Aku Wanita Penghibur

Aku Wanita Penghibur
Bab 12: Perasaan yang sama


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


"Daddy, bagaimana apa kita hari ini akan berangkat ke negara B? Mommy ingin cepat bertemu putri kita, Mommy sangat merindukan nya. Apalagi saat ini putri kita sedang hamil, itu berarti kita akan menjadi grandpa dan grandma," ucap Sesya, wanita paruh baya, usianya sudah menginjak 50+.


"Iya, tapi tunggu dengan keluarga Burton, mereka juga ingin ikut," sahut Asher pada sang istri.


"Mereka ikut? untuk apa?" tanya Sesya bingung ada apa keluarga sahabatnya ingin ikut.


"Seperti nya, menantu keluarga Burton ingin minta maaf pada Clara," jawab nya.


Mereka sudah tau kelakuan Clara selama ini, mereka juga meminta maaf atas sikap Clara yang sudah hampir merusak pernikahan Ronal dan Emely.


Mereka sadar semua kelakuan Clara, karena mereka sebagai orang tua tidak berguna.


"Semoga semua baik-baik saja Dad, Mommy takut Clara membenci kita," takut Sesya memikirkan Clara mau memaafkan mereka atau tidak.


"Serahkan semua pada yang kuasa. Daddy tidak bisa banyak berharap, setelah perbuatan di masa lalu apa kita masih di pantas di sebut orang tua, Daddy tidak yakin," ucap nya mengutarakan apa yang di pikirkan.


"Daddy benar. Setidaknya kita temui Clara dan memberitahu kalau kita orang tuanya," sahut Sesya sama hal dengan suami merasa mereka tidak pantas di panggil orang tua untuk Clara.


"Hmmm, bersiaplah. Daddy baru mendapatkan kabar kita akan berangkat 2 jam lagi, karena Rey masih dalam perjalanan pulang dari tugas," ucap Asher pada sang istri.


"Baiklah, Mommy naik ke atas dulu," pamit Sesya. Dia akan ke kamar mempersiapkan barang yang akan di bawah nya.


...----------------...


"Sayang, kau sudah siap?" tanya Gibran menghampiri sang istri yang masih mengenakan handuk kimono.


"Aku takut Gi," ucap Clara langsung memeluk Gibran.


"Takut kenapa? siapa yang ingin mencelakai mu sayang?" khawatir Gibran melihat Clara aneh seperti ini.


"Entahlah, aku tidak tau. Tapi perasaan ku tak enak sejak tadi," ungkap Clara tidak tenang. Dia terus merasa gelisah sejak mandi tadi.


"Sudah jangan di pikirkan lagi itu hanya perasaan mu saja, sayang. Sini aku akan membantu mu memakaikan pakaian," ucap Gibran mengajak Clara jalan bersamanya di dekat lemari pakaian.

__ADS_1


Clara menurut, meski Gibran sudah menyakinkan nya. Dia tetap tidak bisa tenang. Perasaan nya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.


"Ya Tuhan, aku tidak tau tentang semua perasaan yang ku rasakan. Aku mohon padamu lindungi kami selalu," doa Clara dalam batin.


Setelah membantu Clara, Gibran membawa Clara keluar untuk duduk di kursi meja rias. Dia mulai menyisir rambut Clara.


"Aku ingin segera ini tiap hari Gi," ucap Clara bahagia semua perhatian Gibran untuk nya.


"Pasti sayang, aku akan melakukan ini untuk mu. Ingat jangan genit pada pria manapun, aku tidak mau istri cantik ku memberi perhatian pada pria lain, selain suaminya," ujar Gibran memperingati Clara.


"Tidak Gi. Aku sudah memiliki mu, aku tidak butuh pria lain lagi, kau hidup ku sekarang. Aku mencintaimu. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan ku," serius Clara, entah kenapa dia merasa semua kebahagiaan nya akan hilang.


"Ada apa sayang? kenapa berkata seolah aku akan pergi meninggalkan mu? sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan mu, kecuali ajal datang menjemput ku," ucap Gibran, dia merasa aneh dengan perkataan Clara. Tapi entah kenapa dia pun bisa merasakan ketakutan Clara.


Perasaannya juga tidak tenang, dia merasa akan pergi jauh dari Clara. Tapi jauh kemana akan pergi, dia sendiri tidak tau kemana itu.


Dia tidak mau memberitahu apa yang di rasakan, karena itu akan menambah kekhawatiran Clara yang sekarang tidak baik menjadi buruk.


"Aku akan selalu bersama mu sayang. Aku tidak akan pergi meninggalkan mu. Aku mencintaimu dan juga anak kita," batin Gibran sedih.


"Aku tidak tau, tapi aku merasa kau akan pergi meninggalkan ku," jujur Clara. Tidak ada yang di sembunyikan dari Gibran. Dia sudah menceritakan semua masa lalu nya.


Gibran bingung kenapa perasaan nya bisa sama dengan Clara. Dia sedih memikirkan semua ini. Clara tidak memiliki keluarga selain dirinya.


"Sayang, jika nanti aku pergi tugas, kau harus jadi wanita kuat jangan sedih. Lawan semua orang yang mau menyakiti mu. Sayangi hidup mu, dan jangan berdekatan dengan pria manapun selain aku, oke," pesan Gibran entah kenapa dia berbicara seperti ini seolah akan pergi jauh meninggalkan Clara.


"Emangnya kemana kau akan pergi? kenapa tidak mengajak ku?" tanya Clara tidak suka perkataan Gibran seperti ini.


"Lupakan saja. Terpenting kau tidak genit dan hanya boleh berdekatan dengan ku seorang," jawab Gibran. Tidak bisa menjelaskan pertanyaan Clara, selain mengulangi peringatan di akhir kata nya tadi.


Setelah berbicara, dia kembali menyisir rambut Clara. Gibran tak membatasi pakaian yang di inginkan Clara. Dia tau Clara sudah nyaman dengan pakaiannya. Lagi pula dia percaya pada Clara. Sependek dan terbukanya pakaian yang di kenakan Clara, Clara tidak akan membiarkan orang lain macam-macam.


Tak lama kemudian semua sudah selesai, mereka pun pergi.


"Sayang, pulang ketemu Ed, kita ke mall ya," ajak Clara. Dia ingin bermain game, sudah lama dia tidak bermain setelah mereka menikah.


"Kau mau berbelanja?" Gibran menoleh Clara, yang menjawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Aku mau main game, kita sudah lama tidak bermain, kau mau kan?" pinta Clara dengan wajah memelas dan Gibran tersenyum tak bisa menolak, jika wajah Clara sudah seperti ini.


"Iya sayang, tapi main yang ringan-ringan saja," ucap Gibran. Dia tidak mau Clara kelelahan.


"Yeah, terimakasih," senang Clara bahagia.


Tak lama kemudian, tanpa terasa mereka telah tiba di sebuah tempat janjian yaitu Bar.


Kedua segera masuk bersamaan.


"Hay, Ed," sapa Clara tiba di samping Edwin bersama Gibran setia mendampinginya.


"Hay, kau sudah datang. Duduk lah," balas Edwin mempersilahkan Clara duduk, tanpa memperdulikan Gibran.


"Terimakasih, sayang duduk di dekat ku," ucap Clara. Dia mengajak Gibran berada di dekatnya.


Sedangkan Edwin melihat kemesraan dan panggilan sayang Clara pada Gibran, mengepalkan kedua tangan tidak terima.


"Kau hanya milik ku Clara, hanya milik ku. Hari ini semua akan berakhir, aku akan mengambil mu kembali," batin Edwin berjanji.


Gibran tersenyum melihat tingkah istrinya begitu manja. Dia tau Clara ingin menyadarkan Edwin, jika dia bahagia bersamanya.


Dia dapat melihat kekesalan dan kemarahan di wajah Edwin saat ini.


"Gibran, saya ingin bicara berdua dengan mu," ajak Edwin serius.


"Kenapa harus berdua? apa yang ingin kalian bicarakan, hingga aku tidak boleh tau?" tanya Clara khawatir Edwin merencanakan sesuatu.


"Ini masalah antara pria, Clara. Bagaimana bisa?"


"Say-"


"Tidak apa-apa, tunggu sini aku akan kembali," ucap Gibran cepat memotong perkataan Clara.


"Hmmm, hati-hati."


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2