
(Ini cerita sudut pandang Kio)
Beberapa tahun yang lalu, di perusahaan Residence.
Ruang bawah tanah
Aku sedang tertidur pulas saat itu, sedangkan kakakku, Kevin sedang mencoret-coret buku di ranjang samping ku.
" Kio, bangun yuk, udah pagi nih. "
Suara perempuan yang ku sayangi itu membuatku terbangun.
" Hoaammm... Kio masih ngantuk, boleh ya tidur lagi, dokter Anna? "
Aku menatap dokter Anna yang tersenyum manis kepadaku.
" Emangnya Kio kemarin tidur jam berapa? "
Aku tiba-tiba dag dig dug, karena jika dokter Anna dan yang lain tau aku atau Kevin tidur terlalu larut, bisa-bisa kami di ceramahi lagi.
" Jam 6. Setelah minum obat, aku langsung tidur kok. Tapi Kio masih ngantuk. "
Kami juga biasa diberi obat, entah obat apa itu tapi kami tetap minum saja, daripada mendengarkan ceramah panjang dari Dokter Rizal.
" Yasudah hari ini kan dokter Anna, dokter Rizal, dokter Melisa sama dokter Rizki mau ajak jalan-jalan. Yasudah dokter Anna bilang ke dokter Rizal kalau Kio gak ikut. "
Seketika aku langsung bangun dan langsung mengambil gelas minum ku. Bersiap untuk minum obat.
" Nah gini dong, minum obat dulu ya. Ini punya Kevin, ini punya Kio. "
Aku dan Kevin langsung meminumnya dan langsung memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada dokter Anna.
" Dokter, aku mau tanya. Dokter Rizki dan Dokter Melisa itu orang tua kami kan? Kalau begitu Dokter Rizal adalah om kami, dan dokter Anna adalah tante kami dong? "
Kevin tersenyum dengan mata berbinar. Sedangkan Dokter Anna hanya tersenyum sembari mengacungkan dua jarinya, membentuk peace (โ).
" Yap dan dokter adalah istri dokter Rizal, jadi bisa dibilang dokter adalah tante kalian! "
Dokter Anna sambil mengedipkan mata nya berbicara. Selang beberapa menit, beberapa orang turun ke bawah tanah.
" Anna, kamu gak capek disini terus? "
Dokter yang lumayan tampan dan tinggi itu berjalan mendekati dokter Anna, sedangkan dua dokter lainnya mendekati kami.
" Wah, Kio dan Kevin udah bangun. Pasti dokter Anna bangunin kalian ya? "
Kami mengangguk pelan mendengar pernyataan itu.
" Dokter Melisa, Dokter Rizki, Dokter Anna, Dokter Rizal. "
Keempat dokter itu menoleh, menatap kami yang mulai menanyakan pertanyaan bertubi-tubi lagi.
" Kan dokter Melisa dan dokter Rizki adalah orang tua kami, berarti dokter Anna dan dokter Rizal adalah om dan tante kami dong??? "
" Iya, ada apa emang? "
Sambil tertawa, dokter Melisa mengacak-acak rambutku dan rambut Kevin.
" Kalau begitu, apakah kami boleh memanggil kalian ayah, ibu, om dan tante? Karena anak-anak lain disini punya ayah, ibu, om dan tante, karena itu kami dijauhi. "
Aku mengatakan terus terang, membuat keempat dokter itu melongo seketika.
" Hah?! Kalian dijauhi?! Sama siapa?! Sini ayah hajar!! "
Dokter Rizki mengangkat lengan kemeja dokternya, seolah-olah siap berkelahi. Membuat kami semua tertawa.
" Jadi, apakah boleh? " Tanya ku, masih menantikan jawaban keempat dokter itu.
Dokter Melisa dan dokter Rizki mencubit ku dan mengacak-acak rambutku lagi.
" Tentu boleh, kan emang harusnya kalian panggil kami begitu. "
Dokter Rizki tersenyum kepadaku, memperlihatkan giginya yang rapi dan berwarna putih bersih.
" Baik! Terima kasih ayah, ibu, om, tante! "
Kompak, aku dan Kevin mengacungkan jari jempol kami dan tos bersama dokter Rizki.
__ADS_1
" Yasudah, ayo kita jalan-jalan. Mumpung om, tante sama orang tua kalian lagi libur seminggu. Ayo, mau kemana? "
Dokter Rizal menggendongku, sementara Kevin digendong oleh Dokter Rizki.
" Kemana aja! Yang penting sama ayah, ibu, om dan tante. "
Kami pun berjalan menuju tempat parkir dan masuk kedalam mobil milik dokter Rizal.
Kami pergi ke alun-alun kota Bandung, lalu ke lapang lodaya, dan menuju masjid mujahidin sambil makan batagor di pinggir jalan. Benar-benar menyenangkan.
" Om, tante, ayah, ibu, apakah kalian cita-citanya jadi dokter? "
Kevin bertanya lalu tersedak akibat bicara saat makan.
" Enggak sih, dulu om kalian malah mau jadi pilot. Hahaha!! "
Dokter Rizki tertawa sembari menahan tangan Dokter Rizal yang sudah memukulnya.
" Kalau tante sih, jadi chef. Sebenarnya tante udah jadi chef, cuma bantuin om kalian itu tuh. "
Dokter Anna menunjuk Dokter Rizal yang masih gelud dengan dokter Rizki.
" Hey jadi ini salahku, gitu?! "
Kami semua tertawa. Ada-ada saja tingkah keluarga kami.
" Tunggu, Angga dimana? "
Dokter Rizal melirik kanan-kiri, mencari anaknya, Angga Alexa Ramadhan. Lebih tua 3 tahun dari aku dan Kevin.
" Ayah, ibu!! Jahat ih, ninggalin Angga di mobil!! "
Kak Angga pun datang dan langsung mengambil batagor milikku.
" Kak Angga! Itu punya Kio tau! "
" Ya kamu sih, tidur pas dijalan. Di bangunin, gak bangun-bangun kamu, kak. "
Dokter Rizal yang sudah selesai makannya itu pun mengajak aku, Kevin dan kak Angga keliling sambil menunggu yang lain.
" Eh Vin, bukannya itu tante Angel ya? "
" Tante!! "
Kami sontak berteriak, membuat tante Angel menghampiri kami.
" Eh Kio, Kevin, apa kabar nih? "
Tante Angel memeluk kami, dan kulihat kak Jefri dan Kirana berdiri di samping tante.
" Lho, Angela ya? "
Dokter Rizal mengelus rambut Kirana dan kak Jefri, dan langsung tante jawab.
" Iya kak. Oh iya, kak Melisa mana ya? "
Dokter Rizal menunjuk ke arah ibu. Dokter Rizal juga mengajak kami untuk kembali, dan bertemulah ibu dengan tante Angel.
...****************...
Kami pun mengelilingi kota Bandung, setelah itu kami pulang saat sudah gelap. Tentu saja, pulang ke rumah sakit Residence menyebalkan itu.
Mungkin kami kelelahan, jadi dalam perjalanan pulang aku dan Kevin tertidur pulas tapi aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
" Ayah, apa Kio dan Kevin akan tidur di ruang bawah tanah lagi? "
Kak Angga bertanya kepada Dokter Rizal yang sedang menyetir itu.
" Iya kak, emangnya kenapa? "
Kak Angga hanya melirik kami sekilas lalu berkata.
" Aku ingin tidur di ruang bawah tanah juga! Kasihan mereka hanya berdua. Lagipula Jefri sama Kirana kok enggak di ruang bawah tanah? Masa cuma Kio dan Kevin yang di ruang bawah tanah? "
Dokter Rizki pun mengelus kak Angga pelan.
" Iya, boleh kok kalau kak Angga mau. Kalau soal Jefri dan Kirana gak bisa, itu karena mereka gak harus dirawat, jadi mereka ya di rumah mereka. "
__ADS_1
Aku yang sebenarnya sudah terbangun, pura-pura tertidur karena kak Angga melirik kearah kami, nanti dikira aku menguping pembicaraan.
" Tapi kenapa hanya Kevin dan Kio yang di ruang bawah tanah? Pasien anak-anak yang lain tidak di ruang bawah tanah. "
Sebenarnya, aku juga heran sih. Kenapa hanya kami berdua yang di ruang bawah tanah?
Setelah sampai pun, aku dan Kevin disuruh turun ke bawah tanah lalu lanjut tidur lagi, tapi kulihat kak Angga datang dengan membawa bantal dan selimut miliknya.
" Kak Angga ngapain? Kan kamar kakak di atas. "
Kevin yang habis dari kamar mandi itu pun langsung naik keatas ranjang dan menatap heran Kak Angga.
" Aku mau tidur disini, bareng kalian. Sepi tau di kamar aku. "
Kak Angga membuka ranjang lipat di samping ranjang kami, lalu meletakkan bantalnya.
" Yuk tidur. Aku ngantuk nih. Besok, kita main mobil-mobilan punya aku mau gak? "
Kak Angga menunjuk sebuah kotak kardus di bawah tangga. Kami mengangguk dan bersiap tidur, lalu mematikan lampu sebelum akhirnya kami tertidur.
...****************...
Sementara itu, di ruangan Dokter Rizal
" Ada yang mau aku bicarakan. Ini terkait tentang Kio, Kevin, Angga dan kita semua. "
Dokter Rizal yang duduk di kursi miliknya itu menatap keluarganya. Istrinya, adiknya, dan adik ipar nya.
" Tumben, ada apa nih Zal? "
Dokter Rizki duduk di sofa ruangan dokter Rizal, sambil meminum segelas kopi.
" Jadi gini, aku langsung ke intinya ya. Jadi, Direktur perusahaan ini, mengincar kita semua. "
" Lah? Kok kita? Kok kita diincar? Terlebih sama direktur? Apa yang dia inginkan dari kita? " ucap Dokter Rizki.
Semuanya serentak melihat Dokter Rizki sedangkan Dokter Rizal pun menyela.
" Bisakah kamu diam dulu, Dokter Rizki Alexa? Saya ingin bicara. "
Semuanya pun seketika diam dan mengangguk. Mempersilahkan Dokter Rizal untuk berbicara.
" Yah, selama ini aku melihat direktur. Dia berencana untuk menangkap Kio dan Kevin untuk percobaan apapun itu. Menangkap kita, karena satu, kita berempat yang membuat Kio dan Kevin, dan dua, kita dokter pertama di Indonesia yang membuat kloningan manusia. Karena itu, aku sedikit khawatir dengan Kio dan Kevin. "
Semuanya diam, tidak percaya dengan perkataan Dokter Rizal.
" Dan beberapa kali aku lihat bawahan direktur hendak turun ke ruang bawah tanah. Untung saja aku langsung datang, jadi bawahan itu langsung pergi. Jadi aku juga semakin khawatir karena itu juga. "
Dokter Rizal termenung, menunggu yang lain bersuara, tapi tidak ada yang berbicara satu pun, dokter Rizal pun melanjutkan.
" Jadi aku ingin kita pergi dari sini. Bagaimana pun caranya. Rizki, Melisa, tolong jaga keponakanku, Kevin dan Kio ya? Melisa, beritahu Angel untuk jaga Jefri dan Kirana. Anna, tolong jaga anak kita, Angga. "
Dokter Rizal tersenyum lalu memakai jas dokter miliknya.
" Terus kamu gimana, Zal? Kamu gimana? "
Dokter Rizal hanya tersenyum mendengar kekhawatiran Dokter Rizki. Ia memberikan sebuah pulpen kepada Dokter Rizki.
" Aku tetap disini. Kalian aja yang pergi. Kalau ada info, aku akan memberitahu kalian. Jika bawahan direktur mencari kalian, aku akan menahan mereka semua. Pergilah, karena itu aku ingin kalian jaga Kio, Kevin, dan Angga tentunya. "
" Oh iya Ki, pulpen ini pokoknya bongkar bongkar aja deh, aku gak bisa jelasin. Aku kasih ke kamu, nih. Lebih baik kalian pergi sekarang, keluar lah. Aku tidak ingin kalian kenapa-napa. "
Dokter Rizal mendorong pelan Dokter Rizki, Melisa dan Anna menuju pintu keluar.
" Makasih untuk semuanya, Zal. Kamu saudara terbaikku. "
Dokter Rizki pun keluar, menunggu Melisa dan Anna di luar.
" Terima kasih, kak Rizal. Aku dan Rizki akan menjaga Kevin dan Kio. Terima kasih. " Dokter Melisa pun keluar juga.
" Rizal, makasih ya udah mau jadi pacar aku, bahkan menikah denganku. " Dokter Anna pun keluar.
" Rizki, Melisa, Anna, tolong jaga Kio, Kevin dan Angga. "
Dokter Rizal pun memeluk masing-masing lalu menyuruh mereka semua pergi setelah itu.
...****************...
__ADS_1
Setelah Dokter Rizki, Melisa dan Anna keluar, Dokter Rizal pun keluar. Hingga tiba-tiba ada tiga pasien yang membekap mulut Dokter Rizal, membuat dokter Rizal tak sadarkan diri.