ALARAIN : Big Identity

ALARAIN : Big Identity
2. Nimbrostatus


__ADS_3

Call Me Rain


***TYPO***


***


Suasana tegang datang di kelas XII-2 CI, ujian dadakan untuk hari ini dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia siap di mulai. Guru pengajar dengan nama, Pak Asep Yadi, memberikan lembar soal juga lembar jawaban. Mungkin ini kelas CI, tapi tidak semua orang istimewa bukan?


Alrain diam, ia memandang soal yang tertengger dengan jelas di mejanya. Untuk sesaat Alrain bingung, ia tak tahu harus menulis apa. Menurut Alarain, Indonesia terlalu rumit. Tapi,


"Kertas soal dan jawaban dikumpulkan dalam waktu tiga puluh menit."


Dalam pandangan Alarain, ia tak pernah merasa bahwa ia jenius. Bisa memasuki SMA favorit merupakan berkah baginya.


"Alarain Jayden!"


"Hadir!"


"Buka topimu! Lanjut..."


Alarain menurut dengan pelan penutup kepala itu ia lepaskan. Untung saja ia duduk di kursi paling pojok dan tidak terlalu di perhatikan dan dengan santai menyentuh kain kasa yang tepat berada di kening. Alarain tersenyum pahit, lalu mengerjakan soal dengan tangan kirinya.


"Revan Wijaya segera kerjakan dan jangan mencuri-curi pandang!"


Revan Wijaya, pemuda yang sama yang menganggu Alarain di trotoar kemarin malam. Revan Wijaya, cowok yang kini menatap intens Alarain yang duduk di sebrang nya meski terhalang satu bangku.


***

__ADS_1


"Apakah ada pembalut dengan plester?"


Setelah ujian dadakan berakhir kelas XII-2 CI disuguhi dengan jam kosong, karena para guru mengadakan rapat darurat mengenai hal yang telah terjadi di sekolah minggu lalu. Ia pergi ke UKS, untuk membersihkan keningnya.


"Plester kami tidak punya, stock sudah habis dan juga tidak ada orang yang membelinya saat ini. Lagi butuh banget?" Yang menjawab adalah anggota PMR yang bertugas dengan nama Aliya Paramudya, Alarain yakin dia adalah adik kelasnya.


"Kakak dari kelas CI kan? Kalo kakak mau menunggu gue bisa suruh anak PMR lain. Luka kakak kayaknya parah banget itu!" ucapnya sambil melihat kain kasa yang berlumuran darah di kening Alarain.


"Gak usah, aku bersihin aja!" Ia mulai berjalan menuju watafel. Aliya merasa tidak enak hati dengan keadaan ini.


"Mmm, kak gue duluan ya, mau bantuin teman yang lain, kakak kuat kan?" Aliya bertanya dengan hati-hati. Alarain bersenandung sebagai balasan.


Dengan pelan Alarain membuka kain kasanya, ia meringis kala merasakan perih. Yah, ini tidak seberapa dibnding luka awal. Tapi, untuk membeli Plester Alarain harus keluar sekolah. Melihat pantulan wajahnya di cermin. Alarain membasuh wajahnya, lalu menghela nafas. Ia menyentuh luka di kening, darahnya memang sudah berhenti, tapi, jikalau dipicu luka robek itu akan terbuka kembali. Seperti tadi, saat ia akan mengambil pena yang tidak sengaja jatuh, kepalanya terbentur meja dengan keras tepat di keningnya.


Pintu UKS terbuka, Alarain mengalihkan perhatiannya dan melihat Revan, berjalan dengan tangan berada di saku celana seragamnya.


"Makasih!" ucapnya kemudian. Alarain menatap Revan dengan bingung. Kenapa cowok ini masih setia berdiri memandangnya? "Kenapa?" Tanyanya.


"Gue anter lo ke puskesmas, buat jaitin luka lo itu!"


"Gak usah udah mendingan ini!" Alarain menjawab dengan panik.


"Sampe gak sekolah satu hari dan absen?" Kemarin malam ia bertemu dengan gadis ini di trotoar dalam keadaan menegangkan. Esok harinya Alarain tidak sekolah dan sekarang ia hadir dengan luka tanpa pengobatan.


"Gue udah pernah bilang sama lo...,"


"Gua sama lo aja yang tahu Van dan cukup ya!" ia memotong ucapan Revan dengan tegas. Alarain tak suka orang mengetahui lebih banyak tentang dirinya. Tapi Revan? Kenapa cowok itu terus-terusan mencoba memasuki hidupnya.

__ADS_1


"Gue suka lo!" Revan mendesah pelan. Ditatapnya Alarain yang kini raut wajahnya semakin bingung dan pucat. "Udah lebih sepuluh kali gue nyatain cinta sama lo, dua puluh malah!"


Alarain semakin menunduk. Iya tahu. Tapi, jika berbicara tentang suka, dan siapa yang ia suka, Alarain tidak bisa menjawab. Ia bingung dengan keadaanya, ia bingung dengan hatinya. Karena yang Alarain tahu, cinta-suka itu menyakitkan.


"Kita gak sama Van!"


***


Setelah meninggalkan Revan di kantor UKS, Alarain memilih menenangkan hatinya di tempat terpencil di lingkungan sekolah, yang tidak menonjol dan sepi.


Revan Wijaya. Entah deskripsi apa yang harus Alarain ucapkan mengenai cowok-teman sekelas nya itu. Dia terlalu sempurna baginya. Dan Alarain juga ingin bertanya, mengapa Revan Wijaya menyukainya? Apakah ia termasuk orang yang butuh dikasihani?


Semuanya dimulai dari kelas X dan sampai sekarang cowok itu tidak pernah berhenti untuk mengatakan bahwa ia menyukai dirinya.


Iya, Revan Wijaya terlalu sempurna. Dia merupakan salah satu anggota klub basket. Dan salah satu penyumbang medali terbanyak di sekolah. Revan bukan seorang ketua osis, tapi semua warga sekolah mengenalnya. Dia pandai bernyanyi dan suaranya juga halus. Memiliki banyak penggemar online-offline. Yang paling menarik adalah Revan Wijaya selalu menjadi peringkat pertama paralel setiap angkatan, dan juara umum satu sekolah. Keluarganya sangat terpandang dan berpendidikan. Ayahnya dosen dan ibunya seorang dokter.


Jadi hal apa yang ia miliki untuk bisa menandingi Revan? Perumpamaannya seperti ia bagaikan awan Nimbostratus, yang berada di ketinggian terendah, tidak menyabar dan tanpa bentuk. Alarain terlalu rendah untuk awan Cirrus seperti Revan Wijaya.


"Sendirian aja lo?!" Seseorang menepuk bahunya dengan keras. Alarain terkejut. Ia memandang pelaku dengan tajam, sedangkan yang bermasalah menunjukan cengiran yang menyebalkan.


***


Belum nge feel?


***


See You Next Part!

__ADS_1


__ADS_2