
"Aku akan menikah dengan Elang" Ucapan
yang keluar dari bibir Nara sontak membuat Licia terkejut.
"Menikah?, kamu serius?" Licia membulatkan bola matanya, tak percaya akan ucapan sahabatnya, yang mungkin hanya candaan semata.
"What?? Nikah? Serius" Jawab Nara sembari menyeruput lemon tea. "Aku sudah memikirkan ini semalam, aku ingin menjaganya selalu berada disampingnya, merawatnya hingga ia pulih. Aku takut tak memiliki kesempatan itu" Tatapan Nara kosong, pikirannya seolah mengingat setiap perkataan Elang yang membuatnya khawatir dan juga takut.
Sejak semalam, setelah pertemuan mereka sore itu, hati dan pikiran Nara dipenuhi oleh tiap ucapan yang keluar dari bibir Elang, seolah mengisyaratkan kepergian.
Jika suatu saat nanti aku tiada, berjanjilah kamu akan selalu bahagia
Kalimat itu seolah terngiang di telinga Nara.
"Tidak.. tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan bahagia tanpanya" Air mata mulai menggenang di pulupuk mata Nara.
Licia merengkuh pundak sahabatnya. Licia tau ini sangat berat untuk Nara, melihat orang yang ia cintai dalam kondisi terpuruk.
"Kenapa tiba-tiba kamu mengambil keputusan ini? apakah Elang yang meminta" Licia ingin meminta penejelasan, karena menikah bukan perkara mudah dan juga bukan solusi yang mestinya diambil Nara.
__ADS_1
"Ini murni keinginanku sendiri, bahkan aku belum membicarakannya dengan Elang"
Licia menarik nafas berat. "Coba tolong pikirkan baik-baik"
"Kamu tidak mendukungku?"
"Bukan, bukan begitu, aku hanya tidak ingin kamu mengambil keputusan dalam keadaan gamang seperti ini. aku tahu kalian menginginkannya bahkan sudah memimpikannya, tapi apa mungkin saatnya sudah tepat"
"Aku hanya tak ingin menyesal, dan aku juga akan membicarakan ini pada bibi Airin"
Licia tak mampu lagi berkata, ia hanya mengangguk sembari menguatkan Nara. "Jika ini yang terbaik lakukanlah. Bahagiakan dia" Licia memeluk erat sahabatnya.
***
"Tapi Nara takut dia benar-benar pergi sebelum kami membangun impian dan masa depan kami. Memiliki keluarga kecil" Lirih Nara sembari terisak.
Airin menatap mata sendu yang semakin sembab oleh air mata, sarat dengan kesedihan.
"Nara, Jodoh dan maut itu sudah diatur. Jika memang kalian ditakdirkan bersama dan berjodoh, Allah pasti tunjukkan jalannya. Manusia memang boleh berencana, tapi Tuhan punya kehendak dan menentukan segalanya. Serahkan semuanya kepada Allah, ikhtiar dan berdoa semoga Elang diberi kesembuhan. Jangan pernah mendahului takdir, tidak ada satu manusia pun yang bisa mengukur hidup dan mati seseorang"
__ADS_1
Perlahan Airin memberikan pengertian kepada Nara, ia ingin keponakannya bisa berfikir logis tidak hanya menuruti keinginan sesaat. Ia sangat tahu ketakutan akan kehilangan yang tengah dirasakan oleh Nara, tapi jika ia memberikan izin untuk menikah, sementara kondisi Elang yang masih jauh dari kata baik. Justru kesakitan yang akan Nara rasakan bisa jadi lebih parah jika nanti Elang benar-benar pergi dan meninggalkan Nara dengan status Janda. Airin tak ingin itu terjadi. Meskipun ia berupaya keras menepis pemikiran itu, tapi ia benar-benar tidak rela jika nanti keponakannya merasakan kesendirian yang berkepanjangan.
"Ada atau tidak ada izin dari bibi, Nara tetap akan meminta Elang untuk menikahi Nara secepatnya!" Tiba-tiba Nara melepas pelukan bibinya. "Bibi tidak tahu apa yang kini Nara rasakan. Nara ingin selalu berada disamping Elang, apapun keadaannya!" Nada suara Nara sedikit meninggi dan penuh penekanan, namun tetap dengan isakan dan kata-katanya tercekat ditenggorokan karena menahan tangisnya.
Nara beranjak meninggalkan Airin.
"Nara!" Panggil Airin " Tolong dengarkan bibi dulu. Bukan begini caranya jika kamu ingin membahagiakan Elang, Bibi bukan tidak mengizinkan, tapi belum saatnya"
Bahkan Nara tak menggubris ucapan Airin, ia terus melangkah menuju pintu keluar rumah, Airin berusaha mengejarnya. Tangan Airin yang sempat menarik lengan Nara pun ditepisnya. "Bibi tidak akan pernah mengerti perasaan Nara!"
Nara segera masuk ke mobilnya dan meninggalkan halaman rumah bibinya dengan perasaan kacau. Baru kali ini ia bertindak kasar kepada bibinya. Entah apa yang tengah bergejolak di dalam dirinya, putus asa dan kecewa karena sepertinya keinginannya tidak didukung oleh orang-orang terdekatnya.
***
Disepertiga malam, Nara terbangun. Segera ia mengambil wudhu dan sholat malam. Memohon petunjuk kepada Allah atas kegundahan hatinya.
Dalam isak tangisnya, Nara bermohon untuk kesembuhan Elang serta meminta petunjuk untuk memantapkan hati melangkah ke jalan yang Allah ridhoi. Jika memang Elang adalah jodonya, maka Allah akan mengizinkan mereka bersama, namun jika tidak Nara akan pasrah akan takdirnya, yang Nara ingin adalah Elang bahagia, sehat seperti sediakala dan tidak lagi mengalami kesakitan seperti yang kini tengah ia rasakan.
Usai salat dan memohon petunjuk, Nara merasa lebih tenang. Bahkan ia merasa bersalah karena sudah berkata dan bertindak kasar pada Airin bibinya yang juga selaku pengganti orang tuanya.
__ADS_1