ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
27. Kembali ke Mansion Morenza bersama nya


__ADS_3

"Ra!" Alarain menoleh mendapati Justine yang menatapnya sendu.


"Mau kah kamu ikut saya ke Jepang?"


***


Hari itu Alarain menyetujui ajakan  Justine untuk ke Jepang. Alarain bisa menolak, tapi, untuk satu hal yang dikatakan Justine, gadis itu memutuskan menyetujuinya.


"Ini dokumen yang ingin kamu ketahui tentang ayahmu. Saya bisa melakukan lebih asalkan kamu menyetujui ajakan saya."


Untuk pertama kalinya, Alarain entah kenapa bisa mempercayai seseorang. Gadis itu menatap punggung lebar yang sangat tinggi. Seberapa tinggi Justine? Bahkan tinggi 175 nya terlihat kecil jika disamakan dengan Justine.


"Berjalan di samping ku, Ra."


Alarain mempercepat langkahnya, mencoba mengejar Justine.


Di belakang mereka,  Austine menggerutu. Pria itu menatap pasangan muda dengan tatapan sengit. Tidakkah mereka mengerti bahwa ia sangat kesulitan membawa tiga koper sekaligus? Austin hanya bisa menerima penidasan ini dengan senyuman.


***


Mendengar bahwa Justine akan kembali ke Mansion utama Morenza. Rumah tua itu dalam keadaan siaga. Justine, intisari terpenting dalam keluarga menurut pandangan Tuan Fareht sangat berharga. Kedatangan yang mendadak membuat seisi mansion tegang.


Liliana Ambar, nenek besar sekaligus istri Tn Fareht, melirik sang suami yang mondar-mandir. "Ada apa suamiku?"


Tn.Fareht behenti wajah yang biasa tegas itu tampak gugup. Ia melangkah kan kakinya dan dudum di samping sang istri. "Apakah kau tahu apa yang telah cucu biadab ku itu lakukan?"


Ny. Ambar tidak menjawab, selebihnya ia akan mendengarkan ucapan selanjutnya dari sang suami.


"Dia menculik anak dibawah umur. Astaga!" Geram Tn.Fareht.


Liliana lantas terkekeh. "Bukan kah keinginan mu juga, dia memilki seorang gadis. Tapi sekarang kamu marah-marah seperti ini, sayang." nenek Tua itu menepuk punggung sang suami pelan.


"Tapi bukan dengan gadis dibawah umur juga." Ucapnya menggebu.


"Itu telah terisar di daratan kota Jepang bahwa cucu terbangga dan tersayang Tn.Fareht Morenza sudah memiliki seorang gadis dan selalu menjadi trending topik pertama." Ucap Liliana menambahkan dan mengingatkan suaminya.


"Kita bisa apa, itu keinginan Justine! Aku masih bersyukur dia bisa menyukai seorang perempuan." Tambahnya. Senyum halus terbit di Liliana. Tiada kerutan di wajah cantiknya yang halus.


Salah satu kabar tersiar tentang Justine yang paling melegenda, Pria itu tidak menyukai seorang perempuan dan dinyatakan gay. Pun, Justine tidak pernah berkomentar tentang hal ini.

__ADS_1


"Aku selalu mendengarkan mu sayang." Balas Tuan Fareht.


"Aku hanya ingin tahu gadis mana yang menarik perhatian cucu gay ku itu."


***


"Hati-hati." Tangan Justine terulur saat Alarain berjalan di tangga pesawat. Untuk sesaat Alarain terkesima, bulu matanya bergetar.


Justine menangkap tangan kosong gadis itu. "Mari."


Austin mendelik kesal melihat perlakuan sepupunya. Hey. Koper kalian ini. Haruskah aku yang membawanya?


"Kakak!" Seru Austin tiba-tiba. "Kau tidak menyuruh bodyguard-mu untuk kemari?" Austin menoleh kesana-kemari tapi tidaj ada satupun orang berbaju hitam yang kekar.


"Tidak." Jawab Justine lurus. Pria itu berjalan meninggalkan Austin seraya menggandeng tangan Alarain.


Austin melongo kembali. Hadeh kakaknya ini.


"Kakak jangan tinggalkan aku." Austin mengejar langkah mereka yang panjang.


"Berhenti." Intruksi Justine. Pria itu berbalik, "Kau pergi ke rumah utama."


"Dan kau?"


Austin menghela nafas. Pria itu mengangguk, membuka ponselnya kemudian ia menghubh anak buah mansion utama.


"Aku pergi dulu." Justine pergi meninggalkan Austin.


Dari awal sampai akhir, Alarain tak ikut dalam pembicaraan bahasa Jepang mereka. Dan Alarain tak peduli. Ia pun tak bertanya lebih pada Justine ke mana mereka pergi.


Tepat ketika langkah mereka jauh dari bandara, Justine menghentikan langkahnya dan bertanya pada Alarain. "Kamu tak akan bertanya pada saya ke mana kita pergi?"


Alarain yang lama diam, menjawab dengan suara parau, "Haruskah?"


Justine menghela nafas. "Lupakan!"


"Hm."


Sesusah inikah berbicara dengan Alarain? Mengapa hati Justine terasa ... aneh?

__ADS_1


***


Malam tiba.


Justine telah sampai di ambang pintu beserta Alarain. Pria itu ternyata membawanya untuk membeli baju yang ditolak mentah-mentah oleh Alarain.


Sebenarnya Justine biasa saja melihat penampilan santai Alarain, dengan celana jeans dan hoodie longgar Alarain tampak seperti pengganggu. Di tambah matanya yang tajam dengan rajutan alis yang tegak, membuat wajah cantiknya yang tegas. Fitur wajah Alarain memang tegas, tapi tak mengurangi kecantikannya.


Disinilah Justine dan Alarain berada. Melangkah dengan penuh ketegasan dari keduanya dengan sambutan penuh dari para pelayan. Rumah tua Mansion Mlrenza memang seluas dan semegah ini. Tapi mata Alarain tampak biasa saja, sikap itulah yang terlihat dari para penatua keluarga Morenza.


Tak ulung, kabar Justine kembali menghadirkan kontradiksi, anak-anak keluarga Morenza telah hadir di rumah Tua mansion. Pun, dengan Austin yang kembali siang tadi.


Semua anggota Morenza menelisik rupa Alarain. Sikapnya, penampilannya, dan hal lain yang ada dalam diri Alarain.


Yah, Alarain Jayden terkenal di keluarga Morenza. Pacar Justine itu menajdi topik perhatian di Jepang.


"Salam kepada keluarga besar." Ucap Justine penuh penghormatan dan keformalan, Alarain mengikuti seraya menunduk.


"Ayoyooo, cucu biadab ku kembali." Nenek Liliana melangkah dari tangga, ternyata beliau yang mudah lelah telah mengistirahatkan diri. Saat mendengar kabarnya Justine nenek tua itu mengerahkan kekuatannya untuk melihat Justine. Lebih tepat, melihat gadis Alarain Jayden.


Kesan pertama yang dilihat nyonya tua itu, sama seperti yang lain pikirkan. Alarain tidak berpendidikan. Tapi, karena inilah gadis pilihan Justine, Liliana akan menerima apapun itu tentang Alarain.


Dibawah tatapan anak-anaknya nyonya tua itu berjalan dan menggenggam tangan Alarain dengan mata penuh kehangatan.


"Alarain? Kamu sudah makan nak? Nenek sudah menyiapkan makanan untuk mu." Wanita itu sangat bersemangat. Tuan Fareht menghela nafas melihat kelakuan bersemangat istrinya.


"Bawa pacarmu, makan malam telah disiapkan."


"Hey, apakah kamu mengerti yang kami katakan?" Wanita muda seusia Justine bertanya penuh perhatian. Tapi dalam kata-katanya sesungguhnya mengandung penghinaan yang jelas, bahwa Alarain tak mengerti bahasa Jepang.


"Aku mengerti." Jawab Alarain dalam bahasa Inggris.


"Bagus. Kamu seharusnya membiasakan diri dengan keluarga kami termasuk bahasa Jepang jika nanti tinggal disini." Sahut anak ke dua Tuan Fareht. Paman Justine.


Bahasanya halus hanya saja penuh sindiran. Alarain hanya mengangguk. Ia tak akan memasukan hati apa-apa yang akan terjadi.


Justine menggenggam erat tangan Alarain. Dia pikir Alarain butuh dukungan. Apakah mereka tidak melihat keberadaanya. "Jika tidak nyaman, katakan pada saya. Kamu tidak perlu menghormati orang lain."


Justine yang tidak tahu apa-apa, bahwa Alarain sering mendapat perlakuan seperti ini. Tapi rasa dilindungi ini, menyenangkan?

__ADS_1


***


See You Next Part.


__ADS_2