
Malam harinya Ayu memasakkan mie instan untuk kami bertujuh.Tegar kini mulai menjelaskan apa yang akan dilakukan besok.
" Kata pak guru, besok kita akan jalan kearah Sawangan Permai. Nanti kita sarapan bareng, kalau soal menu sarapan yang kudengar sih ketoprak. Nah nanti kita bakal jalan-jalan sekitaran Sawangan Permai, habis itu balik lagi kesini. Siangnya terserah mau melakukan apa. "
Tegar menjelaskan lagi apa yang akan dilakukan besok.
" Ini mie nya! Ini punya Syahrin, ini punya Sherly, ini punya Rara, ini punya Tegar, ini punya Rangga, ini punya Miftah, ini punya gue. "
Ayu memberikan mie instan nya masing-masing.
" Makasih ya udah masakin, Ayu. "
Tegar tersenyum kepada Ayu lalu memakan mie miliknya.
" Selamat makan! "
Kami pun makan bersama diruang tengah, lalu tiba-tiba pintu pun diketuk.
" Aku aja yang buka. "
Aku bangkit lalu membuka pintu dan terlihat Kevin berada didepan rumah kelompok kami.
" Hai, maaf ganggu. Aku cuma gak kebagian tempat aja. " Kevin tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
" Kamu gak ada kelompok? " Aku heran, jika ada kenapa gak sama kelompok nya?
" Iya, gak ada yang mau bareng. " Kevin masih tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
" Aku coba tanyain Tegar dulu. Karena dia ketua kelompoknya, siapa tau dia mau nerima kamu di kelompok ini. "
Aku berniat untuk masuk tapi Kevin menahan tanganku.
" Gak apa-apa, aku gak mau ngerepotin kamu. Aku cuma mau minta kamu temenin aku ke minimarket yang didekat pos satpam sana, nanti aku tidur di mana, aku aja yang pikirin. " Kevin masih menahan tanganku, senyuman masih tercetak di bibirnya.
" Gak apa-apa, kasian kamu kalau gak punya tempat. Bentar, tunggu disini. " Aku masuk dan bertanya kepada Tegar.
" Gar, didepan ada Kevin. Dia gak kebagian kelompok, boleh gak dia satu kelompok sama kita? " Aku bertanya kepada Tegar, Tegar yang dari tadi sedang makan langsung menjawab.
" Boleh aja, lagian siapa yang mau nerima lagi. Ajak aja. Tapi dia nya mau kan? "
Tegar memakan mie miliknya lagi. Kali ini sambil meniupnya karena masih panas.
" Iya, dia nya mau. " Aku langsung keluar dan melihat Kevin yang dari tadi duduk dilantai, menunggu.
" Jadi gimana? Gue tadi sambil nunggu udah ke minimarket deket pos situ. Paling kalau gak diterima, aku numpang masak mie instan, ya. "
Kevin menunjukkan kantung plastik belanjaan nya yang berisi banyak jajanan. Dan banyak mie instan tentunya.
" Dibolehin kok. Ayo masuk. " Aku menarik tangan Kevin supaya bangun dan masuk kedalam.
__ADS_1
" Beneran? Makasih ya. " Kevin bangun lalu mengikuti ku masuk kedalam rumah kelompok kami.
Pagi harinya
Aku baru saja selesai mandi dan melihat Rangga, Tegar, Miftah dan Kevin sedang bermain kartu.
" Wow. Kevin gimana caranya kamu bisa menang berturut-turut? Sebelumnya yang bisa menang berturut-turut cuma Tegar lho. "
Kudengar Rangga sedang memuji kemampuan Kevin.
" Hahahaha mungkin karena dari dulu aku selalu main kartu, jadi udah tau triknya. "
Kevin tersenyum malu, baru kali ini aku melihat Kevin malu karena dipuji begitu.
" Wah, lain kali ajarin ya. Biar aku bisa mengalahkan mu dan Tegar... "
" Hahahahahaha.. "
Rangga tertawa bersama dengan Kevin. Setelah itu kami semua bergantian untuk mandi lalu keluar dan masuk ke dalam bis dan menuju ke Sawangan Permai.
Setelah sampai
Kami turun dari bis lalu makan ketoprak yang ada di sana. Lalu tiba-tiba seseorang mendekati meja kelompok ku. Dan dia adalah sahabatku sejak SD, sama seperti Tegar, Miftah dan Rangga. Namanya Panji Maulana. Aku terkejut karena Panji masih ingat kami dan menyapa kami.
" Hai, kalian Rara, Tegar, Miftah dan Rangga kan? Ah sepertinya benar ya? "
Panji tersenyum kearah kami semua. Dia sudah berubah, dulu dia yang paling pendek diantara kami berlima, Tegar, Miftah, Rangga, aku dan Panji. Sekarang dia jadi lebih tinggi, bahkan sepertinya setinggi Tegar. Dan jadi lebih tampan dan rambutnya sedikit gondrong.
" Oh boleh kok, Panji. " Tegar juga tersenyum.
" Kalian sekolahnya dimana sekarang? Kok aku jarang lihat kalian disekitar sini? " Panji duduk lalu memulai pembicaraan.
" Kita sekolahnya di Bandung. Cuma kita lagi study tour kesini. SMPN 13 Bandung, harusnya kamu tau kan? Kamu sendiri sekolah dimana? "
Tegar menjelaskan panjang lebar membuat kami berempat hanya bisa tersenyum gemas mendengar penjelasan dari ketua kelas kami saat kelas 2 SD itu.
" Oh di situ toh, pantesan aku jarang liat kalian disini. Aku di SMP 25. " cerita Panji dan menunjukkan sebuah pin.
" Di sana aku dipilih sebagai ketua OSIS. Dan sebentar lagi hari ulang tahun sekolahku, jadi aku lagi cari bahan untuk persiapan. "
Panji menunjukkan pin ketua OSIS itu pada kami. Aku tidak menduga Panji jadi ketua OSIS.
" Oh iya, ngomong ngomong kapan kalian kembali ke Bandung? "
" Hey kami baru sampai tapi kau langsung bertanya kapan kami pulang?! Dasar temen gak ada akhlak! "
Rangga langsung mengomel tidak jelas membuat aku, Tegar, Miftah, Kevin, Ayu, Syahrin dan Sherly tertawa.
" Hehehehe canda Rang, jangan dimasukin ke jantung. " Panji langsung memakan ketoprak pesanannya begitu sampai dimeja kami.
__ADS_1
Sementara itu di rumah Kio
Kio sedang duduk sambil membaca sebuah daftar (baca eps 16 ). Lalu Kio melihat kearah pintu dan Steven pun datang.
" Kio, boss ingin melihat daftar itu. Bolehkah kau berikan padaku? Akan aku bawa ke boss... "
Steven dengan ragu bertanya, tapi begitu terkejutnya Steven ketika mendengar jawaban dari Kio.
" Oh begitu... Ini. " Kio mengambil amplop itu lalu memberikannya pada Steven.
" Eh? Iya, kita- Kita harus bekerja sama. Aku akan membawanya pada boss. "
Steven hendak mengambil amplop yang berisi daftar yang berada di tangan Kio, tapi dengan cepat Kio melempar amplop itu menuju tempat sampah dan membakar daftar itu.
" Apa yang kau- "
Belum sempat Steven menyelesaikan kata-katanya, Kio sudah bangun dari duduknya lalu menodongkan pistol pada Steven.
" Kau pikir aku akan memberikannya semudah itu? Heh, daftar itu sudah terbakar, dan- "
Kio masih menodongkan pistolnya tapi tangannya menunjuk kearah kepalanya.
" Hanya aku yang membaca isi daftar itu. " Kio tersenyum sinis setelah melihat raut wajah Steven yang mulai kesal.
" Kiora Alexa, apa yang kau lakukan?! " Steven berteriak marah, sedangkan Kio semakin senang saat melihat respon Steven.
" Aku tau kau kesal padaku, tapi.. Sepertinya kalian lebih membutuhkan isi daftar itu daripada membunuhku ya. " Kio pun duduk kembali, tetapi masih memegang pistolnya.
" Kiora Alexa Putra... Kau! Aku yakin hidupmu tidak akan lama lagi! " Steven menatap Kio dengan tatapan benci yang selalu Steven sembunyikan saat berada di dekat Kio.
" Heh, tenang saja. Aku punya firasat bahwa hidupku akan lebih panjang dibandingkan dengan hidupmu. "
Kio menuangkan sebotol minuman kedalam gelasnya lalu menyodorkan botol minuman itu.
" Ini, minumlah. Santai aja dulu. Dan duduklah. " Kio masih tidak menatap Steven.
" Aku curiga didalamnya sudah kau beri racun. " Steven sedikit ragu untuk duduk.
" Santai saja, aku tidak se-naif kalian yang membunuhnya dengan cara kuno seperti meracuni seseorang. "
Akhirnya Steven pun duduk lalu meminum minuman miliknya. Lalu setelah beberapa menit berlalu Steven pun kembali berbicara.
" Kamu, jadi mau menculik sepupumu yang bernama Kirana itu? " Steven ragu-ragu menunggu jawaban dari Kio. Kio bangun dari duduknya dan berbicara.
" Iya, aku ingin tau apa yang akan dilakukan Kevin. " Kio melihat keluar, hujan turun dengan deras sementara Kio hanya tersenyum melihat petir yang beberapa kali menyambar hingga terlihat dari rumahnya.
" Kevin Alexa Putra, akan ku buat kau menderita. "
...Hayoo, ada yang bisa nebak gak, akhirnya apa yang akan terjadi?...
__ADS_1
...Ada yang meninggal kah? Apa Kevin dan Kio bisa bersama lagi?...
...Terus apa yang Kio rencanakan tuh dengan menculik sepupunya sendiri yaitu Kirana? Dan apa yang akan Kevin lakukan kalo tau kalau Kirana menghilang? ...