
Keesokan harinya
Aku sedang berada di kamar pasien Kevin. Dan yah bersama keluarganya. Semuanya lumayan senang karena hari ini mereka akan bertemu Kio. Dokter Rizal, Dokter Anna, Dokter Rizki dan Dokter Melisa juga kelihatannya sangat senang juga, dan saat ini mereka sedang berada di kantin rumah sakit. Menunggu Kio di sana.
Sedangkan kami tengah makan bubur ayam di seberang rumah sakit. Sekolah? Sekolah libur karena ada perlombaan tingkat internasional, jadi para guru juga mempersiapkan para siswa yang ikut perlombaan itu.
Keliatan juga Bang Jefri, Kak Angga dan Kevin juga senang. Kalau Panji, katanya ada urusan mendadak jadi dia tidak bersama kami saat ini.
Sekarang sudah jam 9.00 seharusnya Kio sedang dalam perjalanan atau mungkin sudah sampai.
Parkiran bawah tanah
Sebuah mobil berhenti dan parkir di sana, keluarlah Kio dengan memakai jas. Kio pun langsung masuk dan menaiki lift.
" Seharusnya mereka semua lengkap di sana kan? Apa mereka akan mengakui kesalahan mereka padaku? " Batin Kio.
Tidak lama kemudian lift sampai di lantai 3. Lantai dimana kamar pasien milik Kevin berada di sana. Kio melihat kanan-kiri dan tidak sengaja melihat Dokter Rizki, Dokter Melisa, Dokter Rizal dan Dokter Anna sedang duduk sambil mengobrol di sana.
" Dokter Rizal?! Bukannya dia sudah.. "
Kio yang terkejut melihat Dokter Rizal yang pada beberapa tahun lalu telah meninggal pun secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
" Wah sudah lama aku tidak bertemu keponakan ku. " Dokter Rizal tersenyum sambil meminum kopi.
" Iya, kami juga sudah lama tidak melihat Kio. Sudah seperti apa ya dia... " Sambung Dokter Rizki.
Kio yang mendengar percakapan itu pun senang dan hendak berjalan menuju mereka tapi,
" Oh iya, keadaan Kevin gimana? Sudah membaik kan? " Tanya Dokter Anna yang langsung dibalas oleh Dokter Melisa.
" Tentu saja. Kevin kan anak kuat, keadaan dia juga sudah membaik. "
" Kudengar Kevin seperti itu karena Kio ya? Apa itu benar? Ya aku harap sih itu bukan karena Kio. "
Kio pun menarik mundur kembali kakinya yang hendak melangkah kearah mereka. Sambil mengepalkan tangan tiba-tiba keluar sedikit air mata membasahi pipinya.
" Hah? Aku menangis? Tidak mungkin, ini hanya debu yang masuk ke mata ku. " Batin Kio sambil mengusap matanya.
" Sudahlah Kio. Lagipula mereka bukan keluargamu lagi. Tahan sebentar lagi, dengan begitu aku bisa menunjukkan kepada semuanya siapa aku. Tahan Kio, jangan menangis. "
Batin Kio lagi. Dan Kio pun mengeluarkan senyuman sinis nya.
" Kita harus cari sandera. " Kio tersenyum sinis. Entah kebetulan atau bagaimana, aku lewat di sana.
" Eh Kio? "
Tanganku langsung ditarik oleh Kio, sedangkan sebelah tangannya menutup mulutku.
" Diam lah, akan kulepaskan kau saat sudah waktunya. "
Begitulah kata Kio. Kio membawaku menaiki lift dan menuju parkiran bawah tanah. Setelah itu aku berusaha melawan, menendangnya, memukulnya dan akhirnya mulutku terlepas dari tangannya itu, tapi dia bisa menghindari serangan ku dengan cepat dan langsung menutup mulutku lagi.
" Ku pinjam ponselmu sebentar. "
Kio mengambil ponselku yang berada di saku celana ku lalu menelepon Kevin.
...****************...
Kevin yang berada di kamar pasiennya itu melihat panggilan masuk ke ponselnya.
" Rara? Tumben sekali dia menelepon. " Kevin pun mengangkat telepon itu.
...Telepon...
" Halo? Kenapa Ra? "
Tanya Kevin, dan seketika langsung dibalas dengan suara Kio.
" Hai Vin, ini aku. Masih ingat? "
Kio pun tertawa dan langsung dibalas dengan suara khawatir Kevin.
" Kio? Dimana Rara? Bagaimana bisa ponsel Rara ada padamu? "
Mendengar nama Kio disebut, membuat Bang Jefri dan Kak Angga yang awalnya sedang bercanda langsung diam dan mendengarkan pembicaraan Kevin.
" Rara ya... Dia ada bersamaku. Aku meminjam ponselnya sebentar. "
__ADS_1
Aku yang dari tadi mendengar obrolan Kio dan Kevin berusaha untuk bersuara tapi aku tak bisa.
" Dimana kamu, Kio? Apa mau mu? "
Kevin yang benar-benar terkejut sekaligus takut Kio melakukan hal-hal yang berbahaya kepada keluarganya itu pun hanya mendengar suara Kio yang tertawa.
" Hahahaha, apa mau ku? Mudah saja, carilah di mana aku dan Rara. Oh iya, jika kamu mau, bawa saja seluruh keluargamu. Jika lebih dari 20 menit kamu dan keluargamu tidak kesini.. Akan aku bawa Rara. "
Telepon pun dimatikan secara sepihak. Kevin langsung bergegas keluar dan diikuti Bang Jefri dan Kak Angga beserta Kirana yang bingung.
Saat Dokter Rizki, Dokter Rizal, Dokter Melisa dan Dokter Anna melihat Kevin yang terlihat terburu-buru, seketika bertanya apa yang terjadi, Kevin pun menceritakan segalanya dari awal telepon hingga akhir, bahkan sampai detail kecilnya.
" Parkiran bawah tanah? Biasanya bakal ke parkiran bawah tanah, gak sih? "
Mendengar ide dari Kak Angga membuat semuanya langsung bergegas menuju parkiran bawah tanah.
Di parkiran bawah tanah, Kio masih menutup mulutku sembari memainkan jam tangan miliknya. Sudah 15 menit berlalu sejak telepon terputus.
" Wah wah, mereka akan menemukan mu atau enggak ya? "
Tepat pada saat itu terdengar suara lift yang sampai di sana. Saat pintu lift terbuka, terlihat Kevin dan seluruh keluarganya ada di sana.
" Wah.. Pas banget, kalau kau telat 5 menit aja pasti aku bawa Rara pergi deh. "
Kio berjalan sambil menutup mulutku, semuanya terlihat khawatir.
" Aku sudah datang, Kio. Jadi tolong lepaskan Rara. " Kevin berjalan pelan ke depan.
Aku langsung memegang tangan Kio, lalu membanting nya sekuat mungkin. Tapi Kio langsung menarik tanganku dan mengikat ku di kursi yang ada di sebelah mobilnya.
" Heh, mau membanting ku, ya? "
Kio pun mengeluarkan semacam suntikan lalu menyuntikkan nya ke leherku. Dan aku tak sadarkan diri.
" Tenang aja Kev, aku tak akan melukai Rara kok. "
Kio melirik Kevin dan keluarganya yang berusaha mendekati Kio.
" Kio, ini kamu kan, nak? " Tanya Dokter Melisa.
Kio memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana nya, bersiap menembak jika diperlukan.
" Kio, tolong hentikan ini ya? "
Dokter Melisa berusaha membujuk Kio. Kevin dan keluarganya melangkah maju kearah Kio secara perlahan.
" Kio, ini ibu.. Kamu masih ingat kan? "
Mendengar itu Kio langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongkan nya kearah keluarganya Kevin.
" Ibu? Hahahaha anak ibu kan, cuma Kevin. "
Semuanya terdiam, terkejut dengan perkataan Kio.
" Tidak, anak ibu adalah kamu dan Kevin. " Dokter Melisa berusaha meyakinkan Kio.
" Heh, ibu jangan mengatakan hal itu. Karena aku hanyalah kloning. "
Dokter Melisa, Dokter Rizki, Dokter Rizal dan Dokter Anna sontak menunjukkan ekspresi terkejut. Bagaimana bisa Kio tau? Karena mereka tidak pernah menceritakan nya kepada Kio dan Kevin.
" Ah, kalian terkejut karena aku tau ya? Kenapa diam saja? Tidak ada kata maaf atau semacamnya? Ayolah aku tau kalian itu bukan orang yang tidak tau diri. "
" Apa maksudmu Kio? " Tanya Dokter Rizki yang langsung berbicara.
" Apa maksudku? Wah, kalian benar-benar tidak ingat ya, kejadian dimana aku di tinggal di sana? "
Kio tersenyum sinis, sedangkan Kak Angga langsung menyahut.
" Apa maksudmu Kio? Kami tak mengerti. "
Kio hanya tertawa dan langsung menjawab.
" Kalian? Tak mengerti? Oh astaga... "
Dokter Anna pun langsung maju, membuat yang lain ikut maju mendekati Kio.
" Kio, kamu kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti ini? "
__ADS_1
Dokter Anna langsung bertanya, membuat Kio semakin kesal terhadap mereka.
" Aku? Kok kalian gak tau? Kan aku seperti ini karena kalian. Karena kalian meninggalkan ku sendiri di perusahaan Residence. Kalian tau, dulu aku merasa kalau aku ingin terus-menerus bersama kalian dan membuat kalian bangga, tapi sepertinya sekarang pemikiran ku berubah.... "
Semuanya terdiam mendengar perkataan Kio. Kio melanjutkan perkataannya lagi.
" Sejak kalian, Dokter Melisa, Dokter Rizki lebih memilih menyelamatkan Dokter Anna daripada aku? Bukannya, saat itu kalian bisa saja menyelamatkan Dokter Anna sekaligus menyelamatkan ku? "
Kio mencengkram kuat pistolnya, Dokter Rizal yang saat kejadian beberapa tahun lalu itu berada di perusahaan Residence, kini terkejut mendengar cerita keponakannya.
" Apa maksudmu Kio? Tolong jangan bercanda, om sedang tidak ingin bercanda. "
Dokter Rizal berusaha menenangkan semuanya sedangkan Kio menjawab.
" Ah, saat itu Dokter Rizal tidak di sana ya. Yah, aku juga sekalian memberi tau Dokter Rizal sih. Kalian bertiga, meninggalkanku, ah tidak... Maksudku, termasuk kalian berdua juga meninggalkan ku, Angga Alexa Ramadhan dan kau Kevin Alexa Putra. Aku dibawa paksa oleh orang-orang itu kembali ke perusahaan Residence, dan dikurung di sana.. Aku tak bisa keluar sama sekali. "
Kak Angga dan Kevin saling bertatapan sedangkan Dokter Rizal dan Bang Jefri yang tidak tau kejadiannya hanya bisa terkejut. Apakah yang dikatakan Kio benar?
" Angga, Kevin, kalian tau sesuatu? Saat aku dikurung, aku hanya memikirkan janji kalian padaku. Kalian bilang, 'jangan khawatir, kita akan bertemu' , dan juga kalian bilang 'dimana pun aku berada, kalian pasti akan datang mencari ku'. Aku sudah menunggu kalian menyelamatkan aku!! "
" Aku menunggu setiap hari, hanya bisa berharap kalian datang dan menyelamatkan aku. Tapi, kalian tidak menyelamatkan aku. Kalian menyelamatkan aku setelah beberapa tahun berlalu sejak aku dibawa ke perusahaan Residence lagi. Yeah, harusnya aku senang, tapi kenapa kalian baru menyelamatkanku saat itu? Kenapa tidak dari awal? "
" Belum lagi saat aku sudah SD, kalian Dokter Rizki dan Dokter Melisa mengekang ku. Itu lebih membuatku kesal dengan kalian! Karena itu aku memilih untuk melukai diriku dengan bantuan Kevin, dengan cara menusukkan pisau kearah perutku. Setelah itu aku dibawa lagi oleh perusahaan Residence, saat itu aku benar-benar berharap kalian akan menyelamatkan ku, tapi ternyata sama saja! "
Air mata mengalir membuat mata Kio sedikit memerah dan pipinya basah. Kio kini menumpahkan semua emosinya.
" Kenapa kalian tidak menyelamatkan aku? Hah? Apa karena aku hanya kloning yang bisa diciptakan lagi oleh kalian jika aku mati?! "
Semuanya terdiam, sementara aku mulai sadar.
" Kio, maafkan kami ya? "
Dokter Melisa pun berjalan maju dan langsung di todong pistol oleh Kio.
" Jangan mendekat! Kubilang jangan mendekat! "
Kio masih menodong Dokter Melisa dengan pistolnya, Dokter Melisa semakin melangkah maju bersamaan dengan Kevin dan yang lain juga berjalan maju.
Kio yang frustasi langsung mengarahkan pistolnya kearah Kevin sambil berteriak.
" Kubilang jangan mendekat!! "
Kio menarik pelatuk pistolnya, Kevin langsung memejamkan mata sedangkan yang lain berusaha berlari menyelamatkan Kevin, disaat itu badanku langsung bergerak, menarik tangan Kio agar Kio tak menembak satupun keluarga Alexa.
Dorrr!!
Semuanya seakan berhenti, aku kini berada di depan Kio, dengan memegang tangannya serta pistol Kio yang mengarah ke perut ku.
Darah mulai bercucuran dari perutku. Kio langsung menarik tangannya sedangkan aku jatuh tersungkur. Kevin dan yang lain langsung berlari ke arahku.
" Cih. "
Satu kata terlontar dari mulut Kio, setelah itu Kio pun langsung masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan kami semua di sana.
...****************...
Kio yang sedang mengendarai mobilnya itu tiba-tiba meneteskan air mata lagi.
" Bukan aku yang melakukannya.. Aku tak melakukannya, aku tak ingin melukai orang yang aku cintai lagi... Kevin Alexa lah yang melakukannya!! "
Teriak Kio frustasi di dalam mobil itu dan langsung menuju rumahnya.
Sore harinya, aku berada di kamar pasien. Untung saja kamar pasien Kevin ada dua kasur, jadi aku dirawat di sana.
" Ra, lo gak apa-apa kan?! " Tanya Kak Deva yang datang karena mendengar aku terluka.
" Iya kak, aku gak apa-apa. Sudah berapa kali aku bilang kan? "
Semuanya berkumpul di sana, lalu kak Angga pun protes.
" Astaga kamu ini ya!! Belum si Vivin sembuh, malah tambah kamu... Itu pistol, hei! Pistol asli bukan pistol air! Kalau mau kan bisa di tendang biar pistolnya ke lempar gitu, kenapa malah tarik ke arah kamu? Kan jadi gini!! "
Kak Angga mulai marah-marah sedangkan Kevin memukuli Kak Angga karena dipanggil Vivin lagi.
" Sorry deh Kak, aku melakukan itu karena dia lebih kuat dari aku. Aku takutnya pas aku tendang, malah mengarah ke kakak atau Kevin, atau yang lain.. "
Aku meminta maaf sedangkan kak Angga masih mengomeli ku.
__ADS_1