ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
6. hati dan Tuhan?


__ADS_3

Call Me Rain!


***TYPO***


Hari yang dilalui seperti biasa, tidak ada yang menarik. Hanya saja kenapa Ares Pratama semakin ingin melengket padanya? Jangan lupakan Revan Wijaya yang semakin gencar ingin memacarainya. Kedua makhluk ini kadang membuat Alarain darah tinggi. Tidak adakah pekerjaan yang mereka lakukan selain mengganggunya? Hey, Alarain lelah. Ia lelah untuk berurusan dengan burung yang tak berhenti bersiul.


Apalagi situasi sekarang adalah situasi yang ingin Alarain musnahkan.


"Jadi apa?" Alarain menatap kedua orang yang berada di depannya. Ia menghentakan kakinya tak sabar. Benar. Alarain juga manusia, ia tak akan selamanya bisa memendam semuanya, bukan, termasuk amarahnya.


Revan menatap Ares benci. "Dia yang ngikut-ngikutin gue!"


Tak suka mendengar omongan Revan, Ares mendelik, "Gue suka sama Alarain karena emang suka, bangsat!"


Kronologi nya seperti ini, saat sedang jam istirahat Alarain pergi dan tak menyangka Revan akan mengikuti nya. Yang lebih tak menyangka adalah Ares sedang diam santai di rooptop ini dengan gaya khasnya. Tapi Revan yang datang tanpa permisi mulai meninju wajah Lelaki itu. Alarain melerai namun lengkingan suara adu mulut mereka berdua memekakan telinganya. Dan jadilah seperti ini.


"Taik lo anjing!"


Seumur-umur Alarain sekelas dengan Revan pemuda itu selalu diam dingin dan tak tersentuh. Atau Alarain yang tidak tahu hidupnya itu?


"Bangsat Lo Rev!" Balas Ares keras. Ia membalikkan tinju yang diberikan Revan. Dengan kuat Ares memegang kerah Revan, di hadapan Alarain ia membuka hal tersembunyi, "Jangan lo kira gue gak tahu lo deketin si Alara karena dia mirip sama mantan lo yang udah mati. Bangsat!"


Sepertinya Kata-kata Ares menjadi bumerang bagi Revan. Karena entah kenapa, tubuh laki-laki itu tiba-tiba menegang dan tak membalas saat pukulan kembali melayang tepat di wajahnya.


Alarain sedikit tak merespon saat mendengar informasi baru ini. Ia menatap Revan, sedikit kasihan. Ia kasihan. Ia tidak lepas dari masa lalu. Seperti dirinya. "Karena seperti itu gue juga tahu intinya! Selesaikan masalah kalian dan jangan bawa-bawa gue!"


Awalnya seperti biasa Alarain ingin menenangkan diri tapi kenapa semuanya malah membuatnya emosi. Hanya saja ia bersyukur karena ia tak pernah menaruh hati pada siapa pun.


Selepas perginya Alarain kedua rival itu saling menatap tajam. Mencampurkan semua rasa emosi yang mengaduk dalam suasana tegang.


"Kenapa? Kesel lo sama gue?" Ares bertanya dengan sembrono.

__ADS_1


"Lojangan ungkit dia ya! Mulut kotor lo gak pantes hanya sekedar..."


Bugh!


Layangan bogeman kembali mengena pada wajah tampan milik Revan. Darah keluar dari sudut mulutnya. Revan menyeka dan menatap Ares Remeh. "Lo emang gak berubah, ya!"


***


"Eh Alarain!" Pa Budi memanggilnya Alarain saat gadis itu berjalan melintasi kantor guru. "Kompetisi Fisika sebentar lagi kayaknya. Kamu harus siap-siap!".


Alarain tersenyum, "Siap pak!" Jawab gadis itu semangat.


"Itu saja. Tapi saya mau minta tolong sama kamu!"


Alarain menjentikan sebelah alisnya. "Iya pak!"


Guru itu mengasongkan tumpukan buku tulis padanya, "Berikan ini ke kelas XII Multi, bisa kan?"


"Terimakasih!" dan beliau pun kembali ke kedalam.


Dengan penuh kemalasan gadis itu berjalan menuju kelas yang dimaksud. Hanya ada satu kelas Multi di sini. Jadi Alarain tak perlu repot-repot mencari kelas tersebut. Yang menjadi masalahnya adalah Ares Pratama merupakan anggota kelas tersebut. Hadeh. Tapi, mengingat pria itu yang tengah adu jotos dengan Revan, Alarain tersenyum penuh kemenangan. Yah, tidak, Alarain bukan takut bertemu dengan Ares, ia lebih ke tidak mau dan tidak ingin bertemu karena, cowok itu selalu mengganggunya dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.


Seperti dugaannya Alarain tidak melihat cowok tersebut di kelas. Setelah memberikan buku itu, tanpa basa basi Alarain kembali ke kelasnya.


Kelas CI yang menakjubkan.


***


"Alara! Ini gak seperti yang kamu pikirkan!" Dengan panik Revan menjabat tangan gadis itu yang mulai berjalan cepat.


"Emang apa yang aku pikirkan?" Tanya Alarain.

__ADS_1


"Gue...," Revan membisu, "Tapi suer gue suka sama lo asli. Ini dari hati gue, gak kayak yang dikatain si Ares." Cowok yang biasa irit bicara itu menjelaskan dengan gugup.


"Van, lo juga udah tahu perasaan gue ke lo kayak gimana! Kita temenan aja! Gue gak suka sama lo!" Ucapnya penuh penekanan.


"Tapi perhatian lo ke gue, waktu itu...,"


"Itu murni karena kita sesama manusia harus saling tolong menolong!" Alarain menatap jengah Revan lalu menyentakkan genggaman Revan yang sangat kuat. "Kalo konsep pemikiran lo kayak gitu. Berarti yang gue tolong harus suka sama gue? Orang yang dapat perhatian dari gue pasti suka gue? Iya! Enggak Van! Lo nembak gue berkali-kali jawabannya pasti sama!"


"Bukan itu..." di posisi seperti ini, biar dikata Revan yang mengemis cinta. Iya. Dia mengemis cinta dari Alarain.


"Van, kita gak akan sama. Bukan hanya materi kita yang berbeda. Semuanya tentang lo dan gue itu berbeda. Beda!" Jawab Alarain keras.


Revan membisu dan Alarain pergi. "Tapi, gue emang suka lo Alara!"


Revan Wijaya. Kata mereka hidupnya sangat sempurna. Memiliki keluarga terpandang, tidak sedikit orang yang iri padanya. Tapi, dunia luar tidak tahu bagaimana keadaannya. Revan akui ia bukan laki-laki kuat, bukan laki-laki dingin, Revan hanya butuh perhatian kecil. Seperti yang diberikan Alarain waktu itu...


"Letaknya bukan di masalah atau enggaknya. Tapi ini emang masalah, gede malah. Luka kecil kayak gini tuh emang harus diobatin kalo enggak jadi infeksi. Kamu mungkin emang gak suka karena terlalu repot. Tapi, mencintai diri itu sangat penting."


Malam itu, malam MPLS terakhir di SMA. Gadis dengan rambut pendek, yang jarang berinteraksi dengan orang lain, mengatakan hal panjang padanya meski dengan nada yang amat dingin. Alarain mengambil inisiatif. Pandangan pertama ini, perhatian dari orang yang tidak dikenal ini, menyejukan hati Revan yang bimbang. Banyak orang menyukainya, tapi orang yang disuka Revan, Alarain Jayden.


Revan terlalu haus perhatian atau Alarain yang acuh dan tidak memikirkan perasaan orang?


***


Alarain untuk ke sekian kalinya meninggalkan Alarain.


Alarain sering dikatakan sebagai orang yang tidak punya hati, oleh mamanya. Ataupun oleh orang baru yang mampir di hidupnya, tapi tidak sedikit orang yang telah lama mengenalnya.


Alarain akui itu. Ia bukan hanya tidak punya hati. Alarain juga tidak punya Tuhan.


***

__ADS_1


See You Next Part!


__ADS_2