ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
28


__ADS_3

Acara makan diadakan dengan khidmat. Sebenarnya Alarain tidak pilih makanan, perempuan itu diam bak gadis bisu. Alarain hanya lelah meladeni sikap dramastis dari keluarga ayah Justine. Percayalah, jika bukan karena tawaran Justine yang menggiurkan, dia tidak akan menginjakkan kaki di mansion ini.


Setelah makam selesai, semua orang tidak brranjak dari meja makan. Melainkan menatap Justine yang kini dengan gemulai memberikan dua bungkus bingkisan. Kemudian yang hadir mendengarkan Justine berbicara, "Ini dari kekasih ku, terimalah."


Dengan tanpa wajah berdosa Justine mengucapkan kalimat hak nya dan memposisikan Alarain di hatinya.


Sang ibu menoleh, kemudian tatapannya ia alihkan pada Alarain dengan tatapan linglungnya, "Buat mama? Tidak ada?" Tanya nya dengan raut sedih.


Seketika Alarain melirik ibu Justine yang tepat di samping pemuda itu. Alarain menghela nafas lega saat ia mengingat sesuatu. "Saya tidak tahu apa yang anda suka. Tapi setiap perempuan menyukai hal yang indah." Alarain merogoh sesuatu dari tas selempang yang senatiasa mengikutinya. Lalu tangan panjang itu mengulurkan sebuah kotak merah menyala dengan Logo Awan yang mencolok.


Untuk sesaat keadaan di ruang makan tiba-tiba hening.


Bingkisan yang diberikan Justine atas nama Alarain untuk kakek neneknya tertutup dengan kertas yang meriah. Dan semua orang tidak dapat menebak apa isinya. Tapi, ketika Alarain memberikan hadiah pada ibu Justine, itu adalah hal yang tidak mereka duga.


"Untuk apa kalian termangu. Zaman sekarang sesuatu bisa dipalsukan."


"Cucu ku benar sekali. Zaman sekarang apa yang tidak bisa dipalsukan!" Dipinggir meja lain, suara tua menyahut dengan senang. Alarain mengabaikannya, dia dengan tenang menyuruh Justine memberikan bingkisan itu pada ibunya.


Suasana tidak terlalu mencekam. Hanya suara Justine yang menggema seraya memberikan bingkisan itu pada ibunya, "Bukan kah ventilasi mansion ini sangat bagus? Kenapa lalat bisa masuk?" Tanyanya dingin.


Alarain terkikis geli. Ternyata mulut pedas Justine tidak bisa berhenti. Alarain menoleh senyumnya terbit dengan sempurna. "Apakah kamu tidak tahu? Institut Penelitian Negara ini telah mengeluarkan lalat varian baru?"


Sindiran keras. Tapi semua orang tahu apa yang dimaksud Alarain dan Justine. Orang pengganggu disamakan dengan lalat yang sering hinggap dimana saja. Varian baru yang dimaksud Alarain yaitu jenis vaksin yang baru rilis lima hari lalu di Jepang.

__ADS_1


Hati Justine melonjak kala melihat senyum merekah itu, "Apakah mematikan?" Tanyanya.


Melihat antusiasme Justine, Alarain entah mengapa malas kemudian. Gadis itu menetralkan kembali mimik wajahnya. "Kamu lebih tahu sayang!"


"Aku tidak tahu jenis lalat ini my dear."


Alarain memutar bola matanya malas dan berbicara dalam bahasa Indonesia. "Kamu lihat saja nenek samping mu. Itu lalatnya."


Justine tertawa, begitu pun ibunya yang terkik geli. "Kau memang harus menjadi bagian dari keluarga kami." Ucapnya tulus. Mantan Super model itu sangat puas.


Yang tidak bisa bahasa Indonesia hanya bisa terdiam, Liliana Ambar tersenyum memperhatikan tingkah Alarain yang sedikit sompral. "Terimakasih, aku sangat puas dengan gadis pilihan mu, Just."


Hanya. Alarain yang sedikit membeku dengan situasi. Entah kenapa bersama Justine otaknya sedikit tidak berfungsi.


***


"Tidur di mansion Morenza, Rain!"


"Astaga!" Alarain frustasi. Ia paling tidak suka jika diinterupsi seperti ini. Justine sangat mengatur.


Bruk Brak.


Hanya butuh dua detik untuk melumpuhkan pria jangkung itu. Alarain mengibaskan tangannya. "Aku tak butuh perlindungan mu!"

__ADS_1


Alarain melenggang. Meninggalkan halaman mansion dengan tenang. Tanpa Justine ia bisa hidup sendiri. Kecuali tentang ayahnya, Justine tidak berguna.


***


"Sangat tidak romantis." Komentar Liliana. Ia menatap suaminya yang tengah menyesap kopinya dengan santai seraya memperhatikan monitor yang memperlihatkan adegan Justine juga Alarain.


"Bukankah mereka berpacaran?" Tanya tn. Fareht. "Untung saja tidak. Dilihat dari situasi ini mereka hanya berpura-pura."


Ny. Liliana membenarkan. "Tapi aku sangat suka gadis ini."


Tn. Fareht memutar bola matanya malas. "Karena dia blak-blakkan seperti mu!"


"Benar sekali." Sang isteri tersenyum. Beliau kembali melanjutkan, "Hanya saja dia terlalu lemah untuk Justine. Justine butuh pendukung yang kuat untuk posisinya."


"Maka dari itu Livy Desvonda harus tiba besok hari."


***


Dalam situasi mencekam, terkadang dan kerata-rataan orang bisa melupakan hal yang terjadi disekitarnya. Sehingga sesosok rapuh yang mengamati situasi tersingkir dan merasa tersakiti. Dia dipaksa baik dalam suasana yang mengundang tangis pilu. Dia hanya butuh sandaran. Butuh pundak untuk menyembunyikan tangisan. Padahal dia sangat butuh 'Ra kamu menangis disini ya!' atau 'Ra, nangis aja!'.


Alarain butuh itu semua. Ia rapuh. Tapi sandaran itu menghilang. Ayahnya pun sama. Dalam tangis pilu, tak ada yang merangkul nya. ibunya yang menangis histeris. Tetangganya sibuk mengurus kematian ayahnya. Alarain duduk dengan lemah di pojok kamarnya, tanpa isakan, tanpa butiran bening yang mengalir Dimata cerahnya. Alarain takut, takut menangis dan tak akan bisa melepaskan hatinya dari kenyataan. Gadis kecil itu, dipaksa keadaan untuk baik-baik saja, tanpa ada yang bertanya.


'Ra, mau nangis gak?'

__ADS_1


__ADS_2