
Call me Rain
***TYPO***
"Kamu yakin akan resign?"
Alarain memandang managernya dengan tenang. Keputusan untuk keluar dari pekerjaan ini sudah bulat. Terhitung sebulan lebih lima belas hari ia bekerja di sini. Yah, meski begitu bekerja disini merupakan pengalaman terbaik yang pernah ia alami selama bekerja.
"Iya, pak!" Jawab Alarain tersrnyum.
Meninggalkan restoran itu, cuaca di luar sangat hangat. Matahari menyengat tepat di atas kepalanya. Dengan hoodie hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya Alarain berniat lebih memilih pulang ke apartemannya. Rumah di komplek nya telah ia sewakan pada orang lain tiga hari lalu. Mungkin ia tidak akan balik ke tempat itu, karena juga Alarain sudah berpamitan dengan bu Atik.
Mengenai sekolahnya, semester satu saat kelas dua belas sepertinya berada di saat-saat memilih antara melanjutkan ke perguruan tinggi atau tidak kuliah sama sekali.
Pilihannya dua. Bekerja atau sekolah lagi. Menjadi pengangguran atau sekolah lagi.
Tapi,
Alarain sekarang lebih memilih untuk menindak lanjutin kasusnya. Kasus lama yang terkubur dengan rapat. Tapi masih terpatri di ingatannya. Huft!
"Besok kompetisi fisika, kamu harus siap-siap. Saya berniat mengetes kamu, tapi kamu tidak sekolah!"
Begitulah isi pesan dari guru fisika nya. Memang besok kompetisi Fisika. Alarain harus memantapkan seluruh pikirannya.
***
Sesampainya di apartemennya, Alarain menyalakan aplikasi toktok itu. Dan segera membuat pengumuman dengan cara live.
"Saya hiatus untuk sementara. Semua konten saya akan berhenti terlebih dahulu. Dan untuk alasannya, kurang lebih bersangkutan dengan hal pribadi saya tentunya. Terimakasih dukungan kalian selama ini. Dan semoga sehat selalu!"
Alarain mematikan acara live nya, tanpa melihat hal apa yang akan mereka lakukan atau mereka katakan. Dengan begitu ia pun, menguninstal aplikasi tersebut.
Menjadi konten kreator memang bukan mimpinya, hanya saja setahun yang lalu pikirannya kalut, sementara untuk pelampiasanya ia curahkan pada aplikasi tersebut. Makanya jangan heran, ketika kamu melihat konten gambar Alarain yang terkesan gelap, mematikan. Tapi sisi positif juga ada, Alarain membagikan karya tulisan nya yang lucu-lucu juga unik. Cerita pendeknya seperti ini. Intinya, aplikasi itu adalah pelampiasannya.
__ADS_1
Alarain menerawang jauh. Saat sekolah dasar, Alarain berfikir dengan cara terbuka dan bebas. Ia menyadari ia berbeda dengan teman seusianya. Dulu ia tidak terlalu punya banyak emosi. Alarain selalu bersikap acuh. Tapi, berbicara tentang otaknya memang tidak diragukan lagi. Alarain sudah bisa menghafal dan sudah mengetahui pelajaran sekolah dasar ketika ia berumur delapan tahun. Saat sembilan tahun ia sudah bisa menghafal pelajaran sekolah menengah pertama. Tapi untuk melancarkan segala kebutuhannya dan segala yang menurutnya janggal, kepandaiannya harus bisa ia sembunyikan. Alarain bisa dikatakan jenius, tapi memang begitu.
Hanya saja dalam konteks keahliannya ini Alarain mudah terserang penyakit, hal itu sangat sering baginya. Pernah saja Alarain berkonsultasi dengan dokter tentang dirinya, tapi yang tidak menjadi pikirannya adalah ia masih sehat-sehat saja. Dengan hal ini, instingnya untuk mencari tahu segalanya semakin menjadi.
Alarain lelah, tapi jika berbicara tentang mamanya yang sangat tidak acuh, Alarain hanya bisa diam. Alarain pernah melihat anak seusinya sangat dimanja oleh orang tuanya. Alarain juga pernah berharap demikian. Tapi, sikap mamanya yang seperti ini membuat Alarain patah. Apalagi ditambah kekerasan yang sering ia dapatkan. Katakan saja, cambukan dipunggung, sayatan di tangan serta luka jait di kepala seperti sudah menjadi makanan sehari-harinya. Alarain tidak pernah membenci mamanya. Selebihnya Alarain lebih membenci kata Tuhan.
Kenapa dia tidak memberi seseorang yang baik untuknya?
Hal menyakitkan seperti ini sudah ia alami selama kurang lebih dua belas tahun.
Hanya, nama Felistyn Andromeda terkesan unik. Jika diperhatikan mamanya juga cantik. Apalagi kalau bersih. Yang menjadi perhatian Alarain adalah cara makan mamanya, cara berjalan mamanya, tidak menunjukan hal orang yang kekurangan. Hanya spekulasi Alarain jika mamanya adalah orang yang luar biasa.
Tapi jika bertanya apakah Alarain pernah melakukan tes DNA dengan mamanya? Pernah. Ia pernah melakukannya. Bahkan lebih dari sekali. Tapi hasil yang ia dapatkan sama saja. Ia mempunyai ibu-anak dengan Felistyn Andromeda.
Sejauh yang ia ketahui. Nama Andromeda sangatlah unik untuk negaranya, Indonesia ini. Terkesan aneh juga ada. Makanya mulai dari sekarang Alarain harus mencari tahu. Diamnya selama sepuluh tahun ini, hal yang membuat ia dipaksa lebih dewasa tidak lain hanya untuk, mengetahui dalang semuanya.
Namun, telepon berdering dengan nada khusus untuk panggilan khusus.
Pihak lain berhenti berbicara kemungkinan ia sedang menunggu balasan dari Alarain. Ia dan anak buahnya harus mengunjungi daerah tersebut. Bisa dikatakan mudan juga bisa dikatakan sulit. Yang menjadi kesulitan adalah, terdapat sebuah gang motor bersenjata yang sangat sering meresahkan warga. Jika kedatangan mereka diketahui yang ditakutakan adalah terjadi perselisihan.
Alarain mengurut keningnya. Diam-diam ia mengutuk kata 'bodoh' di benaknya. Dan akhirnya satu kata dingin meluncur dari mulutnya, "BODOH!"
Alarain dengan kesal mematikan telponnya.
***
Katanya Alarain itu anak broken home. Katanya juga dia tidak punya ayah. Katanya juga Alarain sering disiksa ibunya. Berita ini cukup untuk memberi satu pertanyaan pada Alarain. Apakah semuanya benar? Dan gadis itu akan menjawab, ya'.
Alarain memandang dua orang lainnya. Jia dan Arvi salah satu siswa Kelas Multi.
Kompetisi Fisika bukan hanya Alarain saja yang ikut andil. Jia juga merupakan slaah satunya. Tapi ini pertama kalinya mereka mendiskusikan untuk mata lomba itu. Alarain baru diberitahu dan ini sangat-sangat mendadak, bahwa dari Fisika terdapat perlombaan per grup. Mau tidak mau Jia dan Arvi harus menerima ditugaskan. Hanya saja waktunya yang berbeda.
"Lo bukannya ikut lomba Fisika mandiri?" Jia memulai pembicaraan.
__ADS_1
Alarain mengangguk, memang benar hanya, "siang pukul satu baru mulai!"
Perlombaan itu dilaksanakan di SMA tetangga, sekolah dimana tahun lalu yang menajdi juara umum di Olimpiade tahunan ini. Dan tempatnya tidak cukup jauh dari SMA nya.
Maka dari itu untuk pagi ini Alarain, Jia juga Arvi sedang mendiskusikan percobaan apa yang akan ditampilkan untuk ujian Fisika berkelompok, yang akan dilaksanakan minggu depan.
Arviand, namanya. Salah satu murid kelas multi yang tersohor dengan kecerdasannya. "Mulai diskusi!" ucapnya.
Berbeda dengan kompetisi mandiri yang berbau tulisan karena yang dilombakan hanyalah teori-teori, maka perlombaan Fisika berkelompok ini, mengenai pemakaian teori di kehidupan sehari-hari. Yang berarti, mereka bertiga harus mencipatakan sesuatu yabg sesuai dan yang berhubungan dengan Fisika. Susah memang, tapi ajang perlombaan ini terbuka untuk umum. Rata-rata pengiriman perlombaan pasti datang dari sebuah universitas.
Alarain yang jarang berbicara harus ikut andil berdiskusi. Ia memberi masukan juga penilaian terhadap satu sama lain. Begitu juga Arvi dan Jia.
Waktu menunjukan pukul sebelas tepat. Perlombaan Fisika mandiri akan dilaksanakan dua jam dari sekarang. Dan pak Budi selaku mentornya, menelponnya tanpa henti.
"Aku duluan!" Pamit Alarain. Dia pun keluar dari laboratorium itu. Sementara Jia dan Arvi berdiskusi lebih lanjut mengenai kekurangan juga kelebihannya.
***
SEE YOU NEXT PART.
***
PERHATIAN!
CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA. MURNI IMAJINASI SAYA. JIKA ADA KESAMAAN LATAR TEMPAT ATAU PUN LAINNYA, ITU HAL YANG TIDAK DISENGAJA.
Maka dari itu mengenai tempat saya mengambil Tema Indonesia sebagai latarnya. Adapun isi dan seluk beluk indonesia kedepannya ini murni Teori saya sendiri.
DRAMA, ROMANTIS, DEWASA, KRIMINAL, GANG MOTOR, MAFIA, POLITIK, PERANG BISNIS, DAN LAIN LAIN.
Insyaallah terkandung di cerita ini.
Terimakasih untuk dukungannya. Dan terimakasih telah membaca cerita ini.
__ADS_1