
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Perusahaan keluarga Esme sekarang benar-benar hancur dan Clara menyaksikan itu dengan tawa bahagia.
Thomas melakukan dengan sempurna, dan saat itu pula Esme menggila mengetahui harta yang agung-agungkan lenyap begitu saja.
"Tidak sia-sia aku sedikit berkorban, sekarang lihatlah wanita itu menangis tidak terima. Hahahha... ini belum seberapa Esme, aku akan membuat mu lebih hancur lagi, rencana ku kini sudah sedikit berbeda, bekas ku tidak di perlukan lagi dalam permainan ini. Aku tidak mau mengotori tubuh ku lagi demi apapun. Sekarang sudah waktunya aku kembali," bahagia Clara tertawa puas.
Rasanya sudah lama menunggu hari ini tiba, kehancuran musuh terbesarnya sudah seperti memenangkan lotre ratusan dolar.
Clara sangat bahagia, dia ingin memberitahu dunia kalau dia menang dan wanita jahat itu kalah sekarang.
"Sepertinya mengucapkan selamat pada nya sesuatu yang menyenangkan," pikir Clara berniat untuk mendatangi Esme.
Kebahagiaan akan terasa sempurna, kalau melihat secara langsung keterpurukan nya.
Tanpa di cari dimana keberadaan Esme, takdir mempertemukan mereka, Clara tidak perlu mencari lagi karena semesta sendiri mendukung nya membawa wanita itu di hadapan nya sekarang.
"Berhenti di depan," perintah Clara pada sopir nya.
Saat perjalanan kembali ke apartemen, Clara melihat sosok wanita yang di tertawa sejak tadi.
"Baik Nyonya," nurut Pak sopir tersebut.
"Tunggu sini, saya tidak lama," ucap Clara lalu turun dari mobil.
Tap...
Tap...
Tap...
__ADS_1
"Kita kembali bertemu lagi, bagaimana kabar mu? apa kau bahagia sekarang? ku harap tidak, mana bisa kau bahagia setelah harta yang kau banggakan hancur. Jangan lupa semua yang ku katakan saat itu bukan sekedar ancaman biasa, tapi itu benaran, lihat semua terjadi sesuai janji ku. Tunggu janji ku berikutnya, kau akan menderita, hingga menyesal sudah melakukan hal jahat padaku dulu," ucap Clara tiba di hadapan Esme dengan senyum manis terukir di wajah cantiknya.
"Jadi semua ini ulah mu? dasar ja**** kau mati hari ini! aku tidak akan membiarkan mu hidup sekarang," marah Esme tidak terima mengetahui semua yang di miliki lenyap karena Clara. Wanita yang di benci itu telah berhasil menghancurkan semua yang di miliki.
"Tidak semudah itu kau bisa menyakiti ku ular, aku tidak akan membiarkan tangan kotor mu itu menyentuh ku meski itu hanya sehelai rambut pun," tegas Clara memperingati Esme.
"Ck! kau pikir saya peduli? tidak, kau harus mati."
"Lakukan sesuka hatimu kalau bisa. Tapi ingat semua yang ku berikan padamu ini belum berakhir, masih ada berikutnya jadi nikmati hidup mu terlebih dahulu."
"Kau benar-benar wanita jahat, kau ja*** Clara. Tapi saya bersyukur saat itu bisa kembali menghancurkan hubungan mu untuk kedua kalinya. Saya berjanji tidak akan membiarkan mu hidup bahagia di manapun kau berada," marah Esme berapi-api semakin membenci Clara.
"Saya menanti hari itu. Bye," Clara melambaikan tangan berjalan pergi meninggalkan Esme.
Dia tidak peduli lagi pada Esme, sekarang sudah puas melihat ekspresi tidak terima itu, rasanya sangat puas Dan Clara tidak mau membuang waktu lagi. Dia akan ke perusahaan mengadakan rapat. Karena tadi sempat tertunda harus meladeni Thomas untuk rencananya
"Hei, ja**** saya belum selesai bicara! mau kemana kau!" tidak terima Esme di tinggal pergi begitu saja.
Namun Clara tidak mempedulikan itu terus pergi masuk ke mobil.
"Dia seperti pasien rumah sakit jiwa, semoga saja kedepannya bisa berada di sana," gumam Clara melihat dari kaca mobil tingkah Esme.
Dua jam kemudian.....
Rapat yang di pimpin Clara berakhir, pimpinan perusahaan Gibran sudah Clara pilih dan itu sesuai dengan kriteria yang menurutnya cocok untuk menggantikan nya dan Gibran.
Clara tidak tau kapan akan kembali ke negara X, karena sejauh ini dia tidak memikirkan apapun selain meninggalkan kenangan masa lalu yang buruk secepatnya.
"Bu, apa semua sudah di pikirkan baik-baik?" tanya Dona masih ragu dengan keputusan Chelsea dadakan ingin pergi.
"Ya saya sudah memikirkan ini selama perjalanan dan keputusan saya mutlak. Jangan mencemaskan saya, hanya kau yang saya percaya mengurus perusahaan Gibran," jawab Clara yakin keputusan nya sudah tepat menjadikan Dona Direktur perusahaan.
"Jaga kesehatan Ibu di sana. Saya berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan yang Ibu berikan pada saya," ucap Dona.
__ADS_1
"Iya, saya percaya itu. Kita pulang sekarang," ajak Clara. Dia ingin beristirahat lebih cepat penerbangan nya malam ini.
Clara dan Dona jalan beriringan menuju parkiran sambil berbincang kecil mengenai kerjaan.
Tiba di depan perusahaan langkah Clara terhenti melihat sosok pria yang di kenal berdiri tegak menatap nya penuh amarah.
"Masuk lah duluan, saya akan menyusul," ucap Clara memberi kode agar Dona meninggalkan mereka.
"Baik Bu," mengerti Dona lalu pergi.
Sepeninggal Dona, Clara melipatkan kedua tangan di atas dada menatap sembarang arah tanpa mempedulikan Rey yang menatap tajam pada nya.
"Kau terbuat dari apa sebenarnya Clara? kau begitu jahat, jika dendam mu pada Esme balas pada orangnya saja, jangan pada orang yang tidak tau ikut terkena imbas," marah Rey makin kecewa pada Clara. Mendengar aduan Esme pada nya dan Bliss, membuat nya malu tidak tau harus berbicara apa untuk menyadari mantan istrinya itu.
"Jadi dia datang mengadu? sudah aneh sih, itu sudah menjadi kebiasaan nya. Kalau hanya ini yang ingin kau bicarakan sebaiknya pergi lah, saya tidak ada waktu untuk mendengar nya," ucap Clara santai, ingin beranjak pergi meninggalkan Rey, dia malas ribut saat ini, tapi tangan nya sudah lebih dulu di tahan.
"Saya belum selesai bicara Clara," tidak terima Rey dengan tingkah Clara yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
"Tapi saya tidak mau mendengar, dan kau tidak ada hak memaksa saya," tegas Clara menatap tajam Rey.
"Semakin hari bukan menjadi lebih baik, malah makin jahat. Apa kau puas melakukan ini? sadar Clara semua yang kau perbuat itu salah. Kau tidak akan akan bahagia, tapi sebaliknya."
"Kata siapa tidak bahagia? saya bahagia dengan semua ini. Bahkan sangat bahagia, rasanya ingin saya rayakan," senyum Clara tanpa rasa penyesalan dan Rey mendengar itu menatap tidak percaya Clara terlihat santai.
"Clara!"
"Ya, saya Clara, kenapa? kau mau menampar saya lagi? atau mencekik? lakukan saja, saya tidak takut," tantang Clara tidak peduli apapun yang akan Rey lakukan padanya.
"Pembicaraan kita selesai sampai di sini, saya berharap kedepannya kita tidak bertemu lagi," lanjut Clara lagi lalu pergi meninggalkan Rey.
Rey memandang punggung Clara tidak tau harus berkata apa, dia masih mencintai Clara tapi melihat sikapnya seperti ini membuat kepalanya pusing.
"Kenapa kau seperti ini Clara? kenapa?" batin Rey sedih.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...