Aku Melepasmu

Aku Melepasmu
Percayalah...


__ADS_3

Air mata tak hentinya mengalir di kedua pipi Nara, ketika Licia menceritakan apa yang terjadi pada Elang. Nara benar-benar tak menyangka Elang bisa melakukan itu. Menyakiti dirinya yang ternyata hanya untuk melindunginya. Mungkin inilah jawaban atas kegundahan hatinya selama ini, hatinya yang tidak pernah percaya jika Elang benar-benar tega menyakitinya hanya demi perempuan lain. Nara memang tak pernah percaya itu.


Hatinya begitu sakit mendengar alasan Elang melakukan itu, sementara ia berusaha membencinya bahkan ingin menutup hatinya untuk lelaki itu dan membuka hati untuk orang lain. Nara merasa dia adalah orang yang paling jahat, di saat orang yang mencintainya berjuang melawan penyakitnya, dia justru pergi dari sampingnya, meninggalkannya. Tapi juga bukan salah Nara, Elang sendiri yang menginginkan hal itu. Nara tak habis pikir kenapa Elang bisa melakukan itu, serapuh itukah dirinya di mata Elang, sehingga dimasa sulitnya ia masih memikirkan kebahagiaan dirinya.


“Licia, kau percayakan kalau aku kuat, aku akan bersama Elang, menemaninya melewati semua penderitaannya. Aku pasti kuat Licia”


“Aku percaya Naraku adalah perempuan kuat, makanya aku menunjukkan ini padamu, meskipun Elang akan marah padaku. Aku yakin dirimulah yang sangat dibutuhkan olehnya. Pergilah biarkan ia mereguk kebahagiaan disela penderitaannya”


Nara menghapus air matanya, ia ingin terlihat kuat dan baik-baik saja di depan Elang. Iya dia akan menemui Elang apapun respon lelaki itu untuknya nanti. Tapi dia tak peduli yang ia inginkan hanya kesembuhan lelaki itu.


Nara masih terpaku di sisi ranjang mengamati semua perubahan yang ada pada lelaki itu. Matanya masih terpejam. Nara menarik kursi untuk duduk di samping pria yang selama ini telah menemani hari-harinya. Dia yang dulu berada di samping Nara disaat masa-masa sulitnya, kini Nara akan melakukan hal serupa. Digenggam erat tangan itu, perlahan dikecupnya kening dan membelai lembut wajah itu.


Sentuhan-sentuhan lembut serta hangatnya genggaman Nara membangunkan pria itu. Perlahan matanya terbuka, mengerjap beberapa kali dan seulas senyum menyambutnya kala ia membuka mata. Elang hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Nara... kaukah itu? apa ini mimpi" Lirihnya pelan.


Nara mengangguk diambilnya tangan Elang dan ditempelkan telapak tangan itu di pipinya.

__ADS_1


"Ini bukan mimpi sayang, ini nyata.. bangunlah, kita akan kembali melewati hari-hari indah bersama" Sekuat mungkin Nara mengatur nafasnya yang mulai sesak, beberapa kali mengerjapkan mata agar butiran bening di ujung matanya tak bisa lolos begitu saja. Ia harus tenang, Ia tak ingin menangis di hadapan lelaki itu, ia ingin menunjukkan bahwa ia kuat.


"Maafkan aku-"


"Sssttt... Jangan meminta maaf, tidak ada yang harus disalahkan dan tidak ada yang harus dimaafkan" ucap Nara sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu.


"Aku disini sekarang, bersamamu" Ucap Nara sembari mencium punggung tangan lelaki itu.


Jika tidak mengingat bagaimana kondisi lelaki itu, mungkin Nara sudah akan memukul tubuh lelaki di depannya ini, untuk meluapkan emosinya karena sudah merasa dibohongi, seperti yang dahulu sering Nara lakukan ketika melihat Elang membuat kesalahan. Tapi semuanya tak lagi sama, Nara tak bisa lagi memukulnya, mencubitnya bahkan meminta pria itu menggendongnya. Tidak, sungguh kini pria itulah yang harus Nara jaga, Nara lindungi.


Nara tak ingin bertanya apa yang terjadi, karena Licia sudah menceritakan semunya. Ia tak ingin menambah beban lelaki itu. Elang tersenyum melihat wanita yang ia cintai ada dihadapannya. Wanita yang selama ini ia rindukan, Wanita yang pergi karena ia yang telah memaksanya.


"Bukan salah Licia tapi akulah yang memaksanya" Potong Nara sebelum Elang melanjutkan pertanyaannya.


"Tidak akan ada yang berubah, kamu tidak akan pergi, percayalah.. kamu pasti sembuh. Tidak akan ada yang ditinggalkan, kita masih akan bersama selamanya"


"Tapi aku.. aku tak yakin bisa sembuh"

__ADS_1


"Tidak sayang, tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak, tinggal bagaimana usaha dan doa yang kita lakukan. Mukzijat itu ada. Allah tidak akan menurunkan cobaan pada umatNya jika umatNya tak mampu melalui itu. Yakinlah kita akan melalui ini semua dengan baik. Selalu ada berkah pada setiap musibah. Kamu harus yakin, kamu harus kuat, pasti sembuh" Nara mencoba menguatkan, meskipun sesungguhnya ia pun tak yakin, karena mendengar cerita Licia, tumor itu sudah menyebar dan masuk stadium empat. Tapi kembali lagi berserah padaNya, tidak ada yang tidak mungkin jika DIA sang pencipta sudah berkehendak.


Elang mengangguk, meskipun ia tak yakin dengan kondisinya saat ini. Nara sedang menghiburnya, tapi setidaknya semangat wanita itu sudah membakar dirinya untuk berjuang melawan penyakitnya.


Ada satu cara yang belum ditempuh yakni operasi, namun Elang selalu menolaknya. Bukan karena ia tak mau sembuh, tapi konsekuensinya, ada dua pilihan yakni sembuh tapi tidak normal atau mungkin dia akan pergi selamanya. sejujurnya ia sudah tidak kuat setiap proses yang ia jalani terasa menyakitkan, tapi ia harus berjuang demi orang-orang tersayang di sekelilingnya, demi mamanya dan juga demi Nara wanita yang dicintainya. Ada banyak mimpi yang ingin ia wujudkan bersama wanita itu, membangun masa depan bersama, memiliki keluarga dan bahagia hingga maut memisahkan. Tapi mungkin maut akan lebih dulu memisahkan sebelum mimpi-mimpi itu terwujud.


Saling menggenggam saling pandang itulah yang kini mereka lakukan. Ingin sekali Elang memeluk Nara, membawanya bersama mendekap penuh cinta namun ia tak bisa melakukan itu.


Apa yang bisa aku lakukan, bahkan sekedar memeluknya pun aku tak mampu. aku terlalu lemah. Bukan dia yang rapuh, tapi sesungguhnya akulah yang rapuh. Bukan dia yang tak kuat jika nanti aku meninggalkannya tapi justru akulah yang lemah jika harus pergi sebelum mereguk bahagia bersamanya.


Rona kebahagiaan terpancar di wajah Licia menyaksikan dua insan yang kini tengah saling menguatkan. Tidak ada rasa bersalah karena telah mengingkari janji, justru dengan mengingkari janji inilah kebahagiaan itu tercipta. Cairan bening tak hentinya meleleh di kedua pipi Licia. Licia sengaja keluar dari ruangan itu dan melihat mereka dari luar, ia ingin memberikan ruang bagi keduanya untuk saling melepas rindu. Dia juga tak ingin melihat Elang dengan tatapan yang tentunya menuntut penjelasan mengapa ia tidak bisa memegang janjinya. Tapi inilah kehidupan terkadang kita harus berani jujur untuk menghadapi kenyataan, janji hanya tinggal janji jika ternyata mengingkari adalah jalan terbaik. Maka itulah yang harus dilakukan, bahkan berbohong demi kebaikan pun harus dilakukan jika memang itu yang terbaik.


Satu cinta satu rasa


Suka dan duka selalu bersama


Memberi dan menerima segala kekurangan dan kelebihan

__ADS_1


Cinta saling melengkapi tanpa syarat


Bahkan cinta akan memahami meski hanya dengan sebuah isyarat...


__ADS_2