ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
7. Alarain : " bersikap seperti biasanya"


__ADS_3

Call me Rain


***TYPO***


"Aku duluan ya kak!" Alarain menenteng tas jinjingnya. Waktu menunjukan pukul 23.30. Waktu yang sangat larut dan Alarain harus siap menanggung cercaan mamanya.


"Pulang jam segini hati-hati lho! Atau aku anter aja kamu!" Tawar Rika, mbak kasir shift malam di kafe ini.


Alaerain menggeleng, "Enggak apa-apa mbak. Aku bawa sepeda kok! Kalau begitu aku pergi ya! Sampai jumpa!"


"Hati-hati Al!" seru mbak Rika.


"Oke!"


***


Malam. Dingin. Tentu. Terlalu banyak kata untuk menjelaskan situasi malam ini. Tapi untungnya tidak hujan, satu hal yang membuat Alarain tenang. Ia mengkayuh sepeda dengan cepat. Hal yang ia ingin yakinkan adalah mamanya yang sudah tidur. Semoga.


Yang diharapkan Alarain untuk segera pulang tidak terwujud. Karena, seseorang mengikuti nya. Persis kala di persimpangan waktu itu. Makanya, sepedanya ia belokan entah ke mana, yang penting ia tidak sampai ke rumahnya. Jika tidak, mamanya mungkin dalam bahaya.


Tentu, kecepatan sepeda tidak bisa membandingi kecepatan sebuah mobil. Dan ya, mobil itu berhenti tepat di depannya, membuat Alarain mengerem mendadak. Menjengkelkan.


Dua orang pria keluar dengan jas rapi dari jok belakang mobil. Pria kekar persis bodyguard. Bukan persis, tapi memang bodyguard.


"Ikut kami atau kamu masuk ke mobil dengan sukarela!"

__ADS_1


Tapi Alarain bukan pengecut. Alarain bukan orang lemah. Ia juga bukan orang yang tipikal taat akan perintah atau sebuah keharusan. Hanya saja, sifat Alarain terlalu malas untuk berurusan dengan kedua orang ini, maka dari itu niat awal dan akhir Alarain adalah,


melarikan diri.


Sebelum itu terjadi seseorang yang terlatih lebih gesit menendangnya -- membuat Alarain pingsan.


***


Revan menatap bangku kosong Alarain. Sudah dua hari gadis itu absen dan hilang bak di telan bumi. Bahkan pak Budi pun tak lelah-lelahnya terus menanyainya--selaku partner kompetisi, tentang Alarain. Perseteruan di jalan raya yang sangat bising waktu itu tak membuat Revan berhenti menyukai gadis itu. Alarain Jayde, mungkin dia mengandung Narkotika yang senantiasa membuatnya candu.


Alarain itu terlalu bergantung pada dirinya.


Tak ada kabar.  Tak ada yang peduli hilang nya Alarain entah kemana. Semuanya sibuk di dunia masing-masing. Alarain bukan partikel yang bisa membuat perhatian orang menuju padanya. Alarain terlalu menyendiri. Tapi,


"Eh Alarain ke mana ya!" suara cempreng Resi tiba-tiba mendengung di telinga semua orang.


Jia yang penuh dengan su'udzon, memicingkan matanya menatap Resi, "lo mau nyontek kan? Tanya-tanya Alarain?"


Sera yang tengah sibuk di dunia toktok pun menengok Resi yang berada di samping bangkunya. "Iya, ke mana ya, Res!" sautnya. "Ke gue juga gak ada kabar."   kebetulan Sera merupakan sekretaris di kelas CI ini.


"Hubungi orang tuanya kali!" Timpal Nisa seraya berjalan ke bangku nya yang berada di jajaran paling depan.


"Jangan!" Seru cewek kurus yang sedari tadi menunduk.


"Kenapa?" Tanya Nisa bingung.

__ADS_1


Gadis kurus tadi menunduk, tak menjawab. Yang menjawab melainkan gadis yang berada di belakangnya, "Lo gak tau ya Nis? Alarain itu anak broken home. Katanya mamanya gila, dan yang paling penting dia gak tau siapa papanya!"


"Pantesan sipatnya kayak gitu. Terlalu suram!" Timpal yang lain.


"Kata adik kelas ku yang tinggal dilingkungan sama dengannya pun bilang, mamanya sering nyiksa dia."


Tidak adanya Alarain, satu kelas menggibahi dia. Sikap yang ditampilkan orang-orang yang biasanya diam kini mulai terlihat.


"Mulut kalian pasti belum gosok gigi!" Resi menengahi diskuis para hawa mengenai Alarain.


"Iya, bau!" timpal Sera.


"Temen sekelas kita loh itu, dia gak pernah salah juga sama kalian dan dengan santainya kalian membicarakan hal seperti ini? Percuma otak lo pada nyampe di kelas CI, nutupin privasi sama ngehargai orang lain juga gak bisa. Balik tk lagi gih!" Jia tiba-tiba merespon galak. Ia pencinta kedamaian.


"Ka..." bibir Resi yang terbuka lebar tak melanjutkan ucapannya. Karena, sebuah dorongan keras datang dari pintu mengalihkan perhatiannya termasuk semua orang.


Alarain. Gadis itu berdiri dengan malas di ambang pintu dan berjalan dengan santai menuju tempat duduknya, tepat berada di barisan paling belakang dekat jendela. Sebelum itu Alarain melirik mereka dengan singkat, tanpa emosi yang jelas. Kaca mata yang selalu melengkat di wajahnya kini menghilang, diganti dengan tatapan mematikan yang sangat dingin dan kelam. Iris mata Alarain terlalu hitam. Yang membuat keget semua orang adalah tampilannya yang urak dan acak. Wajah putih itu ternodai dengan lebam biru keunguan di sudut bibir dan matanya. Jangan lupakan sebuah plester yang menempel di keningnya. Rambut panjang gadis itu seperti dipotong secara paksa. Poni kecilnya pun tidak ada.


Hati setiap orang ketar-ketir, memikirkan apakah gadis itu mendengarkan diskusi buruk tentang nya atau tidak. Barisan para cowok diam tak merespon mereka mendengarkan diskusi Alarain sedari tadi. Termasuk Revan, yang tidak terkejut sama sekali. Satu yang mengejutkannya yaitu Alarain berani datang dengan keadaan yang berbeda. Alarain yang ia tahu selalu menyembunyikan lukanya.


Jia, Sera juga Resi saling memandang. Mengkode-kode dan saling bertanya apakah Alarian mendengarkan percakapan mereka.


"Al..." panggil Resi bergetar. "Lo..."


Alarain mendengarnya, mendengar cercaan dan bisikan tentangnya. Tapi, apa uang harus Alarain sesali? Apa  yang harus ia lakukan karena semuanya itu kenyataan? Haruskah Alarain berteriak, 'hidupku bukan urusan dimana kalian yang mengatur, bukan kalian yang mendikte'. Alarain bisa saja berkata seperti itu, hanya saja ia lelah terhadap kenyataan. Jadi biarkan saja.

__ADS_1


Alarain melirik Resi sekilas, "Bersikap biasa saja. Jangan memperlihatkan wajah melas sok baik itu. Munafik!" kata-katanya kejam. Sebelum ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan tas menjadi bantal.


Alarain Jayden, mengisolasikan diri, dari pada ia percaya pada hubungan. Hubungan itu sesuatu yang bisa menyiksanya serta memaksanya. Alarain tidak bisa melawan, karena ia terlalu baik hati meski terus tersakiti.


__ADS_2