
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Rey tidak lelah menyakinkan Clara, hingga Clara percaya. Berada di dekat Clara, Rey menyadari satu hal. Wanita tersebut sangat lembut dalam berbicara.
"Tambah beberapa kali ini hampir habis sayang kalau di buang," bujuk Rey menyuapi Clara. Dia begitu talenta mengurus nya.
"Aku kencang Rey, perut ku tidak bisa menampung lagi, jadi kau saja yang habiskan," ucap Clara.
"Ya sudah aku habiskan. Sekarang berbaringlah," Rey membantu Clara menyandarkan kepala di bantal.
"Terimakasih," senyum tulus Clara. Rey pertama kali melihat senyum Clara terpanah.
Dia tidak menyangka senyuman Clara sangat manis, pria mana pun melihat itu pasti meleleh.
"Hmmm," Rey menutup kekaguman nya pada Clara. Wanita tersebut begitu muda memasuki otaknya.
"Rey," panggil Clara.
"Ada apa?" tanya Rey menoleh Clara.
"Apa kau melihat dokter yang mengantar ku ke ruang tadi?"
"Tidak, emangnya ada apa? kau memerlukan sesuatu? aku akan mencari dokter nya."
"Tidak. Aku hanya mau meminta surat dari Gibran untuk ku," lirih Clara sedih mengingat Gibran pria penuh kasih.
"Oh surat itu, tadi dokter menitipkan padaku. Sebentar aku ambilkan," ucap Rey membuka laci lemari. Dia menyimpan surat tadi di sini.
"Terimakasih," Clara menerima dan membuka lipatan kertas yang di lihat dua bagian.
Clara mulai membaca. Kata demi kata menjadi kalimat menggores hati Clara. Dia kembali menangis, dadanya sakit. Dia tau harus berbicara apa, Gibran cinta pertama nya. Kehilangan Gibran rasanya kehilangan separuh hidup nya, separuh tujuan hidup.
__ADS_1
Gibran begitu berarti dalam hidup nya. Siapapun yang memiliki gibran pasti merasa beruntung sama seperti nya.
"Aku mencintaimu Gibran, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji padamu akan menjaga perusahaan mu. Maaf, aku belum bisa mengikhlaskan mu, aku belum bisa menjadi wanita tangguh yang kau ingin kan," batin Clara sedih.
"Kau baik-baik saja?" cemas Rey, Clara menangis tanpa bersuara, dan itu sangat menyakitkan dari pada bersuara.
"Rey, aku mencintainya, aku tidak bisa mengikhlaskan nya. Dia begitu sempurna di mata ku Rey. Dia pria pertama yang membuat ku mengenal arti cinta sesungguhnya. Dia tidak pernah membentak ku, tidak pernah berkata kasar, tidak pernah memarahi, bahkan setiap kesalahan yang ku perbuat sengaja atau tidak, dia begitu tenang menghadapi ku, dan memberi nasehat dengan lembut agar tidak melakukan lagi. Dia suami terbaik ku, Rey. Dia memperlakukan ku seperti ratu tidak boleh tersakiti, bersamanya air mata setetes pun tak pernah jatuh, selain senyuman lebar terukir di wajah, karena kebahagiaan yang selalu dia berikan untuk ku," ungkap Clara mengatakan sikap suaminya yang seperti malaikat.
Rey mendengar itu sedikit iri. Gibran memperlakukan Clara begitu spesial, pantas Clara sangat mencintainya.
"Ijinkan saya menggantikan mu menjaga Clara, saya janji akan memperlakukan Clara seperti yang kau lakukan. Kau begitu mempercayai Clara, saya juga akan mempercayai Clara dari diri saya sendiri," batin Rey berjanji.
"Jika kau sangat mencintainya, ikhlaskan dia. Jangan membuat nya tersiksa, karena kau yang belum ikhlas," ucap Rey duduk di samping ranjang dan menyeka air mata Clara.
"Tapi ak-"
"Kau mencintainya bukan?" potong Rey cepat bertanya pada Clara.
"Kalau kau mencintainya kau harus bisa mengikhlaskan nya, agar dia bisa bahagia di atas sana," seru Rey bijak. Dia tidak mau Clara berlarut-larut dalam kehidupan.
"Hufttt... baiklah, aku akan mengikhlaskan nya, karena aku mencintainya, aku tidak mau dia tidak bahagia, melihat ku sedih," ucap Clara.
"Pintar," puji Rey mengelus pipi Clara.
"Aku merindukan usapan ini, dia sering melakukan padaku," ungkap Clara menerima perlakuan lembut Rey.
"Sekarang aku akan melakukan ini padamu, jangan sedih lagi," ucap Rey menarik tubuh Clara bersandar di dada bidang nya.
"Tapi, apa pacar mu tidak marah? aku tidak mau mencari masalah dengan siapapun. Masalah ku sudah banyak, dan semua belum selesai," terang Clara ragu.
"Tidak ada yang marah, aku masih sendiri. Kau tidak perlu memikirkan apapun. Apa hal seperti sering dia lakukan padamu?" jawab Rey dan bertanya.
"Hmmm, dia sangat baik. Semua perlakuan manis yang indah selalu dia lakukan padaku, bahkan makan pun mulut nya menjadi sendok untuk ku," jujur Clara. Rey mendengar itu mengerti, dia sudah sering melihat rekan kerjanya melakukan itu di depan nya setiap mereka libur bertugas, wanita mereka akan di ajak ke apartemen.
__ADS_1
"Aku juga bisa melakukan lebih dari nya, apa kau mau ku perlihatkan?" tanya Rey serius.
Jantungnya terus berdetak cepat setiap di dekat Clara. Bahkan setiap tarikan nafas rasanya susah, Clara benar-benar membuat nya gila.
"Tidak Rey. Terimakasih," jawab Clara mengerti, dia bukan murahan yang baru di tinggal suami langsung bercumbu dengan pria lain.
"Tidak masalah, aku akan membuktikan disaat kau sudah siap," ucap Rey.
Clara diam tidak menjawab, otaknya sedang malas memikirkan perkataan nya.
"Rey, aku harus mengurus pemakaman suamiku, bisakah kau mengurus administrasi ku?" ucap Clara mendadak kepikiran Gibran yang masih belum di urus.
"Tidak perlu, kau istirahat saja. Pemakaman suamimu sudah di urus keluarga ku," sahut Rey menatap Clara melepas pelukan nya.
"Bagaimana bisa? kenapa kau tidak minta persetujuan ku? dia suamiku, kenapa kau memutuskan sendiri, Rey? di mana kalian memakamkan nya?" marah Clara tidak terima Rey melakukan semua tanpa dia ketahui. Dia lah yang memilih keputusan penuh.
"Tenang lah, aku tau aku salah, aku minta maaf. Tapi aku lakukan ini, karena dia harus segera di makam kan, dan keadaan mu belum cukup baik. Jadi aku memutuskan sendiri tanpa memberitahu mu," jelas Rey tidak bermaksud membuat Clara. Dia hanya tidak mau Clara hancur melihat penguburan orang yang di cinta secara langsung, karena itu akan sangat sakit.
Sedangkan Rey tidak sanggup melihat Clara terpuruk lagi, dadanya sesak setiap Clara menangis.
"Dimana kalian memakamkan suamiku?" tanya Clara penjelasan Rey tidak penting, yang ingin dia tau sekarang dimana tempat peristirahatan terakhir Gibran.
"Di Jalan Xxx, kita akan kesana bersama setelah kau pulih, sekarang istirahatlah," jawab Rey.
"Tidak, aku mau kesana sekarang," tolak Clara kekeh pergi.
"Clara percuma pemakaman nya sudah selesai, apa yang ingin kau lihat? sekarang istirahatlah kita akan kesana setelah kau pulih nanti," seru Rey jelas. Clara mendengar, menangis. Dia sedih tidak bisa ikut mengantar suaminya di tempat terakhirnya.
"Hiks... hiks... hiks... kenapa kau melakukan ini padaku, Rey? kenapa? aku hanya ingin ada di sana menemani nya untuk terakhir kali, tapi kenapa kau melakukan ini? kau tidak tau seperti apa rasa kehilangan yang ku rasakan, kau tidak tau, Rey. Rasa nya sakit. Aku sudah tidak punya penyemangat hidup," tangis Clara memukul Rey.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1