
Sret
Bugh
Brak
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Alarain dingin. Yang di tanya malah mengerang kesakitan. Punggungnya diijnak oleg gafis itu dengan ganas. Wajahnya yang semakin menempel dengan lantai tidak memberikan kesempatan untuk ia menjawab pertanyaan Alarain. Alarain kejam.
"Katakan!" Alarain berucap kembali. Gadis itu semakin merekatkan injakannya. Dan bunyi 'krek' menggema di ruangan sunyi ini diiringi raungan sakit yang datang dari mulut pria itu.
Demi hidupnya, si pria dengan susah payah untuk berkata meski gadis yang menginjak nya semakin menekannya lebih erat, "Sa..sa...,"
Namun Alarain kejam. Ia tak memberi kesempatan pada si pria itu untuk berbicara karena dengan tekanan lebih kuat dari kakinya si pria berhenti mengerang dengan lidah keluar dan mata terbuka. Sedari awal Alarain tak akan membiarkan pria itu selamat. Sedari awal Alarain tak berniat mencari informasi dari pria itu. Ia hanya ingin bersenang-senang setelah akhirnya ia lepas dari janji. Janji pada diri sendiri untuk tidak melakukan hal ilegal yang tercela. Tapi setahun telah sirna, Janji setahun itu juga sirna. Dan Alarain tak berhutang lagi.
Dengan kakinya yang panjang, Alarain membalikan badan si pria yang wajahnya banyak goresan. Dengan sigap ia merogoh saku milik si pria. Hal ini terasa deja-vu. Mungkin karena ia sering melakukan hal ini.
Artino suprianto .
Begitulah identitas terlampir yang terdapat di KTP pria itu. Mungkin pembunuh ini pembunuh bayaran kelas paling rendah yang pernah ia temui. Pembunuh mana yang akan membawa identitasnya? Kecuali ia bodoh.
Alarain beranjak menuju laptop yang ada di apartemen milik Resi ini. Ia menjelajah situs hitam dengan cepat. Nama Artino Supriatno ternyata telah menjadi incaran polisi. Tapi mungkin beberapa polisi tidak akan percaya bahwa pria yang menjadi salah satu buronan dengan kriminal banyak ini telah lemas tak berdaya setelah kehilangan nafasnya.
Orang seperti itu pantas mati. Pikir Alarain.
Alarain gusar untuk saat ini ia perlu meminta bantuan untuk membersihkan apartemen Resi yang telah ternodai. Mungkin Resi juga tidak akan menyangka Alarain akan melakukan hal keji di apartemennya.
Alarain mulai memanggil seseorang dan tak lama setelah itu lima orang pria dengan pakaian kasual memasuki ruangannya. Membereskan kekacauan yang ditimbulkan olehnya. Serta menghapus jejak yang akan menjadi bumerang baginya. Bau anyir darah yang mengalir dari mulut pria tadi kini telah menghilang dalam hitungan menit. Kecepatan turbo dari bawahannya memang tidak bisa diragukan kembali. Alarain senang. Tapi ekspresinya masih sama, ia datar dan hanya sedikit senyum tipis yang timbul jika diperhatikan.
Kata siapa Alarain dingin tapi baik hati? Mungkin hanya ibu Atik yang berfikir seperti itu. Kata siapa juga Alarain dingin tapi mudah didekati? Mungkin hanya Resi Armoradja yang berfikir demikian. Atau mungkin Jia Geo Cantika atau Sera Federens.
__ADS_1
Nyatanya Alarain lebih munafik dibandingkan dengan orang yang sering Alarain katakan munafik. Alarain lemah, dengan hanya dingin ia tampil seakan tak ada yang terjadi.
***
Setelah memberi arahan untuk membaca buku panduan yang Austin maksud. Justine dengan patuh membaca setiap buku yang Austin bawakan. Buku-buku yang amat tebal ini memebuat Justine bosan. Ia tak pernah merasa sebosan ini bahkan sesaat membaca banyak detail tentang proposal perusahaan. Tapi mengapa buku ini membosankan sekali?
Tapi demi mendapatkan gadis Alarain itu Justine rela membaca tumpukan buku ini. Dimulai dari, 'CEO jatuh cinta' 'CEO dan gadis SMA' dan masih banyak lagi.
Mana isi panduannya? Begitulah raungan Justine setelah ia menghabiskan waktu tiga hari untuk membaca tiga buku tebal itu.
Austin melihatnya. Ia melihat bagaimana Justine Hurrendt yang jarang dipusingkan dengan sesuatu kini susah payah mencari cara agar bisa melumpuhkan hati satu gadis dingin yang menarik perhatiannya.
"Kakak, kakek mendesak mu untuk kembali!" Sungguh, sebenarnya Austin tidak mau mengganggu fokus pria itu. Tapi, setelah ia mendarat di Indonesia dan sering menemani kakak sepupunya itu, pihak dari Jepang senantiasa meneleponnya tanpa henti. Awalnya Austin berniat mengabaikan tapi semakin hari semakin menjadi. Austin capek. Ia lelah mendengar bunyi notifikasi dari handphone nya yang tak terhenti. Baru saat itulah Austin menyadari handphone kakak sepupunya telah diganti. Saking banyaknya uang Justine tidak mau mengganti nomornya tapi handphonenya.
"Katakan saja aku sedang bertemu leluhur ku!" Justine tak berbohong. Niat awal ia memasuki Indonesia memang ingin pergi ke tempat pemakaman leluhur dari neneknya. Tapi informasinya bocor sehingga saat ia mendarat di Indonesia ini, banyak orang yang langsung mengincar kematiannya. Dan kemudian ia tak sengaja berjumpa dengan gadis penyelamat itu.
"Tapi kakak, Pemilihan akan diadkan sebulan lagi!" Keluh Austin. Ia masih menatap Justine yang bosan tapi masih serius membaca Novel anak muda itu.
"Aku tahu!" Jawab Justine enteng.
Demi nepetunus. Justine membuatnya kesal. Tidak tahukah bahwa pemilihan CEO sebulan lagi menunggu parsitipasinya? Seharusnya pemilihan ini diadkan di hari yang bertepatan ketika Justine datang ke Indonesia. Tapi dengan bujukan Fareht Morenza akhinya para pemegang saham mau memundurkan waktunya.
Fareht Morenza yang berada di pihak Justine pun senantiasa mencari keadaan pemuda yang tiba-tiba menghilang dari Jepang itu. Dan ditemukan bahwa pemuda tengik yang sering membuatnya jantungan berada di Indonesia.
"Kakak! Kakek terus dikecam oleh para pemegang saham. Apakah kau tidak tahu?"
Setelah putra pertama Fareht Morenza kecelakaan setengah tahun yang lalu. Kekuasaan morenza grup diambil alih kembali oleh ayahnya sendiri. Fareht Morenza berniat menyerahkan kursi nya pada Justine Hurrendt. Tapi desakan para pemegang saham yang katanya membutuhkan pemimpin perusahaan baru dengan pemilihan, maka Fareht Morenza mengambil hari dimana pemilihan akan berlangsung. Namun ia tak menyangka Justine Hurrendt tiada dj Jepang. Bocah biadab itu pergi ke Indonesia dengan alasan mengenali leluhurnya. Dusta. Justine pergi ke Indonesia hanya untuk menghindari pemilihan CEO ini.
"Adik sepupuku akan menjadi CEO!"
__ADS_1
Jawaban Justine membuat Austin melongo. Adik sepupu yang mana Justine! Justine bangsat! Umpat Austin. Demi Dewa! Jika Beni Robert yang menjadi CEO maka ia yakin tidak ada tempat baginya untuk berada di Jepang. Austin tiba-tiba menyesali dirinya yang lemah.
***
Di bawah kepemimpinan Fareht Morenza. Morenza grup menjadi grup yang bersinar. Tahta tertinggi di Asia menjadi milik Morenza Grup. Setelah menjabat bertahun-tahun kedudukan CEO berganti pada putra yang pertama yaitu Johan Morenza. Tapi tidak lama ia menjabat Johan Morenza mengalami kecelakaan mobil dan lumpuh.
Setelah enam bulan lumpuh kursi utama CEO masih kosong meski kekuaannya dialihkan kembali pada ayahnya. Para pemegang saham mendesak untuk pemilihan CEO baru.
Dengan kandidat pertama yang paling unggul menurut Fareht Morenza, yaitu anak tunggal Putra pertamanya, Justine Hurrendt Morenza
Kedua yaitu anak pertama dari putaran keduanya--Gino Morenza yaitu Beni Robert Morenza.
Yang terakhir merupakan anak dari putra bungsunya--Felix Morenza yaitu Kevan Amierer dan Kevin Amierer.
Fareht Morenza memiliki tiga putra dan satu putri. Putra pertama menikah dengan Sarah Hurrendt, wanita berkebangsaan Amerika yang sama dengan dirinya. Lalu menghasilkan buah tunggal yakni Justine Hurrendt.
Putra kedua menikahi wanita yang terjun kedunia hiburan bernama Davina Robert, membuahkan Beni Robert dan satu putrinya, Rivana Robert.
Anak ketiganya Risyanah Morenza menikahi Pria asal Australia bernama Biano Seazen. Membuahkan anak tunggal Austin Peter Seazen.
Dan anak bungsunya, menikahi wanita berkebangsaan Arab bernama Surivah Amierer. Membuahkan dua kembar anak Kevan dan Kevin.
Dari empat cabang keluarga ini, keluarga anak keduanya lebih berambisi untuk menjadi pemimpin perusahaan. Tapi tak urung kemungkinan dari anak lainnya pun pasti ada hanya saja tidak terlalu diperlihatkan.
"Tuan. Tuan muda berkata ia ingin bertemu dengan leluhurnya!"
"Bocah biadab!"
***
__ADS_1