
Call me Rain
***TYPO***
"Bangun dan segera keluar!" Alarain berdecak kesal melihat pemuda yang masih setia berbaring di sofanya.
"Aku tidak mau!" Pemuda itu dengan cemberut menjawab.
"Kau sangat menyusahkan!" Ucap Alarain seraya melenggang dari ruang tamu ini. Ia kembali dengan cepat setelah membawa sesuatu dari dapur.
Melihat hal demikian, lantas pemuda yang sedang berbaring itu segera duduk. Dengan wajah polosnya dia menatap wajah Alarain yang tengah menyiapkan makanan untuknya, mungkin.
"Makan ini! Segera pergi!" Sebenarnya sifat kemanusiaan Alarain hampir menipis. Tapi entah kenapa melihat luka yang begitu parah di pemuda tersebut Alarain merasa iba. Yah setidak peduli nya Alarain, ia masih bisa peduli terhadap orang lain.
Alarain menatap pemuda itu dengan lekat. Ada semacam sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan rasanya mengganjal di hati.
"Kakak kau tidak apa?" Seseorang menerobos apartemen Alarain dengan terburu-terburu. Ia segera berlari ke arah dimana pemuda itu sedang makan, lalu mengecek suhu tubuhnya dengan gugup.
"Jika kau memeriksa ku lagi ku potong tangan mu!" Suara dingin mencolok datang dari pemuda yang tengah makan.
"Maafkan, aku... initerlambat aku tidak dapat mendeteksi keberadaan mu!" Seru pemuda lainnya.
Tanpa sadar pemuda yang tengah makan melirik Alarain yang masih cuek. Dan si pemuda yang datang tanpa kesopanan tiba-tiba membisikan sesuatu yang membuatnya hampir menegang. Lantas ia pun berdiri dengan mangkuk yang makanannya telah dihabiskan. "Oke, kau pergi sekarang, ini kartu namaku. Jika kau membutuhkan sesuatu segera hubungi nomor ini." Ucap pemuda itu sembari memberikan kartu namanya yang entah datang dari mana.
Alarain mengambil kartu nama itu. "Baik. Segera pergi!"
Austin Peter Seazen ternganga dengan sifat ketidakpedulian gadis itu terhadap Justine Hurrendt Morenza. "Kakak! kau!" Ia tidak bisa berkata-kata, padahal kakaknya adalah orang yang sangat tidak peduli. Lantas mengapa ia memberikan kartu nama kepada gadis yang tidak dikenal ini.
Melihat kedua pemuda itu yang masih berdiri. Alarain melihat balkon apartemannya dengan muram, "Pintu keluar ada di sini."
"Oke terimakasih."
Sepeninggal mereka Alarain menatap kartu nama yang tidak mencolok. Namun deretan nama besar semakin membuat mood nya rusak. Justine Hurrendt Morenza. Tanpa kepolosan ia membuang kartu nama itu.
__ADS_1
Perusahaan Morenza, aliansi bisnis terbesar di Asia menduduki peringkat bisnis yang melesat tanpa ambang kehancuran. Begitulah menurut pandangan orang-orang. Tapi, intrik politik di dalam perusahaan hanya orang yang berkuasa saja yang berhak mengetahui. Alarain tahu akan hal seperti ini dengan pasti.
Morenza grup. Membuat kedudukan lain selalu terancam. Hadir tiga puluh tahun lalu sebagai perusahaan baru, Morenza grup termasuk dalam perusahaan terbaik jika kamu ingin bekerja. Bisa dikatakan ia beruntung bertemu dengan cucu keluatga bisnis itu. Justine. Yang sangat diidolakan oleh setiap kaum hawa. Alarain bisa saja membawa berkah ini, untuk menjadikanya memiliki kekuatan. Tapi, jika dengan Justine Hurrendt ini terlalu mencolok. Alarain tidak ingin diperhatikan. Anesti terbesar di Asia selalu dimenangkan oleh Morenza Grup yang hadir di negara Jepang.
Morenza grup didirikan oleh Tuan Fareht Morenza yang saat itu kebangsaan Amerika serta istrinya Nyonya Kim Jocha, wanita bisinis campuran Jepang-Korea. Bisnis besar yang berpusat di Jepang ini tidak diragukan lagi oleh orang-orang. Maka dari itu memasuki Indonesia juga hal wajar.
Yang tidak wajar adalah, bagaimana seorang Justine bisa dalam keadaan membahayakan di Indonesia? Tapi, itu juga tidak mustahil, semakin kamu memilki kekuasaan maka semakin kamu memiliki banyak musuh.
Alarain mengingat pertemuan pertama dengan pria itu. Pria yang meminta pertolongannya. Pria yang dengan luka tembak di bagian atas dadanya. Yang dengan amat terpaksa Alarain membawanya ke apartemennya. Malam itu, Alarain tidak pulang. Kabar mamanya tidak diketahui sampai sekarang.
Alarain memasuki kamarnya, pakaian kasualnya ia ganti dengan baju sekolah. Ingat. Dia masih pelajar.
***
"Besok malam acara ulang tahun ku Kalian datang ya!" Suara Jia menggelegar di penjuru ruangan. Ia yakin, teman sekelasnya akan mendengarnya. Dengan bantuan Sera juga Resi kartu undangab telah selesai dibagikan. Setelah membagikan kartu undangan ia menoleh pada gadis berambut panjang yang saat ini tengah menelungkupkan wajahnya di atas meja, dengan tas menjadi bantal.
"Alarain dateng ya!" Serunya.
Alarain berdehem.
"Kayak biasa aja, gak perlu formal juga bisa acara biasa kok ini!" Jawab Jia.
Jia Geo Cantika. Anak salah satu pembisnis terbesar di Indonesia. Party biasa mungkin hal mewah bagi orang biasa. Begitu juga Alarain. Ayahnya Geo Samudra, merupakan presiden direktur terkemuka yang namanya juga Fotonya selalu terpampang jelas di setiap koran maupun parlemen.
Bangun dari sikap malasnya, Alarain memilih mengambil kartu undangan itu. Ia menatapnya agak lama. Besok malam, kemungkinan Alarain juga tidak bisa menghadirinya.
"Revan kayaknya udah lama gak masuk," Gadis bernama Bisa Fahreyza menyeletuk.
Resi menengok ke arah Nisa, "Ada pemberitahuan gak?" Sebagai sekretaris kelas biasanya orang yang tidak hadir akan selalu melapor padanya.
"Gak ada, tapi kata Ms. Firna Revan sebulan kedepan bakal sibuk banget!" Ujarnya.
Alarain mendengar semuanya. Mendengar cowok yang selalu mengajarnya itu akan menghilang. Alarain membuka handphone nya ia membuka situs hitam dengan teliti. Membuka hal yang ia perlukan. Ia kembali menutup handphone nya.
__ADS_1
***
"Neng! Akhirnya kamu pulang." Seru bu Atik. Ia kemudian menggenggam tangan Alarain, "Kemarin mamamu berteriak-teriak mencari kamu. Dia seperti orang yang kesetanan!"
"Lalu di mana ia sekarang?" Tanya Alarain tampak tenang.
"Dia di bawa ke Rumah sakit jiwa, Neng!"
Setelah berterimakasih pada bu Atik Alarain memasuki rumahnya.
Rumah sakit jiwa yah. Tidak ada yang salah. Seharusnya memang begitu. Mamanya seharusnya sudah dari dahulu memasuki tempat itu. Tapi,
Sudahlah. Pembahasan mengenai hubungan yang tidak Alarain percayai datang dimulai dari hubungan darah antara dirinya dan mamanya. Sebagai orang yang mengagungkan suatu hubungan, tentu Alarain tidak ingin hubungan antara ia dan mamanya rusak. Meski mamanya sering berbuat tidak baik terhadapnya. Andaikata mamanya bukan orang tuanya, mungkin Alarain juga bisa tidak memperdulikannya.
Yang pasti, dalam hubungan ini ada sesuatu yang perlu Alarain ketahui. Rahasia beserta jajarannya. Pertanyaan yang selamuyia tanyakan.
Kenapa mamanya sangat membencinya?
Kenapa ingatan masa kecilnya menghilang?
Siapa ayahnya?
Dan, terjadi suatu besar apa di masa lalu sehingga semuanya seperti ini.
Tapi, untuk saat ini memasukan mamanya ke Rumah sakit jiwa adalah keputusan yang sangat baik. Dimulai dari sekarang, semua intrik akan menentangnya juga menjadi tantangannya.
Alarain menatap dinding kamarnya yang penuh dengan peta serta informasi juga orang yang akan menjadi sangkut paut dengannya.
Alarain diam bukan berarti ia tidak punya rencana. Alarain tak bergerak bukan berarti ia tidak punya kekuatan nyata. Namun, Revan juga Ares itu salah satu hama yang mengganggu ketenangannya untuk mencari tahu. Alarain harus terus berpura-pura, atau bagaimana?
"Siapkan kontrak kerja sama dengan Maxie Grup!"
Dengan suara dingin dan jelas Alarain memerintahkan orang yang berada di sebrang telponnya.
__ADS_1
"Awasi RSJ Umum Atfoma. Jagalah orang yang bernama, Felistyn Andromeda!"