ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
18. Justine Lagi


__ADS_3

Call me Rain


***TYPO***


"Apakah kakek tidak lelah dengan semua rencana kakek ini?" Ares Paratama menatap tajam Fahrudin Pratama--kakeknya.


"Aku melakukan ini semua demi kebaikan mu!" Kecam Tuan Fahrudin. "Apakah kau tahu siapa dia? Apakah kau tahu Alarain Jayden?" Lanjutnya keras.


Mungkin ia harus segera menyelesaikan masalah ini. Mungkin juga ia harus memberi pada cucunya pelajar yang berharga sehingga tidak dapat dilupakan oleh cucunya yang biadab ini. Benar. Alarain Jayden harus dihancurkan.


Melihat Ares diam Tuan Fahrudin melanjutkan dengan tenang. Kemudian ia duduk di kuris kebesarannya itu. Menatap sang cucu dan berkata, "Alarain Jayden. Apakah kamu tahu marga Jayden terlalu...,"


Melihat reaksi cucunya Tuan Fahrudin tahu, cucunya itu mengerti apa yang harus dilakukan. "Tapi kakek..." Suara Ares tertahan. Ia masih belum mempercayai nya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan. Kenyataan pahit yang tidak bisa dihilangkan.


"Pergilah! Dan pikirkan!" Ucap Tuan Fahrudin.


***


Ares termenung. Pikiran liarnya memenuhi isi kepalanya saat ini. Ares masih tidak bisa menerima informasi pada  setiap sel otaknya. Alarain Jayden.


Awalnya Ares hanya berniat mengganggu gadis yang disukai Revan Wijaya itu musuhnya. Tapi, pertama kali melihat, hingga kedua kalinya dan seterusnya, debaran aneh mulai muncul di hatinya yang tidak terjamah. Debaran aneh itu muncul seiring waktu. Tatapan Alarain, nada dingin dalam pembicaraaannya atau sifat kasar yang selalu ditampilkannya. Semua terpatri di ingatannya.


Untuk pertama kalinya Ares merasakan hal yang aneh dengan perempuan. Meski ia terkenal dengan sifat playboy-nya Ares melakukan itu murni karena mencari kesenangan. Ia tidak pernah benar-benar menyukai gadis-gadis yang dipacarinya. Tapi dengan Alarain Jayden? Iya, Alarain Jayden terlalu wah. Sikap yang tidak acuh membuatnya tertarik. Ares ingin menghancurkan wajah dingin itu. Dan semakin hari semakin membuatnya seperti orang gila. Benar. Alarain Jayden memiliki magnet berbeda dari gadis lain.


Tapi, mengapa semuanya menjadi rumit? Kenapa ia harus menyukai anak orang yang membunuh keluarganya?


Untuk pertama kalinya, ia merasakan jatuh cinta. Untuk pertama kalinya juga ia dipatahkan cinta meski belum memilikinya.


Jayden? Marga keluarga yang membunuh orang tuanya bukan? Apakah Alarain benar-benar bagian keluarga tersebut?

__ADS_1


Ares menatap nanar dinding kamarnya, tatapannya berpusat pada sebuah foto berbingkai emas dengan gambar seorang anak kecil yang digandeng orang tuanya. Itu Ares dan mama-papa nya.


Ares lantas berdiri, mencabut bingkai itu lalu dengan seluruh kekuatannya ia membantingnya dengan cepat.


***


Di  kota Semarang


Ketukan keras memenuhi gendang telinga Alarain. Gadis itu bangun dari sopan dan berjalan menuju ketukan yang terdengar. Wajah ngantuknya tampak tidak waspada. Alarain belum sepenuhnya bangun dari tidur malamnya karena semalaman ia sibuk mengurus segala pencariannya.


Alarain membuka pintu apartemen, "Perlu apa?" Tanya sambil menguap.


Justine pria muda itu melihat Alarain dengan tatapan rumit. Bisakah seorang gadis bertingkah seperti ini di hadapan seorang pria. Justine menelan Saliva nya dengan kasar. Lekukan tubuh Alarain sangat pas juga sangat terlihat. Terlalu menggugah selera.


"Ayo masuk!" Ucap Justine. Pria itu melangkah terlebih dahulu sedangkan Alarain mengikuti.


Gadis yang setengah sadar itu berhenti seketika, merasa ada yang janggal wajah kantuknya terbuka sempurna saat melihat pria muda dengan stelan jas kerja yang sangat rapi. Justine Hurrendt! Iya, Pria yang lebih tua tujuh tahun darinya sedang mengatur makanan di meja.


Alarain yang biasa tidak peduli merasa panas. Pikirannya panas dan entah kenapa jika menyangkut pria di hadapannya apinya akan semakin menggelora. Alarain tidak bisa berpikir jenih. Dari sekian banyak orang yang menyukainya tidak ada pria yang tak tahu malu seperti ini. Alarain menghela nafas mencoba menetralkan emosinya yang memuncak.


Mari kita ingat bagaimana pria ini bisa mengganggunya. Dimulai ketika ia terluka, Alarain membantunya. Pertemuan kedua ia tiba-tiba menyatakan suka padanya dan ingin menikahinya. Dan pertemuan ketiga, sekarang pria itu dengan tidak sopannya memasuki apartemennya, ralat apartemen Resi.


Sebelum amarahnya memuncak. Alarain masih bisa mengingat.


'Seratus tangkai bunga yang dipetik oleh saya sendiri dari perkebunan mawar terbesar di Indonesia saya serahkan pada mu. Saya menyukai mu. Menikahlah dengan ku!'


Benar. Kadang Alarain yang tidak peduli dengan hal ini merinyit bingung. Kala itu di depan pintu apartemennya Justine Hurrendt memegang buket bunga yang katanya seratus tangkai itu. Dan menyatakan ingin menikahinya dengan kaku serta aksen bahasa indonesianya yang aneh.


Lalu sekarang?

__ADS_1


"Ada perlu apa?" Tanya Alarain dingin.


Tak mengindahkan pertanyaan dingin gadis itu, Justine Hurrendt tersenyum dengan deretan gigi yang sempurna lalu berkata, "Makanan udah siap makan dahulu. Aku tahu kamu belum makan!"


Siapa tuan rumahnya di sini?


"Pintu keluar di sini!" Ungkap Alarain dengan emosi tertahan. Gadis itu membuka pintu apartemen dengan sopan.


"Aku ingin makan bersama calon istriku!" Ungkap Justine tak tahu malu.


"Justine Hurrendt Morenza. Keluar!"


Justine yang setia dengan senyumannya memakan makanan siap saji yang ia bawa. Di hadapan Alarain ia berusaha tidak memperhatikan Alarain yang semakin menajam.


"Waktu masih pagi aku tidak akan berangkat kerja. Kau tidak perlu khawatir aku akan terlambat. " Ucapnya lagi.


Hey! Siapa.. Siapa yang mengkhawatirkannya? Siapa yang... Akh... Alarain pusing.


"Justine!" Seru Alarain keras. "Keluar!"


Alarain bergegas menuju pria itu. Lalu menariknya paksa dan mendorongnya keluar. Alarain mengunci apartemen itu dan mengunci jendelanya juga. Ia tidak akan membiarkan siapa pun masuk bahkan semut terkecil pun.


Alarain duduk di sopa dengan letih. Gadis itu mengelus keningnya lalu menatap makanan yang dibawa Justine. Alarain memakannya.


***


Jutine yang termenung diluar pintu. Memikirkan apa masalahnya sehingga gadis itu mengusirnya dengan ganas. Menurut buku panduan yang ia baca, tidak ada salah apa yang ia lakukan. Harus tersenyum dan setiap pagi melayani sang istri, seperti memberi makanan dan memberikan perhatian. Tapi, apa salahnya? Kenapa Alarain bersikap demikian?


Austin harus diberi pelajaran. Karena rekomendasi buku pria itu, Alarain mengusirnya.

__ADS_1


Sebenarnya Justine tidak salah. Pria itu benar. Hanya saja berlaku bagi seorang istri bukan 'cara mendapatkan cinta' bagi gadis muda. Pria itu juga tidak salah. Yang salah adalah Alarain yang tak mengerti perasaan cinta.


__ADS_2