
Call me Rain
***TYPO***
"Kalian duduknya jangan deket aku deh!" Alarain mengeram. Ia menatap ketiga makhluk didepannya dengan tatapan aneh.
"Dari kemarin-kemarin lo gak jawab pertanyaan kita," Ucap Sera menekankan.
Jia mengangguk membenarkan, perempuan yang biasanya bersikap dewasa itu menatap Alarain dengan berbinar. "Jujur Al!"
"Gue udah jujur!" Ungkap Alarain. Ia memijat pelipisnya, mereka sungguh menganggu.
"Tapi lo bohong Al," kini Resi yang melanjutkan.
"Kalian ganggu gue kenapa si"?
"Ya buat mastiin aja," jawab Sera asal. Perempuan itu memang rada kesal saat Resi dan Jia mengajaknya untuk selalu menemukan Alarain.
"Jawab Al, lo pemilik akun ini kan?" Jia mengangkat hapenya yang sedang berada di aplikasi toktok, perempuan itu menunjukkan akun dengan nama Al, username Alden. Akun dengan pengikut tiga juta lebih itu tampak gelap dengan profile yang gelap juga.
Alarain tahu mereka menanyakan kebenaran padanya. Tiba-tiba pandangannya dialihkan pada Resi yang wajahnya sudah setebal baja. Awal mula semuanya pasti dari gadis ini. "Kalau iya, kenapa?"
Alarain tidak memastikan jawabannya. Tapi, dengan kecerdasan Jia dan Sera mereka menangkap apa yang Alarain pikirkan.
"Ajarin gue main piano!" Ucap Sera tiba-tiba. Jujur Sera memang kesal pada Alarain karena sikap tertutup nya.
Alarain mengangkat sebelah alisnya, "Kan lo juga udah punya orang profesional yang ngajarin lo,"
"Iya Ser, Alara udah jadi mentor gue tuh!"
"Kalian pada ribut kenapa si?" Jia menengahi. "Kita disini dengan niat baik ya, bukan nya memanfaatkan!"
"Gua juga bukan mau ngemanfaatin Ji, ini memang kebutuhan, minta pertolongan!" Sera hampir ngegas.
__ADS_1
"Bener kata Alara, lo kan dah punya orang yang bisa ngajarin piano, tingkat master pula!" sergah Jia.
"Lo gak bakal ngerti si." Ucap Sera akhirnya. Sera tak pernah menceritakan apa-apa soal yang ia ketahui tentang Alarain. Tapi, pernah suatu ketika ia belajar sendiri tentang Piano dengan Alarain sebagai tuntunanya, mentor piano-- orang yang keluarganya bayar untuk mengajarinya piano berkomentar, "Nona, permainan ini merdu namun terkesan gelap. Tapi saya baru menemukan permainan indah sperti ini. Apakah dia teman nona? Saya takjub padanya."
Sera sudah tahu pada Alarain dari kelas sepuluh. Mungkin juga itu adalah permainan piano pertama Alarain yang didengar Sera. Sera ingin berteman dengan Alarain, tapi gadis itu sangat susah didekati. Sera kesal. Seorang mentor profesional, bisa memuji gadis enam belas tahun yang biasanya masih amatir piano, bukan kah itu hal bagus? Kecuali dia yang jenius.
"Sudahlah kita pesan makanan saja!" Resi menyarankan. Tapi, tatapan Sera tak pernah lepas dari Alarain.
***
"Puas Lo!" Alarain yang kurang berhati-hati terkejut saat sebuah tangan menariknya dalam kegelapan gudang. Alarain tak menjawab gadis itu hanya melirik Nisa Aperiliant.
"Kalau gak ada yang lain, gue pergi dulu!" ucap Alarain.
"Tunggu Lo! Gue belum selesai bicara!" Teriakan Nisa mampu membuat Alarain berbalik kembali.
Alarain merasa sedikit terganggu dengan gadis lemah ini. Ia mulai melangkah mendekati Nisa. "Lo kecewa? Kecewa kenapa Nis? Gak bisa temenan sama geng yang lo incer? Atau lo kecewa karena gue selalu lebih dari lo?"
"Anak buangan kayak lo gak pantes buat bahagia!" Nisa merasa frustasi. Gadis itu mencengkram kerah Alarain dengan kuat.
Alarain hanya tersenyum sinis. "Usaha lo sia-sia? Karena gak bisa ngehasut orang buat benci sama gue? Iya?"
"Lo..!"
Benar kata Alarain, Nisa terlalu iri padanya.
"Ini bukan Bandung yang katanya Lo bisa kuasai, Nis! Lagian dari dulu lo gak pernah menang lawan gue!" Alarain memancing emosi Nisa. Gadis itu semakin mengeratkan cengkramannya.
Telinga tajam Alarain mendengar detakan orang berjalan kemungkinan menuju gudang ini. Alarain semakin tersenyum. Bukan kah memainkan orang lain sangat menyenangkan?
"Lo yang gak pantas bahagia Nis. Lo pembuli. Pembohong. Penipu. Lo intisari kekejian yang ada. Lo seharusnya mati saat terhanyut di sungai dan gue gak perlu nolongin lo. Lo benalu. Lo hancurin bahagia gue. Lo bikin mama gue frustasi. Dia gila. Dan Lo seharusnya gak pantas buat hidup." Alarain mengucapkan dengan rendah. Tapi emosi Nisa semakin tersulut.
Brak...
__ADS_1
"Alara? Lo gak papa?" Revan bertanya dengan serius. Tatapannya ia alihkan pada Nisa yang kini pucat pasi. "Lo kenapa si Nis?"
"ANJING!" seru Revan.
Alarain pingsan dan pria itu segera menggendong nya.
Nisa masih terdiam. Bibirnya kelu. Tapi, bagaimana bisa Alarain pingsan. Barusan gadis itu tersenyum meremehkan padanya. Barusan Alarain, meliriknya jenaka.
ALARAIN JAYDEN.
***
Drama ini bukan kah harus di lanjutkan?
Alarain termenung di UKS. Gadis itu menyentuh punggung nya yang terasa perih. Lukanya akibat pertempuran kemarin malam masih membekas. Dan sekarang luka itu makin parah saat ia terbentur pintu gudang itu. Menyakitkan memang. Tapi Alarain sudah biasa.
Untuk menghilangkan citra baik Nisa di depan orang yang disukainya bukan kah ia harus sedikit berkorban.
"Ceroboh!" Suara maskulin datang. Alarain tahu ini suara siapa.
Tangan Justine segera mengambil salep di tangan gadis itu. Lalu mengoleskannya pada punggung Alarain yang terbuka. Alarain ingin melawan tapi pergerakan cepat Justine di luar kendalinya. Alarain meringis, sapuan salep itu menembus luka panasnya. Dingin.
Tapi Justine, termenung di tempat. Hanya sekian detik ia bisa kembali ketenangannya. Punggung Alarain sangat putih, jika saja luka merah di punggung nya dihilangkan akan semakin bagus. Pinggangnya ramping, tapi gadis itu sangat kuat meskipun sekecil ini. Gelenyar aneh mencuat di hatinya, sesaat tangan besar itu bersentuhan dengan kulit punggung Alarain yang sedikit kasar.
Siapa yang melakukan hal keji terhadap seorang gadis kecil ini?
Luka Alarain menyebar di punggung. Dan Justine memastikan bahwa ini bukan pertama kalinya Alarain terluka.
"Kalau ingin menangis. Menangislah Ra!"
***
See You Next part
__ADS_1