ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
10. seseorang : "tolong saya"


__ADS_3

Call me Rain


***TYPO***


Terlalu berisik jika mendengarkan ocehan yang tak berguna. Maka dari itu yang harus kamu lakukan adalah diam dan tak mendengarkannya. Jangan hiraukan, semuanya pasti kembali seperti semula. Masih dengan musik indie yang mengalun tenang. Alarain menatap hamparan laut yang begitu luas. Setidaknya riak ombak serta ribuan pasir tak berbicara itu menemaninya.


"Ada apa?" Tanya Alarain. Sebenarnya gadis itu bukan gadis dingin atau orang yang susah didekati. Hanya saja, Alarain terlalu lemah untuk berurusan dengan sebuah hubungan.


Gadis lain tersenyum merekah mendapati pertanyaan Alarain, akhirnya gadis itu yang mengambil inisiatif, "Harus ada alasan?" Tanya nya juga.


Alarain menatap sengit gadis yang tersenyum bak mentari. Penuh dengan rasa asri. Alarain berdiri, "Jika tidak ada yang ingin dibicarakan aku pergi dulu." Jujur juga, karena Alarain lahir di Bandung, ia tidak terlalu biasa dengan kata lo-gue.


Gadis lain panik, "eh jangan! Oke, bentar ya! Aku cuman mau minta tolong doang!" Gadis itu berseru dengan nada memohon. Matanya yang seolah ingin menangis hampir mendobrak hati kecil Alarain. Tapi,


"Kau membuang waktu ku!" Ucapnya kesal.


"Al, kita kan teman! Masa gak mau bantuin!"


"Lo bukan temen gue!" Ucap Alarain kejam.


Tak memasukan kata kejam Alarain, gadis itu malah menunjukan wajah horornya. "Lo gak mau bantuin gue kan?" Tanyanya menyeramkan.


Alarain tak bergeming ia masih menunggu ucapan selanjutnya gadis ini. "Gue bongkar rahasia, lo!"


Alarain yang masih diam tak merespon akhirnya tersenyum geli. "Bongkar aja! Sebar juga!"


"Alden," Ucap Resi tiba-tiba. "Rahasia lo yang sebenarnya Alden.  Pembuat lima belas font, juga si jago gambar!"


Ucapan Resi ini yang tidak diharapkan Alarain. Ia pikir rahasia tentang keluarganya, atau tentang mamanya. Tapi, Alden. Itu adalah salah satu rahasia juga jalannya untuk mendapatkan uang.


"Bantu apa?" Akhirnya dia lebih menyerah. Alarain percaya dengan apa yang ditemukan Resi, karena tidak mungkin gadis itu untuk berbohong dengan sifat juga sikapnya yang percaya diri. Plus, Resi juga memiliki keluarga yang kuat. Tidak sulit jika keluarga itu ingin menyelidikinya.

__ADS_1


Resi tersenyum kembali. Ia malah menuntun Alarain untuk berjalan.


***


"Warnanya tidak boleh yang itu, terlalu kontras!"


"Campurkan lebih sedikit warna hijau!"


"Goresannya terlalu tebal. Gunakan kuas yang lebih kecil."


"Tanganmu jangan tegang atau gemetar. Jikalau tidak..."


"lukisan mu tidak banyak kesan. Sudah Alarain lelah!" Resi menengahi saat Alarain memberinya ceramah.


Sudah dua jam dan ia tidak menghasilkan buah apapun dari lukisannya. Lukisannya belum jadi. "Gini rasanya mau belajar melukis. Capek! Harus sabar pula!" Geramnya.


"Ingat persyaratan ku!" Ucap Alarain.


"Iya, iya, bawel bangt lo!" Ucap Resi serya menyapukan kuasnya pada kanvas.


Kadang Alarain berpikir apa yang kurang dari dirinya. Keluarga kaya, pasti mudah bukan untuk menemukan pelukis handal, pelukis profesional, yah selain dirinya.


Tapi tidak apa-apa, karena Alarain juga butuh pekerjaan ini. Tidak ada pekerjaan yang harus tidak dihargai. Maka dari itu, salah satu persyaratan untuk Resi. Ia mampu membayarnya. Di dunia tidak ada yang gratis.


Setengah jam kemudian. Lukisan aliran surealisme akhirnya terbentuk. "Bagus kan?" Tanya nya pada Alarain.


"Sapuan luasnya terlalu lemah." Alarain berkata dengan jujur. "Aku pergi dulu!" Alarain harus bergegas ke restoran untuk menggantikan shift siang.


"Boleh minta nomor whatsapp? Kita temenan ya!" Ini yang disusah dari Alarain. Gadis itu tidak masuk ke dalam grup kelas.


"Ingat! jangan ngomong pertemanan sama gue!" Peringat Alarain sebelum ia begegas untuk segera keluar dari pekarangan rumah Resi.

__ADS_1


Resi menatap Alarain sendu. Benar. Alarain bukanlah orang yang mudah, meski dapat diajak bergaul. Tapi, sebagai penggemar berat Alden. Alarain harus jadi temannya.


***


"Jangan lari lo goblok!" 


Nafas Alarain menderu. Sepulang dari rumah Resi, Alarain memang bekerja. Dan sekarang pukul setengah sebelas malam. "Bangsat banget ini!" Umpatnya.


Tapi yang menjadi penderitaanya kali ini adalah karena Alarain melawan pereman yang datang ke warnet kecil dipenghujung jalan ini. Tempat itu adalah tempat pelariannya  ketika bosan. Tapi mengapa pereman ini mengganggu kebosanannya.


Alarain bukannya tidak ingin melawan. Tapi sisa cambukan dan pukulan waktu itu masih membekas diwajahnya. Bahkan wajahnya pun belum sembuh total. Makanya jika bekerja Alarain selalu memakai riasan untuk menutupi lukanya. Pereman yang sering menjarah ini membuatnya murka. Tapi, dalam keadaan seperti ini, Alarain pikir ia harus kalah.


Langkahnya semakin cepat begitu pula ketiga pereman itu. Ceritanya singkat. Waktu di warnet tadi, Alarain memukul kepala ketiganya dengan botol minuman keras yang ada di warnet. Dan sekarang seperti ini. Alarain dikejar dan Alarain kabur.


Serasa menemukan tempat gelap yang cukup untuk bersembunyi Alarain berhenti. Ia menetralkan nafasnya yang bergemuruh. Pereman itu senantiasa berhenti, mungkin mereka bingung jalan mana yang akan diambil di persimpangan ini.


"Dia udah pergi kayaknya!" Ucap salah satu dari mereka.


"Sayang cewek secantik itu gak dicobain!" yang lain menimpal.


"Dahlah, Cabut!"


Perginya mereka Alarain bernafas lega. Ia menyenderkan tubuhnya pada tembok. Hari ini sungguh melelahkan, Resi yang merepotkan. Tapi tidak apa-apa, yang penting ia punya uang. Jalan utamanya adalah sekarang ia harus membeli laptop juga komputer.


Setelah tenang Alarain mencoba berdiri. Namun, sesuatu yang mengganjal kakinya membuatnya rada berat untuk bergerak.


"Bangsat!" Umpatnya.


Ia balik menatap tajam pada mata terkutuk yang juga menatapnya dengan intens.


Dibawah sinar bulan purnama malam ini. Serta bau darah sebagai penyempurna pertemuan mereka. Pria yang kemungkinan berlumuran darah itu tersenyum melihat Alarain.

__ADS_1


Alarain bertanya, kenapa semua orang yang menatapnya memperlihatkan senyuman seperti ini.


"Tolong saya!"


__ADS_2