
Call me Rain
Mulmed Alarain nyanyi (cek yutub / toktok)
***TYPO***
"Jauhi cucu saya! Kamu selamat!" Pria tua yang duduk di kursi roda menatap Alarain sinis penuh benci serta berbicara dingin.
"Harusnya anda memberitahu cucu anda untuk tidak mengganggu saya. Jangan menempel pada saya layaknya parasit!" Balas Alarain tak kalah dingin.
Para ajudan si pria tua bergerak, tapi pak tua mengehentikan aksi mereka dengan mengangkat sebelah tangannya. "Kau berbicara seolah cucuku tergila-gila padamu,"
"Mungkin." Jawab Alarain enteng.
"Kau terlalu kecil untuk berurusan dengan ku!"
Kakek itu berbalik--pergi dengan di dorong ajudannya. "Bereskan dia!"
Layar monitor menunjukkan hal yang tidak pantas dilakukan. Gadis delapan belas tahun yang duduk di kursi itu terbujur kaku saat cambuk mulai merangkap di tubuhnya. Tak ada rintihan terdengar, tak ada tangisan menggema, Alarain tidak bisa mengeluarkan air mata. Tapi, tatapannya tetap tegas, ia tidak meminta belas kasihan pada orang yang tengah mencambuknya.
Tangan yang tengah memegang mouse itu bergetar. Tangan yang lain menggenggam erat seakan menunjukan hal yang tidak disukainya dan yang dibencinya. Kakeknya bermain terlalu jauh.
***
"Alarain lo gak papa 'kan?" Ares berhenti mendadak di depan gadis itu.
Tak menjawab, Alarain tidak mengacuhkannya, "minggir!"
"Luka lo...,"
"Minggir Ares lu-gue gak deket!"
Ares tak menyerah, "terus yang deket si Revan kan?"
Alarain jengah, ia menatap tak suka ada Ares. "Lu siapa si? Mau tau aja tentang gue!"
"Gue? Gue orang yang suka sama lo." Tanpa ragu Ares menyeruakan hatinya. Ruangan UKS kosong suaranya sangat jelas.
"Anjing!" Dengan begitu Alarain menendang betis Ares dengan keras.
Melihat kepergian Alarain, Ares berdecak kesal.
***
Pintu UKS terbuka, Resi yang tengah memberikan cairan merah pada tangan Jia yang terluka menoleh. Kaget. Mendapati Alarain yang urak masuk dengan bunyi suara pintu yang dibanting keras. Tanpa kesopanan.
"Al..." Sera yang memperhatikan kedua temannya, juga ikut menoleh.
Setelah mengobati luka Jia. Resi melirik Alarain yang sibuk mencari sesuatu. Obat mungkin, karena wajah gadis itu sangat lebam. "Obat memar ada di sini!" Resi memulai percakapan.
Mendengar nya Alarain menoleh. Ia mengambil obat yang Resi berikan. Tanpa terima masih atau senyuman sopan.
"Soal di kelas kita minta maaf!" Jia bersikap dewasa. Tak dipungkiri meski ia tidak membicarakan kejelekan Alarain rasa bersalah tadi dikelas hinggap di hatinya.
"Iya, gue juga!" Saut Sera.
"Atas teman sekelas gue juga minta maaf, Al!" Sambung Resi. Gadis itu berdiri di samping Sera.
Alarain diam. Tak menjawab, tak menoleh. Ia tak merespon hal yang menurutnya gak penting.
Jia memandang Resi, Sera hanya geram dengan tingkah Alarain. "Lo bisa gak sih ngehargain orang? Oke kita salah, tapi seenggaknya respon kek! Belagu banget lo jadi orang!"
Sera bisa dikatakan orang yang tidak sabaran. Gadis itu terlalu mudah terbawa emosi.
Alarain yang tengah meneteskan cairan merah pada kapas pun menoleh. "Makasih!" ucapnya singkat.
"Lo...,"
"Udah Ser!" bujuk Resi.
"Luka lo mau gue bantuin gak?" Tawar Jia pada Alarain. Lagi. Gadis itu tak menjawab.
"Bener-bener ya lo jadi orang!" Tunjuk Srra geram. Sera tak suka ketika melihat sikap yang tak dihargai kepada kedua temannya. Resi menenangkan amarah Sera yang menggebu. Alarain masih cuek-cuek saja.
"Bodo amat!" dua kalimat sepeninggal Alarain.
"Bangsat tuh cewek." ternyata amarah Sera tidak padam. "Pengen gorok jadinya. Gereget!"
__ADS_1
"Hati boleh panas. Tapi pikiran harus tetep dingin Ser!" Jika berkata dengan tegas. Memang diantara ketiga orang itu Jia lah yang paling tenang juga berfikir dewasa. "Lagian kita harus ngertiin dia. Wajar si kalau dia punya sifat kayak gitu."
"Bener." Resi setuju. Ia mengalihkan pandangannya pada Sera. "Harusnya orang seperti itu gak perlu dibenci, gak perlu dijauhin juga. Seharusnya kita yang mulai inisiatif!" ucapnya sok bijak.
"Inisiatif. Inisiatif. Dari awal juga inisiatif kalo kita. Dianya aja yang gak mau punya temen," Ucap Sera dengan nads tak suka.
"Ahh. Susah Res, kalo ngomong sama upil. Balik aja yuk!"
Jia berdiri. Merapihkan baju, begitu pula kedua temannya yang mengekorinya dengan cepat. "Mata lo upil Ji!" Sera berdecak kemudian.
***
"Wajar si kalau dia punya sifat kayak gitu. Harusnya orang seperti itu gak perlu dibenci. Seharusnya kita yang mulai inisiatif."
Kata-kata itu senantiasa terngiang dibenakanya. Malam ini Alarain tidak bisa tidur, meski tengah malam telah terlewat. Alarain berjalan menuju meja belajarnya. Lalu duduk. Gadis itu membuka ponselnya dan menyalakan live streaming di aplikasi toktok.
Pukul 00.47. Warganet yang masih online senantiasa menyerbu akun Alarain yang terkenal. Konten kreator ini sangat kreatif sehingga tidak aneh dan terkejut banyak orang yang mengaguminya dan mengikutinya.
"Alden live woy Alden Live!"
"Ya Allah plis gue pengen liat tangan estetik nya."
"Gila. Ini live Alden beneran kan?"
"Kiamat woy! Cowok gue online."
"Gak sabar Aldeeeen!"
"Alden cowok cewek si?!"
"Alden cewek kayaknya."
"Namanya Alden cok! Masa cewek!"
Kebenaran apakah Alden seorang gadis atau seorang jantan ada di Alarain. Komentar dalam semenit sudah mencapai ratusan. Meski kamera gadis itu di nonaktifkan.
"Malam. Saya Alden!"
Suara dingin tengah malam menyapa. Suara indah mengalir dengan tenang. Komentar diam dalam beberapa detik. Detik berikutnya, spam komentar histeris dengan cepat.
"Anjir!"
"Kan Alden Cewek!"
"Suaranya Ya Allah!"
"Alden aku padamu!"
"Patah hati gue!"
"But! Dia emang multitalent gak bisa dipungkiri!"
"Alden nyanyi!"
+999
"Alden muka nya mana?"
+100
anak.kadal memberikan gift
Jumawaaaa memberikan gift
SukaPelangi memberikan gift
RynWjy memberikan gift
DenAl memberikan gift
Kamera gadis itu memperlihatkan dinding dengan berbagai gambar anime, kpop, serta gambar-gambar aestetik.
"Ini pertama kali saya live. Saya ucapkan terimakasih pada kalian yang telah mendukung saya. Di live ini saya gak tau harus apa! Barangkali ada request?" Datar namun penuh kharisma. Gadis itu berkata tanpa ekspresi. "Atau kalian boleh tanya-tanya kecuali hal pribadi saya."
"Alden mau liat muka kamu!" +99
"Ini privasi ya, dikemudian hari mungkin kalian akan tahu siapa saya. Dan itu bukan sekarang."
__ADS_1
"Alden bisa nyanyi gak?" +99
"Alden bisa nyanyi gak?" Beo Alarain, "bisa!" jawabnya mantap.
"Saya akan menyanyikan salah satu lagu kesukaan saya!" Melodi gitar tenang mengayun. Penonton dengan jumlah 89.7k siap mendengar alunan musik yang akan dimainkan Alden. Hingga...
ku terbangun lagi
Di antara sepi
Hanya pikiran yang ramai
Mengutuki diri
Tak bisa kembali
'Tuk mengubah alur kisah
Ketika mereka meminta tawa
Ternyata rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Ketika kau lelah
Berhentilah dulu
Beri ruang, beri waktu
Mereka bilang, "Syukurilah saja"
Padahal rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Ha, ha, ha-ah
Ha, ha, ha-ah
Ha, ha, ha-ah-oh
Kita hanyalah manusia yang terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah sekali saja ku menangis?
Ku tak ingin lagi membohongi diri
Ku ingin belajar menerima diri
***
Info tentang Alarain

Salah satu Font kesukaannya☝🏻

Alarain yang suka langit☝🏻 (foto diambil di jalan menuju pasar)
***
__ADS_1
See You Next Part!
***