
" Dan yah begitulah. Sisanya kamu tau kan? " Kevin menamatkan ceritanya. Sudah 3 jam sejak kami datang ke alun-alun. Kevin tersenyum.
" Jadi gitu ya? "
Aku hanya merenung, pasti hal ini sangat berat bagi Kevin. Saudara kembarnya meninggal, ayahnya meninggalkannya, dan ibunya yang menjadi sedikit tidak waras sehingga harus tinggal di rumah sakit. Pasti Kevin sangat sedih kan? Awalnya kupikir Kevin hanya anak biasa yang gampang senang, mudah menghibur orang lain, sering bercanda, pokoknya yang menghibur sih. Tapi setelah Kevin cerita tentang masa lalunya, ternyata sifat Kevin selama ini adalah untuk menutupi masa lalunya dari orang lain juga dari dirinya.
" Makasih. "
Aku melirik Kevin, dan kulihat Kevin melirik ku dan tersenyum.
" Makasih udah mau mendengarkan ku. Tapi aku mohon jangan menjauh dariku. Ya? " Kevin menatapku, penuh harap.
" Tentu aja enggak. Emang kenapa kamu bilang jangan menjauh darimu? "
Kevin hanya kembali tersenyum lalu menjatuhkan dirinya, merebahkan dirinya. Aku pun ikut.
" Enggak sih, cuma aku pernah cerita sama teman-temanku saat SD, tapi mereka menjauhiku, takut kepadaku. " Kevin memejamkan matanya, aku hanya melihat dia.
Untung saja masih ada teman-temannya yang ada disisinya walaupun mereka tidak tau masa lalu Kevin. Untung juga Kevin masih memiliki Kirana dan Jefri.
Kevin melihat kearah jamnya, lalu memejamkan matanya lagi. Aku bingung harus berkata apa. Lalu Kevin bangun dan berdiri.
" Makasih udah mau denger ceritaku. Dan tolong berjanjilah jangan menjauh dariku. Janji? " Kevin mengacungkan jari kelingkingnya, mengajakku untuk janji padanya.
" Iya, aku janji. " Aku mengaitkan jari kelingking ku ke jari kelingkingnya. Kami pun tersenyum bersama.
...*****...
Karena masih jam 10, kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Kami pergi kearah Dago dan berhenti di Tahura Dago. Kevin menggandeng tanganku, jujur tanganku sering dipegang, digandeng (Pegangan tangan) ya. Oleh teman-teman cowokku. Tegar, Miftah, Rangga dan yang lain. Tapi aku gak pernah pegangan tangan dengan teman-temanku sendiri.
Maksudku, aku sering pegangan tangan dengan teman-temanku tapi itu saat kami sedang jalan ramai-ramai, jalan sama kita-kita aja (teman-temanku dan aku), dan tidak pernah hanya aku dan satu orang saja.
Karena itu aku terkejut Kevin langsung menggandeng tanganku. Dan saat itu aku melihat ada seseorang yang seperti mengikuti kami.
__ADS_1
Setelah keliling di Tahura Dago sampai lelah, kami kembali ke parkiran. Kami pun pulang dan Kevin mengemudikan motornya ke masjid mujahidin.
" Kok kesini? " Aku melihat Kevin senyum. Sering banget dia senyum.
" Gak apa-apa, lagi mau kesini aja. "
Setelah Kevin memesan cireng bumbu, kami duduk dan memakan cireng bumbu milik kami. Lalu tiba-tiba aku melihat ada seorang cowok yang membeli cireng bumbu juga dan yang mengejutkan adalah cowok itu Kak Deva?!!
Bakal gawat kalau Kak Deva tau aku lagi berdua sama Kevin, walaupun cuma temen. Tapi Kak Deva pasti gak akan percaya, dan memberitahu ke ayah dan bundaku. Dan tepat saat itu Kak Deva melihatku. Aku langsung menutup wajahku dengan tanganku, Kevin yang melihatku bingung.
" Rara? "
Gawat, Kak Deva sudah melihatku!! Aku langsung melihat dan benar, Kak Deva berdiri di hadapanku dengan ekspresi bingung. Aku langsung mencari cara supaya Kak Deva dan Kevin tidak salah paham.
" Emm.... Kak Deva, kok kakak disini? " Aku memutuskan bertanya.
" Enggak sih, cuma lewat aja terus mau jajan dulu. Kebetulan sekolah selesai lebih cepet dan juga tidak ada kegiatan OSIS sih, jadi jajan aja kesini. " Kak Deva menjawab sambil melirik curiga kearah Kevin.
" Emm Kak Deva, ini temanku Kevin. Kevin ini anak dari teman bundaku. Bisa dibilang dia temanku. " Aku memperkenalkan mereka.
" Hmm, gue temennya Rara, Devandra. "
Mereka saling bertatap curiga. Lalu tiba-tiba ada yang membekap ku dari belakang.
" Hmmpp!! "
Kevin dan kak Deva melirik dan benar saja mereka terkejut melihat aku dibekap. Saat aku melihat siapa yang membekap ku, ternyata Steven.
" Eh kamu disini beb. " Steven masih membekap ku. Dan Steven menarik ku hingga ke tengah jalan, kemudian sebuah mobil melaju dengan kencang. Kevin dan Kak Deva sepertinya bingung bercampur kesal deh.
" Kalian temen dia kan? Kalau begitu coba selamatkan dia!! " Steven mendorong ku, Kevin dan Kak Deva terkejut. Dan mobil itupun semakin melaju mendekat.
Brrraakkk!!!
__ADS_1
" Rara!! "
Kevin dan Kak Deva menghampiriku sedangkan Steven pergi. Dan semua menjadi gelap.
...*****...
Saat aku sadar, aku melihat sekeliling dan sepertinya ini di Rumah sakit? Dan terlihat Kevin dan Kak Deva menungguku disebelah ranjangku.
" Rara!! "
Kevin dan Kak Deva menghampiriku dan memegang erat tanganku.
" Maaf Ra. Maafin kita ya. Seharusnya tadi kami bisa tarik kamu, tapi... "
Kevin dan Kak Deva menunduk dan meminta maaf kepadaku.
" Eh? Udah gak apa-apa kok. Lagipula lukaku gak parah parah banget. " Aku tersenyum untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Lalu dokter masuk dan berkata.
" Pasien sudah boleh pulang besok. Lukanya tidak ada yang parah. Hanya saja kalian harus berhati-hati dan menjaga pasien. Jangan sampai pasien melakukan pekerjaan berat. " Dokter memeriksa.
" Makasih dokter. " Kak Deva menunduk, lalu dokter itu pun pergi.
Saat malamnya aku diminta untuk menginap di rumah Kevin. Kak Deva sudah pulang duluan karena dicari ibunya.
" Malam ini menginap lah di rumahku. " Kevin berjalan menuju motornya.
" Eh? Tidak usah, nanti aku jadi ganggu kamu. Terlebih itu rumah Kirana dan Bang Jefri kan?? " Aku melihat Kevin hanya tertawa.
" Itu rumah mereka. Rumah aku beda lagi dong. " Kevin masih tertawa, akhirnya aku memutuskan untuk menginap sehari di rumah Kevin.
Motor menuju kearah riung. Dan berhenti di sebuah rumah dengan pagar hitam di luarnya. Kevin mengajakku masuk. Dan saat aku masuk aku melihat kalau rumahnya sangat rapi. Di depanku sudah ada meja dan kursi tamu. Ditengah terdapat TV dengan sofa yang berada di seberang TV itu. Dapurnya juga cukup rapi. Seperti dapur restoran.
" Oke kamar kamu di seberang kamar aku. "
__ADS_1
Kevin menunjuk ke arah sebuah kamar. Saat aku buka pintunya, kamar itu juga rapi. Kasur dan selimutnya terlipat rapi. Jendela kamar itu juga terbuka, tapi aku tutup karena sangat dingin. Akhirnya yah hari itu aku menginap di rumah Kevin.