ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
4. Ares : "Jadi pacar kelima gue ya!?"


__ADS_3

Call me Rain


***TYPO***


Mendungnya hari ini tak mempengaruhi suasana ketiga sahabat itu. Alarain sedikit iri ketika mereka bisa tertawa dengan lepas. Seharusnya Alarain juga memiliki teman, seharusnya juga Alarain memiliki sandaran. Tapi, sifat isolasi nya membuat orang lain menjauhinya dan Alarain tak ingin berteman dengan mereka.


Apakah kamu pernah berada di titik dimana kamu benar-benar tidak bisa mempercayai orang lain?


Alarain punya dunia sendiri. Ia ingin menciptakan dunia tanpa kebohongan. Alarain ingin sesuatu yang tulus, tapi semakin ia mencari semakin ketulusan itu tak menampakkan diri. Alarain tak mempercayai adanya cinta, suka atau pun kasih sayang. Ketiga jenis ini adalah luka yang selalu ditorehkan dengan sengaja. Biar dikata ia terlalu iri pada orang yang mempunyai teman, ia iri pada anak TK yang selalu diantar sekolah oleh orang tuanya, ia iri pada anak yang disuapi mamanya. Biar dikata ia iri, karena Alarain tak pernah merasakan itu semua. Cinta-sayang-suka merupakan duri baginya. Singkatnya ia tidak percaya pada sebuah hubungan. Menurutnya tali hubungan itu mengikatnya, menekannya dan memaksanya untuk melakukan sesuatu hal yang tidak disukai. Karena hubungan juga Alarain tidak bebas, ia terkekang, ia juga tidak bisa apa-apa.


Menurutmu apa yang harus dilakukan Alarain? Ketika ia tidak mempercayai kehidupannya? Ketika ia tidak mempercayai siapa-siapa.


Hari juma'at yang indah, mungkin. Cuaca hari ini bagus, tidak hujan juga tidak panas. Dalam keheningan kelasnya, pikiran Alarain selalu melayang. Tak satu cukup cerita untuk dibayangkan olehnya. Sedangkan hanya satu tema untuk cerita tersebut, rasa sakit.


Alarain menyentuh kening, plester tempo hari yang di berikan Revan masih setia berada di tempatnya. Alarain menoleh, melirik kursi kosong yang biasa Revan duduki. Cowok yang katanya menyukainya itu tidak sekolah. Revan seperti misteri, Alarain juga tidak tahu banyak hal tentang ia. Tapi selama dua tahun satu kelas dengannya Alarain sedikit mengerti akan sikap cowok itu. Dia tipikal orang yang tak mudah menyerah.


"Alarain!" Seseorang berseru. Alarain melihat orang tersebut. "Tugas biologi udah?" tanyanya.


Jia yang datang diambang pintu, tadi ia disuruh guru untuk mengambil buku paket. Seraya menyimpan buku tersebut di meja guru Jia bertanya, "Ada apa Res?"


"Tugas Biologi. Udah?"


"Yang tugas genetik itu?" Tanya Jia bingung.


"Heem"


"Lo jangan nyontek ya! Kerjain sendiri!" Jia memicingkan matanya pada Resi. Rese belabakan, ia melirik Alarain yang masih diam. "Lo ngomong bisa di filter gak si!"

__ADS_1


"Udah. Ini liat aja!" Suara Alarain memberhentikan perseteruan sedikit mereka.


Resi cengengesan, meski berada di kelas CI rutinitas pelajar kurang mandiri harus di budidayakan bukan?


"Makasih Alara!" Resi mengambil buku Alarain dengan sumringah, lalu menyalinnya, sebelum itu ia menjulurkan lidahnya pada Jia.


Jia melihat Alarain berjalan ke arah Resi, ia berbicara dengan Alarain, "Jangan di kasih Al, kebiasaan ni anak. Malesnya minta ampun!" lalu dengan sengaja ia menggetok kepala Resi.


"Ash, sakit tau! Lo ngomong kayak lo kaka gue aja!" Resi bersungut kesal.


Jia menatap horor Resi, "Gue emang kakak lo, kenapa?"


"Auu takuttt!"


Dan perdebatan mereka di akhiri dengan tawa menyenangkan. Padahal interaksi mereka berdua hampir dipantau oleh seluruh penghuni kelas. Sera tidak bersama mereka berdua lantaran ia sedang ke toilet. Ya, persahabatan ketiga cewek itu hampir diketahui semua orang. Ketiganya lengket bagai lem.


Guru pelajaran pertama masuk. Fisika. Alarain suka pelajaran ini. Sangat malah. Adanya teori-teori unik dari para ilmuan serta fisikawan terdahulu, hal yang menarik perhatiannya.


Hanya sekedar itu, sedangkan yang lainnya terlalu hambar untuk diminati. Termasuk cinta.


***


"Jangan ikuti gue terus bisa gak si?" Alarain meyentak orang yang kini cengengesan tanpa dosa. Deretan giginya sangat rapih, matanya menyipit, tapi ekspresi ini yang membuat Alarain semakin tak suka pada orang ini.


"Gak bisa Al! Kamu itu kayak gravitasi, selalu menarik buat aku!" Jawabnya sembrono.


"Najis!" Gadis itu melenggang pergi dengan kecepatan cahaya.

__ADS_1


Sepeninggal cewek itu aura yang dikeluarkan orang itu berubah drastis. Ekspresi sembrononya terganti dengan ekspresi dingin. Lalu tersenyum meremehkan, hanya sekian detik ekspresi itu tak terlihat lagi.


"Gimana Res?" cowok dengan name tag, Vero menghampirinya dan berdiri di samping pemuda itu.


Ares menatap temannya, "Dia orang yang disuka Revan?" Temannya mengangguk megiyakan.


"Pantesan dia suka. Cewek itu terlalu menarik." Ares mengulum senyum setannya. Rencana yang telah terpatri di oataknya kini saling terhubung. Setelah sekian lama, Ares tahu kelemahan Revan.


Sekilas tentang Ares. Ares merupakan anak donatur tertinggi di SMA ini. Sikapnya berubah-ubah ada kalanya dia baik bagai malaikat ada kalanya dia jahat seperti setan. Dia Ares Pratama, ketua ekstra kulikuler Futsal, murid yang terpilih masuk ke kelas Multi yang terdiri dari lima belas orang terpilih.


"Pantesan aja gue heran dia gak masuk ke kelas Multi."


***


Setelah meninggalkan dedemit kelas multi, Alarain kembali ke tempat Terpencil ini lagi. Suasana hatinya yang biasa saja mulai memburuk. Yah salah satu penyebabnya adalah cowok bernama Ares Pratama.


Setelah pertemuan pertama mereka disini tempo hari, cowok itu selalu menempel padanya jika ada kesempatan. Bahkan nomor baru tanpa permisi menyepam selama dua hari ini membuat Alarain pusing. Terlalu pusing dengan segala hal, Ares hadir, malah semakin mengacaukannya.


Ares Pratama, anak dari generasi kedua itu, dengan tidak adanya angin dan hujan, apalgi suasana bagus dan romantis, yang paling penting juga adalah pertemuan pertama mereka, tapi di pertemuan pertama mereka Ares berkata.


"Lo cantik. Gue suka. Jadi pacar ke lima gue ya!"


Kala itu ekspresi Ares seperti orang yang sangat ingin di mutilasi.


Idiot itu terkenal dengan sipat playboy-nya.


***

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART!


__ADS_2