ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
your death


__ADS_3

Call me Rain


***TYPO***


Alarain mengeluh dalam hati untuk ke sekian kalinya. Ia terpaksa duduk di mobil pria yang memaksanya untuk mengantarkannya. Itu tidak bagus juga tidak buruk. Kepedulian Justine membuat Alarain tak suka.


Alarain keluar dari mobil dengan tergesa. Justine mengerutkan kening. "Tidak menawariku masuk?"


Alarain berhenti, "Katakan terhadap musuh mu bahwa aku bukan pacar mu!"


"Hey mana ada seperti itu aku tidak punya musuh!" Justine panik. Hatinya mengeras. Tiba-tiba pikirannya melayang saat melihat luka di punggung Alarain. "Ra, jangan bilang.. ," Rasanya Justine tidak ingin menerima kenyataan.


"Iya. Sesuai yang kamu pikirkan! Jadi, tidak bisakah kamu tidak menempel padaku? Dan menjadi salah paham?" Alarain berdecih. Ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti itu. Tapi, pelukan tiba-tiba Justine menyambutnya. Pria itu sepertinya sangat suka memeluk orang.


Alarain bisa saja tidak menjelaskan semuanya pada Justine. Tapi, entah mengapa sesuatu yang menyangkut pria itu rasanya seperti, bahwa Alarain memang butuh.


"Lain kali tidak bisakah kamu memiliki banyak emosi? Gadis perempuan seharusnya punya sandaran. Ra, kalau ada apa-apa bilang sama aku!"


Justine masih setia memeluk Alarain dari belakang dengan erat. Dan Alarain meringis dibuatnya. Tapi ia tidak berkata apa. Alarain tidak bisa menolak pelukan hangat Justine, mengapa?


***


Di Jepang.


Perilaku Justine yang mengejer gadis kecil terdengar oleh para dewan direksi. Katanya juga Justine pergi ke Indonesia hanya untuk mengejar gadis itu. Dengan informasi, gadis jelek, gadis tidak pintar, pendidikan yang rendah, tapi satu hal yang menjadi tabu. Dia adalah orang yang tidak memiliki kekuasaan. Alarain Jayden miskin.


Hati Beni Robert membuncah kala mendengar informasi itu. Pertarungan untuk menjadi yang pertama haruslah seperti ini bukan? Saling menjatuhkan.


"Jadi apakah anda semua akan tetap memilih Justine sebagai CEO? Sedangkan sikapnya saat ini tidak mencerminkan sebagai seorang pemimpin." Ucapnya yang mampu membuat beberpa dewan direksi yang akan memilih Justine meragukan keputusan mereka.


Bukan hanya omongan belaka jika Justine merupakan keturunan paling Jenius. Prestasi-prestasi yang diraih Justine sejak muda telah menjadi bahan sorotan di Jepang.


Siapa orang yang mampu menyelesaikan tiga gelar master dalam waktu tiga tahun? Atau siapa lagi orang yang bisa meninggikan nama perusahaan dengan saran-saran Justine yang bisa meruntuhkan alam. Pria satu itu diminati banyak gadis Jepang. Tapi, mengapa demi seorang bocah Justine rela meninggalkan kepemimpinan? Ini tidak patut.

__ADS_1


Rapat terus diundur karena pemain utama tidak ada. Meski telah di desak oleh Tuan Fareht, Justine tidak kembali ke Jepang. Kecuali untuk satu hari waktu itu, cucu kebanggaannya kembali hanya untuk melihat ayahnya yang masih terbaring.


Tuan Fareht, mendengus saat setiap orang berbisik-bisik dan ia tahu semuanya tentang Justine. Rumah tangga kedua putranya tidak memiliki akal sehat. Jadi, haruskah ia memberikan kursi kepemimpinan ini? Tidak bisa. Dari awal sampai akhir kursi ini akan diduduki eh Justine. Harus.


"Pemilihan CEO akan dilanjutkan jika Justine ada. Selebihnya, saya yang akan memegang Kembali posisi kosong ini!"


Bukan tidak mungkin Tuan Fareht untuk kembali. Karena dialah yang merintis perusahaan Morenza Grup dari awal. Tapi, setelah ia bertambah umur dan semakin tua, bukan kah kinerja setiap orang akan menurun. Untuk menjadi pemimpin besar,  bukankah harus dibutuhkan orang besar dan mampu?


"Rapat selesai. Masalah Justine! Dia punya tujuannya sendiri!"


***


***


Flash Back! Warn!


"Apakah gadis ini yang dikatakan Tuan muda?"


Malam itu gelap, pria itu berbicara dengan sedikit berbisik pada pria lain--rekannya. Sudut mulut yang terluka sedikit mengangkat, memberikan seringaian yang memiliki makna dalam. Alarain tetap diam dikursi dengan kedua tangan dan kakinya diikat. Namun, sepenuhnya ia memiliki kesadaran akan situasi ini. Bagaimana ia bisa berada di sini merupakan hal lalai yang ia tidak perhatikan.


"Tuan Beni menyuruh kita untuk tidak menyentuhnya."


"Pada akhirnya gadis cantik ini akan mati bukan?" Yang diinterupsi tidak terima. "Kita lakukan saja dulu, sebelum dia menjadi mayat cantik!"


"Jangan bangsat!" Pria setengah gondrong itu memberhentikan tangan temannya yang akan mulai menyentuh paha gadis itu. "Setelah nafsumu terpuaskan, kau yang akan mati!" Cercanya.


Mungkin pria itu memikirkan kembali perkataan temannya. Iya mengangguk mengiyakan, tapi dalam hati menyayangkan bahwa barang sebagus dan secantik ini tidak bisa dipakai.


Alarain merengut dalam hati. Menunggu kesempatan untuk menyerang kedua orang ini. Tapi tidak ada. Samar-samar Alarain dapat mendengar orang dibalik penculikan ini. Beni? Jika jujur Alarain tak pernah berurusan dengan orang yang bernama Beni seumur hidupnya ini.


Alarain menekan urat nadi tangan kanannya dengan keras, lalu ia berbicara dalam dia dengan pelan. "Lokasi, gedung terbelangkai pabrik pelastik, di hutan kota Bandung."


Sepuluh menit kemudian, gerakan keras terdengar dari luar. Alraian semakin menajamkan telinganya. Lima orang berjas hitam masuk, tapi gelapnya mata Alarain, membuat ia tidak dapat melihat rupa orang-orang ini. Yang pasti Alarain dapat merasakan kekejaman mereka.

__ADS_1


Alarain tersentak. Sebuah tangan terulur menyeretnya dan ia memberontak. Ikatan kedua tangan dan kakinya telah terlepas. Dua orang menyeretnya di kiri dan kanan. Dengan sekuat tenaga, gadis itu meruntuhkan kukungannya. Kedua pria berjas tidak menyangka, Alarain akan melepaskan diri dengan mudah.


Alarain. Gadis itu membuka kain penutup kepalanya dengan kasar dan menghirup nafas dengan rakus. Tatapan nyalangnya ia arahkan pasa dua orang yang kini tersungkur.


"Tunggu apalagi cepat tangkap!" Aksen bahasa Jepang terdengar. Sekarang Alarain cukup mengerti mengapa hal ini menimpanya.


Terjadi baku hantam. Gadis ramping itu melawan tujuh orang pria berbadan besar dan ganas-ganas. Alarain mencepatkan serangannya, ia dikepung dan mereka menyerangnya secara bersamaan. "Sial!"


Alarain mengusap darah yang keluar dari sudut mulutnya.


"Kau tak apa?" Suara hangat menyapu baku hantam.


"Aku tidak pernah kenapa-napa!" Alarain memantapkan posisi menyerang. "Kalian hanya perlu membantuku membereskan bukan melumpuhkan!" Dengan begitu, Alarain mulai bertarung lagi. Lima menit kemudian, ketujuh pria itu berbaring di atas lantai kotor ini.


Alarain berbalik -- menatap Hans yang menyadarkan dindingnya ke pintu pabrik. "Biasa. Bawa ke tempat latihan!" Titahnya.


Namun sebelum Alerain benar-benar, pergi. Sebuah cairan yang mengenai punggungnya membuat ia sedikit menyipit. Gila. Orang ini pantas mati. Langkahnya ia teruskan dengan ekspresi datarnya. Ia mengulurkan tangan pada Hans, dan dengan senang hati pria itu memberikan apa yang dimaksud Alarain.


Sebuah senapan dengan bunga teratai putih sebagai tandanya, menarik perhatian kelima pria berjas. Warna bunga teratai putih, yang menjadi mimpi buruk dunia bawah. Kini hadir di hadapan mereka.


Seseorang bahkan bergetar, "Teratai ... putih,"


Dunia bawah tahu betapa berbahayanya teratai putih itu. Dia pemalsuan yang tidak dapat dipalsukan. Dia intisari kegelapan dunia bawah. Seseorang berwajah dingin dan menyeramkan. Satu hal yang lebih penting, tidak ada orang yang berani meng-copy, ikonnya. Teratai putih adalah lambang, your death.


Alarain bermata dingin. Bahkan ia tidak merasakan sakitnya punggungnya akibat cairan itu. Ketujuh orang berbadan besar itu mundur secara perlahan. Merangkak dan keluar dari kenyataan mengganggu 'Your Death'. Pemilik nama hitam yang menentang hukum alam.


Senapan itu Alarain pegang dengan tangan kirinya, moncongnya mengarah kebawah dan seiring Alarain melangkah, gadis itu dengan pelan mengeratkan pegangannya terhadap pistol itu. Langkahnya mengayun pelan, tapi dalam pikiran ketujuh orang itu Alarain bagaikan malaikat maut yang siap mencabut dengan paksa nyawa mereka. Tapi memang begitu.


Your death.


Mendekat.  Memainkan peran. Mematikan. Penuh kepalsuan.


Salah seorang diantara mereka dengan gemetar mengarahkan pistol pada Alarain. Dan Alarain masih setia berjalan dengan pelan. Penuh intimidasi.

__ADS_1


Dor.


Alarain tersenyum--meremehkan. Peluru bergerigi itu ia pegang dengan santai. Jika kamu bertanya, apakah ada orang yang bisa menangkap peluru. Maka your death jawabannya.


__ADS_2