
" Ke- Kevin?! "
Seluruh murid dikelas terkejut. Aku juga sama, tapi kulihat Kio tersenyum lalu berjalan menghampiri Kevin.
" Hey Vin. " Kio melewati Kevin lalu berhenti disebelahnya.
" Kio, aku mohon jangan pergi. Ya? " Kevin menahan tangan Kio, menghentikan langkah nya.
" Haah... Salah satu datang dan satunya lagi pergi. Jika kita berdua disini para guru akan heran lho. Tenang saja, aku sudah membuat seluruh murid disekolah ini menilai baik dirimu. " Kio tersenyum lalu mengambil tas nya.
" Aku pergi dulu, oh iya tadi guru IPS kasih tugas. Kau kerjakan ya. Aku gak mau saat aku kembali lagi, aku harus membuat guru percaya bahwa aku tidak mengacau. Aku harap kau bisa berhenti mengacau, Vin. " Kio langsung beranjak pergi.
...~~ ***** ~~...
Saat jam pelajaran berlangsung....
" Akh.. "
Aku yang sedang menulis, berhenti lalu melirik Kevin yang duduk di sebelahku. Anehnya, Kevin terlihat seperti kesakitan. Dan Kevin pun langsung berdiri.
" Maaf Pak Adam, saya izin ke toilet. Apakah boleh? " Kevin terus-menerus memegang dada sebelah kiri nya. Seolah-olah jantungnya bermasalah.
" Tidak bisa. Jika kamu seperti ini terus, kamu akan pindah kelas terus. Tetap duduk!! " ucap Pak Adam, guru musik yang terkenal paling sadis. Bahkan lebih sadis daripada guru matematika atau guru ips.
" Baik Pak. " Kevin duduk kembali, tapi masih memegang dada sebelah kiri nya.
Tepat pada saat itu Pak Wahyu, guru olahraga sekaligus wali kelas kami pun membuka pintu lalu masuk kedalam kelas.
" Pak Wahyu? Ada apa ya? " Pak Adam melirik kearah Pak Wahyu.
" Ah tadi anda dipanggil guru bahasa. Dan sekarang giliran pelajaran saya, Pak. " Pak Wahyu meletakkan buku-buku yang dibawanya ke atas meja guru.
" Ah baiklah. Terima kasih ya, Pak. " Pak Adam pun keluar dengan membawa barang-barang miliknya. Dan Pak Wahyu memulai pelajaran nya.
Pantas saja Pak Wahyu dijuluki sebagai guru paling baik, peka, penyayang, pengertian kepada muridnya. Bahkan para guru dan murid mengidolakan Pak Wahyu. Kenapa aku bilang begitu? Karena Pak Wahyu dengan pekanya langsung bertanya kepada Kevin.
" Kevin, kamu sakit? Wajahmu pucat lho. Lebih baik kamu ke UKS sana. " Pak Wahyu berjalan ke meja ku dan Kevin.
" Enggak usah pak. Saya baik-baik saja. "
Walaupun Kevin berkata seperti itu, tapi dia malah semakin pucat.
" Sudahlah, kamu ke UKS saja. Rara, tolong antarkan Kevin ke UKS, nanti bapak akan kesana setelah selesai mengajar. " Pak Wahyu tersenyum.
UKS
Aku duduk disebelah Kevin. Lalu Pak Wahyu pun masuk.
" Bagaimana keadaanmu, Kevin? " Pak Wahyu menempelkan telapak tangannya ke dahi Kevin.
" Saya sudah baik-baik saja Pak. Terima kasih.. " Kevin menundukkan kepalanya.
" Tidak masalah. Lagipula Pak Adam memang begitu. Lain kali katakan keadaanmu, Kevin. Ah sebentar lagi bapak harus masuk mengajar lagi. Rara dan Kevin, kalian tetap disini saja ya. "
Setelah itu Pak Wahyu pun pergi, meninggalkan kami berdua di UKS.
" Rara. "
Aku menoleh, melihat Kevin yang masih memegang dada sebelah kanannya.
" Aku menyukaimu. Bolehkah aku berada di sisimu selalu? Setiap hari kamu selalu berada di sisiku, kali ini aku ingin berada di sisimu. Membahagiakan kamu, pokoknya aku ingin berada di sisimu. Bolehkah aku menjadi pacarmu? "
__ADS_1
Kevin menatapku sambil tersenyum.
" Boleh. Tapi aku tidak ingin sekarang. Setidaknya setelah masalah keluargamu selesai. Bagaimana? " Aku sedikit tegang, melirik kearah Kevin.
" Hehehe sudah kuduga kamu akan berkata begitu. " Kevin pun tersenyum lalu mengelus kepalaku.
" Kamu ini ya!! " Aku malu setengah mati. Untung saja hanya ada kami berdua di UKS, jika tidak pasti akan ada kesalahpahaman.
Sementara itu di tempat Kio.
Kio sedang duduk sambil mengisi peluru pistolnya, lalu Steven masuk tiba-tiba.
" Haah.. Bisakah kau mengabari ku jika kau ingin datang? Kau membuatku seperti sedang diawasi tau. Seperti yang aku sering katakan padamu? "
Kio melirik kearah Steven dengan tatapan dingin dan senyum sinis nya.
" Hahaha sudah kuduga sih. Yah aku hanya ingin memberitahumu kalau ketua ingin kamu segera mendapatkan daftar itu. Dan kupikir kamu belum tau dimana lokasi daftar itu jadi... Daftar itu berada di sebuah diskotik. Aku bisa ikut denganmu, jika ingin. "
Steven memberikan foto diskotik itu.
" Biar ku tebak, kau ingin aku yang mengambil daftar itu sedangkan kamu enak enakkan minum-minum di sana? "
Kio menaruh pistolnya kedalam saku celananya.
" Enggak kok! Jadi kapan kita berangkat? "
Steven tersenyum lalu duduk disebelah Kio.
" Nanti malam. Kita kesana. " Kio melihat keluar jendela sambil lanjut meminum minumannya.
Malam harinya
*Aku akan ke rumahmu. Aku ingin kamu ikut aku.
Setelah menerima pesan itu, suara motor pun terdengar. Aku keluar dan melihat Kevin yang masih berada di atas motornya itu.
" Ra, temani aku sebentar, ya? " Kevin melajukan motornya.
Disuatu tempat
" Vin, ini dimana? " Aku bertanya kepada Kevin yang sedang melihat sekeliling tempat itu. Diskotik sepertinya. Seketika, beberapa orang mendorong Kevin hingga jatuh dan membawa kami berdua ke sebuah ruangan.
" Ini orangnya bos. " Pria yang membawa kami itupun memberitahu bos nya tentang kami. Lalu pria yang disebut bos itu berbalik.
" Bagaimana bisa, kau masih hidup? " Pria itu menarik kerah baju Kevin dan membanting Kevin, sementara aku ditarik ke sudut ruangan oleh anak buah nya itu.
" Bagaimana bisa, orang yang sudah ku bunuh beberapa tahun yang lalu masih hidup dan sehat begini? "
Pria itu kini mencekik Kevin, sementara Kevin berusaha melepaskan tangan pria itu dari lehernya.
" Tapi tak apa, aku hanya perlu membunuhmu lagi! "
Disaat yang tepat, Kevin menendang kaki si pria yang mencekiknya itu dan melepaskan diri tapi sayangnya pria itu mengambil sebuah tongkat dan memukul kepala Kevin hingga terjatuh. Pria itu memukul dan menendang Kevin hingga seseorang masuk ke ruangan.
" Siapa kau?! " Pria itu, yang sedang memukuli Kevin melirik kearah orang misterius itu.
Aku tak bisa melihat siapa dia, karena dia menggunakan hoodie hitam yang menutupi wajahnya.
" Dia klien VIP bos. " Salah satu dari anak buahnya itupun memberi tahu bos nya.
" Ah! Kau sepertinya tidak sabaran ya, tunggulah diluar. Maafkan aku atas kejadian ini. Mohon menunggu diluar. " Pria itu tersenyum lalu menyuruh orang yang mengenakan hoodie itu untuk keluar.
__ADS_1
Tiba-tiba pria misterius itu mengeluarkan pistol dari saku jaketnya dan mengayunkan tangannya kearah saklar lampu membuat ruangan menjadi gelap.
" Apa-apaan... Tangkap dia!! " Bos itu langsung menyuruh para anak buahnya untuk menyerang si pria misterius itu.
Pria misterius itu pun menembak jatuh para anak buah yang menyerangnya itu dan berakhir dengan lampu yang menyala dan pistol yang di todongkan kearah sang bos.
" Siapa kau? Apa yang kau mau? "
Keliatan jelas kalau bos itu sangat takut, dan tanpa aba-aba si pria misterius itu membuka hoodie yang menutupi wajahnya itu, memperlihatkan wajahnya.
...Kira-kira gitu deh ya ๐...
...Lanjut......
" Siapa kalian? Bagaimana bisa- " Bos itu belum selesai berbicara tapi dipotong oleh Kio.
" Kau tak perlu tau siapa aku, aku kesini karena ada yang aku inginkan.. "
Kio, dengan senyumnya itu menodongkan pistolnya dan membuat bos itu mengangkat tangannya.
" Apa yang kau inginkan? " Bos itu sontak bertanya, dan Kio hanya tersenyum.
" Daftar. Aku yakin kau memiliki daftar itu. "
Bos itu terlihat gugup, dan mengalihkan pembicaraan.
" Daftar apa? Apa yang kau maksud? "
Mendengar pertanyaan itu Kio hanya diam.
" Heh lucu sekali. Tentu saja daftar itu. Apa aku perlu memberitahumu sesuatu? Yang akan membuatmu memberikan daftar itu padaku? " Kio masih menodongkan pistolnya. Sementara Kevin pingsan.
" Aku tak tau apa maksud- "
Belum sempat bos itu melanjutkan kata-katanya, Kio langsung berbicara.
" Temanmu, Erza Dimas Saputra sudah mati. "
Bos itu terkejut, sementara Kio senang karena reaksi yang diberikan pria didepannya itu.
" Ah, daftar itu ya. Hahaha tunggu sebentar. " Bos itu langsung membungkuk dan membuka laci mejanya, mencari daftar yang dimaksud.
" Nah ini! Ini adalah daftar orang-orang yang menerima transplantasi organ. "
Bos itu memberikan sebuah amplop coklat kepada Kio. Dan tanpa diduga, setelah Kio menerima daftar itu, Kio menyudutkan bos itu ke sudut, lalu mengisi peluru pistolnya.
" Dasar gila! Aku sudah memberikan daftar itu, seharusnya kau membiarkanku! "
Bos itu terkejut karena Kio semakin menyudutkan nya.
" Dasar gila, kau berjanji- "
Belum sempat melanjutkan kata-katanya, bos itu ditembak oleh Kio.
Dorr!!
Bos itupun jatuh dengan darah dimana-mana. Kio pun berkata...
" Aku tak pernah berjanji akan apapun. "
__ADS_1