
Keesokan harinya
Aku memakai sepatuku dan pamit ke sekolah. Saat aku membuka gerbang, aku melihat Kevin sedang bersandar di motornya memainkan ponselnya. Aku membuka pagar dan langsung disambut dengan kata-kata yang membuatku sedikit senang dari Kevin.
" Pagi. Mau diantar gak? "
Kevin menawarkan tumpangan kepadaku sembari menunjuk jok motornya.
" Gak ah.... Sekolah tinggal jalan aja, " ucapku. Aku tersenyum pelan ketika melihat Kevin yang mengikuti gaya bicaraku.
" Kalau gitu aku juga jalan kaki. "
Aku langsung berbalik, terkejut. What?! Apa katanya barusan?!
" Terus motor kamu gimana? "
Kevin hanya tersenyum dan menahan tawa.
" Tinggal ambil kesini. Kan rumah kamu deket. " Kevin tersenyum sambil memarkirkan motornya di halaman rumahku.
Kami berdua menyusuri jalan sekolah. Dan tiba-tiba kakak kelas yang kemarin mengganggu Kevin, kini menghalangi kami.
" Masih berani kesini juga Vin. "
Salah satu dari mereka tersenyum sinis. Dari nama di seragamnya aku tau kalau dia kakak kelas, dan kakak kelas yang paling ngeselin. Aku jadi ingat Sherly, Syahrin dan Ayu bilang waktu masih pengenalan lingkungan sekolah ada kakak kelas yang menyuruh nyuruh adik kelas satu, dan salah satu dari mereka ada yang bernama Arya.
" Kenapa sih kak, kan kita mau sekolah. "
Kevin nampak menatap mata Kak Arya lekat-lekat.
" Sekolah ya. "
Tanpa diduga, Kak Arya dan teman-temannya langsung memukuli Kevin.
" Ra.. Kamu pergi duluan sana... "
Kevin yang kini nampak luka-luka langsung melirikku. Aku memilih pergi untuk memanggil satpam sekolah.
Saat istirahat
Aku dan sahabat laki-laki ku sedang kumpul di kantin. Mereka tau kalau Kevin tadi pagi dikeroyok dan akhirnya dia diminta untuk istirahat di rumah.
" Ra, kan udah aku bilang jangan deket deket Kevin. " Rangga melihatku dengan tatapan tajamnya.
" Iya Ra, lebih baik kamu gak terlalu deket sama Kevin. Kita takut kamu kenapa-napa. " Tegar menambahkan, dengan raut wajahnya yang khawatir dia menatapku.
" Tapi kan, " aku belum menyelesaikan perkataan ku, tapi terpotong oleh bel masuk berbunyi.
" Yaudah kita bicarain nanti pas pulang. " Miftah beranjak dan langsung berjalan keluar dari kantin.
Di kelas, aku benar-benar tidak konsentrasi. Aku memikirkan apa Kevin baik-baik saja? Sudah pulang kah dia? Apa lukanya parah? Banyak hal memenuhi pikiran ku, dan sepertinya Tegar tau itu.
Tegar yang melihatku sedikit tidak konsentrasi itu langsung berdiri.
" Maaf memotong penjelasan ibu, tapi sepertinya Rara kurang enak badan bu, " ucap Tegar dengan entengnya. Aku terkejut Tegar mengatakan itu.
" Hmm... Yasudah, Tegar bawa Rara ke UKS. Bawa tasnya juga. "
Bu Yanti, guru matematika langsung menyuruh Tegar untuk membawaku ke UKS. Dengan senyuman di wajahnya, Tegar membawa tas ku.
__ADS_1
" Siap bu. "
Tegar langsung memasukkan buku dan tempat pensil ku kemudian menaruhnya kedalam tasku kemudian di gendong tasku oleh nya.
" Ayo. "
Tegar menarik tanganku dan menuntunku sampai ke depan UKS.
" Gar.. "
Aku menatap ragu kearah dia, sedangkan dia menatap ku seraya tersenyum.
" Aku tau kamu gak sakit, cuma kalau kamu gak konsentrasi, bisa-bisa materi yang dijelasin sama bu Yanti gak masuk. Nanti aku bawain tentang materi hari ini. Jadi istirahat aja di UKS dulu nanti aku, Rangga, dan Miftah kesini terus pulang, oke? "
Tegar tersenyum kepadaku setelah memberikan tas ku kepadaku.
" Oke.. "
Aku tersenyum, setelah Tegar dan aku tos, dia langsung berjalan menuju kelas.
Pulang sekolah
Bel sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu, aku masih didalam UKS. Mengirim chat ke seseorang, kakakku. Maksudku, seseorang yang sudah aku anggap sebagai kakakku.
...SNS...
...Kak Deva...
[Ra, aku jemput ya.... ]
^^^[Eh.... Oke kak, bunda yang minta tolong ke kakak ya...?]^^^
^^^[Oke kak. ]^^^
Aku langsung keluar dari UKS dan melihat Tegar, Rangga, Miftah, Syahrin, Sherly dan Ayu.
" Lho Rara? Lo udah gak apa-apa kan? " Ayu bertanya kepadaku sembari memegang dan meraba tanganku.
" Gak kok. Oh iya, Gar, Mif, Rang, kalian pulang duluan aja. "
" Tumben, kenapa emang? " Miftah yang kini sedang memainkan pulpen di tangannya, kini menatapku.
" Itu.. Kak Deva mau jemput, " ucapku sekilas. Aku hanya menundukkan kepalaku.
" Yaudah gak apa-apa kok Ra. Kalau gitu kita pulang duluan, sampai jumpa besok! Dah... "
Para sahabatku melambaikan tangan kearah ku, dan berjalan keluar gerbang.
Aku menunggu di halte depan sekolah, rumahku memang dekat, tapi aku akan dijemput Kak Deva jadi aku tak mau membuat dia kecewa karena aku sudah pulang duluan.
Beberapa saat kemudian, aku melihat sebuah motor berhenti tepat di depanku.
" Ra! "
Kak Deva, anak dari teman bundaku, hanya beda satu tahun denganku. Tapi dia sudah seperti kakak bagiku. Karena itu aku memanggilnya kak.
" Kak! "
Aku berjalan mendekati Kak Deva perlahan.
__ADS_1
" Maaf lama, tadi gue ada tugas OSIS jadi agak lama, " ucapnya singkat, aku hanya tersenyum ke arahnya.
" Gak apa-apa kok kak, lagipula gak lama banget kok. "
Kak Deva adalah ketua OSIS di sekolahnya, Kak Deva juga terkenal di sekolahnya, dan dia cukup tampan.
Kak Deva mengajakku berkeliling Bandung dan memperkenalkan tempat tempat yang terkenal di Bandung. Lalu kami berhenti di alun-alun Bandung.
Yeah langit yang berwarna oranye dan matahari yang hampir terbenam dan alun-alun sedang sepi membuat suasana menjadi sedikit romantis. Lalu tiba-tiba ponselku bergetar membuat suasana menjadi buruk.
Cowok yang mengaku-ngaku adalah pacarku, padahal aku tidak begitu menelepon ku layaknya penagih hutang.
" Emm kak, izin angkat telepon dulu, " aku beranjak dan mengambil ponselku.
" Iya, santai aja, " ucap Kak Deva santai. Aku sedikit menjauh dan dengan sedikit kesal yang ku tahan, aku mengangkat telepon itu.
^^^*Halo?^^^
*Hey beb, lagi apa?
*Aku merindukanmu....
Jiaakkhh... Mulai deh padahal dia cuma ngaku ngaku pacarku eh malah gini. Dia bukan pacar asli ku. Ogah juga aku pacaran sama orang kayak dia.
^^^*Gue Rara, bukan beb.^^^
Dengan kesal aku menjawab perkataan dia yang menyebalkan.
*Hehehe bisa aja kamu....
*Oh iya kamu gimana, di Bandung?
Dia itu udah mirip stalker, padahal aku gak bilang ke dia kalau aku pindah ke Bandung. Aku gak pernah bilang kalau aku ganti nomor. Akkhhh... Saat itu yang kupikirkan hanya Kevin, setiap kali dia pasti selalu bisa membuatku tertawa atau tersenyum.
^^^*Hmm. Oh iya Stev, udah dulu ya. Bye.^^^
Aku langsung mematikan ponselku dan langsung memblokir nomor dia. Namanya Steven, mungkin namanya luar negeri tapi cuma jual nama doang....
" Oh udah Ra? "
Kak Deva melihatku yang sedang berusaha menahan emosiku.
" Kak, pulang yuk? " ucapku yang moodnya sudah terlanjur buruk. Kak Deva hanya mengangguk dan menyalakan motornya.
Saat sampai di rumahku.
" Makasih kak, maaf repotin. "
" Gak apa-apa Ra, lagian aku seneng kok. "
Kak Deva tersenyum kemudian menyalakan mesin motornya.
" Yaudah aku pulang dulu ya, assalamu'alaikum... "
Kak Deva langsung mengemudikan motornya, menjauhi rumahku. Motornya kini menghilang di telan gelapnya malam.
Saat aku hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba satu notifikasi telepon muncul di ponsel ku.
Krriingg!!
__ADS_1
Ponselku bergetar dan saat kulihat nama di layarnya, itu langsung membuatku tersenyum. Mood ku yang semula hancur, rasanya kini membaik.