ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
24. justine cabul


__ADS_3

Call me Rain!


*****


Note : Kata ALARAIN dibaca sesuai dalam bahasa inggrisnya hujan (Rain).


Alarein / Ala / Rein


Ra \= Re


***


***TYPO***


Besok malam.


Alarain tidur dengan pulas. Ia tak mengindahkan apa yang dikatakan pria sedikit gila itu di surat kecilnya. Bukan saja tidak diindahkan. Alarain juga mengembalikan apa yang pria itu berikan. Dengan modal retasan, tempat tinggal pria itu Alarain temukan.


Derap langkah pelan tidak membangunkan tidur pulas gadis itu. Padahal Alarain jago belajar diri, tapi kepekaan gadis itu sangat kurang sekarang. Justine menatap wajah damai Alarain. Keinginannya untuk pergi ke pesta yang diadakan kakeknya terkikis saat melihat wajah gadis itu.  Dengan pelan Justine menyingkap sebagian selimut dan tanpa tahu malu ia ikut merebahkan dirinya di samping Alarain.


Merasa ada pergerakan, Alarain merengut lalu membalikan tubuhnya dan kini saling berhadapan dengan Justine. Justine menegang saat Alarain mulai bergerak, apalagi saat tangan Alarain mulai melingkari pinggangnya dan kepala gadis itu berada di ceruk lehernya. Alarain merapatkan pelukan yang dibalas Justine.


***


Jawa Timur merupakan tempat lahirnya nenek dari pihak ibu. Liliana Ambar menikah dengan Roand Hurrendt dan menghasilkan ibu Justine -- Sarah Hurrendt.  Maka dari itu adanya Justine ke indonesia salah satunya adalah menemui kerabat yang padahal tidak ingin Justine akui.


Kerabat neneknya itu sangat suka dengan kekayaan. Terkadang mereka sering memanfaatkan nenek Justine atau ibu Justine karena telah menikah dengan keluarga kaya. Yang padahal keluarga Liliana Ambar bisa dikatakan keluarga terpandang di Jawa Timur. Dengan mengadakan jamuan makan untuk menyambut kedatangan Justine, itu membuktikan tingginya sosialitas mereka di industri. Siapa yang tidak kenal Justine Hurrendt? Salah satu pemuda impian setiap gadis di dunia. Salah satu alasan Justine terkenal karena merupakan bagian dari keluarga yang sangat terpandang. Yang penting bukan hal itu, tapi otak encer Justine yang digilai.


"Apakah Justine tidak akan datang?" Pria tua itu berbicara dengan pelan pada anaknya.


Yang ditanya menghela nafas pasrah, "Dia bilang ada urusan mendakak."


"Keparat!" Si pria tua merengut kesal.


Acara jamuan makan Justine bertujuan untuk memperkenalkan bahwa keluarga mereka saling dekat dengan Justine, atau keluarga Morenza. Tapi, cucu itu tidak datang.


"Ku bikang pelan-pelan untuk bisa mendekati anak itu." Ucap sang anak.

__ADS_1


Liliana Ambar memiliki saudara laki-laki dan pria tua itu merupakan saudaranya, namun beda ibu. Liliana tidak dekat dengan saudara ini hingga akhirnya ia dipinang oleh pemuda keturunan Hurrendt dari Amerika dan saudara ini mendekatinya. Sederhana saja siapa pun yang dekat dengan keluarga Hurrendt bukan orang biasa. Jadi tujuan keluarga saudaranya hanya untuk meninggikan status sosialnya.


Jamuan itu gagal tanpa ada sang pemain utama.


***


Tubuh Alarain menggeliat. Namun guling yang biasa ia peluk mengapa terasa keras? Dengan susah payah gadis itu membuka mata. Hal pertama yang didapat adalah mata jenaka yang seakan memberikan kasih sayang. Tapi, jika diperhatikan lebih teliti itu kelam seperti lautan dan terhalang dengan senyuman cerah menunjukan gigi.


"Pagi." Sapa Justine. Suara pria itu menggema dan sedikit serak.


Alarain mengerjabkan matanya beberapa kali. Hanya untuk melihat raga pria itu benar-benar ada di depannya. "Minggir!" Ucapnya pelan. Tapi percayalah kemarahan telah memuncak di ubun-ubun yang siap dikeluarkan kapan saja. Pria yang tidak kenal sopan santun ini berani memasuki apartemennya dan memasuki kamarnya lalu tidur di tempat yang sama dengannya? Watdehil?


Justine tidak bergerak pria itu malah tersenyum dengan elegan dan tertawa renyah, " Bukankah kamu yang harus melepaskan pelukan mu dari saya?" 


Alarain menegang. Gadis itu buru-buru melepaskan pelukannya dari Justine. Tapi Justine menahan dengan cepat. "Morning kiss sayang!" Pria itu memajukan wajahnya.


Wajah Alarain menggelap tapi Justine bisa melihat merah telinganya gadis itu yang entah malu atau marah. Namun, melihat bulu mata yang panjang itu bergetar Justine terpesona.


"Justine! Lepas!" Alarain menggeram.


Justine malah tertawa. Ternyata menggangu ketenangan Alarain sangat menyenangkan.


"Keluar!"


"Saya...,"


"Keluar Justine!" Telunjuk ramping Alarain mengarah ke jendela. Alarain tidak sempat berfikir, apakah Justine masuk dengan jalur mana.


"Aku tidak berniat...,"


"Justine cabul!"


"Oke! Oke aku keluar!" Justine kaget saat Alarain mulai mengarahkan senapan ke arahnya. Justine bukan takut. Tapi lebih ke dia tidak ingin membuat Alarain marah.


Justine keluar melalui jendela. Tapi ekor matanya sempat melihat Alarain yang terburu-buru minum obat.


Nafas Alarain memburu, tapi ia sadar tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Tidak ada sesak nafas sakit seperti biasanya. Berapa lama pria itu tidur di sampingnya? Atau mengapa pria itu datang dengan stelan jas lengkap seperti akan menghadiri sebuah acara?

__ADS_1


Alarain ingat. Kemarin malam, pria itu memberikan sebuah bingkisan berisi baju pesta yang telah Alarain kembalikan.


Pria cabul itu, sekali lagi, mengapa Alarain tidak bisa mengusirnya?


***


Sesuai dengan permintaan Sera, Alarain mengajarkan gadis itu piano.


"Gue pernah mainin musik lo master gue muji lo!"


"Pengen deket sama lo susah Ra, kayak ada penghalang."


"Lain kali jangan mengisolasi. Kita gak gigit. Cuman gue kesel sama orang kayak lo."


Itu suara hati Sera kala Alarain mengajari gadis itu piano. Alarain mengisolasi bukan hanya tidak suka pada hubungan. Persetan dengan pertemanan. Tapi ada satu hal lagi yang Alarain takutkan terhadap orang jika ada yang menjadi temannya. Alarain bukan orang baik. Alarain jahat. Alarain kejam. Dunia keluarga terpandang serta anak-anak yang dimanjakan sejak muda berbeda dengan dunianya. Sera, Jia, juga Resi. Keempat putri keluarga kaya itu lemah dan tidak tahu apa arti dunia yang luas ini.


"Bukan hanya sama lo kita gini."


Awalnya Alarain bertanya,.motif apa mereka mendekatinya. Tapi apa yang dikatakan Jia juga ada benarnya. Alarain sering melihat empat gadis itu mendekati orang-orang biasa.


Memikirkan hal ini Alarain mengerutkan kening. Perjalanan mencari tahu semuanya tidak semudah yang dibayangkan. Perjalanan untuk menemukan akar juga sangat susah. Apalagi ditambah semakin mengganggu nya setiap hubungan-hubungan itu.


Alarain menatap sang lawan yang terbujur kaku dengan dingin. Darah merembes dari perut dan leher. Wajahnya tak dikenali, itu rusak. Alarain duduk di kursi samping mayat. Di depannya terdapat kuas dan kanvas serta alat lukisnya.


Bukankah Jia ingin belajar melukis darinya? Apakah Alarain harus memberitahu bahwa warna-warna untuk melukisnya dari mana?


Memegang kuas dengan tangan kirinya Alarain mencelupakan pada darah yang menggenang di lantai. Bau anyir menyengat tapi ekspresi gadis itu tetap tidak berubah. Sapuan kuas kasar terlihat di kanvas. Sebuah silang besar yang mencolok dalam putihnya kanvas. Sapuan terus berlanjut dengan darah merah itu. Alarain semakin semangat melukis yang dimaksud.


Alarain butuh warna hijau saat ini. Apakah ia perlu untuk membuka perut pria di bawahnya dan mengambil empedu pria itu. Bukan kah warna hijau dari empedu sangat bagus?


Benar dia harus membelah isi yang ada. Mengeluarkan setiap sentian usus dan dua ginjalnya. Mencubitnya lalu memberi makan ikan lucunya. Dan empedu itu siap digunakan untuk lukisannya.


Alarain menarik senyumnya. Ia melakukan pekerjaan sesuai pikirannya saat ini.


****


Note :

__ADS_1


Alarain tuh karakter jahat. Alarain penipu. Ia sering menipu diri sendiri dan orang lain. Alarain itu kuat tapi lemah. Alarain bukan tokoh sempurna seperti perempuan di cerita2 lain. Alarain bukti egois, munafik, baik, jahat nya seseorang. Alarain itu teka-teki yang padahal dia manusia biasa yang punya dendam. Sebenernya Alarain benar-benar butuh kasih sayang. Butuh cinta. Butuh dukungan.


__ADS_2