Alexa'S Twins : Different World

Alexa'S Twins : Different World
Episode 8


__ADS_3

*Di episode kali ini dari sudut pandang Kevin ya๐Ÿ˜


Oke selamat membaca*


9 tahun yang lalu


" Akh.. " Aku meringis. Tanganku terluka. Lagi-lagi tanganku terluka.


" Kevin...!! Kamu gak apa-apa kan....?! " Kio, saudara kembarku datang dengan wajah cemas.


Saat itu aku hanya dekat dengan Kio. Karena orang tua kami bekerja dan jarang di rumah. Ayahku seorang dokter, sedangkan ibuku juga dokter, adik ibu sedang sakit jadi ibuku pergi walaupun ibuku sudah bukan dokter lagi.


" Gak apa-apa kok. Perih aja. " Aku berusaha tersenyum.


" Jangan sok kuat deh. Ngaku aja, kita kan kembar. Jadi apapun yang kamu rasakan bisa aku rasakan juga, kamu juga begitu kan? " Kio menjelaskan sambil meneteskan betadine ke tanganku.


" Ash.... Sakit... " Aku merasa kalau Kio sengaja menekan bagian yang paling sakit.


" Sengaja ya?! " Dan kulihat Kio tersenyum.


" Hehehe iya. "


Aku makin meringis, Kio makin menekan luka ku.


" Oh iya, ayah dan ibu akan pulang lebih awal, jadi ayo kita kejutkan ibu dan ayah, Kevin. " Kio tersenyum lalu menggandeng ku, menuntunku hingga ke dalam kamar kami.


Saat orang tuaku pulang, ayah dan ibuku langsung memeluk kami berdua. Saat itu ayah dan ibu merupakan sosok yang paling hangat dan perhatian bagi aku dan Kio.


Lalu saat tanggal 24 Mei kami merayakan hari ulang tahun kami. Ayah dan ibu memberikan kue dan beberapa hadiah. Saat itu benar-benar bahagia, tapi satu bulan setelah itu keluargaku mulai hancur. Ayah dan ibuku mulai bertengkar, karena ibu tau bahwa ayahku mulai selingkuh. Setelah itu ayahku semakin jarang pulang. Dan ibuku selalu mengunci diri di dalam kamar.


Lalu suatu hari ayah dan ibu sedang bertengkar, dan tidak sengaja membuat sebuah gelas pecah.


" Vin, ke ruang tengah yuk. " Kio merangkul ku.


Ayah dan ibu saat itu sedang bertengkar di dapur. Saat kami di ruang tengah, Kio langsung menyuruhku untuk membuka telapak tangan ku dan tanpa kuduga Kio memberikan sebuah pisau dan meletakkannya di tanganku.


" Kio. Kenapa kamu bawa pisau? " Aku bertanya dan melihat kearah saudara kembarku itu. Kio hanya tersenyum lalu berkata....

__ADS_1


" Tusuk aku menggunakan pisau itu, Vin. "


Aku terkejut, apa maksudnya? Aku disuruh untuk menusuknya?


" Tunggu, Kio. Kenapa aku harus melakukan ini..? " Seketika badanku gemetar. Dan Kio menepuk bahuku.


" Aku.... Ingin mati saja. "


Kio mengatakan itu sambil tersenyum kepadaku.


" Kenapa? Kenapa kamu mau hal itu? "


Aku berusaha berpikir kalau Kio sedang bercanda denganku. Tapi aku ingin dia tau, bahwa seharusnya saat itu aku yang mau mati dan bukannya dia. Semenjak ayah dan ibu bertengkar, hanya Kio yang diperhatikan oleh mereka. Dan aku hanya seperti pengganti Kio. Orang tuaku juga jadi lebih ramah kepada Kio, bahkan Kio hanya mendapat ranking 5 besar, ibu dan ayahku menerimanya. Tapi aku mendapat ranking 3 besar, aku masih dimarahi.


" Kamu memiliki segalanya Kio. Kamu pintar, baik hati, pengertian, jujur, walaupun pendiam, juga tampan. Sedangkan aku, aku itu bodoh, aku nakal, sombong, dan sering berbohong. Kenapa kamu yang mau mati...?! "


Aku terlalu kesal hingga tidak sengaja berteriak kepadanya.


" Aku menderita Vin!! Selama ini aku dipaksa untuk melakukan apa yang ayah dan ibu mau!! Sejujurnya aku iri padamu, yang bisa bebas, bisa marah dan yang lain. Aku gak suka dipaksa!! "


Kio berteriak. Aku terkejut atas apa yang baru saja Kio katakan. Dipaksa katanya? Kio pun mulai maju supaya pisau yang kupegang menusuk dia. Tapi aku tidak ingin Kio mati, jadi aku memilih untuk mundur.


Pada akhirnya, Kio memegang tangan kanan ku yang memegang pisau itu dan menarik ku mendekat. Dan....


Jlebb....


Pisau itu menusuk perutnya. Darah bercucuran keluar dari perutnya. Dan yang memegang pisau itu adalah aku.


" Kio.... Kio, aku mohon jangan meninggal. Aku mohon.. Kio.. "


Seluruh tubuhku gemetar, dan darah mengalir dari pisau yang masih kupegang ke tanganku. Sehingga tanganku berlumuran darah.


" Kevin.. "


Aku langsung berhenti menangis dan melihat Kio yang sudah pucat dan lemas.


" Maafkan aku jika... Aku punya salah.... " Kio mengelus ku pelan dengan darah dimana-mana.

__ADS_1


" Aku bersyukur jadi saudara kembarmu.. "


Kio tersenyum kepadaku lalu tangannya yang mengelus ku tadi perlahan jatuh tergeletak.


" Kio.. Kio!! "


Aku hanya bisa menangis. Saat itu aku berharap aku bisa memutar kembali waktu. Apakah jika saat Kio mengajakku kesini, jika aku menolak ajakan Kio untuk ke ruang tengah, apakah Kio akan selamat? Apakah Kio tidak akan meninggal?


...*****...


Sejak kejadian itu ayah langsung pergi dari rumah, dan hanya menyisakan aku dan ibuku di rumah itu. Lama-lama ibuku depresi dan menjadi kurang waras sehingga harus tinggal di rumah sakit supaya bisa diawasi oleh para dokter dan suster di sana.


Sedangkan aku, sejak kejadian itu rumah lamaku benar-benar kosong. Aku sampai beberapa hari tidur di rumah sakit. Lalu sepupuku Kirana dan Jefri yang merupakan anak dari kakak ibuku.


Namanya tante Angel. Karena tau aku sehari-hari tidur di rumah sakit, jadi tante Angel memberikan sebuah rumah yang awalnya ingin dia jual, tetapi tante memberikannya kepadaku. Benar-benar sesuai namanya. Dan karena tante Angel juga lah aku bisa sekolah di SMP terbaik di Bandung, SMPN 13 Bandung. Walaupun begitu setiap hari sabtu atau minggu aku selalu menjenguk ibu.


Tapi sepertinya ibu berusaha melupakan masa lalu itu, sehingga anggota keluargaku yang ibu ingat hanya satu, Kio. Ayah dan aku dilupakan oleh ibu. Bagus sih ibu tidak perlu ingat ayah, tapi aku ingin ibu mengingatku. Setiap aku menjenguk ibu, ibu pasti akan memanggilku Kio, mungkin karena kami kembar. Padahal aku sudah sering mengatakan kepada ibu bahwa Kio sudah meninggal, tapi ibu selalu tidak percaya.


...*****...


3 hari setelah aku masuk ke SMPN 13. Aku sudah mulai berteman dengan teman-teman se-geng ku. Yah satu SD sih, jadi udah kenal. Dan saat itulah aku mulai tau tentang Rara.


" Eh Baim, ada berita baru apa? Lo kan tau tentang segala informasi. " Ryo melihat kearah Baim, yang sedang duduk di sebelahku di tempat kumpul kami, di warung bu Yeni. Diantara kami, yang tau segala kabar dan informasi hanya Baim.


" Ada sih.. Ada anak kelas 1 yang baru masuk.. "


Belum selesai Baim bicara, Ryo sudah memotong perkataannya.


" Kan tahun ini semua anak kelas satu baru. Kita juga masih ke catat baru kan? " Ryo berbicara tapi langsung aku potong kata-katanya Ryo.


" Dah, terusin aja Baim. " Aku menyuruh Baim untuk melanjutkan kata-katanya.


" Ya dia itu beda, dia dari Depok kalau gak salah. Cuma pindah kesini. Kalau kelas sih yang gue denger kelas 1B. "


Info dari Baim membuat Ryo dan kami merasa tertarik.


" Oke coba lo deketin dia Vin. Kan, lo belum punya gebetan. Gue baik sama lo, ambil sana!! " Indra langsung menyahut.

__ADS_1


" Diem lo. "


Begitulah yang kukatakan, tapi pada hari itupun aku tetap mencoba untuk mendekatinya.


__ADS_2