
***
Judul : ALARAIN
Isi : Mafia, Geng motor, minim romansa, Anak sma, perang bisnis, identitas,
Mulai : November 2022
Tamat : -
***
Katanya Alarain terlalu Jenius, tapi memang begitu. Yang menjadi pertanyaan, mengapa Alarain Jenius?
Katanya juga, Alarain tidak punya ayah, tapi memang begitu. Pertanyaannya, Siapa yang membuat Alarain tidak punya Ayah.
Ibunya gila, Alarain pendiam, tangan Justine Hurrendt tiba-tiba menggenggamnya. "Menikah dengan ku!" Hubungan adalah sesuatu Alarain benci, hubungan adalah sesuatu yang Alarain tidak percayai. Ia juga tidak percaya Tuhan apalagi hubungan.
Inilah kisah bos besar yang munafik dengan kembarannya.
***
**1. Ruang dan Musik Indie
Call me Rain
*** TYPO! ***
__ADS_1
Dalam terang awan dan panasnya terik matahari, gadis dengan seragam putih abu menikmati setiap melodi yang keluar dari earphone yang tersumpal di daun telinganya. Alarain Jayden, bukan kecantikan mematikan, bukan penguasa sekolah yang setiap orang akan menunduk padanya, bukan juga mostwanted, dengan sejuta hal yang menarik darinya. Iya, dia terlalu biasa jika dibandingkan dengan hal indah layaknya pelangi.
Seraya menggerak-gerakan kepalanya, jauh dari orang lain dan dari ketinggian roftoop ini Alarain dapat melihat segala aktivitas yang ada di bawahnya. Dunia ini terlalu luas, bahkan partikel kecil ini saja tidak dapat ia kuasai. Apalagi semesta, bukan begitu? Alarain menghela nafas di akhir penghayatannya. Ia berbalik dan pergi meninggalkan rooftop, beserta seseorang yang memperhatikannya dengan intens.
***
Keadaan kelas XII-2 Cerdas Istimewa atau CI, sangat tenang. Semuanya orang sibuk dalam dunia mereka masing-masing. Perlu kalian ketahui, kelas CI merupakan kelas unggulan kedua setelah kelas Multi-1. Maka wajar jika pada murid ini memiliki sifat yang ambis. Setelah guru memberikan tugas, tidak ada seorang pun yang keluar dan berkeliaran dari tempat duduk mereka.
Kadang, Alarain juga bersyukur ketika ia satu kelas dengan orang-orang ini. Mereka membiarkan dirinya memiliki ruangnya tersendiri, tanpa kekangan dan tanpa rasa superioritas dari orang. Singkatnya, Alarain dan mereka adalah orang-orang yang egois. Tapi, bukankah sikap dan sifat manuisa berbeda-beda? Dan ya, tidak semua orang di kelas ini ambis dan egois. Hanya saja, demi kata nilai yang bagus membuat ruang sendiri adalah salah satu pilihan terbaik.
"Tip-x!" teriakan salah satu siswi sukses mengambil alih perhatian hampir semua murid.
"Nih!" Pemuda dengan tampilan goodboy menyerahkan tip-x tersebut, yang tepat berada di samping gadis itu.
"Makasih!" Balas gadis itu.
"Bisa gak si lo jangan teriak- teriak? Ganggu orang aja!" Gadis yang tepat berada di depan gadis yang berteriak menegur dengan nada benci.
Resi, gadis secerah matahari yang selalu riang, wajahnya selalu menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak memiliki masalah. Hanya itu yang Alarain tahu. Ia melemparkan pandangannya pada cowok yang memberi Resi Tip-X, Bian namanya. Cowok yang satu ini menyukai Resi.
Tidak sampai di situ. Alarain juga meneliti hampir sifat orang-orang ini. Ia tidak peduli, hanya saja ia ingin bertanya mengapa semua orang harus berpura-pura?
Iya, berpura-pura untuk tampil baik, tampil sempurna, disenangi semua orang, menjaga perilaku, selalu munafik pada diri, bukankah itu melelahkan?
"Panggilan kepada Alarain Jayden kelas XII-2 CI. Sekali lagi..."
Semua orang menatap padanya yang tepat berada di bangku paling belakang. Tatapan mereka seakan bertanya 'kenapa' tidak dihiraukan oleh Alarain.
__ADS_1
***
"Alara, karena kamu telah mendapatkan bantuan sekolah, maka yang harus kamu perhatikan adalah nilai mu untuk saat ini. Apalagi sekarang tahun akhir bagi kamu. Mendapatkan juara paralel ke-6 dari angkatan mu memang hal bagus. Tapi, standar yang kami berikan tidak hanya soal peringkat namun, kemampuan mu juga harus dijuji dan dinyatakan terverifikasi.
"Ini adalah contoh bank soal untuk kompetisi Fisika, kelebihan mu untuk pelajaran ini memang patut diacungi jempol. Tapi, orang-orang butuh hasil, dan kadang bisa melupakan proses. Maka dari itu, bawalah trofi untuk sekolah kita!"
Malam panjang di trotoar untuk gadis berumur tujuh belas tahun seperti orang yang tidak memiliki estetika. Alarain meneguk habis bir kaleng kemudian melemparkannya asal pada tong sampah. Jalanan padat dengan mobil yang saling bersahutan, dan Alarain kesendirian.
Ia mengeluarkan earphone dan memasangnya. Memainkan musik penenang yang paling disukai, Indie. Dengan laju keras serta suara memekakan telinga dari gesekan mobil, bercampur dengan musik tenang dalam pendengarannya. Ini ruang yang Alarain ciptakan sendiri, bersama musik indie, ketenangannya akan selalu bisa diukur.
Tapi,
"Gue duduk di samping lo ya?" sebuah suara maskulin terdengar dengan campuran aduk musik dan jalan raya. Dia bertanya, tanpa menunggu jawabannya, pemuda itu duduk dengan santai di samping Alarain.
Kesal. Ketenangannya di ganggu, Alarain tak menanggapi ia terlalu malas pada orang yang satu ini. Apalagi dengan tanpa permisi cowok tersebut mengambil paksa salah satu gumpalan earphone nya.
"Indie ya? Kayak biasa?"
Akhirnya cowok itu diam setelah berkali-kali tidak diacuhkan Alarain. Detik berlalu menit Alarain yang sedari tadi menutup matanya mencoba membiarkan pemuda yang duduk disampingnya pergi. Namun, ida terlalu keras, atau Alarain yang terlalu lemah.
"Bisa gak si jangan ganggu orang!" Alarain pergi. Meninggalkan trotoar juga cowok tersebut yang kini memandang langit dengan sendu. Di bawah terangnya lampu merkuri jalan, di bawah Langit malam gelap, cairan bening turun dengan deras. Menetes pada wajah suram yang mulai basah. Cowok itu mengalihkan pandangannya pada bayangan yang berlari kecil dengan tas sebagai payungnya. Gadis itu, Alarain Jayden memiliki medan magnet tersendiri.Dia memiliki ruang dan musik indie yang disukai nya juga. Dia menarik. Dia berbeda. Dan, akan terlalu banyak kata untuk mendeskripsikannya.
Dia, Alarain Jayden. Seperti biasa, hanya mencari masalah dengan waktu 22.46.
***
Halo, bagaimana dengan bab 1 ini? Ada kata?
__ADS_1
***
See You Next Part**!