ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
5. kepercayaan


__ADS_3

Call Me Rain!


***TYPO***


Alarain bergegas pergi keluar dari sekolah. Niat awal ia ingin mencari pekerjaan paruh waktu bagi anak SMA. Mungkin menjadi pelayan di kafe, atau menjadi kasir di minimarket. Yah itu kemungkinan, karena belum tentu ada yang mau memperkerjakan anak sekolahan ko, rata-rata.


Hanya saja, situasi dan kondisi tidak mendukung niatnya. Jalan yang ia lalui menuju tempat yang dimaksud adalah sebuah gang. Gang sempit yang penuh dnegan kotoran serta sampah yang berserakan. Setahu Alarain hanya jalan pintas ini yang akan sangat cepat menuju yang dimaksud.


Alarain melirik sekilas waktu pada jam tangannya. 17.17, sebentar lagi malam dan mamanya pasti memarahinya jika pulang terlalu larut. Tidak, jika ada alasan jelas pun pasti mamanya memarahinya. Tapi, mungkin ia tidak bisa mencari pekerjaan, karena situasi saat ini sangat menjengkelkan.


"Cantik! Serahkan barang berharga mu!"


Situasi seperti penculikan, perampokan, juga pembunuhan adalah hal lumrah sering terjadi. Apalagi seperti di ibu kota Jakarta ini, kota besar dengan segudang hal-hal duniawi, materi.


Alarain menatap sekilas dua orang berbaju hitam yang memiliki cacat di bagian wajah mereka. Tatapannya ia alihkan pada sebuah pipa baja di tangan salah satu orang tersebut, untuk menyakitinya.


Barang berharga apa yang ia miliki? Uang untuk naik angkot pun telah habis entah kemana. Meski begitu Alarain menjawab dengan dingin, "tidak punya!" Dibalik kaca mata non minus yang ia gunakan, Alarain dengan sikap sombongnya menatap sembrono kedua orang tersebut.


Entah siapa yang memulai, baku hantam sengit terjadi. Kedua orang tersebut menghajar Alarain secara bersamaan. Mungkin, mereka berdua tidak menyangka bahwa gadis tujuh belas tahun itu mampu menandingi kekuatan mereka. Sepersekian detik, pertarungan dapat dilihat bahwa Alarain akan memenangkannya. Kedua pria itu bernafas tersenggal-senggal. Hingga saat salah satu dari mereka berniat untuk memukulnya dari belakang, dengan pipa baja yang sebelumnya Alarain tampis, Alarain dengan sikap cepat tanggap membalikan badannya dan melindungi dirinya sendiri menggunakan orang yang bertarung di depannya saat ini. Dan, pukulan tersebut mengenai temannya hingga pingsan.


Orang yang memukul sepertinya murka saat hal baik tidak sesuai yang ia harapkan. Pukulan selanjutnya akan ia layangkan pada Alarain yang tampak lengah. Satu kali lagi, ekspetasi itu tidak terealisasi.


Sebelum pukulan itu mengenainya, Alarain terlebih dahulu menendang orang tersebut hingga tersungkur, menubruk tempat sampah dan akhirnya pingsan.


Alarain menghela nafas. Kejadian seperti ini sudah makanan sehari-harinya ketika berada di Bandung. Bahkan situasinya lebih menegangkan dari saat ini. Ia memegang sudut bibirnya yang dirasa memar. Pria yang pingsan lebih awal tadi penyebabnya. Alarain menjongkok di posisi orang terdekat, kemudian merogoh saku nya. Identitas orang tersebut telah ia ketahui. Alarain hanya terdiam, ia tak memiliki ekspresi apapun, hanya saja wajah dinginnya kini lebih dingin, sebelum kartu identitas orang tersebut ia masukan pada jaket kulit hitam yang ia kenakan.


"Para bedebah gila."

__ADS_1


Sepeninggal Alarain, orang yang sedari tadi menjadi penonton keluar dari tempat gelap dengan wajah seringai yang menakutkan.


"Aku bahkan lebih gila dari pada ke dua orang ini karena semakin ingin memiliki mu!"


***


Minggu seharusnya dijadikan waktu istirahat dengan hangout, keluar bermain bersama temanmu atau kau sedang mengerjakan pekerjaan rumah mu dengan mamma mu, lalu kau juga melihat ayahmu yang dengan hidmat membaca koran ditemani secangkir teh manis hangat. Mungkin cerita ini belum pernah Alarain rasakan. Kehadiran orang tua seharusnya menjadi tempat paling aman seorang anak. Kehadiran orang tua seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi seorang anak.


Di tengah panas matahari terik saat ini. Dengan baju lusuhnya Alarain luntang-lantung mencari pekerjaan yang siap mengerjakan seorang anak sekolah. Setelah lebih dari satu toko ke toko lain, atau dari kafe ke kafe lain Alarain tidak mendapatkan lowongan serta tidak ada yang mau mengerjakan anak sekolah, langkah terakhir dari perjalanan panjang ini berkahir di sebuah kafe terpencil yang tidak terlalu ramai. Dengan segala keberanian Alarain memasuki kafe tersebut.


Alarain berhenti di depan meja kasir, "Permisi, apakah di sini sedang mencari pekerja? Misalnya pelayan?"


Mbak kasir mendongkak mendapati gadis berkuncir kuda dengan kaca mata yang bertengger manis dibelahan mancung hidungnya. "Tunggu sebentar dek!" Kemudian ia menelpon seseorang.


Alarain diam ia masih menunggu balasan selanjutnya dari sang kasir. "Restoran kami memang butuh pekerja. Mungkin dibagian pelayan atau office girl. Apakah kamu akan menerimanya."


Mbak kasir tersenyum lucu. "Untuk selebihnya, saya kira menajer kami akan turun tangan sendiri! Kamu bisa duduk di kursi terlebih dahulu!" Dia menunjuk kursi yang tidak mencolok cocok untuk membahas hal penting.


Alarain menurut. Sekitar lima menit, pria berjas hitam datang menghampiri nya. "Alarain Jayden?"


Alarain dengan sigap berdiri tanda hormat, ia menunduk, "benar pak!"


"Masih sekolah?"


"Iya pak!"


Manajer tersebut duduk dan mempersilakan Alarain duduk juga. "Saya siap memperkerjkan kamu, di bagian malam, mulai dari sore sampai pukul setengah sepuluh malam, apakah kanu siap?"

__ADS_1


Alarain dengan tegas, "siap pak!"


"Gaji di restoran kamui tidak besar. Apalagi kamu pelayan baru, kinerja dalam pekerjaan dibutuhkan juga. Saya juga tidak butuh oranh yang tidak komitmen. Sebelum ini apakah kamu pernah bekerja sebagai pelayan?"


"Pernah pak!"


"Saya jelaskan secara detail dan akan melihat catatan pribdimu!


Pak Jordan, manajer Resto Afiar berkah. Memberitahu segala sesuatu tentang restoran ini. Tidak baik mungkin membicarakan hal pada orang baru. Pak Jordan tahu itu. Restoran ini berdiri sekitar lima tahun lalu dan belum terlalu berkembang secara besar. Tapi restoran ini sungguh menghargai para pelanggan, juga, memperkerjakan pelayan tingkat menengah atau pun memberi perjamuan istimewa pada pahlawan.


Setelah dirasa cukup, dan intinya Alarain diterima di restoran ini. Alarain pulang.


Tatapan mbak kasir penuh tanda tanya!


"Apakah tidak apaapa kita mempekerjakan dia?"


***


Seharian pergi kesana-kesini. Alarain beristirahat di sebuah taman alun-alun. Fenomena yang sering ia dengar kini terpampang jelas di matanya. Nyanyian merdu datang dari tempat tersebut. Sebuah salib besar di atasnya menjadi ciri tempat ibadah bagi orang yang beragama.


Tuhan. Apakah kamu benar-benar percaya pada Tuhan mu?


Alarain pergi meninggalkan taman. Di kemudian jalan, ia mendengar bahasa aneh yang ia tak mengerti. Namun, alunan yang menghayati tampak menggerakkan kalbunya, hanya sekejap sebelum Alarain lari dari keterdekatan tempat tersebut.


Itu adalah seseorang yang tengah Qiro'ah di acara majelis ta'lim.


***

__ADS_1


See You Next Part!


__ADS_2