ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
20. jangan tinggalkan aku, Ra!


__ADS_3

Call me Rain


***TYPO***


Kabar menggemparkan bagi SMA Jaya Harapan menghentikan aktifitas mengajar-belajar. Semua murid berhamburan meninggalkan sekolah keluar dari gerbang. Pihak sekolah segera menghubungi tim pemadam kebakaran sesaat melihat api yang semakin besar. Api itu tidak bisa dipadamkan.


"Seluruh siswa segara mencari tempat perlindungan dan jauh dari tempat kejadian."


Berbeda dengan laboratorium Biologi, Laboratorium fisika dan Kimia berada di ruangan yang bersebelahan di gedung kelas sepuluh. Dengan material yang ada sangat memudahkan untuk api semakin menyebar.


Hari itu kota Jakarta diliputi dengan berita menggemparkan. SMA jayaharapan, menjadi pembicaraan hangat.


Hampir seluruh stasiun tv menayangkan kejadian ini. Dikabarkan bahwa lima siswa meninggal dan dua profesor terkena luka bakar yang serius. Selain dua kasus ini, yang lain terselamatkan. Belum diketahui dari mana asal percikan api datang. Yang pasti pihak sekolah belum memberitahukan sebab-akibatnya.


***


"Apakah bahagia telah bersenang-senang?" suara yang sedikit familiar terdengar merdu di telinga Alarain.Gadis itu menatap pengunjung kafe yang tiba-tiba duduk di hadapannya.


Tatapan Alarain menajam seperti serigala. Tapi entah kenapa menurut Justine hal itu terasa lucu. Alarain lebih seperti kucing kecil yang mengamuk.


"Maaf baru datang!" Ungkap Justine tanpa penuh kesopanan.


Alarain diam, sungguh Alarain tak pernah meminta penunda ini datang dan mengganggu waktu tenangnya. Lebih baik ia tidak mengacuhkan pemuda tua itu. Alarain masih setia dengan capuccino yang telah dipesannya tadi. Tangannya yang lentik dan panjang menggenggam penuh anggun dan hal itu tak luput dari pandangan Justine.


Justine gugup saat bola mata Alarain mengarah padanya. Jujur mata kelam Alarain seperti kelamnya malam. Pusaran air yang dalam seperti riak nya burung gagak yang mencoba mencari mangsa. Matanya kosong seperti tidak ada kehidupan. "Al...,"


Benar. Sungguh. Justine gugup saat ini. Tangannya panas dingin. Ini pertama kalinya Justine menghadapi seorang perempuan dengan inisiatifnya. Bahkan saat ujian tes kepemimpinan untuk keluarganya Justine selalu tenang. Tapi, menghadapi Alarain ini, Justine sungguh tidak bisa.


'Tidak tahu malu.' kalimat yang menggema di benaknya menguasai pikirannya. Menurut buku panduan mengejar seseorang Justine haruslah tidak tahu malu. Ia harus kebal muka. Maka dari itu Justine memantapkan hatinya dan mencoba mencari ketenangannya kembali.

__ADS_1


"Rain!" Ucapan Justine mampu mendapatkan delikan tajam dari gadis itu. Tatapan yang penuh kebencian dan ketidaksukaan. "Panggilan khusus ku untuk mu!" Ucap Justine menjelaskan.


Tapi Alarain masih menatap pemuda itu. Siapa dia yang mengucapkan kata-kata tak tahu malu seperti ini? Apa? Rain? Siapa yang mengubah namanya menjadi norak seperti itu. Tapi, Justine juga tidak salah. Rain memang bagian dari namanya. Tapi Alarain tak suka. Rain terkesan tidak aesthetic .


Melihat Alarain yang tidak suka, Justine kembali berkata, "Kenapa? tidak suka? Sayang seperti nya bagus!"


Alarain baru tahu Justine sangat tidak tahu malu. Tidak mau lebih lama, melihat ketidak tahu maluan Justine, Alarain berkata, "Apa tujuan mu dekat dengan ku?"


"Untuk menikah dengan mu!" Jawab Justine lugas. Pria itu mengucapkan kata sakral seperti bahan candaan.


"Aku masih sekolah,"


"Aku akan menunggumu,"


"Aku tidak suka kamu,"


"Jalani aja nanti juga suka."


Justine termangu. Ia diam. Iya, kenapa Justine bersikeras ingin menikahi Alarain? Atau kenapa Justine bersikap seperti ia sangat suka pada Alarain. Justine tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana Alarain. Apalagi sekarang fokusnya terhadap orang yang berada di sebrang kafe ini. Pria itu memakai topi serta kacamata hitam. Menatap ke arah mereka.  Bukan, lebih tepatnya ke arah Alarain.


Justine melirik gadis itu cemas. Titik merah yang berada di leher gadis itu membuat seluruh saraf Justine tegang.


"Rain!"


Hanya seperkeian detik. Jika Justine terlambat memindahkan Alarain yang sekarang berada di pelukannya, mungkin, mungkin nyawa gadis itu sudah melayang.


Meleset. Tembakan itu meleset dan mengarah pada meja yang mereka tempati. Kafe yang memang ramai kini terjadi keriuhan hebat. Semua orang berpencar. Menghindari dari mata sang penembak jitu.


Alarain termangu dalam pelukan Justine. Rengkuhan hangat dan erat pria itu membuat Alarain susah bergerak. Tapi mata yang menatap jendela full kaca itu sangat kelam.

__ADS_1


Alarain sudah tahu bencana ini akan tiba. Karena gadis itu juga telah melihat bahwa penembak jitu yang berdiri di sebrang gedung sisi lain terpantul di minumannya. Tapi reaksi Justine melebihi harapannya. Alarain juga bisa menghindar. Seharusnya Alarain yang ketakutan dan gemetar karna dijadikan target. Tapi mengapa pria yang memeluk nya yang tampak ingin menangis?


Tubuh Justine gemetar hebat. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat tanpa melepaskan pelukannya pada Alarain. Alarain tak membalas pelukan itu. Bingung. Alarain tidak bisa menghibur seseorang.


Di tengah keramaian yang mencolok. Pria itu mengeratkan pelukannya. Penembak jitu juga mungkin sudah pergi. Karena Alarain sempat melirik saat seseorang mengejar penembak itu.


Tapi, suara gerakan rendah penuh rasa sakit memenuhi indera pendengarnya, "Sekali lagi. Jangan tinggalkan aku, Ra!"


Kafe kacau Alarain ingin segera pulang. Tak akan ada yang tahu bahwa dirinya adalah orang yang ditargetkan. Mungkin orang-orang berfikir bahwa penembak itu adalah seorang *******. Hanya sesingkat ini, tapi Justine tidak melepaskan pelukannya.


"Ayok pulang."


Kalimat lembut dan mengayun menghipnotis pikiran Justine. Pria itu menurut, lalu menggandeng Alarain yang tidak ditolak gadis itu.


***


Sejak hari itu Justine tidak muncul lagi di hadapannya. Sudah seminggu dan Alarain pun tak memperdulikannya. Ia telah menganggap Justine sebagai orang yang mampir. Alarain juga tak berniat mencari tahu kemana pria itu pergi. Karena menurutnya tidak penting.


Pasca peristiwa kebakaran tempo hari. Pihak sekolah sangat dirugikan. Hancurnya dua ruangan beserta bahan penelitian sungguh membuat sekolah terbebani. Pihak sekolah dituntut oleh Yayasan untuk menjelaskan situasi saat itu. Dan dengan pengakuan kepala sekolah bahwa masalah dibuat dari konsleting listrik, disahkan. Api yang menyebar cepat dikarenakan banyaknya bahan kimia di kedua ruangan itu, membuat ludes isi yang ada.


"Kenapa Al?"


Resi sengaja mendekatkan dirinya pada Alarain. Gadis berbnado itu duduk dengan tegas di hadapannya.


Alarain mendelik. Benar sudah seminggu juga, gadis di depannya, Jia, juga Sera mendekatinya. Bahkan meski sudah Alarain tidak perdulikan.


Setiap Alarain ke kantin, mereka mendekatinya tanpa ragu-ragu. Tapi yang menjadi pusat perhatian Alarain saat ini adalah Nisa Aperiliant. Gadis yang sedang duduk di pojok kantin itu termenung dengan mata penuh kekosongan.


****

__ADS_1


See You Next Part


__ADS_2