
Hening menggelayuti dua insan yang tengah menikmati hidangannya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali menunduk bahkan sesekali saling tatap, entah apa yang terjadi tapi mereka akhirnya tertawa bersama, menertawakan keadaan yang membuat mereka berada ditengah kecanggungan. Ya kecanggungan karena ungkapan hati yang tak mampu dikontrol lagi.
“Kok kita jadi berasa aneh gini ya kak”
“Heee… iya, maaf ya kalau sudah membuat kamu merasa gak enak”
“Gak apa kak, makasih udah jujur”
"Hah, kok malah bilang makasih sih, apa-apaan ini, berati aku terima ni kalau dia kangen. aduh bisa salah paham nih" Ucap Nara dalam hati.
Derit handphone mengejutkan Nara. Nama Licia tertera disana. Nara pun meminta waktu pada Bram untuk mengangkat teleponnya.
“Hallo Assalamualaikum Ca”
“Waalaikumsalam, kamu dimana Ra?”
“Lagi di café makan”
“Sama siapa”
“Sama kak Bram”
“Bram??”
“Iya yang aku ceritain semalam”
“Hah… Gayamuuu mau dijodohin sama aku, taunya sekarang lagi ngadate, udah kangen aja beberapa hari gak ketemu”
“Apaan sih Ca”
“Ya udah lanjutin, nanti aja aku hubungi lagi”
“Trus kamu nelpon aku mau ngapain”
“Gak ada, tadinya juga mau ngajak makan, berhubung kamu sudah ada yang ngajak makan gak jadi deh.. bakal jomblo lagi nih aku”
“Ya udah, gabung sini aja”
“Wuiihh ntar jadi obat nyamuk.. ogaah.. Udah ya lanjuti aja”
“Ya udah deh.. byee..” Nara mengakhiri panggilannya.
“Maaf ya kak, ini yang telpon sahabat aku. Nti kapan-kapan aku kenalin sama kak Bram ya”
Bram mengangguk. Kemudian mereka melanjutkan makan dan beberapa obrolan kecil mulai terlihat diantara mereka berdua.
***
Licia termenung mendapati keadaan ini, tadinya dia menghubungi Nara untuk memberitahukan kondisi Elang saat ini, tapi melihat Nara yang kini tengah dekat dengan pria lain, tentu membuat Licia merasa bersalah nantinya. Pasti saat ini Nara tengah membuka hatinya, mencoba mengobati lukanya. Yang dia pikir Elang benar-benar menyakitinya, padahal kenyataannya Elang justru menjaga hati dan perasaannya. Bukan cuma Nara, tapi lelaki itu juga tersiksa, ia yakin Elang sangat merindukan Nara, dia butuh Nara. Cinta yang begitu besar dia korbankan agar kekasihnya bahagia, padahal dia sendiri... ah entahla Licia tak habis pikir dengan jalan pikiran Elang. Dilingkupi dilema, Licia pun berencana akan menemui Elang, melihat kondisi pria tersebut.
***
Hampir satu minggu ini, Nara tak pernah absen bertemu Bram, baik di waktu makan siang ataupun sepulang kerja. Kehadiran laki-laki itu sedikit membuat luka hatinya terobati, meski dia belum mau membuka hati. Nara masih takut untuk membuka hatinya, bukan saja karena trauma, tapi jujur di setiap sudut hatinya masih tertera nama Elang, yang tidak bisa begitu saja ia hapuskan. Sebenarnya Nara juga berpikir, jika Elang saja bisa menerima perempuan lain kenapa dia tidak. Tapi entahla, ia tidak mau terlalu memberi harapan pada pria lain.
Bram bahkan kini selalu mengantar dan menjemput Nara. Seperti malam ini, setelah pulang kantor, Bram mengajak Nara untuk singgah sebentar di taman kota, berjalan berdua melewati pedestrian dan berakhir di bangku taman. Ada beberapa pasang muda-mudi yang juga tengah duduk berdua bergenggam tangan. Ada rasa rindu di hati Nara, rindu dengan suasana ini, suasana dimana ia pernah merasakannya dulu, bersama... "akhhh kenapa aku masih memikirkannya" Lirihnya.
__ADS_1
"Hei melamun"
"Heh... gak kak.. lagi liatin bunga-bunga itu, cantik ya" Tunjuk Nara pada tanaman anggrek yang sedang berbunga di depannya
"Iya cantik, tapi lebih cantik kamu"
"Mulai deh ngegombal"
Bram memandang wajah Nara, lalu menggenggam tangan Nara lembut.
"Apa Kakak terlihat seperti penggombal" Tanyanya
Nara membulatkan matanya, karena wajah Bram begitu dekat.
"Gak juga"
"Tapi kenapa kamu bilang kakak ngegombal terus sih"
"Hmm itu.." Nara bingung.
"Kamu udah punya pacar?" Tanya Bram.
"Hah?"
Basi banget pertanyaannya Bram, kayak ABG mau nembak cewek, Bram bingung sendiri sih apa yang mau diomongin.
"Pernah punya kak"
" Maksudnya pernah punya?"
"Ya.. pernah punya terus aku diputusin gitu aja"
"Terus pengen pacaran lagi gak?"
Aduuh ini pertanyaan apa lagi sih, Bram bingung banget, gak pernah nembak cewek soalnya.
"Belom pengen sih, masih takut"
Yach.. Patah hati dung. Semangat Bram.... semangat!!!
"Owh gitu... kalau kamu udah pengen pacaran lagi, kakak mau kok jadi kelinci percobaan"
"Hah maksudnya"
"Ya kali aja kamu mau coba buka hati... Coba-coba dulu juga gak apa-apa"
"Apaan sih ni orang ngomongnya" Pikir Nara.
"Hahaha... kakak apaan sih, Siapa yang mau pacaran sama kelinci"
Bram menepuk jidadnya. "Kok kelincinya sih yang ditangkep, bukan itu maksudnya Naraa"
"Ra... jujur aja aku sayang banget sama kamu, kalau sekarang kamu belum mau membuka hati. Aku bakal nungguin waktu itu" Ucap Bram seketika.
Nara hanya melongo mendengar perkataan Bram.
"Ini artinya dia lagi nembak aku gitu, mengutarakan isi hatinya"
__ADS_1
" Maksud kakak?"
"Aku gak bisa nyembunyiin perasaan aku Ra, aku mau hubungan kita lebih dari sekedar teman"
Nara terdiam menatap mata itu, ada ketulusan disana. Tapi entahlah Nara sepertinya belum bisa terima.
"Jujur aja, aku memang merasa nyaman tapi aku belum tahu apa artinya ini kak, aku belum bisa memastikan perasaanku, aku takut mengecewakan" Ucap Nara lirih.
Sedikit sakit, tapi Bram lega. Setidaknya masih ada harapan. Tapi dia juga tidak ingin memaksa.
" Aku gak akan memaksa, kita jalani aja seperti ini dulu, tapi aku mohon jangan merasa tidak nyaman dengan apa yang aku utarakan. Tetaplah seperti ini. Apapun itu, jangan mencoba untuk menghindar" Pinta Bram.
Nara mengangguk dan tersenyum memandang Bram.
"Kita pulang kak, udah mau magrib"
Bram mengiyakan dan mereka pun berjalan menuju parkiran.
"Gak mau makan dulu"
"Gak lah kak.. Nara belum lapar"
"Beneran belum lapar atau gak nafsu makan gara-gara ucapanku"
Skak mat!!! Kenapa bener banget sih. Memang Nara sedikit gak enak hati dan perutnya seperti mual. Mungkin sesak di hatinya mendorong asam lambung sehingga menyebabkan mual. Mual karena pernyataan Bram yang seharusnya sudah Nara sadari akan terjadi, tapi dia tak menyangka akan secepat ini.
"Gak kok kak, beneran. Tapi kalau kakak lapar, Nara temenin makan"
"Ya udah kita pulang aja"
Bram melajukan mobilnya perlahan, membelah jalanan kota. Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di rumah Nara.
Sebelum Nara membuka pintu dan turun dari mobil, Bram menarik tangannya pelan.
"Ra... Please.. Jangan berubah ya" Lirih Bram.
Nara tersenyum dan mengangguk, sebelum turun ia mendekatkan wajahnya ke wajah Bram dan tiba-tiba mengecup pipi laki-laki itu sekilas.
"Makasih kak, maaf" Ucap Nara lalu turun dan langsung menuju rumah tanpa menoleh lagi, karena menahan malu.
"Aduuh apa-apaan ini, kenapa aku melakukan hal bodoh itu!! Bram pasti salah paham ni! Tidak.. tidak... ini tidak benar Nara!!"
Sementara Bram masih terdiam tak percaya, dia mengelus pipinya, kemudian mencubitnya untuk meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi.
Bram tergelak sendiri "Apa ini sebuah jawaban? " Tanya Bram pada dirinya sendiri..
"Nara.... I Love U full dah"
Bram kegirangan dan sepanjang perjalanan pulang ia tersenyum sendiri dan tak henti bernyanyi meluapkan kegembiraan. Hanya sebuah kecupan sudah membuatnya begitu bersemangat. Akhhh... Luar biasa
Kau cantik hari ini
Dan aku suka
Kau lain sekali
Dan aku suka....
__ADS_1