
Semilir angin dan harum dedaunan menyegarkan indera penciuman menyambut Nara, kala ia membuka jendela kamar messnya, jendela yang dipagari jeruji besi itu langsung menyuguhkan pemandangan hutan dihadapannya. Sedikit menyeramkan memang apalagi jika malam hari.
“Ngeri juga kalau aku sendirian, ada apa-apa jerit minta tolong siapa yang mau dengar” batin Nara sembari bergidik.
Usai membereskan barang-barangnya, Nara masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu, kemudian menunaikan salat Asar. Nara baru saja membaringkan tubuhnya ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya..
“Tok…tok.. Mbak Nara” Panggil suara dari luar kamar
“Iya sebentar “ Jawab Nara lalu membuka pintu
“ada apa Dod?”
“Saya mau ngenalin wak Atun dan Lisa, itu orangnya ada di depan”
“Baiklah, aku ke depan, oh ya satu lagi, kamu jangan panggil Mbak dong, kita kan seumuran.. kesannya kayak aku lebih tua gitu.. trus juga nyantai aja pake aku kamu biar lebih akrab” ucap Nara, karena merasa risih dipanggil Mbak.
“Eh itu,, saya gak enak, kan mbak Nara posisi jabatannya di atas saya, ntar dibilang gak sopan lagi”
“Lha kamu, manggil kak Bram yang umurnya diatas kamu, pake nama saja” jawab Nara
“Iya itu, karena udah kebiasaan dari kecil. Bram itu temen main, jadi udah biasa panggil nama saja” Jawab Dodi.
“Anggap aja aku temen juga, jadi panggil nama aja” pinta Nara
“Ok siap Bos” jawab Dodi.
Nara pun mengunci pintu kamar dan berjalan ke arah ruang tamu.
“ini Lisa dan itu wak Atun” ucap Dodi memperkenalkan dua perempuan yang tengah duduk di kursi kayu.
“ Nara” ucap Nara sembari mengulurkan tangan kepada dua orang tersebut.
“Mohon bantuannya selama saya disini” ucap Nara lagi.
__ADS_1
“Lisa ini yang akan membantu pekerjaanmu disini, selain aku. Kalau wak Atun bisa dibilang asisten rumah tangga disini, dia yang membersihkan rumah, mencuci pakaian dan juga menyiapkan makan, ucap Dodi.
Nara mengangguk mendengarkan penjelasan Dodi, karena memang ini untuk pertama kalinya dia berada disini dan juga turun langsung ke lapangan.
“Kalau gitu, saya mau siapin makan malam dulu ya non” ucap wak Atun
“Tapi saya nggak tahu selera non apa, nanti gak dimakan”
"Apa saja wak, yang penting halal, saya nggak pilih-pilih makanan" jawab Nara.
"Termasuk jengkol sama pete" potong Dodi
"hihi... kalu itu pilihan terakhir.. aku kurang suka. lebih baik ikan asin sama sambal terasi" Jawab Nara.
"Katanya gak pilih-pilih" protes Dodi.
"Lho koq pada ribut, sudah wak nggak akan masak jengkol sama pete, jadi kamu kalau pengen makan masak sendiri" ucap wak Atun yang mengarah kepada Dodi.
"Ooh... jadi itu makanan kesukaan Dodi, pantes ngotot" Ucap Nara sembari meledek Dodi.
Dodi hanya nyengir kuda mendengarnya.
Wak atun pun pamit ke belakang, sementara Dodi, Nara dan Lisa masih terlibat pembicaraan menyusun rencana kerja untuk besok.
***
Keesokan harinya, Dodi dan Lisa mengajak Nara juga Bram untuk bertemu kepala Desa dan tetua desa. Sesuai aturan desa, semua tamu yang datang wajib lapor untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Usai melapor, mereka pun berkeliling desa menggunakan mobil. Suasana desa masih sangat asri, sebagian besar penduduk bermata pencarian sebagai petani, pekebun dan juga pengambil dan pengolah hasil hutan.
Tak lama mereka pun tiba dikawasan hutan adat milik desa, hutan inilah yang masih sangat dijaga oleh warga desa, karena sebagian besar kawasan hutan di kawasan ini sudah milik perusahaan, termasuk perusahaan tempat Nara dan Dodi bekerja. Namun perusahaan masih memberikan warga desa hak ulayat kawasan hutan yang tidak boleh masuk kawasan perusahaan. Salah satu Project yang dikerjakan Nara adalah bagaiman masyarakat melakukan pengelolaan terhadap hutan desa, dengan cara memanfaatkan hasil hutan namun tidak merusak kawasan hutan. Tidak melakukan illegal logging serta tidak mengalihfungsikan hutan menjadi kawasan perkebunan.
__ADS_1
Mereka berempat pun masuk ke dalam hutan melalui jalan setapak, yang dibuat warga untuk keluar masuk hutan.
“Jadi hasil hutan yang dimanfaatkan warga disini, seperti mengambil rotan dan juga daun pandan untuk dibuat berbagai kerajinan tangan, hasilnya nanti dipasarkan melalui UMKM. Nah selain itu ada juga buah jernang yaitu buah dari sejenis rotan yang harganya sangat mahal karena bisa menjadi bahan baku kosmetik dan obat juga diekspor keluar negeri” Ujar Dodi menjelaskan pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh masyarakat.
“Jernang?” aku pernah denger sih, tapi belum pernah lihat langsung” ucap Bram.
“Iya kak, kalau beruntung, kita bisa melihatnya. Karena sangat sulit menemukannya saat ini. padahal dulu kata bapakku jernang sangat mudah ditemukan dan menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Tapi karena banyak perambahan jadi rotan penghasil jernang sudah sangat minim” Jelas Lisa.
“Bener tu, karena Lisa asli penduduk desa ini, jadi dia paham betul. Kalau kamu mau tanya lebih banyak, bisa juga tu sama bapaknya Lisa” Ucap Dodi.
Bram pun mulai aktif membidik berbagai jenis pepohonan, tumbuhan dan juga satwa yang ditemui dengan kameranya. Sementara Nara sibuk mencatat hal-hal penting yang akan masuk dalam tulisannya nanti. Selain Dodi, Lisa juga menjelaskan beberapa aktifitas masyarakat desa.
Matahari mulai meninggi, Dodi pun mengajak untuk pulang makan siang.
“Kita pulang dulu yuk, istirahat. Kalau mau melihat aktifitas warga, besok lebih pagi kita berangkat. Karena biasanya warga pagi masuk ke hutan dengan membawa bekal dan sore baru akan kembali pulang” Jelas Dodi
Mereka pun sepakat untuk pulang dulu ke base camp. Dalam perjalanan pulang mereka pun masih melanjutkan obrolan mereka.
“Ngomong-ngomong penelitian kak Bram disini apa” Tanya Nara yang masih penasaran dengan aktifitas Bram.
“Owh, aku sedang meneliti pohon-pohon dan tumbuhan Endemik yang sudah langka di pulau Sumatera, katanya di daerah sini masih banyak pohon dan tumbuhan langka dan juga beberapa satwanya seperti harimau sumatera, gajah dan lainnya” jelas Bram.
“Saat ini karena habitatnya dirusak serta banyaknya perburuan liar banyak satwa langka dilindungi yang hampir punah. Jadi kita mau ambil sampel foto dan videonya yang berada di alam liar trus nanti dibuat buku digital agar lebih mudah memperkenalkan kepada masyarakat terutama generasi muda, karena saat ini generasi muda lebih banyak berselancar di dunia maya daripada di perpustakaan” tambah Bram. Bram pun menjelaskan beberapa project yang sedang ia susun bersama timnya.
Tanpa terasa mereka pun sudah tiba di camp dan telah disambut hidangan makan siang yang sudah disiapkan wak atun.
***
Just info ya : Jernang adalah sejenis resin yang dihasilkan dari buah tanaman rotan, tapi tidak semua rotan menghasilkan jernang ya guys..
Nah resin jernang berwarna merah ini sudah dikenal sejak dahulu oleh masyarakat sebagai pewarna alami dan juga bahan baku obat tradisional termasuk kosmetik. untuk rotan jernang ini banyak ditemui di kawasan hutan tropis seperti di Sumatera dan juga Kalimantan.
terimakasih 😊
__ADS_1