Alexa'S Twins : Different World

Alexa'S Twins : Different World
Episode 23


__ADS_3

Panji pun mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Residence dan menuju ke kamar Riska.


Terlihat Riska sedang memainkan ponselnya dan langsung diambil oleh Panji. Panji menahan tangan Riska, lalu melihat ponsel Riska, ternyata dia sedang mengobrol dengan ketua.


...SNS...


^^^*Ketua, aku ada pekerjaan untukmu^^^


*Apa itu, nona?


^^^*tolong culik Kiora Alexa, Kevin Alexa, dan kak Panji^^^


*Bahkan tuan muda?


^^^*Tentu saja, dia sudah mulai menggangguku^^^


^^^*Cepat lakukan^^^


*Baik, nona.


...SNS end...


Panji dengan kesalnya meremas ponsel itu hingga retak dan mencekik Riska.


" Kak, lepasin. "


Panji dengan kesalnya mencengkram tangan Riska hingga Riska kesakitan.


" Dimana Kirana Gafrilia? "


Riska sontak terkejut, bagaimana mungkin Panji tau tentang Kirana?


" Bagaimana kakak- "


Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Panji pun langsung menampar Riska.


" Dia adek temen gue. Puas lo? Sekarang, katakan dimana Kirana Gafrilia... "


Riska memegang pipi nya yang memerah akibat tamparan Panji dan langsung menjawab.


" Di kamar pasien, lantai 3 nomor 20. "


Panji pun berlari menuju kamar pasien yang disebut oleh Riska tadi. Meninggalkan Riska di sana yang masih terdiam.


...****************...


Panji sudah berada di kamar pasien yang Riska katakan dan berusaha membuka pintunya tapi sayangnya dikunci.


" Ck, dikunci. "


Panji pun mendobrak pintu itu. Beberapa kali Panji mendobrak pintu itu bahkan hingga tangannya berdarah dan akhirnya bisa. Panji masuk dan melihat Kirana sedang duduk menatap jendela.


" Ayo ikut aku. Aku temen kakakmu, ayo ikut. "


Kirana pun ikut bersama dengan Panji. Hingga saat keluar, terlihat ada ketua yang menghampiri.


" Maaf tuan muda, tapi anda tidak boleh membawanya. "


Ketua berbicara sopan, namun melirik sinis kearah Kirana yang bersembunyi ketakutan dibalik punggung Panji.


" Kenapa? Ada masalah? "


Panji melihat Kirana yang takut kepada ketua dan bersembunyi dibalik punggung Panji. Ketua pun menjawab.


" Dia tidak boleh bersama anda, dia mengidap penyakit mematikan. Jadi dia harus tetap berada di ruangan pasien. "


Mendengar itu Panji tertawa sinis lalu menunduk dan membisikkan sesuatu kepada Kirana.


" Sebentar ya, kamu tunggu disini. "


Kirana mengangguk, lalu Panji pun mulai mendekati ketua.


" Penyakit ya.. Yang mengidap penyakit mematikan adalah kau! "


Panji secepat kilat mengeluarkan sebuah suntikan dan menyuntikkan nya tepat ke leher ketua, membuat ketua tidak bisa bergerak lagi.


" Lepaskan aku! Tuan direktur pasti akan menghabisi mu!! "


Panji pun membawa ketua kedalam kamar pasien milik Kirana lalu berkata.


" Direktur? Aku tidak takut. Akan ku buat direktur tua itu berlutut kepadaku. Tidak peduli, dia ayahku atau bukan. "


Setelah itu Panji mengunci pintunya, membiarkan ketua didalam sana. Panji pun berjalan menuju basement.


...SNS...


...Devandra...


*Panji, lo masih di sana?

__ADS_1


^^^* Tentu saja masih, ini mau ke rumah Jefri. Ada apa? ^^^


*Jefri bilang tolong jangan pergi dulu. Sepupu dia, namanya Kevin ada di sana. Tolong bawa dia pulang juga.


^^^*Hah? Oke, baiklah^^^


*Makasih, Panji


^^^*Iya, sama-sama^^^


...SNS end...


" Oke, kamu mau ikut atau tetap disini? " Panji berlutut dan menatap Kirana.


" Ikut kakak. "


Akhirnya Panji dan Kirana pun mencari di mana Kevin berada.


...****************...


Kevin bingung apa yang harus dilakukan, karena tiba-tiba Riska memberikan sebuah buku dan pulpen, meminta Kevin untuk menuliskan nama-nama orang yang berada di dalam daftar itu (episode 16).


*Apa yang harus kulakukan? Daftar.. Apakah daftar yang waktu itu? Apa isinya dan kenapa perempuan ini mencari itu? Kio kau membuatku bingung!! Aha, aku ada ide! * Batin Kevin.


" Kenapa bengong? Kau kan hanya perlu menuliskannya. " Riska melirik kearah ketua.


" Tidak perlu repot-repot, aku yang akan membunuh orang orang yang berada dalam daftar itu. Kau hanya perlu melihat. Bagaimana? "


Kevin tersenyum sinis dan kini berpikir, apa yang akan ia lakukan jika rencana dia tidak berhasil?


" Hmm... Ide bagus. Baiklah, kuserahkan padamu, Kiora Alexa. "


Riska tersenyum sambil memberikan kode pada ketua.


" Baiklah, kalau begitu bisa kah kau melepaskan Kirana? "


Di saat itu, Riska seperti menerima sesuatu dari ketua.


" Oh tentu saja. Sesuai janji. "


Riska mengambil minum miliknya dan memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu lalu Kevin berkata.


" Sudahlah, tak ada lagi yang ingin kau bicarakan bukan? Kalau begitu aku permisi. "


Kevin beranjak dan hendak pergi tapi ia membalikkan badan sambil tersenyum sinis.


" Oh iya, satu hal lagi. Jangan coba-coba melukai Kirana dan keluargaku. Jika kau melakukannya, akan ku pastikan kau mati di tempat. " Kevin hendak pergi tapi ditahan oleh ketua.


Dengan dinginnya Kevin menyuruh ketua untuk minggir, tapi tak berhasil.


" Biarkan dia pergi. Lagipula keuntungan ada di pihak kita. "


Setelah mengatakan itu, ketua pun menyingkir dan Kevin pun beranjak keluar.


" Tenang saja, aku akan membunuh mereka semua, orang-orang yang berada dalam daftar itu. Kau hanya perlu menonton dari sini. "


Setelah itu Kevin pun keluar dan melihat Steven yang bersandar di dinding.


" Ayo. Aku muak berada di tempat ini. " Kevin dan Steven pun melenggang menuju lift.


...****************...


Saat menunggu lift, Steven menelepon ponsel Kio, tapi Kevin membawa ponsel Kio sehingga ia bisa melihat siapa yang meneleponnya.


" Untuk apa kau menelepon seseorang yang berada tepat di samping mu? "


Steven pun meminta maaf dan mengatakan kalau dia hanya iseng. Lalu Steven meraba saku celana Kevin, membuat Kevin terkejut dan langsung berseru.


" Apa yang kau lakukan?! "


Steven mengabaikan seruan Kevin dan membuka perban yang terletak di perut bawah bagian kiri Kevin, terlihat sebuah luka tusuk.


" Kau, beneran Kiora kan? "


Steven pun memukul Kevin. Kevin tidak seperti Kio yang pandai berkelahi, akibatnya Kevin terjatuh dan terkena pukulan berkali-kali.


Tepat pada saat itu Panji datang dan menendang Steven hingga Steven tersungkur.


" Lo gak apa-apa? Ayo. "


Panji menarik tangan Kirana dan Kevin menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Steven yang tersungkur di dekat lift.


" Gue Panji. Panji Maulana, nama lo? "


Tanya Panji sambil mengemudikan mobilnya.


" Kevin. Kevin Alexa Putra. "


Panji sontak terkejut ketika mendengar jawaban Kevin.

__ADS_1


*Jadi dia... Kembaran Kiora Alexa? Dan sepupu Jefri? "


Panji sesaat melamun lalu sadar kembali saat Kirana memanggilnya.


Tiba-tiba di belakang mobil Panji terlihat ada sebuah mobil yang melaju sangat cepat hingga menabrak mobil Panji.


Braaakkk!!!


Semua terluka, dari mobil pelaku yang menabrak mobil Panji tadi, Kio keluar dan berjalan menuju mobil Panji. Berusaha menculik Kirana lagi, tapi dihentikan oleh Panji.


" Hentikan bro! "


Kio langsung menarik Panji keluar dari mobil dan memukulinya berkali-kali. Kio pun mencekik Panji, membuat Panji sulit bernafas dan bergerak.


" Hahaha... Ada apa nih? Anak direktur perusahaan Residence kok ada disini? Cari mati ya, tuan muda. "


Kio semakin mencekik Panji, tapi tiba-tiba...


Bukkk!!!


Kevin memukul punggung Kio menggunakan balok kayu.


" Apa yang kau lakukan, Kio?! "


Kevin berhasil mengalihkan perhatian Kio. Kio pun beralih dari Panji ke Kevin, lalu memukuli Kevin. Kevin yang menerima serangan Kio, kini berteriak ke Panji.


" Panji!! Di dalam mobil Kio ada Rara. Tolong bawa Rara dan Kirana pergi dari sini! Aku akan menahan Kio!! "


Setelah mendengar perkataan Kevin, Panji pun menuju mobil Kio, melihat Rara yang lemas dan membawanya ke dalam mobilnya. Setelah itu, Panji langsung tancap gas.


Kio langsung memukul dan menendang Kevin saat Kevin sedang melemah. Bahkan Kio sampai mencengkram kerah kemeja Kevin.


" Kau siapa hah?! Kau siapa ikut campur urusanku?!! Kau siapa sok tau tentang aku!!! "


Kevin hanya terdiam mendengar perkataan Kio, Kevin lalu berteriak.


" Aku kakakmu!! Bukan hanya kakakmu, aku saudara kembarmu! Kita saudara, aku ingat semua kenangan kita, Kio! "


Kio diam, air mata perlahan turun, tanpa Kio sadari.


" Kau, apa yang kau ingat? Kau tidak mengingat semua, kau tidak mengingat apapun. "


Kevin seketika mencengkram kerah kemeja Kio, sama seperti yang Kio lakukan padanya.


" Aku ingat semua, Kio. Kita saudara, kita saudara kembar. "


Kio tersenyum sinis, kemudian membanting Kevin berkali-kali. Mengeluarkan semua emosinya.


" Kembar? Kita hanya alat, kita hanya alat yang hanya dipergunakan untuk keuntungan para manusia. Kita tidak diperlakukan seperti manusia! "


" Ada apa denganmu, Kio? "


Kevin mendekat dan memeluk Kio supaya Kio tidak bisa membanting nya. Hingga Kevin melihat beberapa luka bekas jarum suntik yang lumayan lebar di punggung Kio.


" Kio, bekas luka apa ini di punggungmu?! "


Kio seketika membanting Kevin dan menodongkan pistol pada Kevin.


" Jangan bersikap sok baik padaku. Jangan bersikap sok peduli padaku. "


Kio mengisi peluru pistolnya dengan posisi masih ditodongkan kearah Kevin.


" Kio. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku kan hanya- "


Kevin belum melanjutkan kata-katanya ketika Kio merasakan sakit di bagian perut sebelah kirinya.


" Kio jangan bergerak, lukamu itu- "


Kevin hendak menggapai tangan Kio untuk menahannya agar tidak tumbang, tapi langsung dihempas begitu saja oleh Kio.


" Jangan sentuh aku!! "


Kevin hanya terdiam melihat perubahan sikap saudara kembarnya itu.


" Baiklah, terserah kau. Tapi setidaknya jagalah tubuhmu! " Kevin dengan kesalnya juga membentak Kio.


" Kau punya hak apa?! Sampai memerintah aku sesukamu?! "


Kio tersenyum sinis melihat Kevin yang berdiri di hadapannya, dengan luka dan bercak-bercak darah di kemeja nya.


" Kio. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bekas luka apa di punggungmu? Dan bukannya selama ini kamu bersama dokter Anna? "


Kio diam, ia berjalan mendekat sambil menodongkan pistolnya pada Kevin, dan tiba-tiba air mata mengalir membasahi pipi Kio lagi. Tanpa ia sadari.


" Haha.... Dia sudah meninggal. "


Kio menundukkan kepalanya, sedangkan Kevin terkejut.


" A- Apa maksudmu Kio?! "

__ADS_1


" Kubilang dia meninggal!! Dia meninggal!! Tepat di depan ku!! "


Air mata pun semakin mengalir membasahi pipi Kio, tatapan matanya yang sedih, murung, kesal, dan marah bercampur menjadi satu.


__ADS_2