
Nara membuka mata dengan kepala yang sedikit pusing, samar-samar ia melihat jam di dinding kamarnya, menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. "Hah" Nara terkaget dan mengucek kembali kedua bola matanya, tapi dia memang tidak salah lihat, dan tersadar ia kesiangan. dia hanya punya waktu empat puluh lima menit untuk tiba dikantor, dengan estimasi perjalanan dari rumah ke kantor butuh waktu tiga puluh menit, berarti dia hanya punya waktu lima belas menit untuk bersiap.
Dengan segera Nara melompat dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi, tidak ada ritual mandi seperti biasanya, yang terpenting membersihkan tubuh secara singkat, sikat gigi dan juga membersihkan wajah. Setelah itu ia langsung membuka lemari mencari pakaian kerja, tidak ada waktu untuk memilih-milih atau memadu padankan atasan dan bawahan yang terpenting adalah pakaian yang pas digunakan ke kantor. Menyisir rambut dan membawa beberapa peralatan make up seperti bedak, lipstik karena tak sempat lagi memakainya. Tak lupa ia menyambar tas dan kunci mobilnya dan juga membawa laptop. Setelah semua siap, ia bergegas keluar rumah, tidak ada waktu untuk sarapan, bahkan sekedar minum air pun tidak. Nara tengah berpacu dengan waktu agar bisa tiba di kantor tepat waktu.
Tiba di kantor, Nara segera menuju ruang absen, tepat pukul delapan. Nara menarik napas lega karena pagi ini tidak terlambat, meskipun dengan penampilan acak-acakan.
"Tumben paling terakhir datang, biasanya paling awal, bahkan yang pertama buka pintu" Ledek Rido.
"Berisik"
"Eh abis ngapain Ra, kok kucel gitu belom mandi ya"
"Bisa diem gak sih, pagi-pagi ribut" Balas Nara.
"Yeee orang nanya juga, sensi amat sih? bawaan ya?"
"Iya, bawaan pengen ngegampar orang!"
"Uuuhhh... Takut" Ucap Rido sembari menggeser kursinya menjauh.
Nara pun duduk di kursinya, mengeluarkan beberapa peralatan make up dari tasnya dan mulai mengaplikasikan di wajahnya.
"Kesiangan Ra? sampe gak sempet dandan di rumah?" Tanya Amel yang baru saja masuk ke ruangan.
"Ho'oh" Jawab Nara sembari mengaplikasikan bedak di wajahnya.
"Memang semalam ngapain? begadang ngelanjutin kerjaan ya?"
Nara hanya mengangguk, kemudian membereskan peralatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Beberapa kali Nara menekan pangkal hidungnya karena kepala terasa sakit, sejak bangun tidur tadi memang Nara merasa sedikit pusing, mungkin karena terlalu lelah dan kurang tidur. Selain pusing, Nara juga merasakan mual, apalagi pagi ini belum ada sesuatu pun yang masuk ke dalam perutnya. Mungkin asam lambungnya naik atau mungkin juga penyakit maghnya kambuh, mengingat kemarin ia juga telat makan dan malam tadi hanya makan mie instan.
"Gak Nara, kamu gak boleh sakit, kuat..kuat" Nara meyakinkan diri.
Nara mulai menghidupkan komputernya dan akan melanjutkan pekerjaanya, namun karena pusing dan perutnya yang tak enak Nara tidak bisa konsentrasi. "Sepertinya memang harus mengisi perut nih" Lirih Nara karena memang tubuhnya tidak bisa lagi diajak kompromi. Nara beranjak berdiri dan berencana ke pantry untuk membuat segelas teh hangat dan juga meminta tolong OB kantor untuk membelikan sarapan.
Baru beberapa langkah berjalan, pandangan Nara mulai berkunang-kunang, awalnya ia melihat seluruh sisi ruangan berwarna kuning, tak lama berubah jadi hitam, gelap dan Nara tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri dan ia limbung.
__ADS_1
BRUUUK!!!! Nara terjatuh. Ketiga teman Nara terkaget mendengar suara benda jatuh dan mencari asal suara.
"Nara!!!" ketiganya berteriak serentak, karena suara tadi berasal dari dentuman tubuh Nara yang terjatuh ke lantai. Dengan sigap Rido, Andi dan Amel mengangkat tubuh Nara. Beberapa karyawan lain yang mendengar suara gaduh pun mendekat.
Rido dan Andi meletakkan tubuh Nara di sofa, sementara Amel mencoba mencari minyak kayu putih atau apapun itu untuk menyadarkan Nara. Kedua telapak tangannya dingin dan wajahnya tampak pucat. Amel mengoleskan minyak kayu putih di hidung Nara, agar uap minyak tersebut dapat memulihkan kesadaran Nara. Amel juga mengoleskan minyak kayu putih di telapak tangan Nara untuk memberi kehangatan, karena telapak tangan itu dingin dan pucat.
"Tolong buatkan teh hangat" Ucap Amel pada salah seorang OB yang tengah berada di sana .
Kesadaran Nara mulai pulih, ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut karena terbentur lantai.
"Ra... Ra.. Sadar Ra," Ucap Amel lembut sembari menepuk-nepuk pelan pipi Nara.
Nara membuka mata dan melihat sekeliling, ia melihat mereka satu per satu.
"Kok pada ngeliatin aku" Ucap Nara bingung.
"Kamu tadi jatuh, trus pingsan"
"Owh" Jawab Nara lirih, sembari mengingat-ingat kejadian tadi. Ya dia ingat tadi kepalanya pusing dan pandangannya berkunang-kunang, kemudian ia tak ingat lagi hingga akhirnya tersadar sudah berada di sofa dan dikelilingi teman-temannya.
"Kamu kecapean ya Ra?" Tanya Amel.
"Iya mungkin" Jawab Nara sembari menahan mulutnya karena rasanya dia ingin muntah. Nara tak sanggup lag menahan, ia pun meminta Amel membantunya ke toilet. Nara memuntahkan teh yang baru saja diminumnya, selanjutnya cairan kuning turut keluar dengan rasa yang sangat pahit. Sepertinya penyakit magh Nara kambuh, karena memang Nara memiliki masalah lambung jika terlambat makan.
Setelah mengeluarkan semua cairan dari perutnya, Nara terduduk lemas dan kemudian kembali tak sadarkan diri.
Amel panik dan berteriak memanggil Rido dan Andi.
"Rido!! Mas Andi!! cepetan ke sini, Nara pingsan lagi" Teriak Amel.
Rido dan Andi pun bergegas menyusul, diikuti oleh pak Darwin yang keluar dari ruangan mendengar teriakan Amel.
"Bawa ke Rumah sakit saja" Perintah Darwin.
Ketiganya pun segera mengangkat Nara dan membawanya ke mobil untuk segera menuju rumah sakit.
__ADS_1
***
Rumah Airin
Airin yang tengah memasak di dapur tidak mengetahui jika ponselnya sedari tadi berdering. Tak lama kemudian Wisnu suami Airin datang menghampiri dengan membawa ponselnya.
"Sayang.. ponselmu dari tadi berdering, angkat dulu"
"Siapa yang menelpon?"
"Gak ada namanya, nomor tak dikenal"
"Ya udah biarin aja"
"Tapi ini sudah lebih lima kali, siapa tahu penting"
Dengan malas Airin mengambil ponselnya, baru akan diangkat tapi nada deringnya kemudian mati.
"Tuh kan paling orang iseng" Ucap Airin pada suaminya. Namun tak lama ponselnya kembali berdering.
"Hallo Assalamualaikum, siapa ni!" Tanya Airin ketus.
"Waalaikumsalam tante, maaf mengganggu. Saya Amel temen kerjanya Nara"
"Iya ada apa? Nara kenapa?" Airin mulai khawatir, karena baru kali ini teman kantor Nara menghubunginya.
"Itu tante.. anu.. itu"
" Ini, anu itu apa? kalau ngomong yang jelas dong"
" *Itu tante, Nara tadi pingsan di kantor, ini sekarang sedang kami bawa ke rumah sakit"
"Apa!! Kenapa bisa? Rumah sakit mana?" Tanya Airin panik*.
Setelah mendapatkan informasi jelas dan rumah sakit tujuan, Airin menutup telponnya. Segera ia menyelesaikan masakannya.
__ADS_1
Airin pun memberitahu suaminya dan mereka bergegas menyusul Nara ke rumah sakit..