
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
"Ed, jangan kau apain suamiku, awas kalau dia terluka," ucap Clara memperingati Edwin.
"Hei, untuk apa aku melukai nya. Kau ini seperti tidak mengenal ku saja," sahut Edwin santai.
"Ck, saking mengenal mu, aku tau kau pria gila," ketus Clara. Perkataan Edwin seperti ada arti di dalam. Tapi dia tau apa itu.
"Ya, pria gila ini yang pertama membobol mu, jangan lupakan itu. Aku bahkan mengajari mu banyak gaya," ucap Edwin tidak memperdulikan perasaan Gibran.
"Ayo kita pergi, tidak perlu di ingat masa lalu, karena Clara sudah menjadi istri saya, lupakan dia jika kau masih punya perasaan padanya, percuma itu hanya membuang waktu membuat sakit saja," sahut Gibran mengingatkan Edwin. Dia tau pria di depan nya sangat mencintai Clara, dari tatapan sudah terlihat jelas.
Edwin tidak membalas perkataan Gibran. Dia langsung pergi dan Gibran menyusul.
Clara melihat kepergian suaminya, sedikit cemas. Dia khawatir Edwin melakukan sesuatu.
"Tenang Clara, jangan cemas. Semua akan baik-baik saja," ucap Clara menyakinkan dirinya sendiri.
Clara berusaha mencoba tidak memikirkan Gibran yang di ajak Edwin pergi. Tapi semakin dia tahan, perasaannya tidak tenang. Sudah 20 menit mereka pergi, mereka belum juga kembali.
Clara tidak bisa duduk diam menunggu mereka kembali, dia pun bangkit menyusul, satu langkah kaki baru di langkah kan. Clara mendengar bunyi tembakan. Otaknya tak bisa berpikir jernih, yang di pikirkan sekarang keadaan Gibran.
Dor!
"Gibran!" teriak Clara cemas, dia jalan ke arah lorong tempat kedua pria lewat tadi.
Semakin dia melangkah, bunyi tembakan semakin jelas.
Clara takut Gibran kenapa-napa, dia yakin semua ini ulah Edwin. Dia menyesal sudah menuruti permintaan Edwin bertemu. Jika dia tau semua akan terjadi dia tidak akan pergi.
"Tuhan lindungi suamiku," batin Clara berdoa.
"Kau akan mati hari ini Gibran, Clara hanya milik mu, bukan kau," ucap Edwin.
"Dasar pengecut! kau berani nya keroyokan dan bersenjata, kalau berani duel dengan tangan kosong. Apa kau takut kalah? ck, dasar pecundang! pria seperti mu tidak pantas untuk Clara," ejek Gibran. Keadaan nya sudah berlumur darah dan babak belur tidak menunjukkan ketakutan di wajah nya.
"Kau patuh di acungkan jempol. Kau sangat berani, lihat lah keadaan mu sekarang sudah hampir mati masih saja banyak bicara," ucap Edwin, semakin tidak suka dengan tingkah Gibran.
"Matilah kau!" Edwin menarik pelatuk dan siap menembak pria tak berguna.
__ADS_1
"Gibran!" teriak Clara. Hal pertama yang di lihat saat tiba Gibran di tahan dua pria berbadan kekar di sisi kanan dan kanan.
Keadaan Gibran sangat memperihatinkan, berlumuran darah dan wajah tampan nya babak belur, itu pasti ulah Edwin dan anak buahnya.
Clara berlari mendekati Gibran, namun langkah nya terhenti, tangannya di genggam seseorang.
"Sayang, kau mau kemana, di sini lah bersama ku. Aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukan ku?" Edwin menarik tangan Clara, dan memeluk erat nya.
"Ed, lepaskan! aku tidak akan memaafkan mu," berontak Clara, tapi Edwin semakin mengeratkan pelukan nya.
"Kau terlalu lama bersamanya sayang. Lihat sekarang cara bicara mu jadi kasar. Tapi tidak masalah aku akan mendidik mu nanti di ranjang," ucap Edwin, tangannya melingkar memeluk pinggang Clara. Sebelahnya mere*** gunung kembar nya.
"Ahhh... Ed... lepaskan... Ed... ah.... " desaah Clara. Dia tak bisa menahan, remasan Edwin cukup kuat.
"Brengsek! lepaskan istri saya! jangan sentuh dia, atau kau akan mati," marah Gibran tidak terima Clara di sentuh.
"Hahaha... kau yang akan mati Gibran, lihat keadaan mu sekarang tidak berdaya. Dan kau harus ingat satu hal sebelum kau bertemu Clara. Clara itu milik saya, jadi tidak masalah kalau saya kembali mengambil milik saya yang mau pinjam," ucap Edwin santai. Dia tidak peduli saat ini Clara berontak. Karena yang dia ingin kan Clara kembali padanya.
"Ed, ku mohon lepaskan Gibran. Dia suamiku sekarang, aku mencintainya. Ikhlaskan aku, kau masih bisa mendapatkan wanita manapun," tangis Clara memohon Edwin tidak menyakiti suaminya.
...----------------...
Di tempat lain....
Para pekerja di sana mengatakan Clara dan Gibran pergi ke Bar menemui teman lama mereka di sana.
Rey yang ikut mendengar itu menggeleng kepala, dia tidak kaget, karena Clara wanita bar jadi meski sudah menikah tempat lama akan selalu di kunjung.
"Daddy, kita ke Bar sekarang," ajak Sesya, perasaannya mendadak tak enak. Pikiran nya tak lepas pada Clara.
"Ta-"
"Ayo, Dad. Perasaan Mommy tak tenang sejak tadi, Mommy khawatir terjadi sesuatu pada Clara," ungkap Sesya yakin. Naluri seorang Ibu tidak pernah salah.
"Sudah Asher, turuti saja perkataan Sesya, kita juga akan ikut, ayo," ucap Darol.
"Baiklah, ayo."
Mereka pun pergi meninggalkan mansion Clara menuju Bar. Rey tidak banyak bicara, dia diam mengikuti keluarga nya.
Ronal dan Emely sama dengan Rey mereka diam, membiarkan para orang tua bicara. Selama perjalanan Sesya tak bisa tenang, hati nya mendadak merasa sakit.
__ADS_1
30 menit....
Mereka tiba di Bar. Di sana banyak polisi, Sesya yang sejak tadi cemas segera keluar.
"Pak, apa yang terjadi di dalam?" tanya Sesya menghampiri salah satu polisi yang berada di sana.
"Di dalam ada penembakan dan korban nya sudah di larikan ke rumah," jawab polisi tersebut.
"Korban? apa mereka selamat?" tanya Sesya cemas. Otak nya tak bisa berpikir apapun lagi.
"Kami tidak tau, Ibu bisa memastikan di rumah sakit. Maaf kami permisi," ucap polisi tersebut pergi.
Kaki Sesya tak bisa berdiri tegak lagi, tubuh nya terasa lemas. Jantung nya berdetak tak karuan, semua organ tubuh nya terasa mati.
Sesya terjatuh duduk di bawah.
"Clara," ucap Sesya sedih.
......................
Rumah sakit....
Tiga jam kemudian....
Clara tersadar, dia memegang perutnya terasa sakit.
"Auwh... " ringis Clara kesakitan.
"Nona sudah bangun, apa perutnya terasa sakit?" tanya suster wanita melihat Clara.
"Saya di mana? apa yang terjadi pada saya, kenapa perut saya terasa sakit?" tanya balik Clara.
"Nona di rumah sakit. Perut Nona terasa sakit, karena nona baru di operasi," jawab suster tersebut.
"Operasi?" kaget Clara berpikir, dan dia baru teringat akan kejadian tadi. Sebelum mencari Gibran mendengar suara tembakan, dia sempat menghubungi polisi.
"Dimana suami saya? apa dia baik-baik saja?cepat antar kan saya menemui nya," ajak Clara, dia tidak memperdulikan rasa sakit di perutnya. Yang di pikiran nya saat ini Gibran. Dia ingin melihat keadaan suami nya.
"Nona tunggu, keadaan Nona belum membaik," ucap suster tersebut mengejar Clara yang pergi tidak peduli perkataan nya.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
__ADS_1
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...