
Kevin melirik kearah ku seraya tersenyum. Para kakak kelas itu pun tau kalau Kevin sedang melihatku dan mulai memprovokasi Kevin sembari mendekati ku.
" Oh.. Lo udah punya pacar nih.. "
Salah satu dari kakak kelas itu pun memprovokasi Kevin dan mulai mendekat ke arah ku.
" Pantes aja sikap lo berubah... Udah punya pacar aja.. "
Salah satu dari kakak kelas itu mendekatiku dan menggodaku, benar-benar dasar buaya.
" Hey cantik... Kamu pacarnya Kevin..? "
Salah seorang kakak kelas itu bertanya sembari sedikit modus padaku sembari tangannya hendak meraba rambutku, beruntung Kevin langsung berseru membuat cowok itu berbalik lagi pada nya.
" Menjauh dari dia!! Kalau tidak, tidak akan kubiarkan kamu!! "
Kevin memberontak dari para kakak kelas itu. Sementara kakak kelas yang menggodaku tadi menyeringai tak jelas dan semakin mendekatiku. Sampai pada akhirnya aku terjebak. Aku terhimpit di dinding dan di depanku adalah si kakak kelas itu.
Aku tak bisa apa-apa, terlintas sesaat untuk menendang organ vital nya, tapi aku tak punya cukup keberanian untuk itu. Akhirnya aku memilih memejamkan mataku, berharap bisa selamat.
Braakkkk
Saat aku membuka mataku, aku melihat kakak kelas itu terjatuh dengan luka di kepala. Darah nampak mengalir dari kepala mereka, darah segar itu tercium, membuatku khawatir orang orang mengira Kevin yang melukai mereka karena Kevin yang memegang batu, dengan sedikit luka.
" Ayo ikut aku. "
Kevin setelah menatap sekeliling, menarik tanganku ke motornya, berniat meninggalkan sekolah.
" Kevin, kan kita harus sekolah.. "
Aku berusaha untuk membuat Kevin setidaknya mengurungkan niatnya untuk membolos. Kevin hanya menaiki motornya dengan acuh.
" Ayo naik, " ujar Kevin sembari memfokuskan diri ke motornya yang hampir kehilangan keseimbangan.
Aku tidak punya pilihan selain mengikuti nya. Motor sport milik Kevin pun meninggalkan tempat parkir sekolah dengan para kakak kelas dalam keadaan mengaduh aduh.
Saat jam makan siang, Kevin mengajakku makan di suatu tempat yang aku tidak tau itu dimana. Sepanjang waktu, aku dan dia tak mengobrol lagi. Canggung dengan keadaan tadi pagi di sekolah. Suara Kevin akhirnya memecah kesunyian diantara kami berdua.
" Kali ini aku traktir. "
Kevin tersenyum dan tidak berapa lama baso pesanan kami pun datang, membuat kami memilih untuk makan dulu ketimbang mengobrol sekadar basa-basi.
" Selamat makan.. "
Kami berdua pun menyantap baso itu, jujur ini benar-benar enak. Di tengah kesibukan ku yang sedang memotong baso, Kevin mulai mengajak ku bicara.
" Maaf soal kejadian tadi pagi.. "
Aku melihat kearah Kevin, tapi Kevin memandangi baso nya. Seolah-olah ia menghindar dari ku, dari tatapan ku.
" Maaf banget, aku gak tau kenapa mereka kayak gitu... "
Kevin masih saja memandangi baso nya, tapi kali ini dengan sedikit memainkan sendok nya. Ia nampak seperti anak kecil yang sedang merajuk tak ingin makan.
__ADS_1
" Gak apa apa kok, santai aja. "
Aku tersenyum padanya dan tanpa kuduga Kevin ikut tersenyum. Kami mulai sedikit bercanda dan tertawa bersama, mungkin inilah saat aku dekat dengan Kevin. Di sela-sela obrolan kami, Kevin mengambil sebuah kerupuk dan memberikannya padaku padahal makananku sudah hampir habis.
" Ih telat tau kasihnya, ini udah mau abis. "
Aku menunjuk mangkuk milikku yang sudah hampir habis, dan sedikit tertawa karena jawaban Kevin tidak terduga.
" Gak apa-apa, buat di rumah kamu aja. "
Aku dan Kevin lagi-lagi tertawa bersama. Saat seperti ini yang membuat ku lupa akan kejadian tadi pagi.
...SNS...
...Ayu...
[Ra.]
[Lo dimana? ]
[Kok gue gak liat lo di sekolah? ]
[Lo lagi apa sih? ]
[Jawab dong]
[Rara.]
Dan yah saat aku membuka ponselku, aku mendapatkan serbuan SNS dari Ayu yang membuat ponsel ku seketika loading lumayan lama.
Kevin yang datang tiba-tiba hingga membuatku terkejut. Beruntung ponselku tak terjatuh karena kaget tadi.
" Udah kok. "
Aku meletakkan ponselku kedalam tas sekolahku lagi.
" Mau langsung pulang? "
Awalnya aku mau langsung pulang, tapi pasti ayah dan bundaku bingung padahal masih jam sekolah tapi sudah pulang??
" Nanti aja, masih jam sekolah tau. Nanti ditanyain. "
Kevin menuju motornya dan memakai helmnya.
" Kalau gitu, mau keliling Bandung dulu? "
Aku hanya mengiyakan dan naik keatas motornya, dan motornya pergi mengelilingi kota Bandung. Udara Bandung saat itu dingin tapi segar, walaupun begitu aku tetap kedinginan.
" Nih pakai jaket ku aja, daripada kamu kedinginan terus. "
Kevin berkata sambil melepaskan jaketnya dan memberikannya padaku. Aku hanya mengambil nya perlahan kemudian mengenakannya.
" Makasih. "
__ADS_1
Aku hanya bisa mengatakan itu. Mulai dari jalan buah batu, jalan nilem, jalan remis, jalan penyu, kami berkeliling dan sampai di Gedung Sate. Saat kami dalam perjalanan pulang, sudah sore. Jalanan mulai padat akibat orang-orang yang pulang kerja.
Motor Kevin melaju di jalan lodaya lalu masuk ke jalan banteng, jalan menuju rumahku. Saat sampai didepan rumahku, aku mengembalikan jaket milik Kevin yang tadi ku pinjam.
" Ini, makasih ya, " ucapku sembari melepaskan jaketnya dan memberikannya ke Kevin. Tapi Kevin menolak menerimanya.
" Simpen aja sama kamu. Nanti kalo aku butuh, minta ke kamu. "
Kevin menjawab sambil tersenyum. Dan setelah itu Kevin pamit pergi. Aku masuk kedalam kamarku, mengingat kembali apa yang terjadi hari ini.
Sementara itu....
Kevin mengendarai motornya ke daerah yang sepi dari lalu lalang kendaraan. Raut wajahnya seolah olah menunjukkan bahwa dia sedang marah. Kemanakah Kevin pergi?Tidak beberapa lama, motornya berhenti di sebuah rumah sakit. Kevin menuju halaman belakang rumah sakit dan menemui perawat yang menunggunya.
" Ah... Nak Kevin, ibumu.. "
Perkataan perawat itu terputus dengan perkataan Kevin.
" Dimana ibu? "
Dengan suara yang sedikit dingin Kevin bertanya.
" Ada didalam. "
Perawat itu menunjuk ke sebuah paviliun yang berwarna putih itu. Kevin berjalan ke arah sana tapi setelah sampai didepan pintu Kevin sedikit ragu, walaupun pada akhirnya Kevin membuka pintu, memperlihatkan seorang wanita paruh baya tengah duduk di atas ranjang rumah sakit. Wanita itu menoleh kearah Kevin.
" Kamu udah pulang, Kio? "
Wanita itu berbicara dengan Kevin, tapi dia memanggil Kevin dengan nama Kio. Kevin hanya terdiam dan akhirnya dia mulai berbicara.
" Ibu, Kio udah meninggal. "
Dengan raut wajah yang datar, Kevin mengatakan hal itu.
" Aku bukan Kio bu.... Aku Kevin. Bukan Kio. "
Kevin mengatakannya, bahwa ia bukanlah nama seseorang yang ibu nya sebut tadi. Ketika Kevin melirik kearah ibunya, raut wajah ibunya terkejut.
" Kevin? Kalau begitu dimana Kio anakku? "
Ibunya hanya terduduk di ranjang sambil merasa tidak percaya.
" Ibu istirahatlah, besok aku kesini lagi, " ucap Kevin yang kini beranjak dan keluar dari paviliun itu.
Saat perjalanan pulang pun Kevin hanya bergumam menyebut nama Kio. Kevin memarkirkan motornya di sebuah tempat yang sangat tidak terawat. Kevin masuk kedalam tempat itu yang merupakan rumahnya saat dia masih kecil. Saat Kevin masuk, Kevin melihat ada beberapa foto yang diletakkan di dalam figura.
Terlihat di foto itu ada acara ulang tahun. Ada seorang ayah disebelah kanan belakang, ibu disebelah kiri belakang, dan 2 anak kembar. Kevin melihat foto si kedua anak kembar itu. Anak kembar yang berbeda sifat. Kevin melihat kearah ruang tamu dan terlihat ada pecahan kaca berserakan di lantai. Dan di dinding masih ada beberapa balon yang kempes tetapi masih terletak di tempat yang sama.
" Pesta ulang tahun terakhir kita berdua ya.. "
Kevin bergumam sembari tetap melihat dengan ke sekitar rumahnya.
" Menyebalkan, ayah meninggalkan ku, ibu jadi gak waras dan kamu meninggal. Hidupku kurang apalagi coba.. "
__ADS_1
Dengan senyuman pahit, Kevin keluar dari rumah itu. Mengemudikan motornya lagi, menuju rumahnya.