Aku Wanita Penghibur

Aku Wanita Penghibur
Bab 29: Melihat nya bahagia


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Hari-hari di lewati Clara penuh kesialan, tiada hari tanpa gangguan pria dari masa lalu yang tergila-gila padanya.


Clara yang sedang mengandung di buat pusing dengan kehadiran mereka tiap hari.


Hubungan Clara dan Rey pun benar-benar berakhir, Clara tidak mempedulikan itu lagi. Hatinya sudah terlanjur sakit Rey lebih mempercayai Esme darinya.


Kejadian hari itu Rey tidak pernah menganggu Clara, meski itu sekedar bertanya kabar ataupun lainnya tidak ada.


"Bu, hari ini kita ada pertemuan dengan perusahaan Pak Thomas di resto x," lapor asisten Clara memberitahu detail jadwal nya hari ini.


"Jam berapa pertemuan berlangsung?" tanya Clara menoleh asisten nya.


"Jam 10, Pak Thomas juga mengundang untuk makan siang bersama," jawab nya lagi.


"Makan siang?" Clara mengucap ulang perkataan asisten nya dan diam berpikir.


Dia tau seperti apa Pak Thomas, saat Gibran masih bersama nya, pria itu sudah berani menggoda nya, bagaimana kalau sekarang?


Clara benar-benar pusing menghadapi situasi seperti ini.


Rasanya dia ingin menghilang saja untuk sejenak. Terus di incar para pria membuat nya tidak nyaman, meski dulu dia sangat menyukai, tapi sekarang berbeda mungkin faktor hamil, semua sentuhan pria tidak ada yang bisa membangunkan semangat nya, entah kenapa dia sendiri tidak tau.


"Iya Bu, apa ingin di cancel?" tanya wanita tersebut melihat atasannya diam.


"Tidak perlu, cukup kau temani saya, bawa juga dengan dua bodyguard, mulai hari ini kepergian kita akan di kawal mereka," jawab Clara memberitahu Dona asisten nya.


"Baik Bu."


"Kembali lah, kerjakan kerjaan mu," perintah Clara, kepalanya mendadak pening.


Akhir-akhir ini dia sering lembur mengerjakan kerjaan kantor dan hal itu membuat nya kurang tidur.


Clara tidak memiliki pengalaman mengenai perusahaan, tapi karena beberapa bulan selalu mengikuti Gibran bekerja dia sedikit mengerti.

__ADS_1


Tapi saat ini situasi membuat nya harus banyak mengerti mengenai perusahaan kalau menginginkan terus melesat. Clara harus berusaha.


"Kepala ku kembali terasa sakit," keluh Clara memijit kepala nya.


"Gibran kenapa kau harus meninggalkan ku? aku kesepian, aku merindukanmu. Di dunia ini tidak ada yang mempercayai ku selain mu. Apa aku sangat hina, hingga semua yang keluar dari mulut ku terdengar bohong?" sedih Clara, hatinya perih mengingat kehidupan yang tak pernah adil untuk nya.


"Kalau bukan janji ku untuk menjaga perusahaan mu, aku sudah menyusul mu, aku lelah hidup seperti ini."


Clara terus mengeluh mengeluarkan semua perasaan yang di rasakan pada foto Gibran yang di pegang.


...----------------...


"Bu, kita sudah tiba, apa langsung ingin masuk atau tunggu sebentar?" tanya Dona yang duduk di sebelah Clara.


"Tunggu sebentar, saya malas melihat pria itu. Kau tau Dona semasa Gibran masih hidup Pak Thomas sudah berani menggoda saya, rasanya saya malas bertemu dengan nya, kalau bukan karena kerjaan," cerita Clara kesal.


Dona bukan hanya asisten pribadi nya, tapi sudah dia anggap keluarga. Clara mengajak Dona tinggal bersama nya di apartemen karena merasa sepi, hidup nya hanya seorang diri dan Dona pun tak keberatan memang dia juga hidup sebatang kara, jadi tidak menolak.


Clara sudah berulang kali mengatakan pada Dona untuk tidak memanggil nya Ibu, panggil saja namanya tapi Dona nya saja keras kepala tidak ingin mendengarkan dengan alasan tidak sopan.


"Ibu tenang saja kali ini kita membawa bodyguard kalau Pak Thomas tidak akan berani macam-macam lagi," kata Dona menyakinkan Clara.


"Mari Bu," sopan Dona terlebih dahulu keluar dan mempersilahkan Clara keluar.


Dalam perjalanan masuk ke resto mencari meja yang di pesan Pak Thomas, mata Clara tak sengaja bertemu Rey yang sedang makan bersama wanita dan mereka terlihat sangat bahagia tertawa lepas seperti sepasang kekasih.


Clara tersenyum kecut melihat itu. Entah kenapa hatinya merasa sakit.


"Cinta mu palsu Rey. Kau begitu muda menjalin hubungan dengan wanita lain, apakah ini yang kau namakan cinta? kau dulu selalu mengatakan cinta mu besar, tulus, tapi kenyataan tidak sesuai perkataan mu. Kau pembohongan, semua pria di dunia ini tidak ada seperti Gibran ku," sedih Clara melihat wanita yang bersama Rey menggandeng mesra lengan nya, bahkan Rey tidak menolak malah mengusap rambut wanita tersebut.


"Bu Clara, ada apa? mejanya berada di sana?" tunjuk Dona, dia bingung melihat Clara mendadak berhenti dan diam memandang sesuatu begitu serius.


"Hmmm, ayo," ajak Clara memutuskan pandangan.


"Dona, setelah pertemuan dengan Pak Thomas kita langsung kembali. Hari ini kita akan adakan rapat dadakan, beritahu pada staff lain satu jam sebelum jam istirahat meeting akan berlangsung."


"Baik, Bu. Tapi apa boleh saya tau rapat kali ini akan membahas mengenai apa?" tanya Dona ragu.

__ADS_1


"Pimpinan di perusahaan. Besok kita akan ke negara B," jawab Clara, melihat kebahagiaan Rey tadi membuat nya sakit.


Rey sama sekali tidak memikirkan nya, dia hidup seperti orang gila karena kehamilan mood nya sering berubah tidak jelas, itu hampir memecahkan kepalanya.


"Kenapa mendadak? apa ada masalah?" tanya Dona lagi yang yakin pasti terjadi sesuatu.


"Saya ingin lebih dekat dengan Gibran, di sini saya tidak bisa mengunjungi nya."


"Apa saat ini Ibu merindukan Pak Gibran?" Dona bisa merasakan kesedihan Clara. Dia tau kehilangan orang yang di sayang itu sangat menyakitkan, melebihi apapun.


Karena dia sudah pernah merasakan kehilangan orang yang di cintai.


"Ya, setiap hari saya merindukan nya, Dona. Dia hidup saya, tidak ada pria sebaik Gibran di dunia ini," sedih Clara mengingat semua kenangan mereka.


"Sudah lupakan saja tidak perlu di bicarakan lagi, nanti kita bisa terlambat kembali ke kantor," lanjut Clara mengajak Dona kembali jalan.




"Maaf kami terlambat, Pak Thomas sudah lama menunggu?" tanya Clara basa basi tiba di meja Pak Thomas berada.



"Ah, tidak apa-apa, Bu Clara mari duduk," sopan Pak Thomas menarik kursi mempersilahkan Clara duduk, dengan sedikit genit dia menyentuh paha mulus Clara.



"Sabar Clara, jangan marah. Dia klien penting, Kau harus bisa mengontrol diri," batin Clara. Pak Thomas memiliki pengaruh besar pada perusahaan Gibran dan dia tidak mau melakukan kesalahan fatal itu.



"Kau makin cantik tiap hari Clara. Apa kau sudah memikirkan untuk menikah dengan ku? Gibran sudah tiada, dan ku dengar kau sudah berpisah dengan suami barumu itu, jadi pikir apalagi menikah lah dengan ku," bisik Thomas, usianya dengan Clara berbeda 5 tahun. Tangan nya tidak berhenti mengelus paha jenjang Clara, kalau bukan takut perusahaan Gibran bangkrut dia sudah menendang pria gila ini.



...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 🌼🌼\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_✨...


__ADS_2