugasku sudah lama selesai, tapi berat rasanya meninggalkanmu sendiri disini"


"Hmmmm... jadi kamu ngusir nih?"


"Bukan gitu kak, aku gak mau ngerepotin kakak, apa lagi sampe nungguin kerjaan aku, takutnya nanti kerjaan kakak yang lain tertunda. Tapi kalau kakak gak keberatan nungguin aku, ya gak masalah, hehe " balas Nara agar Bram tidak salah paham.


"aku pulang bareng kamu aja nanti, boleh kan?"

__ADS_1


"Ya boleh dong, asal tiketnya beli sendiri" jawab Nara sembari tertawa. diikuti Bram yang kemudian mengusap kepala Nara. Bahkan ingin sekali ia mencium puncak kepala gadis itu, tapi rasanya sangat tak mungkin.


Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati Bram saat bersama Nara, ia benar-benar merasa nyaman bersama gadis itu. Jauh berbeda dengan gadis lain yang ia kenal bahkan mantan pacarnya sekalipun. Nara adalah gadis yang baik, sopan dan juga tidak manja. Satu hal yang membuat Bram yakin pada hatinya, Nara adalah gadis yang rajin beribadah. Selama disini, tak pernah ia melihat Nara meninggalkan salat kecuali ketika ia sedang datang bulan. Meski terlalu jauh mimpi Bram, namun tidak salah jika Bram mengharapkan Nara menjadi Calon istrinya, ibu dari anak-anaknya.


Bram senyum-senyum sendiri memikirkan hayalnya itu. "terlalu jauh, bahkan menyentuh hatinya pun aku tak mampu" batin Bram.


Nara mengerutkan kening, melihat Bram senyum-senyum seorang diri.


"Eh kak... kesambet apaan? koq senyum-senyum gitu"


"Eh.. ih.. itu.. Lagi ingat sesuatu yang lucu aja" Jawab Bram gugup sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tak mungkin dia menjawab karena sedang memikirkan orang yang sedang bertanya padanya. Bram pun mencari topik pembicaraan lainnya untuk mencairkan suasana.


Terkadang cinta memang membuat orang menjadi sedikit terlihat bodoh dan gila. Apalagi cinta yang tidak mampu untuk diungkapkan.


Cinta bukan berapa lama kamu mengenal seseorang, tapi cinta adalah yang selalu membuat kamu tersenyum sejak mengenal seseorang...


Hati tak pernah memilih dimana dia akan jatuh

__ADS_1


Seperti buah yang telah matang, dia akan jatuh pada saatnya nanti. Namun ia tidak akan tahu apakah ketika jatuh dia akan ditangkap dan masuk dalam keranjang atau justru terhempas ke bumi, hancur dan ditinggalkan...


***


__ADS_2