
Setelah telepon terputus, Aku, Panji, Kirana, dan bang Jefri pun masuk.
" Tante, Kevin lagi di rumah sakit muhammadiyah, dia terluka. "
Panji langsung mengatakan intinya yang membuat aku, Kirana dan bang Jefri terkejut.
" Apa?! Kevin, terluka karena apa? Tante tau Kevin terluka, tapi apa sangat parah sampai-sampai ke rumah sakit? "
Dokter Melisa mendekati kami, sementara Bang Jefri melanjutkan perkataan Panji.
" Lumayan parah tante. Kalau terluka karena apa, itu karena.. "
Bang Jefri ragu-ragu mengatakannya, lalu di lanjut setelah Dokter Melisa menyuruh Bang Jefri untuk melanjutkan nya.
" Karena.... Kevin bertemu dengan Kio. Kio berusaha menculik Kirana tapi Kevin tahan. Akibatnya Kevin sekarang terluka sedangkan Kio, aku tak tau... "
Setelah Bang Jefri mengatakan itu, keadaan menjadi sepi. Lalu Dokter Rizki menyahut.
" Kalau begitu kita harus ke rumah sakit sekarang!! "
...****************...
Kami pun menuju kamar pasien Kevin. Setelah sampai, terlihat Kevin sedang mengobrol dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu pun menoleh kearah kami.
" Angga? "
Dokter Melisa dan Dokter Rizki terkejut melihat keponakannya ada di sana bersama Kevin.
" Eh om, tante.. Iya, aku temenin Vivin. "
Kevin sontak memukulnya pelan ketika mendengar panggilan dirinya yang aneh.
" Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan panggilan itu kak Angga! "
Semuanya hanya tertawa, kemudian dua orang dokter masuk, membuat semuanya terkejut.
" Anna, Rizal? Ini aku tidak bermimpi kan? " Dokter Rizki memeluk dokter yang mirip dengan Kio dan Kevin itu.
" Tenang, bukan mimpi kok. Ceritanya panjang jadi- Oh ya, kamu Rara ya? Bisakah kamu keluar sebentar? Dan temannya? Maaf tapi ini masalah keluarga. "
Aku mengangguk lalu menuju pintu.
" Ayah, aku akan menemani Rara. Lagipula kan aku juga sudah tau. "
Setelah itu kak Angga pun keluar.
Di ruang tunggu rumah sakit
__ADS_1
Di sana hanya ada aku. Panji pergi keluar sebentar karena dia di telepon kakaknya, walaupun saat dia pergi, ia terlihat jengkel karena kakaknya meneleponnya terus menerus.
Aku melihat kak Angga berjalan lalu duduk di samping ku.
" Kamu Rara ya? Kenalin, namaku Angga Alexa Ramadhan. Kamu bisa panggil aku Angga, salam kenal ya.. "
Kak Angga menyodorkan tangannya padaku, mengajak berjabat tangan dan aku membalasnya.
" Iya kak, aku Rara. Salam kenal juga kak. "
Kak Angga tersenyum. Kenapa seluruh keluarga Kevin, entah Dokter Rizki, Dokter Melisa, Dokter Rizal, Dokter Anna, Kevin, Bang Jefri, Kirana, bahkan kak Angga senyumnya manis banget? Kecuali Kio yang senyumnya sinis banget.
" Aku denger dari Kevin. Karena kamu, tante dan om, maksudku orang tuanya Kevin itu jadi kembali lagi ya sama Kevin? Thanks ya. Oh iya, makasih juga karena kamu, Kevin setidaknya ingat kalau dia punya saudara kembar, dan masih ingat aku tentu saja. "
Aku terkejut ketika mendengar cerita Kak Angga. Kevin menceritakan semuanya?
" Eh iya kak, sama-sama. " Aku tersenyum, lalu kak Angga lanjut berbicara.
" Dulu Kevin gak punya temen yang dekat dengannya. Karena itu aku senang dia punya teman yang baik sepertimu. "
Aku hanya tersenyum, sedangkan kak Angga menatapku.
" Besok Kio ingin kesini ya? Wah wah sifatnya sudah berubah ya. "
Aku terkejut, darimana kak Angga tau? Walaupun di beri tau Dokter Melisa dan dokter Rizki, tapi kan yang tau sifat Kio yang sekarang hanya aku, Kevin dan Panji.
" Kevin yang kasih tau, tenang aja. "
Kak Angga memainkan jam miliknya, lalu panggilan telepon masuk ke ponsel Kak Angga.
" Halo? Ayah, kenapa sih kan bisa keluar. Haah?! Oh astaga, iya iya. Oke, aku kesana. "
Kak Angga pun berdiri lalu menghadap ke arahku.
" Ra, ini nomor SNS aku. Aku sebenarnya masih pengen ngobrol sama kamu, cuma ayah menyuruhku untuk memarkirkan mobilnya. Lagi-lagi ayahku lupa memarkirkan nya di depan rumah sakit, padahal harusnya ke parkiran bawah tanah.. Kamu masuk duluan aja, ayahku udah selesai bicara pribadi nya. Bye. "
Kak Angga pun berjalan menuju lift, tapi menoleh lagi ke arahku.
" Oh iya Ra, jangan terlalu memikirkan apa yang akan terjadi besok. Jalani saja hari ini dulu, besok urusan lain. Tidak peduli apa yang akan terjadi besok, jangan terlalu dipikirkan. Oke? Berjanjilah, jangan terlalu memikirkan besok. "
Setelah berkata itu Kak Angga pun masuk ke dalam lift, menuju parkiran bawah tanah.
...****************...
Panji
Panji berjalan keluar dari rumah sakit, lalu bertemu dengan seorang perempuan yang cukup cantik.
" Mau kemana? " Tanya perempuan itu, sambil berjalan disamping Panji yang mengabaikannya.
__ADS_1
" Ada apa sih? Lo menghalangi jalan, Ayu. "
Dan terlihat perempuan disamping Panji adalah Ayu.
Di seberang rumah sakit muhammadiyah, tepatnya di minimarket, terlihat tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan mengikuti Ayu. Siapa lagi kalau bukan Tegar, Miftah, Rangga, Sherly dan Syahrin.
" OMG, siapa cowok disebelah Ayu?! "
Sherly menatap Ayu dari kejauhan, tapi tentu saja Tegar, Miftah dan Rangga terkejut melihat siapa cowok disebelah Ayu ternyata adalah sahabat mereka sendiri yaitu Panji.
" Gila... Gar, dia Panji kan? Panji Maulana? " Tanya Rangga.
" Iya, dia Panji Maulana temen kita. " Jawab Tegar yakin tidak yakin.
Terlihat dari seberang, Panji masuk kedalam mobil, meninggalkan Ayu di sana.
Di ruang pasien
" Yah intinya yang di bunuh oleh mereka hanya kloning. Jadi tentu saja aku selamat. "
Sementara Dokter Rizal bercerita, yang lain hanya terdiam. Tidak menduga.
" Terus kenapa selama ini kau gak kasih tau aku?! "
Teriak Dokter Rizki yang membuat suasana jadi menyenangkan dan tidak tegang dan sunyi.
" Hehehe kukira kamu tau. "
Dokter Rizal tersenyum, sementara Dokter Rizki menahan emosinya karena dicubit dokter Melisa.
" Lalu selama ini om kemana? Kan itu kejadian beberapa tahun lalu, dan bahkan tak memberitahu siapapun. "
Tanya Bang Jefri yang membuat Dokter Rizal tertawa.
" Hahaha iya juga ya, aku belum cerita bagian itu. Ekhem, jadi selama itu aku pergi ke Amerika Serikat... "
Sontak terdengar teriakan protes dari Dokter Rizki, Dokter Melisa dan Dokter Anna.
" Apa?! Kenapa gak ajak-ajak sih?! "
Protes Dokter Rizki sambil menahan sakit karena masih dicubit dokter Melisa.
" Oh.. Jadi selama ini kami khawatir padamu, dan kamu malah enak-enak ke Amerika ya? "
Dokter Anna pun membalas dengan memukul pelan dokter Rizal.
" Hehehe, tapi jangan salah paham. Aku di sana gak enak-enakan tau. "
Dokter Rizal menyanggah tapi langsung dipukul serentak oleh istri dan adiknya.
__ADS_1
" Astaga... Mereka seperti anak kecil jika sedang bersama. "
Bang Jefri, Dokter Melisa dan Kevin hanya menghela nafas melihat tingkah laku mereka yang konyol.