Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Elang dan Merpati


__ADS_3

Licia membuka pintu rumah dan menghampiri Nara


"Berisik banget sih, kebiasaan nyampe rumah orang bukannya turun malah bunyiin klakson" sungut Licia sembari menyilangkan tangannya di dada.


Nara hanya nyengir, kemudian turun dari mobil dan langsung memeluk Licia dan detik selanjutnya langsung menangis. Licia yang bingung melihat sahabatnya seperti itu langsung menenangkan dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Datang-datang meluk terus nangis, kamu kenapa sih?" ucap Licia, karena ditelepon tadi Nara hanya bicara ingin bertemu dan tidak menceritakan jika ia sedang ada masalah.


Nara masih menangis sesenggukan dan belum sanggup bercerita.


"Ok kalau kamu belum siap, tenangkan diri dulu, aku buatin minum ya sayang.. cup..cup.. jangan nangis lagi" ucap Licia sambil tersenyum dan pergi ke dapur.


Perlahan Nara menghapus airmatanya dan menarik nafas dalam dan menghembuskanya berulang kali untuk menenangkan diri.


"Nih minum lemon tea plus mint untuk menghangatkan dan menyegarkan tenggorokanmu yang pasti sakitkan karena menangis" ucap Licia


"Ya sih tenggorokanku sakit, tapi ada yang lebih sakit lagi, disini" ucap Nara sembari menangkupkan telapak tangganya di dada.


Setelah meminum teh hangat Nara mulai mengatur nafas dan bercerita tentang kepedihan hatinya serta kandasnya hubungan dia dan Elang.


"What?? Elang cuma bilang putus dan tidak memberikan alasan apapun. trus kamu percaya gitu?"


"Gimana gak percaya, orang aku lihat sendiri dia pelukan dengan perempuan itu" hiks.. nara kembali menangis. "Bahkan dengan teganya dia bilang, jangan sedih kamu kan sudah terbiasa"


Licia membulatkan matanya dan mengepalkan jemarinya "kurang ajar itu si Elang, berani-beraninya dia selingkuh dan mutusin kamu" Licia marah dan tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.


"gimana sih penampakan perempuan yang sudah buat Elang ninggalin kamu" Licia mulai penasaran


"Yaaa... cantik sih, putih, tinggi kayak model gitu sih. kalau dibandingin aku beda tipislah, tapi aku yang tipis dia yang tebel" hiks


"Kalau dia lebih cantik... ya udah, kamu yang sabar ya" ucap Licia kemudian tertawa.


"Sialan" umpat Nara.


"Ya terus aku mau bilang apa, kamu aja ngaku kalu dia lebih dari kamu, berarti kamu sadar kan" ejek Licia.

__ADS_1


"Maksudnya dia make upnya tebel kalau aku make upnya tipis-tipis aja sudah cantik" Nara membela diri sembari memanyunkan bibir.


Licia tertawa mendengar sahabatnya itu sudah mulai tenang


"Tapi ya, koq aku masih gak percaya Elang setega itu sama kamu, setahu aku dia paling gak bisa lihat kamu sedih, apa lagi sampai nangis jelek gini" ungkap Licia sembari berfikir dan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke meja


"Kamu aja gak percaya apa lagi aku" balas Nara.


"Hem... jangan-jangan tu perempuan pakai guna-guna atau ilmu pelet kali ya" sambung Licia


"Wah bisa jadi tuh, secara kan selama ini Elang paling benci kalau ngeliat cewek pakai pakaian minim trus make upnya menor gitu, aku aja gak pernah dandan menor karena dia gak suka" Nara seolah membenarkan ucapan Licia tentang ilmu pelet.


"Ha.ha. aku hanya bercanda, hari gini masih percaya gituan, haduh non gak zaman" ucap Licia sembari menepuk pipi Nara.


Nara bersungut "tadi dia yang bilang, sekarang aku yang disalahkan, ni anak bikin emosi aja deh" rutuk Nara dalam hati


"Sudah jangan sedih lagi, hilang satu tumbuh seribu, kalau kamu kehilangan Elang kita cari yang lain, Merpati aja deh, katanya burung merpati itu paling setia dengan pasangan" ucap Licia menghibur Nara.


"Gaya aja cari yang lain, sendirinya aja masih ngejomblo sejak putus tahun lalu" ejek Nara.


mereka berdua pun tertawa lepas menghibur diri sendiri yang kini nasibnya sama. Ya sama-sama jomblo ngenes.


Setelah makanan datang, mereka berdua langsung makan, selanjutnya melaksanakan sholat zuhur dan kembali melanjutkan cerita hingga keduanya lelah dan tertidur.


***


Di kantor Elang


Elang mengusap pipinya yang perih akibat tamparan Nara. sebenarnya ia sungguh tak tega melihat kekasihnya itu menangis karena memang selama ini ia tak pernah membiarkan Nara bersedih. bahkan saat Nara memukul tubuhnya ia ingin sekali memeluk tubuh mungil itu. tapi kali ini ia harus benar tega.


"Kenapa kau tidak berterus terang padanya" ucap Helda


ya Helda adalah perempuan yang dilihat Nara bersama Elang


"Maaf karena aku melibatkanmu dalam masalahku" ucap Elang

__ADS_1


"Dengan senang hati aku akan membantumu, tapi menurutku ini bukan jalan terbaik, karena kau juga akan terpuruk" ujar Helda.


"Tapi bagaimana kau bisa tahu kalu dia akan kemari dan melihat sandiwara ini"


"Dia mengirimkan pesan singkat, tapi tidak aku balas, dan aku sangat tahu jika dia selalu mengkhawatirkanku dan akan mencariku jika panggilan atau pesannya tak aku respon"


Elang sangat paham kebiasaan Nara, dia akan berusaha untuk mencari tahu apapun yang mengganjal di hatinya.


Helda tertawa mendengarkan ucapan Elang,


itu artinya ikatan mereka sangat erat satu sama lain tapi kenapa Elang mengambil langkah seperti ini, Helda semakin tak mengerti.


"Ya sudah, aku pergi dulu jika nanti ada sesuatu yang kau butuhkan jangan sungkan hubungi aku. ingat ya jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak berfikir, ingat pesan dokter. aku akan selalu mendukungmu, tapi untuk rahasia ini aku tidak janji bisa menyimpannya sendiri" ucap Helda


"Maksudmu" balas Elang yang tidak mengerti dengan kalimat terakhir dari Helda


"Ya aku kan punya kekasih, jika suatu saat dia melihatku jalan denganmu, aku harus jujur dong biar dia gak salah paham" kata Helda.


Elang mengangguk tanda mengerti karena dia juga tahu Helda mempunyai kekasih


***


Sebenarnya Helda hanyalah sepupu jauh Elang, yang sengaja dimintanya untuk membantu sandiwaranya agar hubungannya dengan Nara berakhir. ada hal yang membuat Elang harus melakukan ini, karena dia fikir ini yang terbaik untuk kedepannya. tidak ada alasan lain selain selingkuh, karena Nara paling membenci hal tersebut. itulah yang membuat Elang melakukan sandiwara gila ini. meskipun sejatinya jauh di lubuk hatinya dia masih sangat mencintai Nara. hanya ada satu nama itu di hatinya, namun ia harus melepasnya demi kebaikan Nara.


Telah kutinggalkan luka pada cawan berdarah yang ku kubur bersama remah-remah kenangan


berharap tidak ada lagi luka


walaupun kutahu ini sungguh tidak adil untuk kita


aku mencintaimu bukan hanya lewat kata tapi aku meninggalkanmu hanya dengan kata


aku mengerti kau terluka tapi aku yakin kau akan sembuh dengan sendirinya


****

__ADS_1


salam kenal ini karya pertama saya :-)


mohon kritik dan sarannya. dulu saya hobi menulis dan kini baru memulai lagi dan kembali bersemangat setelah menginstal aplikasi noveltoon dengan karya-karya yang luar biasa. 😊


__ADS_2