
Call me Rain
***TYPO***
"Mama hari ini mau makan apa?"
Alarain sibuk dengan urusan dapur. Ia mengutak atik peralatan yang ada. Hari ini, ia ingin membuat masakan untuk mamanya.
Wanita paruh baya itu tak menjawab. Ia hanya duduk diam di kursi meja makan. Tatapannya kosong, namun tersirat kesedihan.
Melihat mamanya tak menanggapi, Alarain pun memilih untuk mengerjakan masakannya. Sup mulai mendidih. Alarain menyediakan peralatan makan seadanya untuk dirinya juga mamanya. Setelah semua dibereskan, makanan pun siap disantap.
Gadis itu berdiri. Mengambil nasi beserta sup panas mendidih di mangkuk untuk mamanya. "Makan ma!"
Tetap. Mamanya mengabaikannya. Alarain kembali ketempat duduk semula yang berada di sebrang mamanya. Ia mulai menyantap makanan dengan khidmat. Lambat laun, makanan yang disiapkan Alarain tak kunjung mamanya santap. Alarain sedih, seperti biasa.
Jujur, jika ada yang bertanya padanya tentang penyesalan. Maka ia akan menjawab, ia menyesal telah dilahirkan dari wanita yang di depannya. Jika ia bisa memilih dari rahim siapa ia dilahirkan, maka Alarain ingin memilih seorang wanita yang akan menyayanginya, menyuapi ia makan, mengepang rambutnymengakuinya)kecupan singkat sebelum berangkat sekolah, serta hal kecil lainnya. Sesederhana itu.
Tapi alam berkata lain. Tuhan yang dipercayai mereka juga tidak bisa menjadi kepercayaaanya. Tuhan yang ia pernah sembah tidak menghilangkan rasa sakitnya. Tuhan yang pernah ia jadikan pelarian tidak pernah memeluknya. Tuhan yang selalu ia puja, ia agungkan, tidak pernah ada untuknya. Rasa sakit itu semakin ada, membekas di hati dan tidak pernah hilang. Tuhan yang dikira penyembuh ternyata hanya omongan belaka.
Singkatnya Alarain tak mempercayai siapapun. Apa yang disebut teman? Apa yang disebut pacar? Apa yang disebut keluarga? Apa yang disebut Tuhan? Mereka siapa? Alarain tak percaya itu semua, kecuali diri sendiri.
Hanya saja penyesalan terbesarnya adalah ia tidak bisa mengabaikan sebuah hubungan di mana Alarain termasuk dalam hubungan itu.
"Alarain berangkat dulu." Ucapnya kemudian. Ia meninggalkan wanita paruh baya yang pucat beserta kediamannya.
***
"Sudah sebulan kamu bekerja disini. Dan ini gaji kamu. Semangat ya!" Manajer restoran memberikan gaji pada setiap karyawan hari ini. Alarain senang. Akhirnya ia bisa membeli buku bahan ajar untuknya.
"Terimakasih pak!" ucap Alarain senang.
__ADS_1
Pak manager mangalihkan pandangannya dari Alarain pada karyawan lainnya, "Karena pendapatan hari ini melebihi dari target, atasan memberitahu bahwa resto boleh tutup sekarang." Ucapnya sambil tersenyum.
Para karyawan saling berbisik dengan temannya masing-masing. Meski Alarain telah bekerja sebulan disini, gadis itu masih tidak memiliki teman dekat, yah kecuali kenalan-kenalannya.
"Oke, silahkan kembali!"
***
Pukul 19.00, Alarain mencari toko buku yang masih buka. Selain untuk bahan ajarnya, Alarain juga ingin membeli novel untuk bacaan pibadinya. Uangnya saat ini lebih dari cukup. Setelah ia selesai melakukan live waktu itu gift yang diberikan penonton ia coba cairkan dan cukup untuk membelikan beberapa buku.
"Kalo buku bank soal untuk masuk perguruan tinggi di mana ya?" Tanya Alarain pada kasir.
"Belok kiri paling pojok kak, ada." jawab kasir tersebut. Setelah berterima kasih Alarain pun mencari tempat yang dimaksud. Setelah menemukan tempat yang dimaksud Alarain segera mencari bahan ajarnya. Apalagi kompetisi Fisika dua hari dari sekarang akan datang.
"Maaf!" ucapan orang tersebut.
Alarain tak menjawab saat orang itu tak sengaja tersandung dan menimpa dirinya. Ia berdeham, lalu melepaskan diri dari laki-laki itu.
"Eh, kamu!" Serunya ada Alarain. Kemudian ia bergegas menuju gadis yang tiba-tiba berhenti itu. "Ini jatuh dari tasmu!"
Itu adalah dompet mini miliknya. Alarain mengambil seraya mengucapkan terimakasih kesopanan. Hanya saja,
"Saya duluan ya!" Belum sempat Alarain pertama mengucapkan perpisahan. Laki-laki jangkung itu pergi terlebih dahulu.
Merasa ada yang janggal gadis itu dengan teliti melihat barang mikiknya. Mungkin hanya perasaan saja. Tapi, hati kecilnya mengatakan ada yang salah dan Alarain tak tahu apa itu.
Alarain lebih kembali memilih buku-buku yang akan ia beli. Serasa menemukan novel yang cocok dengan keinginannya ia pun pergi untuk membayar ke kasir.
Pukul 19.45. Alarain tak menyadari ia menghabiskan waktu di toko buku itu. Ia melirik jam tangannya lalu menghela nafas kasar. Terlalu suntuk dan terlalu sangat tidak ingin kembali ke rumahnya. Kalau bisa Alarain ingin meninggalkan mamanya.
Kenapa Alarain harus percaya pada hukum agama, dimana orang yang menelantarkan orangtuanya akan disiksa. Sedangkan ia sendiri tidak berani Tuhan. Punya pikiran ini lelah bagi Rain. Andai saja wanita paruh baya di rumah itu bukanlah orang yang memiliki hubungan dengannya. Alarain mungkin akan bahagia. Mungkin. Tapi kenyataaanya? Hubungan seperti ini yang tidak ingin Alarain jalani. Hubungan ini yang selalu membuatnya menderita.
__ADS_1
Anak jahanam. (Alarain tak tahu apa itu jahanam?
Anak setan. (Bukan kah mamanya yang bertingkah seprti setan?
Anak durhaka. (Alarain tak bisa membantah. Karena di mata mamanya akan tetap sama)
*****. (Ini terlalu luar biasa untuk diceritakan)
Anak kurang ajar. (Alarain sangat mengakuinya)
Anak ... Anak... Anak...
Terlalu banyak umpatan dan hinaan lainnya dari mamanya. Alarain sudah terbiasa. Meski terkadang ia bertanya apa salahnya? Atau...
***
"Aksi gang motor meresahkan para warga. Sepuluh orang warga Tasikmalaya, Jawa Barat, meninggal setelah ditikam dengan pisau. Aksi orang bermotor ini..."
Alarain mematikan televisinya dengan marah. Lagi. Orang yang merasa sok berkuasa bertindak. Apakah mereka menyenangkan berbuat hal demikian?
Dering handphone nya berbunyi. Pesan yang belum terbaca dengan kata,
"Alarain Jayden, bukankah kamu menikmati permainan mu sendiri?"
'kucinglucu dan lainnya menyukai vidio mu'
sunflower mengomentari postingan mu 'Alden malam ini live lagi ya!"
parahsipalingparah mengomentari postingan mu 'Aldenkuh live lagi ya!'
Alarain mengabaikan pesan pertama yang muncul. Ia memilih membuka aplikasi toktok terlebih dahulu.
__ADS_1
'Besok malam saya live'