
Motor berhenti didepan rumah Kio. Lalu Kevin mengajakku turun dan berjalan kearah pintu. Kevin berusaha membuka pintunya tetapi pintunya terkunci.
" Terkunci. "
Kevin melihat sekeliling dan terlihat di dinding terdapat sebuah sensor yang sepertinya untuk membuka pintu itu. Kevin mendekati sensor itu dan memperlihatkan matanya. Dan pintunya terbuka.
" Pintunya terbuka!! Ayo masuk. "
Kevin dan aku masuk. Sangat sepi, dimana Kio?
" Sepi sekali... Apa Kio tak ada disini? " Kevin bergumam, tetapi karena aku berada didekatnya aku bisa mendengar apa yang dia katakan.
Kami pun mengecek sekeliling. Kami mengecek dapur, sangat rapi tapi tidak ada apa-apa di sana. Kami mengecek ke lantai atas, di lantai atas ada sebuah kamar yang dikelilingi kaca sehingga kami bisa melihat kedalam kamar itu, dan lagi-lagi tidak ada apa-apa di sana. Kami turun dan Kevin melihat sebuah pintu terdapat di dekat dapur.
" Pintu apa itu? "
Kevin berjalan mendekat lalu membuka pintu itu. Aku dan Kevin berada di ruang bawah tanah, kami pun menuruni tangga yang ada di dekat situ dan aku melihat ruangan saat aku diculik oleh Kio (Baca eps 13).
Kevin sudah jalan ke lorong yang berada diseberang ruangan bawah tanah itu. Lalu tiba-tiba...
" Rara, cepat kesini! Kio... Kio!! "
Aku langsung berlari ke tempat Kevin dan saat aku sampai, terlihat Kevin sedang berusaha menggendong Kio. Terlihat wajah Kio pucat, dan tangannya dalam keadaan memegang perutnya. Bajunya terlihat warna merah darah disekitar perutnya yang ditutupi oleh tangannya.
Kevin mengangkat Kio dan membawa Kio ke kasur tempat aku diculik oleh Kio dulu. Kevin membuka baju Kio dan terlihat luka yang cukup dalam seperti, luka tusuk karena pisau bedah? Dan darah masih mengalir.
" Aku akan coba untuk menutup lukanya. Rara, tolong bantu aku, ya? "
Kevin langsung mengambil beberapa alat yang berada di dekat situ. Dan saat itu lah aku melihat ponsel milik Kio yang berada di saku celananya.
Aku mengambil ponselnya dan terlihat nama orang yang sering menghubungi Kio.
Steven.
Aku terkejut melihat namanya, tapi aku ingin tau apa Steven ini adalah Steven menyebalkan yang ngaku-ngaku itu? Dan mungkin Steven akan menceritakan hal yang tidak kami ketahui. Jadi setelah aku melirik Kevin dan Kevin mengangguk, aku meneleponnya.
Sementara Steven
Steven berada didalam mobilnya dan melihat bahwa rekannya, Kio menelepon. Steven tersenyum sinis, lalu mengangkat teleponnya menggunakan headset.
Kembali ke Rara dan Kevin
__ADS_1
Panggilan pun dijawab, dan terdengar suara Steven dari seberang sana.
" Heh kamu baru sadar sekarang ya, kalau aku membawa Kirana Gafrilia. Maaf deh itu perintah ketua, aku terpaksa membawanya. Padahal aku sudah membawanya dari tadi tapi kamu baru menelepon sekarang. Oh iya aku menuju ke tempatmu ya. Bersiaplah karena kau perlu mengunjungi Ketua dan Nona Riska. "
Steven menjelaskan, sedangkan aku dan Kevin sedikit beradu mulut karena pasti aneh jika tidak ada yang bicara.
" Bicaralah. " Aku meminta kepada Kevin sambil berbisik. Setelah diam yang cukup lama, akhirnya Kevin berbicara.
" Kirana. Dimana Kirana? " Kevin langsung mengatakan intinya.
" Heh jangan terburu-buru, kita bicara nanti. Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Bersiap ya, kau perlu bertemu dengan Ketua dan Nona Riska. "
Setelah Steven mengatakan itu, telepon terputus. Lalu Kevin menerima telepon dari bang Jefri.
" Halo bang? " Kevin dengan ragu menyapa. Sambil merapikan luka milik Kio.
" Vin... Vin, adek gue. Adek gue hilang!! Gue gak tau dia dimana, gue gak tau apa yang terjadi padanya... Gimana kalau Kirana kenapa-napa?! "
Aku masih bisa mendengar suara bang Jefri yang berteriak kesal bercampur sedih karena volume suara ponsel milik Kevin dinyalakan.
" Bang, gue janji gue bakal nemuin Kirana dan membawanya pulang. " Kevin masih ragu-ragu, khawatir bang Jefri akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Kudengar suara bang Jefri sudah sedikit tenang. Setelah itu bang Jefri pun menutup teleponnya.
" Apa yang harus kulakukan? "
Baru kali ini aku lihat Kevin yang kebingungan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Berbeda sekali dengan Kevin Alexa Putra yang dulu aku tau, yang terlihat seperti anak berandal, apalagi anggota geng motor juga.
" Oke, aku sudah memutuskan. Aku akan berpura-pura menjadi Kio! "
Kevin berjalan menuju tangga, tapi aku menahan tangannya.
" Apa yang akan kamu lakukan?! Itu akan membahayakan dirimu!! "
Jujur aku khawatir. Khawatir Kevin kenapa-napa, walaupun aku tau dia akan baik-baik saja.
" Ra, Steven itu sudah menuju kesini. Akan aneh jika tidak ada siapa-siapa disini. Jadi aku akan berpura-pura menjadi Kio. " Kevin melihat Kio yang masih berbaring di kasur.
" Oke, itu gak apa. Tapi gimana kalau Steven curiga padamu bahwa kamu bukan Kio? " Aku masih merasa khawatir bahkan setelah Kevin mengatakan bahwa dia hanya berpura-pura untuk kedatangan Steven itu.
" Karena itu, aku harus melakukan ini. " Kevin menundukkan kepalanya.
__ADS_1
" Tunggu, melakukan apa? "
Harus melakukan ini? Harus melakukan apa? Dan tanpa aku duga Kevin mengambil sebuah pisau bedah yang ada didekat sana lalu menusukkan nya kearah perut bagian bawah kiri.
" Kevin!! "
Aku langsung menghampiri, dan berusaha melepas tangan Kevin yang masih memegang pisau bedah yang sekarang sudah tertancap di perutnya itu.
" Khawatir nih? Lagipula kalau gak begini, pasti bakal dicurigai seperti katamu. Dan lagi luka Kio adalah luka tusuk, dan menggunakan pisau bedah juga, jadi sama kan? Akh... "
Kevin yang terduduk lemas, kini berusaha bangun lalu duduk di kursi yang berada di dekat sana dan menjahit lukanya sendiri.
" Kamu gak apa-apa?! Lukamu mengeluarkan banyak darah tau!! " Aku berjalan kearah Kevin sambil membawa kotak P3K.
" Iya sih, gak apa-apa kok. Lagipula aku bisa kok jahit lukanya sendiri. "
Kevin pun menyelesaikan jahitan nya dan menutup lukanya menggunakan perban.
" Sudah, kalau begini setidaknya aku tidak akan dicurigai. Aku ke atas ya! " Kevin berjalan menuju tangga tapi aku lagi-lagi menghentikannya.
" Tunggu. Ini, bawa dua benda ini. "
Aku memberikan ponsel milik Kio dan pistol milik Kio. Aku khawatir jika Steven mencoba menelepon Kio yang ternyata adalah Kevin tidak diangkat teleponnya. Dan siapa tau Kevin memerlukan pistol itu.
" Hehehe makasih ya. Tetaplah disini apapun yang terjadi ya, lebih aman kamu disini daripada di luar. " Kevin mengelus kepalaku dan tersenyum, lalu berjalan menuju ruang tengah.
...Jangan lupa like, comment, vote dan favorit ya❤❤❤...
...Bonus...
...Kirana Gafrilia Cantika Apriliani...
...(Umur 10 tahun, kelas 4 SD)...
...Jefri Gafril Alexander...
...(Umur 18 tahun, kelas 2 SMA)...
__ADS_1