ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
26. identitasnya terbongkar?


__ADS_3

Call me Rain


***TYPO***


Mungkin karena gadis itu tidak terbiasa memiliki sandaran, mungkin karena gadis yang sok kuat ini tidak memiliki bahu, ia tidak mudah dikacau.


Malam itu Alarain Jayden terlelap dalam pelukan hangat Justine Hurrendt.


***


Justine meninggalkan apartemen Alarain pagi-pagi buta sekali. Namun sebelum itu ia menyiapkan sebuah masakanan untuk gadis itu. Maka, saat Alarain bangun indera penciuman nya pertama kali dikagetkan dengan bau harum yang bersumber dari dapur. Alarain mengikuti baunya dan ia dapat melihat sebuah sup panas yang tersaji di panci. Baunya sangat familiar dan Alarain berniat untuk menyantapnya. Sup kulit ayam kesukaannya, dari mana Justine tahu? Tapi Alarain tidak memikirkan lebih kejanggalan yang dirasakannya dan lebih memilih melanjutkan aktivitas makannya dengan khidmat.


***


Hari yang cerah. Tapi suasana hati Alarain sangat mendung. Kedua alisnya ditekuk dengan garis lurus di bibirnya. Tangannya ia masukan pada saku jaket hitam aksen merah dengan kupluk yang menutupi setengah kepalanya sehingga rambut panjang Alarain menonjol separuh. Langkahnya pelan namun penuh kesuraman. Informasi malam tadi membuat suasana hati Alarain memburuk meski Alarain sempat sangat terharu dengan sikap Justine.


Setiap langkah yang ia ambil menimbulkan sensasi yang ada. Lorong kelas dipenuhi dengan gosip-gosip yang Alarain dengar dengan jelas. Yang menjadi lebih suram adalah...


"Alden? Bukanah dia salah satu penulis perang bisnis yang tersohor itu?"


"Sama? Alden di toktok dan Alden si penulis orang yang sama"?


"Ku dengar begitu. Dan yang labih mengejutkan lagi Alden ternyata orang yang telah menggeser kedudukan Erisa di kelas multi!??"


"Yang bener lo?"


"Sumpah!"


Alarain mengernyitkan kening. Bagaimana informasinya bisa bocor? Mungkin orang-orang ini tidak menyadari kehadiran Alarain. Tapi satu orang di ketinggian memperhatikan Alarain dengan intens.

__ADS_1


Dring.


Bunyi notifikasi getaran datang dari sakunya. Hanya,


"Temui gue di rooptop!"


Alarain lebih baik mengabaikannya.


Gadis itu berjalan menuju kelas multi dengan tenang.


Di forum sekolah berita bahwa Alarain sebagai penulis dengan nama pena Alden menjadi pembicaraan hangat. Bukan hanya itu pemilik akun Alden juga menjadi trending topik di sekolah. Alarain menjadi pusat perhatian. Apalagi saat setelah ia masuk ke kelas multi.


Tim Media sekolah mengambil gambar candid gadus itu. Dan menyimpannya di postingan forum secara disematkan. Bukan hanya dua identitasnya yang terbuka menjadi pembicaraan kecantikan Alarain pun turut diperhatikan.


Bunga sekolah pindah tangan. Kejeniusan sekolah pindah tangan. Dan haluan seseorang menyambut Alarain dengan tangan hangat.


Posisi gadis dengan ketenaran tinggi di sekolah itu tergeser dengan seluruh informasi Alarain sebagai kedua Alden yang berprofesi berbeda. Salah satu merupakan penulis buku dan yang lainnya kreator vidio yang lumayan terkenal.


Setidaknya trending Alrain mampu menghilangkan berita runtuhnya keluarga pratama.


Ares menatap pantulan cermin dengan diam. Seminggu yang lalu kekuatan keluarganya dihancurkan dalam semalam. Kakeknya marah besar terhadap apa yang ia lakukan pada mama Alarain. Tapi? Salah? Salahkah ia membalaskan dendam orang tuanya? Bukankah Alarain Jayden berasal dari keluarga pembunuh?


Lorong wc sangat sepi. Ketukan sepatu menjadi irama pembuka bagi Alarain yang memasuki toilet pria dengan berani. Gadis dengan tinggi 175 centimeter itu melangkahkan kaki panjangnya dengan anggun.


Ares terdiam, dia dapat melihat sosok bayangan cermin seorang gadis dengan jaket hitam akan merahnya. Dia Alarain. Tanpa sadar Ares berbalik. Kini posisinya berhadapan dengan gadis itu.


Alarain tak berhenti, langkah gadis itu mempropokasi Ares dan Ares yang terjebak di meja wastafel.


Alarain menatap nyalang pria itu. Tatapan yang belum pernah Ares lihat, andai Ares tahu, tatapan Alarain saat ini seperti pemburu yang akan memakan mangsanya.

__ADS_1


"Takut? Heh!" Alarain berdecih. Lantas dengan tanpa aba-aba tangan berkaos tangan miliknya melingkari leher Ares. "Bukankah kau berani saat menyentuh mamaku? Bukankah kau berani saat menyebarkan rahasiaku?"


Tidak masalah jika rahasia kecilnya itu terbongkar atau diketahui banyak orang. Yang menjadi permasalahannya saat ini adalah Ares dengan berani menyentuh mamanya.


Ares menegakan tubuhnya. Ia tak sudi dikatai oleh gadis yang sok keras. "Itu yang seharusnya keluarga lo dapat! Seharusnya anak pembunuh seperti lo itu gak pantas buat hidup. Mama lo juga, sekalipun dia gila, oksigen di dunia ini gak pantas buat pembunuh!"


Alarain tertawa mendengarnya. Namun hanya sebentar karena di detik kemudian tawanya berhenti dan menatap Ares dengan dingin. "Akhirnya aku tahu seperti apa yang disebut bebal. Mungkin kamu penjelmaannya!"


Tidak tajam. Lembut namun penuh dengan penghinaan.


Sikap Alarain yang pendiam bukan seperti ini yang mampu menggerakkan hati Ares. Sikap Alarain yang dingin namun bukan seperti ini yang membuat Ares jatuh hati.


Tapi,


"Munafik lo Al! Ini sikap lo yang sebenarnya, Ha?!"


"Lalu apa? Kau akan menyebarkannya? Kau akan mengatakan pada orang-orang yang kau ketahui? Miris. Miris sekali hidup mu Ares." Masih dengan tajam. Tatapan Alarain lantas mendarat di urat nadi pria itu. "Beruntung sekali urat nadi yang hidup di tubuh mu ini tak menyentuh pisau ku. Jika tidak...,"


Pisau bermata runcing dengan tiga sudut mengarah pada urat nadi di leher Ares setelah Alarain melepaskan lingkarannya.


Mengehela nafas. Alarain mundur beberapa langkah-menatap Ares dengan jijik.


"Najis. Kau sama seperti anjing, yang bisanya hanya menggonggong."


***


Revan meneliti dengan tatapan membulat. Celah pintu kamar mandi begitu besar sehingga ia tahu apa yang Alarain lakukan pada Ares. Revan tidak menyangka bahwa, Alarain seganas itu.


***

__ADS_1


__ADS_2