Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Dua Pesan


__ADS_3

Nara bergegas menuju rumah sakit, tadi dia sempat membaca pesan dari Elang yang menanyakan jam berapa ia akan ke Rumah sakit, kemungkinan ia dibolehkan pulang karena kondisinya mulai membaik, hanya tinggal menunggu jadwal kemotherapi.


Sampai di rumah sakit, Nara segera menuju ruangan tempat Elang di rawat. Elang sedang duduk di ranjangnya, sementara beberapa alat bantu sudah dilepas sejak beberapa hari lalu, dan kini selang infus pun tidak lagi terpasang di tangannya. Perubahan cukup signifikan terjadi pada Elang sejak Nara selalu bersamanya. Raut wajah dan tatapan kosong yang biasanya terlihat kini sudah mulai berubah cerah dan ceria. Tatapan mata yang dahulu kosong dan redup kini mulai berbinar penuh semangat, karena memang sejak kedatangan Nara, Elang benar-benar bersemangat untuk sembuh.


“Hai, udah siap-siap mau pulang”


“Iya nih, tinggal nunggu kamu”


“Tante mana? Kok sendirian”


“Lagi nyelesain administrasi”


Nara pun membantu membereskan beberapa barang dan membantu Elang untuk naik ke kursi roda.


“Gak perlu pake kursi roda, aku bisa jalan kok” Jawab Elang.


“Masak sih”


“Dari kemarin juga udah bisa, Cuma lagi manja aja biar kamu mau bantuin aku” Ucap Elang.


“Wahaha, bisa ya manja-manja gitu.. Brarti udah bisa dong gendong aku lagi, gantian kan aku yang manja”


“Mau?? Sini” Ucap Elang menarik tangan Nara untuk dirangkulnya.


“Heee.. gak sayang aku becanda, lihat kamu gini aja aku sudah senang banget”


Elang mengelus kedua pipi Nara lalu memberikan kecupan di pipinya.


“Makasih ya untuk semuanya, karena kamu aku bisa seperti ini”


“Sudah semestinya, harusnya dari dulu, kamunya aja yang jahat banget” Ucap nara sembari mengerucutkan bibirnya.


“Jahat banget ya”


“Banget!! Untung aja aku gak buka…” Nara menghentikan kalimatnya. “Hati aku untuk orang lain, bahkan hampir”  Lanjut Nara dalam hati.


“Buka apa?” Tanya elang karena kalimat Nara menggantung.

__ADS_1


“Buka-bukaan didepan kamu” Jawab Nara asal untuk mengalihkan perhatian Elang.


"Bukan cuma karena ada aku kok kamu bisa seperti ini, tapi ini juga usaha kamu dan juga doa-doa dari mama" ucap Nara.


Tak lama berselang mama Elang datang


“Eh anak gadis mama dah datang, baru pulang kerja Ra”


“Iya ma”


“Gak capek”


“Gak lah ma”


“Ayok kita pulang” Ajak mama Elang.


Mereka pun berjalan pulang, Elang bahagia karena kini ia berjalan bahkan menggandeng mesra tangan Nara. Mama Elang adalah orang yang paling bahagia melihat perubahan pada anaknya. Dia yang sempat putus asa kini tak hentinya berdoa untuk kesembuhan anaknya.


***


 


“Lang, aku pulang dulu ya, besok aku kemari lagi. Kamu jangan lupa minum obat dan istirahat”


“Capek banget ya, muka kamu pucat Ra”


“Hmm.. gak kok, ini karena lipstick aku udah luntur jadi kayaknya pucat” Ucap Nara untuk menghapus kekhawatiran Elang.


Elang menarik tangan Nara agar gadis itu duduk disampingnya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Nara, menatap matanya. Rasanya sudah sangat lama ia tidak melihat Nara dan menyentuhnya sedekat ini. Tak lama kedua bibir dua insan pun menyatu, saling berpagut mesra penuh kerinduan. Elang bukanlah pria nakal yang suka mencuri kesempatan, bahkan selama ini di dalam hubungan mereka hanya pelukan dan berciuman yang mereka lakukan. Tapi entah mengapa kali ini ia ingin melakukan lebih dari itu, tapi sebelum Elang melakukan hal lebih jauh, Nara menarik diri, dan sedikit menggeser tubuhnya menjauh.


“Kamu harus istirahat Lang, ingat kamu baru sembuh”


“Maaf Ra” Ucap Elang merasa bersalah


“Aku gak mau nanti kamu kenapa-napa lagi. Jangan minta maaf kamu gak salah, aku juga sangat merindukan saat-saat seperti ini. tapi ini sudah larut malam, aku takut kita juga semakin terlarut” Ucap Nara.


Elang tersenyum.

__ADS_1


“Hati-hati ya”


“Aku pulang dulu” Ucap Nara sembari memberi kecupan dikening pria itu. Lalu nara meninggalkan kamar Elang dan kemudian berpamitan dengan mamanya untuk pulang.


***


Tiba di rumah, Nara segera membersihkan diri, mandi dengan air hangat untuk merilekskan tubuhnya, membuang semua kepenatan. Usai membersihkan diri, Nara beranjak ke dapur, selera makannya sedikit berkurang mungkin karena terlalu lelah. Akhirnya Nara memasak mie instan, entah kenapa setiap kali malas makan nasi tapi Nara selalu berselera jika makan mie instan. Padahal katanya sih kurang sehat, tapi terserahlah karena aroma mie instan benar-benar menggoda selera.


Setelah makan, Nara berencana melanjutkan pekerjaannya, tapi baru mau membuka laptopnya, kantuk mulai menyerang, bekerja dengan tubuh lelah dan ngantuk tentu tidak akan ada hasilnya. Baiklah kalau begitu wahai tubuh, kita beristirahat.


Baru saja melemparkan tubuh di ranjang dan ingin memejamkam mata, ponselnya berdenting tanda notifikasi pesan masuk. Terdengar dentingan dua kali. Dengan malas nara beranjak meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.


Elang : [Selamat malam, selamat beristirahat bidadariku, mimpi indah dan mimpiin aku ya]


Bram : [Malam Nara, jangan begadang ya, yakin kamu pasti bisa selesaikan pekerjaanmu. Gud nite]


Dua pesan dari dua pria yang berbeda, Nara menghela nafas panjang, tak tahu harus bagaimana membalas pesan dari Bram.


Nara : [ Selamat malam, Pasti mimpi kamu] Pesan terkirim ke Elang.


Nara : [ Nite too] Pesan terkirim ke Bram.


Nara bersandar di ranjangnya sembari memeluk bantal. Dia sedang memikirkan cara bagaimana mengatakan pada Bram tentang semua ini. Memang sebelumnya Nara sudah meyakinkan Bram jika hatinya belum bisa menerima, tapi dari sikapnya kemarin yang tiba-tiba mencium Bram membuat Nara khawatir Bram salah paham. Kenapa aku begitu bodoh sih! Elang juga sih kenapa juga pake nutup-nutupin sakitnya.


Andai saja Nara tahu lebih awal tentang penyakit Elang, dia mungkin tidak akan menerima tawaran atasannya untuk berangkat ke desa. Andai saja dia tidak berangkat ke desa, dia juga tidak akan pernah bertemu dengan Bram. Andai saja dia tegas menyatakan bahwa tidak bisa menerima Bram. Andai saja... Andai saja..


"Aaarrrggghh!! Untuk apa berandai-andai semua sudah terjadi" Rutuk Nara pada dirinya sendiri. Nara mencengkram rambutnya, menyesali sesuatu yang dia sendiri tak tahu mengapa bisa ia lakukan.


"Ayolah tidur Nara, masih ada hari esok yang mungkin akan lebih baik hari ini" Ucap Nara menyemangati dirinya sendiri.


Manusia hanya berencana


Tuhanlah yang memiliki segalanya


Jika Tuhan sudah berkendak, apapun bisa terjadi..


Mungkin inilah takdirnya

__ADS_1


Berada pada dua pilihan..


__ADS_2