Aku Wanita Penghibur

Aku Wanita Penghibur
Bab 23: Menyesal


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Hati Clara sakit, dunia begitu kejam terus membuatnya menderita. Dia benci semua orang.


Teriakan Rey tidak di pedulikan, Clara terus berlari dan menabrak diri di truk besar yang lewat di hadapan nya.


Dalam sekejap tubuh Clara sudah berlumuran darah. Rey kaget tidak percaya Clara melakukan semua aksi nekat di depan mata kepala nya.


Rey menyesal, tapi semua telah terjadi.


"Clara, ku mohon buka mata mu. Maafkan aku, Clara. Aku salah, aku pembohong, sekarang buka mata mu. Aku janji tidak akan mengulangi lagi. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu," tangis Rey takut. Kepala Clara tidak berhenti mengeluarkan darah.


Orang yang melihat kecelakaan tersebut langsung menghubungi rumah sakit. Tak lama kemudian ambulance datang dan Clara segera di bawa masuk mobil ambulance di temani Rey.


Dalam hati Rey terus menyalahkan dirinya yang bodoh. Dia marah pada dirinya.


"Maafkan aku Clara, maaf Aku suami yang tak berguna, aku tak bisa melakukan apapun saat kau terluka, aku melihat itu seperti seorang penonton yang menyaksikan drama," Rey memengang erat tangan Clara dan mencium berkali-kali.


Dan kedua keluarga nya menyusul dari belakang mobil ambulance.


39 menit....


Mereka telah tiba di rumah sakit dan Clara segera di tangani dokter di bawah ke ruang operasi. Benturan kuat di kepala Clara mengakibatkan darah terus keluar, jika lama ambil tindakan Clara tidak bisa di selamatkan.


Rey tidak tenang, khawatir, takut, semua campur aduk menjadi satu. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, jika Clara kenapa-napa.


Kedua orang tua Clara menyesal, mereka merasa bersalah dan juga sedih apa yang terjadi pada Clara. Begitu pun dengan kedua orang Rey sedih.

__ADS_1


"Nak, kau harus kuat, yakinlah Clara pasti baik-baik saja," ucap Darol menguatkan putra bungsu nya.


"Semua ini, karena aku Dad. Jika saja aku tidak membentak dan ingin menampar nya, Clara tidak akan seperti ini. Aku menyesal, Dad. Apa yang harus ku lakukan sekarang? aku tidak mau kehilangannya, Dad. Aku mencintai nya," sedih Rey terpuruk menyalahkan diri atas apa yang terjadi pada Clara.


"Tidak, Nak. Semua ini bukan karena mu. Semua sudah takdir sang kuasa. Jangan menyalahkan diri," ucap Darol tidak tega melihat Rey hancur. Pertama kali dia melihat Rey yang kuat menjadi lemah.


Rona punl tidak menyangka dinding tembok Rey kini bisa hancur, karena seorang wanita.


"Dad, aku mohon jika Clara sadar nanti. Pergi lah jangan temui Clara sampai dia benar memaafkan kalian. Aku tidak mau terjadi hal buruk lagi pada Clara. Sudah cukup sekali ini saja, aku tidak mau kedua kalinya," mohon Rey berharap daddy nya mengerti.


Dia bisa seperti Gibran yang melepaskan keluarga nya demi Clara seorang. Clara bukan hanya wanita yang di cintai, tapi juga belahan jiwa separuh nafas nya.


"Baiklah, jika itu mau mu, Nak. Daddy tidak bisa memaksa. Tapi sering-sering lah menjenguk kami nanti," ucap Darol menerima keputusan sang putra. Dia mengerti perasaan Rey takut kehilangan Clara.


"Iya Dad, jangan khawatir aku akan menjenguk kalian nanti, tapi aku tidak bisa mengajak Clara, daddy pasti mengerti," sahut Rey. Sang Daddy mendengar itu tak masalah, karena Clara belum bisa menerima semua ini.


"Tidak apa-apa, Daddy mengerti, Nak," ucap nya.


Hari terus berganti ke hari berikutnya, tanpa terasa sudah banyak minggu yang di lewati, semua masih sama tidak ada perkembangan. Kedua keluarga nya tiap hari berkunjung menjenguk Clara di rumah sakit selama belum sadarkan diri dari koma.


Setelah operasi dan sehari di Negara B. Mereka memutuskan untuk memindahkan Clara ke rumah sakit Negara X. Berhubung dengan semua yang tak bisa terlalu lama meninggalkan kerjaan, terkhusus Rey. Mereka pun kembali.


Rey tidak bisa selalu berada di samping Clara 24 jam. Tapi dia masih bisa mendampingi Clara. Beberapa bulan yang lalu dia naik pangkat, jadi dia tidak harus bepergian ke luar kota maupun Negeri, cukup mengawasi tim pasukan dalam beroperasi.


Hari ini, hari minggu. Rey memiliki banyak waktu bersama Clara. Dia tidak meninggalkan nya sedetikpun. Tangan nya menggenggam erat tangan Clara penuh cinta.


"Honey, bangunlah. Apa kau tidak bosan tidur terus? apa kau akan seperti ini mendiamkan ku, aku rindu padamu, honey. Aku janji tidak mengulangi lagi, aku akan mendukung apapun keputusan yang kau ambil, percayalah sekarang buka mata mu," Rey mengajak bicara Clara, tindakan nya ini sudah menjadi rutinitas harian nya setiap bersama Clara.


Melihat keadaan Clara seperti sekarang tidak ada perkembangan, membuat hati sakit. Dia tidak henti berdoa memohon Clara cepat sadar.

__ADS_1


Rey bangkit dari kursi segera pergi masuk ke kamar mandi, sejak tadi dia sudah menahan seperti nya sekarang tidak bisa, dan harus segera di buang.


Kepergian Rey, tangan Clara bergerak kecil dan perlahan mata nya terbuka. Pandangan menulusuri setiap sudut ruangannya.


Ingatan nya kembali hadir, Clara diam memikirkan semua.


Di saat sadar, tak ada seorang pun di sisiNya. Hati Clara sakit. Dia tidak tau ada dengan dirinya, kenapa jadi melow seperti ini.


Namun dia teringat akan mimpi nya. Di sana dia bertemu Gibran dan pria itu mengatakan padanya untuk hidup bahagia. Clara masih tidak mengerti maksud perkataan nya di dalam mimpi.


Bahkan hal yang membuat nya bertanya-tanya, kenapa di saat itu dia bisa melihat dirinya tertawa bersama anak kecil dan juga Rey. Sebenarnya apa arti semua itu? dia benar-benar bingung.


"Gibran, kau terlihat bahagia di dalam mimpi ku, apa kau benar-benar menginginkan ku bisa merasakan seperti mu?" ucap Clara bertanya-tanya dalam batin.


Cekrek...


Rey keluar dari balik pintu, betapa terkejutnya dia melihat sosok wanita yang selama ini di rindukan duduk di atas ranjang.


"Honey, kau sudah bangun," Rey berjalan mendekati Clara yang kaget mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinga nya. Clara cepat menoleh ke samping.


Dia tidak menyahuti perkataan nya itu. Kejadian saat itu masih membuat nya kecewa pada Rey. Pria itu membentak nya, bahkan hampir menampar nya, itu sesuatu yang tidak bisa di lupakan dengan muda.


Rey menyadari Clara marah padanya, meraih tangan nya, tapi cepat di tepis Clara.


"Menjauh lah dari ku, aku tidak ingin melihat mu di sini. Aku membenci mu, aku tidak mau hidup bersama pria seperti mu, aku ingin kita pisah," putus Clara tidak mau pernikahan tanpa cinta terus berlanjut. Gibran tak pernah memperlakukan seperti Rey yang kasar.


Clara tidak mau sakit hati lebih dalam, jadi lebih baik akhiri sekarang. Dia merasa mereka tak berjodoh, sikap kasar Rey tidak dia sukai, itu sangat tidak nyaman.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2