
Call me Rain
***TYPO***
"Baik pak!"
"Mungkin kedepannya kamu bisa fokus ada ujian masuk perguruan tinggi mu! Tapi saya harap kamu bisa masuk dengan nilai mu." Ungkap Pak Budi.
Alarain mengangguk kembali. Setelah mengistirahatkan sebentar kepalanya di atas meja tadi, Alarain memenuhi panggilan pak Budi.
Beliau membahas studinya, yang kemungkinan sangat mengkhawatirkan. Pak Budi bukan hanya mentor baginya tapi, beliau sangat mengarahkan untuknya masa depan. Dan Alarain masih tidak tahu apa niat beliau. Yah setidaknya masih ada orang yang mau memperhatikannya.
"Iya pak, terimakasih."
Setelah itu Alarain meninggalkan ruangan pak Budi.
"Eh Alara!" Sapaan tiba-tiba yang hampir mengejutkannya. Berdiri di sampingnya Ares Pratama. Hari yang menjengkelkan pun tiba. Alarain tak menggubris ia kembali melanjutkan langkahnya dengan kekuatan turbo. Ares Pratama harus sangat dijauhi.
Namun Ares tak menyerah ia kembali menyamakan langkahnya dengan gadis itu. "Gue udah putusin pacar gue. Mau ya jadian sama gue!" Ujar Ares dengan penuh kepercayaan tinggi dan sangat menyebalkan.
"Sinting!" ungkap Alarain penuh kesal. Dengan satu pukulan keras yang hinggap di wajah tampan Ares, Alarain pergi.
"Cewek bia*dab." Umpat Ares.
***
Justine Hurrendt merenung penuh pikiran di kantornya. Ia kemudian mengalihkan pandangan kesalnya pada si sepupu yang sibuk dengan handphone sambil tertawa terkikik.
__ADS_1
"Apakah pesonaku sudah mulai terkikis?" Tanya nya entah ke siapa. Karena Austin tidak memperhatikan.
Austin menengok--melihat Justine yang penuh dengan mata kekosongan. "Pesona mu sangat tidak diragukan, bahkan dewi ku pun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari mu." Ungkap Austin jujur. Perempuan mana yang akan mengatakan Justine itu tidak tampan? Atau perempuan mana yang akan menolak pesona Justine? Ya, kecuali satu.
Merasa ingat dengan sesuatu, Austin berkata, "Ada yang aneh dengan informasi Alarain." lanjutnya. Kemudian ia duduk dengan benar dan memeriksa file di meja yang berantakan. "Di sini tercantum dia sangat gadis biasa. Tapi, gadis biasa mana yang akan normal setelah melihat darah serta luka tembak? Gadis normal mana yang akan dengan santai membantu mu?"
"Kecuali dia tidak normal?" Ucap Justine dengan tidak suka.
"Bukan-bukan kakak!" Austin takut dengan mata tajam Justine. "Maksud ku, kecuali dia penuh rahasia." Lanjutnya.
Justine mamangutkan wajahnya. "Tapi kenapa dia menolak bunga mawar ku?" Tanya nya serius.
Austin pasrah. Benar. Hanya satu orang yang berani mengabaikan Justine Hurrendt dan dia adalah Alarain Jayden. Austin tak tahu harus berkata apa. Setelah ia memberikan saran untuk menikahi gadis Alarain, ternyata kakaknya itu melakukannya. Dan langkah pertama yang dilakukan pria itu memberikan seratus tangkai bunga mawar yang langsung ditolak hari itu juga. Jika mengingat hal ini tubuh Austin pasti akan gemetar. Karena setelah penolakan saat itu ... sudahlah.
"Kakak kau melakukannya dengan tergesa-gesa, mungkin, mungkin, dia terkejut. Benar! Dia terkejut. Seharusnya kau membaca buku panduan menikahi seseorang." Austin menjawab dengan gugup di tengah tatapan tajam Justine.
Tanpa melihat kegugupan Austin, Justine bertanya dengan polos, "Benarkah ada panduan seperti itu? Beli yang banyak dan simpan di perpustakaan pribadi ku!"
***
"Iya pak," Jawab Alarain tenang.
"Kamu baru saja mengambil cuti baru-baru ini." Ujar Pak Andi serius, beliau adalah wali kelasnya. "Alara, sebenarnya kamu bisa saja mengambil cuti seperti ini. Tapi ini bukan kelas Jenius yang bisa seenakanya. Kamu mengerti maksud saya."
Sekali lagi ini menyangkutkan dengan Kelas Jenius. "Apa persyaratan masuk ke kelas Jenius?" Tanya Alarain tiba-tiba.
Wajah pak Andi cerah. Dia pun tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kertas yang sedikit menguning. "Akuilah ini punya mu! Kamu lulus!"
__ADS_1
Alarain sedikit mengerut saat melihat kertas tersebut. Kertas lama yang menjadi salah satu rahasianya. Kertas lama yang menjadi--membuatnya sedikit terkenal di para guru. Hanya demi semuanya, ia harus mengakui. " Iya!"
Pak Andi menggebrag meja dengan keras. Ia sangat bahagia. "Bagus-bagus. Setelah kau mengambil cuti, kau masuk ke kelas Multi!"
***
Setelah pulang sekolah. Alarain berganti kostum dengan serba putih, dimulai dari topeng setengah wajah, t-shirt, jaket serta celana semuanya berwarna putih. Kemudian ia menekan earphone dan berkata, "Siapkan perjalanan!"
Alarain keluar dari apartemen nya dengan sombong penuh intimidasi.
Sebuah motor hitam berpengendara putih keluar dengan arogan dari garasi bawah tanah yang dirancang husus untuk para petinggi maupun orang yang berkuasa.
"Mulai dari Jawa Tengah!" Instruksinya.
Alarain melaju dengan diikuti sepuluh orang bermotor dengan kostum yang sama. Perjalanan menuju Jawa Tengah kali ini sangat terang-terangan. Bendera hitam kecil yang disimpan di belakang pengendara menjadi salah satu bukti. Bukti bahwa pengendara ini sangat penguasa. Jika dilihat dari situasi kondisi jalanan saat ini, mereka--para pengendara berusaha menghindar dari gerombolan ini layaknya memberikan jalan. Semua orang tahu bendera kecil dengan bunga Teratai putih yang sangat mencolok.
White Lotus namanya.
Nama gang motor yang paling berkuasa di pulau Jawa. Nama gang motor yang akan membuat orang selalu ketar-ketir. Nama gang motor yang selalu menjadi perbincangan hangat di antero Jawa. Gang motor yang tidak pernah low profile. Dengan ketua yang tidak diketahui, satu-satunya rahasia dari White Lotus. Sangat menggairahkan.
White Lotus terkenal dua tahun lalu. Pemberantasan terhadap sesuatu yang salah merupakan pijakan pertama untuk menjadi topik pembicaraan. White Lotus yang sering membantu dan mencintai kedamaian tiba-tiba hadir di era gang motor bersenjata selalu meresahkan warga. Dua tahun lalu itu, tidak akan dilupakan orang-orang.
Dan ya setidaknya White Lotus menguasai area pulau Jawa.
Dengan pimpinan Alarain gerombolan motor itu melaju dengan cepat. "Dalam hitungan tiga, semua orang berpencar!"
1... 2... 3...
__ADS_1
"Mari kita temukan sesuatu yang menarik di Jawa Tengah!"
***