Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Tidak konsentrasi


__ADS_3

Beberapa hari ini Nara sangat sibuk bolak-balik dari rumah, kantor dan rumah sakit. Bahkan di kantor ia sungguh tidak konsentrasi mengerjakan pekerjaannya, padahal ia menargetkan tulisan hasil penelitian di desa itu rampung dalam satu atau dua minggu ini, tapi ini setelah satu minggu, baru beberapa bab yang ia selesaikan, sementara pak Darwin terus menanyakan.


“Ra, dipanggil bos tu” Panggil Amel yang baru saja keluar dari ruangan atasanya.


“Iya sebentar, ni lagi nyiapin satu bab dikit lagi”


“Sekarang, sebelum dia sendiri yang keluar manggil kamu”


Nara pun menyimpan hasil ketikannya dan dengan malas berdiri kemudian berjalan ke ruangan atasannya. Nara yakin pasti pak Darwin akan bertanya soal pekerjaannya sudah sampai dimana, apa yang mau Nara jelaskan kalau dia baru membuat beberapa bab saja.


Tok..tok “Permisi”


“Masuk”


Nara membuka pintu setelah mendengar jawaban dari dalam dan mempersilahkan masuk.


“Bapak panggil saya” Tanya Nara ketika berdiri di depan lelaki paruh baya itu.


“Iya, duduklah”


Nara pun menggeser kursi dan duduk diseberang meja tepat dihadapan bosnya.


“Gimana pekerjaan kamu, sudah sampai dimana? Saya ingin dalam satu bulan ini buku tersebut sudah naik cetak. Karena peluncuran buku akan digandeng dengan acara yang dibuat oleh kementrian kehutanan”


Nara melongo


“Satu bulan pak?” Tanya Nara


“Iya.. Kenapa? Ada masalah?”


Nara menarik nafas perlahan "Gak ada pak, saya akan usahakan buku itu secepatnya selesai” Ucap Nara.


Sebenarnya Nara bisa saja menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu cepat, namun kini konsentrasinya benar-benar buyar, dalam pikirannya hanya ada Elang dan bagaimana caranya untuk membuat lelaki itu bersemangat untuk sembuh. Bahkan waktunya beristrirahat pun kurang karena sepulang kerja ia akan langsung menemui pria itu untuk menemaninya.


“Apa yang kamu pikirkan Nara?” Tanya Darwin karena melihat Nara termenung.


“Eh gak ada pak, kalau sudah tidak ada hal lain, saya permisi keluar pak untuk melanjutkan pekerjaan saya”

__ADS_1


“Ya, silahkan”


Nara pun keluar dengan langkah gontai kembali menuju meja kerjanya.


“Kenapa Ra? Lesu amat? Kena marah bos ya?” Tanya Amel.


“ Gak kok, Cuma bos minta dalam satu bulan buku ini sudah naik cetak, sementara sekarang aja baru beberapa bab yang aku bikin”


“Lha bukannya kamu biasanya bisa selesaikan pekerjaan dalam satu atau dua minggu. Hasil laporan orang aja bisa kamu bikin dalam satu minggu, kenapa ini yang kamu sendiri turun ke lapangan gak bisa” Tanya Amel “Apa kamu ada masalah ya? Aku lihat beberapa hari ini kamu lesu dan kelihatan pucat kayak kecapean gitu?” Tambah Amel lagi.


Nara menarik nafas berat, ia memang belum menceritakan apapun pada Amel, meskipun dikantor mereka dekat tapi tentang masalah pribadi Nara memang jarang bercerita padanya. Hanya ada beberapa hal yang sering Nara ceritakan pada Amel. Hanya Licia sahabat satu-satunya tempat Nara berbagai selama ini.


“Banyak Mel, rasanya juga berat”


“Ehmm… kamu gak mau cerita?”


“Nanti aku ceritain, tapi mungkin bukan sekarang, waktunya belum tepat. Sekarang aku mau fokus mengerjakan pekerjaanku dulu”


“Ok baiklah.. semangat!!” Ucap Amel sembari mengacungkan dua jempolnya. Amel juga tidak ingin memaksa Nara untuk bercerita.


 


Beberapa bab berhasil Nara kerjakan hari ini, bahkan ia melewatkan jam makan siangnya, apalagi saat ini ia tengah datang bulan, jadilah sejak pagi hingga sore ia tidak keluar dari ruangan, kecuali ke toilet. Nara meregangkan otot-otot tubuhnya setelah berjam-jam berkutat dengan komputernya. Perutnya pun mulai berdendang karena sejak pagi hanya terisi segelas susu dan dua potong roti. Setelah membereskan pekerjaanya, Nara mulai melangkahkan kaki keluar ruangan, melihat Jam yang baru menunjukkan pukul 15.30, masih ada waktu tiga puluh menit lagi hingga jam pulang kerja. Nara pun memilih menuju kantin untuk mengisi perutnya.


Diambilnya handphone dari saku celananya, dan mulai mengaktifkan kembali, karena sedari tadi Nara sengaja mematikan daya telepon selularnya agar tidak ada yang mengganggu konsentrasinya. Tiba di kantin Nara pun memesan makan dan segelas jus jeruk.


Baru saja diaktfikan beberapa notifikasi masuk di handphonnya, ada beberapa pesan dari Licia, Elang dan Nara terkaget ada banyak pesan dari Bram. Ya pria itu, memang beberapa hari ini ia abaikan, tepatnya sejak ia mengetahui kondisi Elang. Bahkan beberapa kali telponnya pun tak pernah Nara angkat, karena Ketika Bram menghubungi dia sedang bersama Elang. Pun beberapa pesan singkat yang tak sempat Nara balas.


 


Bram : [ Dimana Ra? Kenapa hp mu gak aktif]


Bram : [Kamu masih marah Ra]


Bram : [Bisa kita ketemu Ra?]


Bram : [Please Ra, jawab]

__ADS_1


 


Kira-kira seperti itulah bunyi pesan dari Bram. Nara bingung mau menjawab apa, karena sejak pertemuan waktu itu, dimana Bram mengungkapkan perasaanya, Nara tak pernah lagi bertemu. Padahal mulai malam itu, Nara berencana membuka hatinya untuk Bram, mencoba melupakan Elang dan membuka lembaran baru. Tidak ada alasan untuk menolak lelaki baik itu, tapi kini setelah ia mengetahui kenyataan tentang Elang, semua rencana itu berubah haluan tiga ratus enam puluh derajat. Tapi Nara bingung bagaimana caranya menyampaikan ini pada Bram.


Belum lagi Nara sempat menjawab pesan Bram, hpnya berdering dan tertera nama Bram dilayar.


“Hallo Assalamualaikum” Ucap Nara Usai memencet tombol hijau untuk menjawab panggilan.


“Waalaikumsalam, Kamu dimana Ra?”


“Aku dikantor, maaf tadi hpku mati, jadi baru buka pesan-pesan dari kakak”


“Kamu baik-baik aja kan? Hp sengaja dimatikan. Mau menghindar dari aku ya?” Tanya Bram penuh selidik.


“Gak kok kak, aku hanya ingin berkonsentrasi dengan pekerjaan, makanya hp aku matikan. Bos ngasih dedline supaya buku ini cepat kelar” Jawab Nara, sebenarnya memang salah satunya dia tidak ingin Bram juga menghubungi yang membuat fokusnya akan terbagi-bagi.


“Owh.. maaf sudah salah sangka”


“iya kak gak apa”


“Nanti pulang kerja ketemuan yuk, ditempat biasa”


“Maaf kak, sepertinya belum bisa, aku mau lanjutin  kerjaan di rumah, lagi semangat-semangatnya ni nulis. Ntar kalau ketemu kakak konsentrasinya ilang” Jawab Nara sembari bercanda agar tidak membuat Bram kecewa.


Terdengar suara tawa diseberang  sana


“Ya udah kalu belum bisa, semangat buat kerjaannya, atau kamu mau aku bantu”


“Hmmm… bantu doa aja deh kak, biar cepat kelar”


“Hahaha.. Baiklah.. see you next time, Miss you” Ucap Bram sebelum mengakhiri panggilannya. Dia menjeda beberapa saat untuk mendengar jawaban dari penerima telepon.


Nara hanya terdiam tanpa menjawab ucapan Bram lalu mematikan ponselnya.  Sementara diseberang sana Bram mengerenyitkan keningnya, karena panggilan diputus tanpa ada jawaban apapun.


“Yaa dimatiin, jawab dulu kek Ra, Miss u too kakak gitu” Ucap Bram pada dirinya sendiri. Meski merasa terabaikan namun Bram masih bisa menerima alasan Nara, walaupun sejujurnya dia masih merasa ada yang mengganjal dan aneh dari sikap Nara. Sejak pertemuan terakhir mereka Nara tak pernah lagi menerima panggilannya, bahkan beberapa pesan yang dikirim juga diabaikan. Baru kali ini Nara mau menerima panggilan darinya.


Nara menarik nafas berat, makanan dihadapannya baru separuh dimakan tapi dia sudah merasa kenyang bahkan mual, entah karena perasaannya yang tengah tidak menentu atau mungkin asam lambungnya mulai naik, sehingga perutnya tak enak dan berasa mual..

__ADS_1


__ADS_2