ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
3. Alden


__ADS_3

Call Me Rain


***TYPO***


"Dari mana pulang malam-malam?" Sentakan keras saat gadis berambut panjang itu memasuki ambang pintu, menyapanya dengan keras.


Alarain yang belum sempat menyapa, Alarain yang belum sempat membersihkan dirinya dari guyuran hujan, disuguhi dengan teriakan mamanya yang memekakan telinga. Alarain tak menjawab, ia dengan santai membuka jaket hitamnya lalu melenggang pergi dari ruangan yang sama dengan mamanya. Namun, sebelum niatnya terlaksana,


"Mau jadi ***** ya kamu? Pulang malam-malam kayak gini. Pulang sekolah bukannya bantu orang tua malah keliaran kayak gini!"


Alarain berhenti tepat di depan kamarnya, lalu berbalik menatap sang mama yang kini marah besar. "Udah biasa!" Jawab Alarain.


"Kamu tuh kayak bapak mu yang biadab itu. Kamu memang anak durhaka kamu seharusnya mati dengan pria brengsek itu!" Wanita berdaster dengan rambut acak-acakan berjalan cepat menuju Alarain. Tanpa pengamanan, wanita paruh baya itu meraih rambut anaknya dengan ganas. Dan berteriak tidak jelas.


Alarain tak melawan perlakuan mamanya. Ia diam, ia pun tak menangis atau pun meringis saat satu persatu rambutnya mulai rontok. Hingga kesadarannya menghilang, saat sesuatu menghantam kepalanya. Yang ia lihat hanya bayangan mamanya yang menangis dengan menggigit kuku-kuku tangannya. Yah, setidaknya dalam keadaan menghilang mamanya mempunyai rasa sedikit sayang padanya. Mungkin.


***


"pesen kayak biasa neng?" Tanya  ibu pedagang. Beliau adalah ibu Atik, kenalan pedagangnya di komplek sini. Mereka berdua sama-sama merantau di tempat orang.


"Ibu kapan balik ke sini?"


Sambil menyiapkan pesanan Alarain, ibu Atik menjawab, " seminggu Neng, udah lama. Enengnya si lama teuing gak ke sini!"


"Sibuk bu!"


Ibu Atik tersenyum, "iya juga ya neng, kamu kan masih pelajar keneh, belajar yang bener ya, nanti kamu bisa banggain bapak mu sama mama mu!"


Alarain menegang, tapi dengan cepat ia menetralkan emosinya, dan tersenyum merekah, "iya, amiin!"


"Ini pesanananya, mangga dimakan."

__ADS_1


Komplek ini bisa dikatakan komplek bagi orang menengah ke bawah. Setelah dua tahun lau ia dan mamanya pindah ke sini, Alarain mengenal ibu Atik, pedagang warung kecil-kecilan. Alarain melahap mie rebus yang ia pesan. Saat menemukan bahwa ibu Atik menambahkan sesuatu pada mie-nya, Alarain tersenyum tulus.


"Untuk tambahan telornya, saya ngutang dulu ya bu!" Alarain berdiri memberikan uang recehnya.


"Yeuh atuh teu nanaon!" (Gak papa) ,"itu mah emang buat eneng!"


"Ibu kebiasaan!"


"Ngasih orang segitu aja gak bakal bikin saya rugi. Yang penting perut kenyang ya,"


Senyum Alarain semakin merekah, tas nya ia tenteng dengan malas. Setelah pamit ia meninggalkan warung ibu Atik.


Untuk berangkat ke sekolah Alarain hanya perlu mana ini angkot dengan bayaran Rp.2000 karena jaraknya yang lumayan dekat. Ia menatap uang receh yang di tangannya, uangnya tinggal tiga puluh ribu rupiah. Saat ini ia memang sekarat akan uang.


***


SMA JAYA HARAPAN


Tersadapat dua jurusan di SMA ini yakni kelas MIPA dan kelas IPS. Tapi, kedua jurusan ini di khususkan bagi kelas sepuluh dan sebelas. Sedangkan untuk angkatan kelas dua belas. Tidak memiliki sistem jurusan, tapi tiap kelas mereka di beri nama satu persatu.


Kelas XII-1 yaitu kelas Multi, kelas unggulan pertama. Kelas tersebut merupakan kelas Jenius yang terkumpul. Kelas ini menciptakan hal-hal aneh, dengan adu kejeniusan mereka


Kelas XII-2 yaitu kelas CI atau kelas Cerdas istimewa, kelas unggulan kedua. Siswa di kelas ini rata-rata adalah orang yang sering mengikuti kompetisi-kompetisi.


Dari kelas XII-3 sampai kelas XII-7 merupakan kelas reguller. Untuk kelas XII-8 sampai kelas XII-12 merupakan kelas olahraga, dimana kelas ini menciptakan para atlet-atlet yang berbakat.


Pemasukan kelas telah melalui proses panjang dari kelas sepuluh dan kelas sebelas. Tapi inti dari pembagian kelas seperti ini adalah hanya untuk mengajarkan cara belajar yang berbeda-beda. Karena setiap kapasitas otak manuisa berbeda-beda.


Alarain bisa di katakan cerdas karena ia memasuki kelas unggulan. Tapi yang selalu menjadi pertanyaan adalah. Mengapa Revan Wijaya tidak memasuki kelas Multi? Juara umum, paralel pertama, bahkan orang dari kelas Multi bisa ia kalah kan.


Tentu, sistem seperti ini tak semudah yang dibayangkan. Yang pasti, terdapat orang-orang di belakang layar untuk memastikan semuanya.

__ADS_1


***


"Akh gue gak kuat liat ini vidio. Tangannya terlalu aestetik gak si!"


"Bener. Gue pikir pasti dia cewek gak mungkin dia cowok, kan!"


"Ada apa si woy, ribut banget?" Resi merengkuh kedua temannya saat mereka berbicara heboh.


"Liat!" Sera, perempuan berambut panjang pirang itu menunjukan hapenya. "Tau gak?" tanyanya.


"Siapa ini?" Resi merebut hape itu, kemudian mengklik profil orang yang mengkonten vidio di aplikasi tersebut. Seraya Resi melihat, Jia-- perempuan berkuncir kuda berbicara dengan heboh.


"Peyepe terus anjir di gue! Coba lo liat daftar putar font.  Dia jenius gak si, bisa niruin dan ngebuat font?" Jia dengan heboh memberi tahu Resi dengan semangat.


"Gak itu juga, konten-konten yang dia berikan kayak konten semua orang di satu akun gak si? Ngebuat font bisa, ngelukis juga bisa. Terus kreasi-kreasi miniaturnya juga lucu-lucu. Kira-kira siapa ya?" Sera pun ikut andil dalam memberikan informasinya.


"Kok di gue belum pernah epyepe ya?" Resi dengan bingung menatap mereka berdua. "Tapi tangannya, itu loh anjas! Terlalu beuh! Gue insekyur anjir!"


Resi mulai menscroll, tapi, satu hal yang membuat ia sedikit terkejut. Lalu dengan cepat melihat profil sang kreator.


"Alden?" gumamnya. Resi merasa pernah mendengar nama ini. Mungkin banyak kesamaan di orang lain. Tapi, setelah melihat nama ini entah kenapa ia langsung...


"Pengikutnya udah dua jutaan, centang biru ini!" Seru Sera heboh.


"Gue baru engeh!" Jia menepuk kepalanya, "akhirnya dewa gue darah biru! Yeay!!!!"


***


See you Next part!


***

__ADS_1


__ADS_2